Jangan Remehkan Akun Pseudonim

Anda boleh saja berbeda pendapat dan sikap dengan saya terkait akun pseudonim. Namun, jika kita merujuk nasihat bijak “jangan lihat siapa yang berkata, tapi (simak) apa yang dikatakan”, maka bergunalah apa yang dikicaukan akun-akun anonim, yang sejak beberapa bulan terakhir memicu kontroversi.

Avatar @TrioMacan2000 yang mudah mengecoh kaum stalker…

Akun @TrioMacan2000, misalnya, pernah menarik perhatian pengguna media sosial Indonesia. Akun itu menyodorkan sisi-sisi negatif Fauzi Bowo menjelang putaran pertama kampanye pemilihan gubernur DKI Jakarta, namun menuai hujatan di linimasa ketika pada putaran kedua kampanye, akun itu berbalik arah: menjelek-jelekkan pasangan Jokowi/Basuki dan mengelu-elukan Fauzi Bowo.

Kecurigaan muncul, akun tersebut dikelola dengan motif ekonomis dan/atau politis sekaligus. Ada sebagian pelaku aktif media sosial menuduh administrator akun @TrioMacan2000 berbalik dukungan lantaran tidak terjadi ‘deal‘ dengan pasangan yang ‘didukungnnya’ semula, namun jasa kicauannya disewa oleh pasangan incumbent. Soal kebenaran tuduhan, sudah jelas sulit dibuktikan. Namun fenomena buzzer berbayar, bukan rahasia lagi di dunia jejaring sosial.

***

Sebuah akun (Twitter), tentu dibuat dengan maksud atau alasan tertentu, mulai untuk bersenang-senang hingga menyebar ‘virus’, baik positif maupun negatif. Yang positif, misalnya akun yang dikelola Mbak Silly untuk berbagi informasi mengenai kebutuhan darah melalui akun @Blood4LifeID. Berapa banyak orang terselamatkan lewat gerakan donor darah berikut kisah-kisah uniknya, serta pencerahan publik lainnya bisa disimak di blog dan Facebook yang dikelola Mbak Silly.

Selain itu, pun masih banyak akun bermanfaat, seperti @internetsehat sebagai sarana sosialisasi dan pendidikan penggunaan Internet dengan bijak dan bermanfaat. Akun itu menjadi pelengkap website internetsehat.or.id yang memiliki layanan untuk publik. Akun lain, misalnya @GUSDURians digunakan untuk berkomunikasi dan berbagi cerita atau mengingatkan publik terhadap gagasan-gagasan besar Gus Dur untuk keIndonesiaan, demokrasi, kesetaraan hak, pluralisme dan sebagainya.

Yang saya kategorikan negatif, tentu saja, adalah akun yang materi kicauannya ditujukan untuk kepentingan-kepentingan tertentu, baik secara personal maupun kelompok pengelolanya. @TrioMacan2000 saya masukkan pada kelompok ini, lantaran identitas administratornya disembunyikan. Kepentingannya, pun tak mudah dirunut melalui pesan-pesan yang ditampilkan lewat timeline-nya. Akun ini menurut saya, biasa ‘menyerang’ siapa saja, dengan maksud yang tak mudah dibuktikan.

Bagi awam, kicauan @TrioMacan2000 yang aktif sejak 1 April 2011 itu, akan dianggap berguna. Biodatanya sangat mulia, menyebut diri sebagai akun provokator untuk kejujuran, perangi korupsi dan kemunafikan. untuk pencerahan anak bangsa yang merdeka. Tak jelas bagi publik, siapa saja mereka yang mengelola. Yang jelas, sebaran perkara yang dikicaukan serta bobotnya, kadang melampaui jurnalis investigasi.

Pembelokan isu atau sebuah perkara bisa saja secara sengaja dilakukan oleh pengelolanya. Dengan ‘bobot’ informasi yang terkesan memadai (bagi awam), kicauan akun itu bisa saja diyakini sebagai kebenaran. Apalagi, jika benar, bahwa admin @TrioMacan2000 merupakan karib seorang petinggi partai politik berpengaruh. Sang politisi itu, yang kerap disebut terbelit sebuah perkara skandal korupsi, namun aman hingga kini, meski sebagian koleganya sudah mendekam di ruang tahanan KPK.

Selain @TrioMacan2000, akun @ratu_adil saya kategorikan sebagai akun abal-abal, tapi memiliki misi besar. Beberapa bulan lalu, akun @ratu_adil (aktif sejak 25 Oktober 2009) pernah dituduh membocorkan materi rapat terbatas yang dipimpin petinggi negeri. Kala itu, nama Dahlan Iskan dibawa-bawa, dengan tuduhan sedang mencari muka kepada rakyat Indonesia, terkait spekulasi bahwa pemilik Jawa Pos Grup itu ingin masuk bursa suksesi kepemimpinan pada 2014.

Sesuai namanya, akun pseudonim adalah akun beridentitas semu. Selalu mengicaukan perkara-perkara sensitif tanpa berani menyebutkan identitas resmi, menjadi petunjuk betapa pembuatnya tidak berani bertanggung jawab atas semua materi yang dibuatnya. Karena itu, memercayai sepenuhnya apa yang mereka kicaukan bisa menjerumuskan kita, selain melecehkan akal sehat.

Avatar @ratu_adil. Ukuran pixelnya sama persis dengan avatar @TrioMacan2000. Bedanya, avatar ini, menurut metadatanya, merupakan hasil foto yang dibuat pada 19 Juni 2008 pukul 9.47 AM, dengan menggunakan Canon EOS 400D.

Namun, mengabaikannya seratus persen, sama saja dengan tak acuh terhadap dinamika sosial, politik dan hukum kontemporer. Kicauan @TrioMacan2000 atau @ratu_adil bagi saya, justru memberi ruang interpretasi. Paling sederhana, ia menguji tingkat kritis dan skeptis kita terhadap kebenaran sebuah informasi. Dalam perkara gegeran KPK-Polri yang berujung hadirnya banyak orang membuat pagar betis melindungi penyidik KPK yang akan ‘diambil’ ratusan polisi, misalnya, kicauan @TrioMacan2000 seperti memberi konfirmasi akan kabar yang beredar, bahwa orang-orang di balik akun itu dekat dengan banyak petinggi kepolisian.

Saya menyarankan agar sesekali menyimak apa yang dikatakan oleh akun-akun pseudonim itu. Keperluannya, ya sekadar mencari referensi awal saja, sambil kita menguji kebenaran informasinya lewat aneka cara. Seperti halnya terhadap pemberitaan media massa utama yang tak boleh kita telan mentah-mentah, kicauan akun pseudonim pun memberi kontribusi memadai, kepada kita. Tinggal pandai-pandainya kita menyaringnya.

***

Perang informasi melalui Internet, dan belakangan dipermudah dengan kehadiran Facebook dan Twitter, bakal kian marak, terutama di negeri yang demokrasinya sedang tumbuh seperti Indonesia. Di Amerika, perang informasi (melalui Internet) sudah menjadi kurikulum wajib bagi militer dan intelijen. Di Indonesia, pun demikian menurut saya.

Peran Internet dan media sosial seperti Facebook, Twitter dan YouTube sudah sangat nyata efektivitasnya digunakan publik dalam pemilihan gubernur/wakil gubernur DKI, sejak beberapa bulan silam.  Meski tak bisa dibandingkan dengan media mainstream atau media massa tradisional, penyampaian suara publik berhasil menunjukkan efektivitasnya.

Terakhir, ya peristiwa penggerudukan gedung KPK oleh ratusan polisi, baik berpakaian preman maupun berseragam dan bersenjata, Jumat, 5 Oktober hingga keesokan harinya, yang disambung dengan ajakan kumpul publik untuk mendukung KPK di Bundaran Hotel Indonesia, Minggu (7/10) pagi. Seruan di Twitter dengan tagar #saveKPK dan akronim KPK menjadi Kemana Presiden Kita dalam aksi di Bundaran HI, terbukti membuat galau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan, dalam konferensi pers di Istana Presiden, Senin (9/10) malam, SBY secara eksplisit mengakui peran media sosial dengan menyatakan ia memantau percakapan publik di Internet.

Bisa jadi, Presiden SBY sadar, jika tak disikapi secara tepat, maka gerakan sosial lewat media sosial akan terus membesar, dan bisa  berujung krisis politik sebagaimana terjadi di jazirah Arab. Apalagi, arus utama publik menumpuk pada persoalan keadilan yang tak kunjung ditunjukkan melalui kinerja aparat kepolisian, sehingga sentimen dukungan diberikan kepada institusi pemberantasan korupsi (KPK). Saya yakin, SBY pun tahu, kekuatan Internet tak mudah ditaklukkan. Bahkan, Pemerintah China pun kewalahan melakukan pembatasan kebebasan bersuara dan mengekspresikan tuntutan keadilan, demokrasi, perlakuan hukum yang setara, dan seterusnya.

Menurut saya, kicauan dari akun-akun pseudonim tetap menarik disimak. Perang opini melalui media sosial akan terus terjadi, apalagi menjelang pemilihan legislatif dan presiden, 2014 mendatang. Kontrol publik akan terus tersuarakan melalui media sosial, dan amplifikasinya tak bisa dikontrol apalagi dihambat dan dilokalisir.  Pada satu sisi, politisi mesti berhati-hati pamer diri dan mengumbar janji, lantaran publik bisa dengan seketika membantah dan menyebarluaskannya.

Akun @hartatimurdaya dan @savepolri bisa menjadi contoh praktek permainan kepentingan.  Pengacara Hartati Murdaya, bekas petingi Partai Demokrat dan pengusaha terkemuka yang sedang kesandung perkara suap dan kini ditahan KPK itu menyatakan kliennya tak memiliki akun Twitter. Bisa jadi, ada pihak lain memanfaatkan nama Hartati untuk menyerang rival-rival politiknya. Uniknya, saat ribut KPK vs Polri, muncul akun @savepolri yang diduga dioperasikan oleh orang yang sama. Buktinya, admin kedua akun itu terpeleset, melakukan mention ke akun @AlissaWahid dengan pernyataan yang sama di menit yang sama, dengan dua akun berbeda.

Bagi saya, ‘kecelakaan’ itu memberi bekal kepada kita untuk mengira-ira untuk siapadi balik akun tersebut. Petunjuknya jelas: pengelola kedua akun adalah pihak yang diduga kuat anti terhadap KPK, dan sebaliknya.

10 thoughts on “Jangan Remehkan Akun Pseudonim

  1. termasuk kemunculan akun anonim mengatas namakan tuhan,, seperti pada saat itu muncul akun yang berbabau menuhankan segolongan kelompok boyband dan girlband,, sesungguhnya menurut saya dengan hadirnya akun anonim tersebut adalah sebuah pesan untuk para penggila boyband dan girlband agar tidak terlalu terlena dengan yang dipuja dan dipuji di dunia sehingga tidak sampai melupakan budaya dan agama,,

  2. wah pakdhe meneliti metadata, hati2 digugat pemilik 68% *eh

    akun pseudonim emang cocok untuk pelengkap TL saja sih, soal informasi yang beredar cukup lewatkan dan tunggu pembuktian waktu.

  3. DV

    Semula aku memuji pidatonya SBY, tapi sesudah berpikir ulang, aku malah mikir bahwa jangan2 dia sudah sampe di titik puncak kekhawatirannya…

    Menurutku kekhawatirannya jika memang benar karena arus menguat di social media adalah ketakutan yang terlalu mengada-ada. Kenapa? Kekuatan socmed menurutku belum punya hulu ledak sedahsyat 1998 atau sedahsyat yang terjadi di Mesir.

    Kenapa? Karena rakyat Indonesia belum terlalu lapar dan belum semenderita era-era 98 itu. Triggernya selalu masyarakat Indonesia lapar maka bergerak. Kalu socmed itu kan cuma kelas menengah aja.

    Mau bukti? Kuyakin prosentase orang yang suka Jokowi di Twitter dibanding Foke (berdasarkan data Sal-Sil demikian juga sih)akan jauh lebih besar gapnya dibanding hanya 6% kemenangan Jokowi kemarin.

    Kenapa? Simply karena itu tadi, akar rumput mana sempat main Twitter? itulah yang suara mengambang yang sesungguhnya.

    Soal akun pseudonim, semula kuanggap baik saat Benny Israel menyeruak. Tapi setelah si triomacan ketauan belangnya pas Pilkada Jakarta lalu, aku berpikir mereka hanya akan bersuara ketika kantung pundi uang mereka terisi, itu saja.

    Tak ada yang istimewa dari akun2 pseudonim itu kurasa.. Lebih asik ngikuti TLmu atau TLnya orang2 macam Anis Baswedan..

    Sekian, wes kedawan..

  4. Apakah ini termasuk yang dinamakan gerakan anonimous juga?

    aku dadi kelingan kira-kira rolas tahun kepungkur aku mbubarke pacarane wong sing tak senengi ki ya nganggo email abal-abal.

Leave a Reply