Tempe

Dibuat dari kedelai, makanan otentik mayoritas masyarakat Jawa ini tiba-tiba nyaris raib dari pasaran. Pasalnya, kedelai langka, sehingga harganya melonjak. Konon, 75 persen kebutuhan kedelai nasional diimpor dari Amerika. Aneh.

Tapi nyata adanya, produksi kedelai nasional masih sedikit. Tahun ini, bahkan merosot sekira delapan persen dari tahun lalu. Bagi saya, yang pada masa kecil pernah merasakan sendiri, sesekali ikut bertani menanam kedelai dan kacang, menyaksikab kelangkaan kedelai jelas menyedihkan.

Saya pun teringat cerita Gus Yahya Cholil Staquf, beberapa tahun silam, bahwa Indonesia pernah mencapai ‘kemenangan’ dalam hal tata niaga kedelai. Kata Gus Yahya, adalah Gus Dur yang semasa menjabat presiden, berhasil memotong jalur distribusi. Indonesia bisa impor langsung dari Brazil, sehingga lebih murah.

Kedelai bukan perkara sepele rupanya. Selama puluhan tahun, Indonesia mengimpornya lewat Amerika, meski barangnya berasal dari Brazil. Terhadap pemerintah Brazil, cara lobi Gus Dur dengan membawa semangat kerjasama negara-negara Selatan. Ada semangat kebangkitan negara-negara selatan, yang dirancang pertemuan reuni akbarnya di Bandung, lewat nostalgia Konferensi Asia-Afrika, 2005 silam.

Amerika tentu tak mudah melepas keuntungannya sebagai makelar, yang mengendalikan tata niaga (sekaligus kontrol harga). Amerika bukan negara biasa. Ia praktis ‘memiliki’ kontrol kuat terhadap organisasi perdagangan bernama WTO, serta lembaga-lembaga rentenir semacam Bank Dunia dan IMF.

Singkat cerita, Gus Dur sukses melakukan ‘lobi kedelai’, meski kemudian ia harus menerima pil pahit, dirongrong Amerika dan sekutunya, yang berujung pada pemakzulannya.

Cerita dana dari Sultan Brunei, pun tak lepas dari semangat kebangkitan Indonesia, serta bangsa-bangsa yang dimiskinkan oleh persekutuan negara-negara utara. Brunei, kala itu hendak dijadikan seperti Singapura, tempat dana-dana Timur Tengah dikelola untuk kemajuan perekonomian ‘bangsa Selatan’.

Maka, semangat kebangkitan bangsa Selatan, bangsa Asia-Afrika, penghapusan utang luar negeri dan kemandirian yang dirancang Gus Dur bersama-sama tokoh Selatan, dianggap sebagai ancaman. Indonesia sangat strategis, baik secara geopolitik maupun perekonomian. Singkat cerita, ya Gus Dur harus digangguin.

Tempe hanyalah wujud baru, metamorfosa dari kedelai. Dan sayangnya, kedelai yang mudah tumbuh, gampang ditanam di tanah Nusantara yang mahaluas, rupanya diremehkan oleh penentu kebijakan negara. Konon, kita masih swasembada kedelai hingga 1985. Setelah itu, seperti halnya beras, kita rajin impor.

Yang untung, tentu sudah jelas: para cukong dan sekondannya di birokrasi dan politik. Juga, mitra-mitra mereka di luar negeri. Banyak pejabat kita memilih tutup mata terhadap fakta, bahwa harga beras dunia pun mengacu pada jumlah kebutuhan Indonesia!!!

Apa mau dikata. Politisi dan pejabat negeri ini suka bersikap pagi kedelai, sorenya berubah jadi tempe. Mencla-mencle, tak pernah keukeuh mempertahankan pendapat dan sikap, yang berdasar pada kenyataan yang dibutuhkan. Hari ini bilang demi rakyat, besok sudah membuat keputusan yang merugikan rakyat. Alasan bisa dibuat, toh memang punya bakat kuat dalam karang-mengarang.

Persoalan tempe saya kira hanya akan berhenti pada pemenuhan ketersediaan stok kedelai. Mahalnya harga bahan baku seperti dikeluhkan pengusaha tempe dan tahu, bisa diredam sementara. Ditomboki sementara, selesai perkara. Toh, nanti dikembalikan ke harga semua secara pelan-pelan juga bisa, ketika pengusaha kecil sudah lupa.

Saya tidaj yakin, pemerintah SBY akan mengambil kebijakan strategis, misalnya pelan-pelan mengurangi impor dengan cara memajukan pertanian nasional sehingga kelak mampu swasembada, syukur jadi eksportir. Mental Jawa-nya kelewat salah diterjemahkan. Merasa terhormat, meski penuh kepalsuan. Punya banyak utang luar negeri (bahkan selama ia berkuasa, jumlahnya meningkat), tapi mau tampil sok kaya dengan menyumbang IMF yang bangkrut. Padahal, IMF pulalah yang punya kontribusi pada keterpurukan perekonomian negeri ini.

Tempe memang urusal mental. Tapi kedelai? Ia adalah simbol nafsu penumpukan harta lewat cara makelaran, memperdagangkan martabat petani, sebagai representasi bangsa. SBY, kayaknya tipe pemimpin yang hobi mengimbau, agar bangsa tak usah ribut lantaran tidak makan tempe dan tahu.

Saya masih ingat apa yang ia dengungkan sejak beberapa tahun lalu, bahwa bangsa kita harus membiasakan diri menghindari ketergantungan kepada beras. Semoga, para pembaca yang budiman masih ingat imbauannya dulu: bahwa pohung alias singkong juga layak diakrabi, sebagai makanan pengganti, sebagai substitusi beras.

Lupakan tempe, dan kedelai, saudara-saudara… Ia masih belum sepenting nasi dan beras.

8 thoughts on “Tempe

  1. DV

    Makin lama saya makin penasaran seperti apa toh isi desertasi SBY yang katanya doktor pertanian dari IPB itu?
    Masih lebih percaya sama anak petani dari Kemusuk Godean sih kalau saya… 🙂

  2. Heine

    Satujuh Mas Blonty…
    Makanya disebut “mental tempe” bukan “mental kedelai”. Karena mental mereka sudah kena ragi, ngga murni. Akhirnya kehilangan identitas ke-Indonesia-annya.
    Salut Gus Dur…

  3. Saya ngga heran Pakde, ditempat saya malah jarang makan tempe. Katanya stok sering ngga masuk, sudah lama sih. Padahal kedelai satu2nya nilai gizi yang bisa dijangkau berbagai kalangan, kalau lenyap dari pasaran???

  4. saya kangen sama Gus Dur kalau baca ini….. dia adalah orang terbaik yang memimpin negara ini.. memang begitulah kalau tidak nurut sama negara besar itu… menyedihkan.

    Kalau kata ketoprak langganan saya.. cari tahu susah mungkin dia bisa terancam tidak jualan. mas..

    suka dengan artikelnya..

Leave a Reply