Polri vs KPK Babak Kedua

Sedikitnya 20 penyidik KPK ditarik kembali oleh Mabes Polri. Demikian diberitakan Koran Tempo edisi 15 September 2012. Menurut berita itu, para penyidik itu ditarik kembali ke kesatuan karena penugasannya berakhir, meski masa kerjanya belum genap empat tahun sehingga bisa dinyatakan berakhir. Yang menggelitik, satu di antara mereka adalah penyidik perkara pengadaan Simulator SIM, dimana Irjen Djoko Susilo menjadi tersangka.

Tentu, yang demikian bukan hal aneh. Ini Indonesia. Dan ada unsur Polri di sana. Pada lembaga seperti Polri, rasa malu seperti sudah diharamkan sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Pun demikian akal sehat. Andai masih punya harga diri, tak mungkin jenderal-jenderalnya rela anak buahnya menjadi budak penunggang Harley, centeng rumah bordil dan kawan bandar narkoba.

Andai tersisa akal sehat, pastilah mereka tidak melindungi penyerang rumah ibadah, atau mendampingi laskar-laskar pengganggu ketenteraman. Benih disharmoni, memang kerap dipupuk oleh ulah sebagian oknum polisi.

Itulah Indonesia. Bhinneka Tunggal Perkara. Meskipun berbeda-beda, muaranya perkaranya selalu ke situ-situ pula.

Andai akal sehat tersisa, tak mungkin seorang jenderal polisi seperti Boy Rafli yang wajahnya sangar itu may berdalih macam-macam, yang menempat orang di luar dirinya sebagai orang bodoh tak berakal.

Apa hendak dikata. Mereka telanjur biasa pamer kuasa. Hukum seolah hanya mereka yang punya, hingga tak seorang pun boleh menafsirnya. Jangankan menyangkut sesama jenderal korps baju cokelat, pada perkara remeh saja mereka kerap menjauh dari sikap netral.

Beberapa hari lalu, seorang teman melapor karena ia baru saja ditodong dan dirampas dompet dan harta bendanya, di sebuah gang tak jauh dari kantor kepolisian sektor. Laporan diterima, tapi sang petugas meminta teman saya membayar uang administrasi. Celakanya, ia memberi nasihat yang janggal di telinga. Kata polisi itu, “Hati-hati saja kalau di daerah itu. Di sana rawan.”

Semestinya, polisi itu bergegas melakukan pengejaran. Pernyataan mengenai titik kerawanan, pun menunjukkan dengan gamblang, bahwa mereka tahu, dan membiarkan. Akal sehatnya benar-benar telah tergadaikan. Menangkap penjahat rupanya bukan lagi prestasi membanggakan seorang hamba hukum.

Sebaliknya, menyelamatkan atasan menjadi kemuliaan tersendiri bagi seorang polisi.

Saya paham, cerita kebaikan polisi itu hanya ada di dalam dongeng, atau di naskah pidato Kapolri yang dibacakan pada sebuah upacara serentak setiap tanggal 1 Juli.

Andai presiden tidak absen, syukur gentleman, ia bisa membatalkan keputusan Mabes Polri menarik¬† 20 penyidik yang mengganggu kerja KPK. Kalau perlu, mengganti Kapolri dengan yang tidak kumisan, daripada kumisnya tak berguna, bahkan memalukan korps rakyat berkumis. Jika mau konsisten ingin memberantas korupsi, saya kira kinilah saatnya. Presiden perlu tegas, sekali ini saja selama hidupnya…

Setelah itu, terserah mau apa. Doa saya, semoga khusnul khotimah…..

6 thoughts on “Polri vs KPK Babak Kedua

  1. memang demikian adanya pak de, bingung komentar apa untuk mereka. Semua seperti dagelan dan setelan kelihatannya. Satu sisi jadi penyulut , disisi lain jadi peredamnya…mungkin lagu charlie, yang liriknya “dunia pasti berputar..begitulah situasinya, muter terus ga jelas arah dan tujuan dari mereka yang berkuasa di negeri ini

Leave a Reply