Jokowi Gubernur Boneka

 

Terbukti! Jokowi dan Basuki membuat heboh jagad politik Indonesia.

Warga Jakarta boleh lega, karena segera punya gubernur baru, gubernur pelaksana. Jokowi/Basuki ibarat boneka rakyat belaka, baik bagi warga yang memilihnya maupun tidak. Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama akan dan harus menjadi pelaksana kehendak dan harapan mereka. Begitulah tata kramanya, buah demokrasi yang sesungguhnya. Keduanya harus mengayomi siapa saja, sendika dhawuh terhadap perintah rakyat.

Hari ini, Kamis Pahing, 4 Dulkaidah 1945 (bertepatan dengan 20 September 2012), Jokowi dan Basuki sudah setengah resmi dihibahkan oleh dua partai pengusungnya, PDI Perjuangan dan Gerindra. Tak perlu ada keraguan, termasuk Jokowi akan menanggalkan jabatannya sebagai Gubernur DKI untuk jadi calon wakil presiden. Setahu saya, beliau tak pernah mau jadi orang nomor dua!

Kenapa saya menyebut Pak Jokowi sebagai boneka rakyat, sebab ia telah membuktikannya selama menjadi Walikota Surakarta. Selama tujuh tahun, kebijakan Pemerintah Kota selalu mengacu dari hasil penyerapan aspirasi warga lewat mekanisme Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kelurahan hingga tingkat kota. Jadi, bukan top down dari Jokowi dan wakilnya, Hadi Rudyatmo beserta kepala-kepala dinas.

Warga Solo berinisiatif menggelar doa bersama untuk kesuksesan Jokowi di DKI, 19 September.

Kemenangan Jokowi/Basuki atas Fauzi/Nachrowi pun seyogyanya dirayakan sebagai kemenangan rakyat, mengingat perolehan suaranya jauh melampaui jumlah suara pemilu legislatif 2009, di mana gabungan suara PDI Perjuangan dan Partai Gerindra hanya 18 persen. Jadi, kelak warga Jakartalah, sang pemilik suara yang sesungguhnya, yang lebih berhak menagih keduanya dengan bentuk kerja nyata, dan kebijakan yang berpihak kepada kemaslahatan masyarakat Jakarta.

Satu hal menarik dari kemenangan Partai HARAPAN (warga) dengan symbol Jokowi/Basuki, adalah partisipasi aktif warga mengawal hingga lima tahun mendatang. Konsekwensi logisnya, rakyat Jakarta juga harus bertanggung jawab atas kemenangan mereka. Misalnya, jika partai-partai koalisi pendukung Fauzi/Nachrowi masih menyimpan ‘bara dendam’ sehingga menjegal kebijakan-kebijakan Jokowi/Basuki yang prorakyat, maka mereka pun harus ikut terlibat dalam membuat perimbangan.

Tirakatan, sebuah peristiwa kultural menjelang sebuah hajatan besar diselenggarakan. Caranya, bisa beraneka rupa.

Taruh kata, jika dua tahun pertama jabatan Jokowi/Basuki direcoki, maka warga Jakarta harus sanggup mengamputasi arogansi elit-elit partai, dengan cara tidak mencoblos semua wakil yang disodorkan partai-partai koalisi. Itulah yang saya sebut sebagai kemenangan rakyat yang sesungguhnya.

Soal gossip atau prasangka Pak Jokowi akan menjadi calon wakil presidennya Prabowo, percayalah, dia bukan tipe manusia kemaruk jabatan, apalagi kekayaan. Pak Jokowi itu kadernya PDI Perjuangan, sehingga ia tak akan begitu saja mau mendampingi Prabowo tanpa restu partainya. Untuk kampanye Prabowo sebagai vote getter pun belum tentu pula, lantaran kita belum tahu apakah Partai Gerindra akan berkoalisi dengan partai pimpinan Megawati Soekarnoputri.

Cap jempol dan tanda tangan dukungan untuk Jokowi menuju DKI.

Mengenai logistik pemilihan gubernur DKI yang diisukan berasal dari Prabowo dan Hasjim Djojohadikusumo, tak usahlah diributkan, apalagi dikuatirkan menjadi pokok soal utang budi Pak Jokowi dan Basuki. Jika Prabowo/Hasjim mengeluarkan biaya kampanye untuk pemenangan, bukan saja wajar, tapi memang sudah seharusnya begitu yang dilakukan sebagai konsekwensi logis sebuah kolaisi, antara PDI Perjuangan dengan Partai Gerindra.

Kita tunggu saja apa yang bakal Jokowi/Basuki untuk membayar tunai atas ‘hutang budi’ yang sesungguhnya, yakni terhadap rakyat Jakarta, terutama pemilih dan para relawan yang bahu-membahu mengeluarkan pembiayaan untuk memenangkan simbol harapan akan perubahan itu. Tanpa digerakkan oleh keinginan berubah dan ketiadaan tumpuan harapan, tak bakal Jokowi/Basuki melenggang menapaki kursi puncak pemerintahan di DKI.

Mari kita kawal keduanya, sebagaimana kita menaruh harapan dari keduanya. Warga Solo, insya Allah legawa, ikhlas ‘meminjamkan’ Jokowi bagi warga DKI. Jika Solo bisa berubah, di Jakarta pun perubahan bisa terwujud jika semua pihak bahu-membahu mewujudkannya.

Para pedagang Pasar Gede merayakan kegembiraan atas kemenangan hitung cepat Jokowi/Basuki di Pilkada DKI. Mereka berharap, pedagang pasar di Jakarta bisa segembira rekan seprofesi mereka di Solo.

Warga Jakarta, jangan lupa. Jadikan Jokowi/Basuki sebagai boneka rakyat yang sesungguhnya. Keduanya akan dan harus menurut kehendak warga Jakarta sepenuhnya. Keberhasilan keduanya, adalah potret konsistensi warga Jakarta mewujudkan perubahan. Jika Jakarta baik, insya Allah kebaikannya akan menjadi berkah bagi Indonesia.

Menjadi berkah, lantaran warga di seluruh Indonesia akan menuntut hal serupa. Mengajukan calon pemimpin (bupati/walikota/gubernur) tanpa mahar kepada partai. Kampanye murah, irit, jauh dari polusi politik uang akan bermuara pada tingginya peradaban bangsa kita, Indonesia.

Selamat kepada warga DKI, sukses untuk Jokowi/Basuki.

 

 

 

13 thoughts on “Jokowi Gubernur Boneka

  1. Kita doakan saja supaya mereka boleh menjadi pemimpin yang dapat merubah keadaan menjadi lebih baik. Dukung tindak tanduk mereka. Bahu membahu mewujudkan Indonesia yang maju!!!

  2. berbagi motivasi kata teman
    Bangga pada dirimu sendiri, Meski ada tidak Menyukai. Kadang-kadang mereka membenci karena mereka tidak bisa seperti Anda.
    mungkin berguna dan Salam: D, saya tunggu kunjungan balik ya: D

  3. Bener, Pakdhe. Sekarang bukan zamannya partai-partai yang menentukan, tapi rakyat yang menentukan seleranya.
    Oh ya, boneka Jokowi-Basuki juga laku keras lho, kayak baju kotak-kotak itu..

Leave a Reply