Pelajaran Politik Jokowi

Kampanye putaran kedua pemilihan Gubernur DKI, telah dimulai. Kemenangan pasangan Jokowi/Basuki di putaran pertama berbuah buruk, banyak pendukung pasangan kalah memaki, menyerang dan menebar fitnah. Jokowi/Basuki merespon dengan kalem, pasangan lain ada yang membiarkan, pun ada yang ikut larut ke dalam emosi.

Kebanyakan elit politik, rupanya memang belum beranjak dewasa. Mereka mengamini kalimat bijak, bahwa menjadi dewasa itu, memang, pilihan. Kita tahu, yang terlihat matang hanya sedikit, dan yang dewasa benar-benar langka.

Maka ‘wajar’, jika seorang Jokowi lantas hadir bagai anomali. Ajakan kampanye bersih dituruti pendukungnya. Ajakan untuk tidak menyerang kandidat lain, pun banyak yang menjalankan. Inisiatif warga Jakarta berkampanye secara sukarela, sama persis dengan yang terjadi di Solo, saat Jokowi/Rudy maju walikota untuk yang kedua kalinya. Bedanya, di Solo, warga mau diajak menahan diri tak memasang poster, spanduk atau baliho, yang potensial jadi sampah visual.

Jakarta memang agak beda. Mungkin banyak warga masih merasa perlu memasang materi kampanye luar ruang karena digerakkan oleh kesadaran untuk menyongsong perubahan, kendati masih merupakan harapan. Bukti sudah ditunjukkan pada pemilihan putaran pertama, di mana pasangan Jokowi/Basuki mengungguli jumlah suara yang diperoleh rival-rivalnya. Pilihan rakyat Jakarta pun bukan lagi digerakkan oleh mesin-mesin partai.

Satu hal menarik, menurut saya, adalah penampilan keseharian Jokowi dan Basuki yang natural, tidak dibuat-buat. Baik di depan lensa, para juru warta, rakyat jelata, dan para pengusaha, pembawaannya selalu sama, apa adanya.

Kita mafhum, mayoritas politisi rajin berkunjung dan menyapa publik hanya setiap menjelang pemilihan umum. Keramahan mereka ditunjukkan secara periodik,  rutin setiap lima tahun sekali. Usai kampanye, kembali lagi ke watak aslinya. Industri komunikasi pun tak pernah beranjaj lebig maju. Para penasihat/konsultan komunikasi hanya sibuk memoles wajah, penampilan dan cara bersikap/bertutur kata para klien.

Watak beda dengan watuk, kata orang Jawa. Watuk atau batuk bisa diobati. Maka tak perlu heran, jika seseorang yang berhasil dipoles menjadi ramah dan santun tiba-tiba muncul sifat temperamentalnya. Sepandai-pandai politisi melompat, sesekali akan gawal juga. Berbohong dan menipu diri secara konsisten dalam waktu berbilang hari atau pekan, pun tak gampang, kendati ia pandai bermain watak seperti seorang aktor teater/film andal.

Watak itu dibentuk lewat proses panjang, sangat personal, sejak manusia lepas dari susuan hingga mengenal aneka keinginan, mimpi, obsesi dan ambisi. Keinginan biasa bisa berubah jadi ambisi. Pada situasi begini, orang bisa memanipulasi diri: gaya bicara dirancang, senyum pun dipaksakan hadir. Tapi, biasanya orang mengabaikan refleks, yang justru membuyarkan rancangan.

Beda dengan orang yang tak punya ambisi. Tampil apa adanya akan selalu melekat pada penampilan diri. Pada tipe demikian, diatur-atur cara membawa diri malah tak kaku, maka cenderung menghindari kehadiran orang lain, termasuk konsultan komunikasi. Dan, itulah yang terjadi pada sosok Jokowi. Ia justru tampak kaku di iklan televisi, karena menuruti tuntutan gaya berkomunikasi sutradara. Andai dibiarkan tampil apa adanya, pasti akan ada ruh, ada aura terpancar.

*****

Kekurangan kebanyakan konsultan komunikasi dan sutradara iklan, menurut saya, adalah keinginan men-direct yang klien dan talent. Mereka kerap lupa menelisik dan mengenali watak dasar dan kepribadian klien. Tapi maaf, mungkin saya salah.

Sering pula pada lupa, terutama pada momentum pemilu, seorang kandidat diposisikan di atas. Rakyat pemilih yang mestinya berdaulat kaena pemilik hak suara, ditempatkan sebagai obyek. Maka, yang muncul kemudian adalah sampah visual yang bertebaran, dengan materi pesan dan bahan seragam, tentang dukungan yang seolah-olah dinyatakan oleh rakyat.

Karena suara dukungan berupa klaim, maka ya hal demikian sama saja pamer kepura-puraan. Beda dengan spontanitas warga Solo, dua tahun lalu, yang membuat spanduk dan poster dukungan kepada Jokowi/Rudi, atas inisiatif pribadi dan kumpulan warga.

Dengan bahan seadanya, seperti kain yang di atasnya dituliskan pesan dukungan dengan kwas berlumur cat di tangan, maka hasilnya sungguh menggetarkan. Bahkan, pemasangan spanduk handmade pada pancang bambu di tengah kampung, akan memberi petunjuk adanya dukungan riil, spontan. Bukan jal aneh jika kemudian pasangan itu meraih kemenangan di atas 90 persen, tanpa materi kampanye seragam yang diproduksi massal, entah berbahan akrilik maupun art paper.

Politisi dan konsultan komunikasi (politik), mestinya belajar dari Solo, dari Jokowi/Rudy.

Kalau kurang percaya, coba simak dukungan Jokowi/Basuki di Jakarta. Kelewat bamyak buzzer yang melakukan kampanye sukarela, melalui media sosial dan jejaring dunia maya. Simak pula pesan-pesan mereka yang spontan, apa adanya, dan yang sudah pasti: tak ada bayarannya. Mereka tidak terorganisir, dalam arti ada komando atau pemasok data. Mereka menyuarakan apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan tentang hatapan akan perubahan.

Tak lebih, tak kurang.

3 thoughts on “Pelajaran Politik Jokowi

  1. DV

    Jos gandos pokokmen!
    Melihat acara debat semalam di Metro TV dari sini, yang logis itu sekarang adalah bagaimana menghadapi DPRD karena kalau ngomong menang-kalahnya melawan Foke, jelas menang sih.. 🙂

Leave a Reply