Indonesia Tanah Surga

Halloo apa kabar….bila  berkesempatan (harus) nonton film  TANAH SURGA…KATANYA utk membangkitkan  rasa nasionalisme kita…..

Hampir lupa saya menunaikan janji hati untuk menonton film itu. Pesan pendek dari Herwin Novianto yang dikirim pada 17 Agustus 2012 pukul 10.59 WIB itu, memang sengaja tidak saya jawab. Rencananya, saya akan menjawab setelah selesai membuat resensi atas film itu yang saya yakini menarik itu.

Dan, ternyata benar. Film Tanah Surga… Katanya benar-benar mengaduk-aduk emosi, rasa nasionalisme saya (kita) sebagai Bangsa Indonesia. Anak-anak sekolah di perbatasan Kalimantan Barat dengan Entikong, Malaysia itu, tak kenal lagu Indonesia Raya. Mereka lebih fasih lagu Kolam Susu-nya Koes Plus yang didengarnya dari siara radio. Keseharian penduduk di sana, pun lebih menghargai mata uang Ringgit dibanding Rupiah.

Asal tahu saja, meski itu film fiksi, namun sebagiannya adalah fakta. Kenyataannya, mereka tak ‘menghargai’ Rupiah dan tak bisa menyanyikan lagi Indonesia Raya. Beruntung saya bisa menggali sebagian cerita tentang proses pembuatan film tersebut, dari co-director-nya, teman kuliah saya yang bernama Gunawan Raharja.

 

***

Singkat cerita, film itu berkisah tentang kehidupan sebuah desa terpencil, yang dikeliling rawa dan sungai. Adalah keluarga Hasyim (diperankan Fuad Idris), yang tinggal bersama dua cucunya, kakak beradik Salina (Tissa Biani Azzahra) dan Salman (Aji Santosa). Sedang Harris (Ence Bagus), ayah Salina-Salman, memilih menetap di wilayah Malaysia dan mengawini penduduk setempat agar mudah berdagang, mengumpulkan uang.

Di desa itu hanya ada satu sekolah dasar dengan satu guru, Astuti (Astri Nurdin) dan, untungnya ada seorang dokter dropping pemerintah yang datang dari Bandung, bernama Anwar (Ringgo Agus Rahman). Sang dokter harus menggantikan tugas mengajar jika Astuti pergi ke kota, mengambil gaji. Sang dokter pun harus bisa mengobati hewan yang sakit manakala dibutuhkan oleh penduduk setempat.

Konfliknya berserakan di mana-mana. Dari Hasyim, veteran perang Operasi Dwikora yang mencintai Indonesia dalam keadaan apapun jua, hingga sang anak yang ingin membawa cucu-cucunya hijrah ke tanah harapan, di Malaysia. Juga, kecintaan Salman kepada sang kakek, yang tak mau mengikuti adiknya hijrah bersama sang ayah ke ‘negeri surga’, bahkan rela meninggalkan bangku sekolah untuk mengumpulkan duit 400 Ringgit demi biaya pengobatan sang kakek.

Transaksi barter sarung dengan bendera merah-putih antara Salman dengan pedagang Malaysia (Foto: Blontank Poer)

Ketika Salman mengais rejeki dengan menjadi buruh menjualkan produk-produk kerajinan warga sekitar desa ke wilayah Malaysia yang bertetangga, misalnya, ia marah ketika menjumpai bendera merah-putih jadi alas dagangan di pasar (Malaysia). Padahal, Salman juga baru bisa menggambar bendera Indonesia setelah diajari Bu Guru Astuti yang datang dari Pontianak. Ia hanya ingat nasihat sang kakek, veteran perang konfrontasi Malaysia-nya Soekarno, agar mencintai Indonesia, dalam situasi apapun juga.

Dari Ringgit demi Ringgit yang dikumpulkan dengan susah payah untuk biaya pengobatan sang kakek, Salman sempat menyisihkan untuk membeli dua sarung. Satu untuk sang kakek yang selalu shalat dengan membalut kaki dengan sprei, dan satunya lagi untuk ditukarnya dengan bendera sangsaka, yang di pasar Malaysia digunakan untuk alas dagangan.

***

Secara visual, apa yang disajikan Herwin Novianto dan kawan-kawan tidaklah gambaran negeri yang indah seperti pada Laskar Pelangi. Pada Tanah Surga… Katanya, kita justru disodori fakta-fakta sosial, budaya dan lingkungan seperti film-film dokumenter. Anggi Frisca sebagai director of photography yang masih muda, sanggup menahan godaan untuk tidak terjebak royal menyajikan gambar, meski kekuatannya menentukan angle dan pilihan setting lokasi cukup menjanjikan. 

Padahal, lingkungan lokasi syuting Tanah Surga… Katanya sudah sangat dikenalinya, lantaran ia pernah membuat film dokumenter di sana. Di film itu, Anggi Frisca justru terbilang sukses menggabungkan pendekatan dokumenter yang serius dengan film cerita yang kerap dituntut untuk kompromi dengan selera penonton.

***

Tanah Surga… Katanya, film kedua Herwin, setelah Jagad X-Code, bisa disebut kado ulang tahun  ke-67 Republik Indonesia. Tanah Surga… Katanya merupakan film tragi-komedi yang mengingatkan betapa Pemerintah di Jakarta masih lalai menjalankan mandat konstitusi, bukan hanya untuk menyejahterakan rakyatnya, namun juga untuk menjaga eksistensi kebangsaan dalam bingkai negara kesatuan.

Kegembiraan Salman, kebanggan kita sebagai bangsa (Foto: Blontank Poer)

Selain kita, film ini sejatinya lebih pantas ditonton oleh para penyelenggara negara, menteri hingga presiden, para gubernur, bupati dan sebagainya. Juga menarik dijadikan bekal bagi legislator sebelum terbang jauh ke Brazil, Australia atau negara-negara lainnya, hanya untuk studi banding, sehingga di sana, mereka punya bekal untuk bertanya di sela-sela wisata belanjanya.

Film itu juga mengingatkan saya akan Pacitan, kota kelahiran Pak Susilo Bambang Yudhoyono, yang belum lama ini saya datangi. Jika melihat alangkah ndeso-nya Pacitan yang masih di Pulau Jawa, maka saya jadi paham betapa buruknya perhatian pemerintah pusat kepada warga dan wilayah-wilayah pedalaman, dan perbatasan.

Film bermutu yang dikemas secara jenaka untuk semua umur itu, menurut saya juga wajib ditonton oleh Menteri Percepatan Daerah Tertinggal dan staf-stafnya, supaya tak keliru membuat kebijakan. Syukur Presiden SBY pun mau menontonnya.

Yang jelas, adegan-adegannya cukup natural, dengan kemampuan akting pemain yang sepadan dan merata membuat film ini enak ditonton, mudah dinikmati, banyak adegan yang membikin kita tertawa, meski perih di dada. Tontonlah sendiri, biar saya tak terbukti ngibul. Sebanyak 90 kopi film telah beredar sehingga bisa ditonton secara serempak oleh masyarakat di banyak kota di Indonesia.

Semoga, dari film itu kita juga makin tahu, apakah Indonesia masih merupakan tanah surga seperti diceritakan Koes Plus atau surga yang (masih) katanya, hingga 67 tahun merdeka.

8 thoughts on “Indonesia Tanah Surga

  1. mirza gushan

    kalbar sekarang sudah maju…… di film itu malah makin memojokan kalbar itu sendiri…. karna saya tinggal di perbatasan tersebut…. kami juga masih memakai rupiah, bukan ringgit……

  2. masbro… brapa kali sempat melintas perbatasan dari Kalbar ke Kuching..Dari obrolan dengan penduduk di sekitar perbatasan ataupun dengan beberapa teman dari pontianak, kondisi perekonomiannya beda jauh banget. Dari aspalnya saja beda jauh, padahal cuman beda enggak sampe 20 meter (masuk gerbang batas negara). Dari sisi biaya distribusi barang berbagai barang dari Kuching jelas jauh lebih murah, makanya banyak yang masuk dari sana. Untuk berobat saja masyarakat di sana lebih suka ke Malaysia. Lebih murah dan cepet sembuh… ya gak usah kaget dan gak bisa disalahkan.. Kalau liat kondisi Papua malah makin serem…

  3. wah saya baru tahu nih ada film ini…. memang kalau di daerah perbatasan indonesia memang tidak terlalu diakui oleh warganya…

    saudara saya di kalimantan juga lebih pintar bahasa melayu dan mengenal makanan malaysia dari pada Indonesia… harus menjadi perhatian buat semua anak bangsa kondisi ini….

Leave a Reply