Ambilkan Bulan dan Dua Kata

Buru-buru berkicau di Twitter lantaran kagum dengan film Ambilkan Bulan-nya Ifa Isfansyah, saya jadi keliru, mengira skenario film yang dibikin Jujur Prananto ‘modifikasi’ atas cerpen Pelajaran Mengarang-nya Seno Gumira Ajidarma. Hampir saja saya melakukan kesalahan fatal. (Terima kasih kepada @itikkecil yang nyamber).

Gambar dari 21cineplex.comKebetulan, kedua penulis itu sama-sama nakal dalam mengangkat tema cerita. Saya mengagumi mereka yang sama-sama mampu menyuguhkan cerita cerdas, liar, dan menggelitik kita pada sebuah perenungan terhadap apa yang terjadi di sekitar kehidupan kita. Setara dengan rasa kagum saya terhadap Utuy Tatang Sontani.

Kembali ke Ambilkan Bulan. Ini film yang nyaris sempurna, menurut saya. Secara sinematografi, saya tak mau banyak cakap, sebab tak paham ilmu sinematografi. Tahunya, hasilnya top-markotop: enak ditonton, sangat menghibur sekaligus mendidik bagi anak-anak dan tidak muter-muter. Alurnya enak diikuti.

Satu hal lagi, Ifa cukup rapi dan piawai menempatkan lukisan dan gambar-gambar kartun sebagai ‘jembatan’ untuk menyingkat jalan penceritaan, sehingga penonton terhindar dari rasa bosan. Selain itu, jika peristiwa meninggalnya Joko (diperankan Agus Kuncoro), ayah Amelia (Lana Nitibaskara) dimasukkan sebagai cerita, salah-salah justru membebani penonton karena ikut larut pada kesedihan Amelia yang kehilangan papanya.

Ambilkan Bulan, bagi saya, menjadi hadiah bagi jagad perfilman Indonesia. Ada banyak muatan mendidik di dalamnya, namun tanpa pretensi mendikte atau menjejalkan pada kehidupan bocah. Mencintai alam cukup digambarkan dengan indahnya lansekap hutan dan lereng Gunung Lawu, tempat ‘anak kota’ terpesona. Amelia yang hidup dikungkung tembok apartemen dan gedung sekolah, yang hanya bisa bersosialisasi dengan dunia luar melalui Internet, berusaha mencari bukti nyata dari imajinasi dan mimpi-mimpinya tentang pesona alam Nusantara, dan itu terjawab lewat komunikasi dengan Ambar, sepupunya.

‘Dunia kini’ orang kota, bertemu dengan ‘dunia kini’ orang ‘udik’ dengan jembatan berupa produk kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga memungkinkan yang imajiner menjadi nyata. Lihatlah sopir truk yang menggunakan telepon seluler produk terkini, yang tak seberapa timpang dengan fungsi multimedia seperti gadget milik Amelia dan ibunya, Ratna (Astri Nurdin).

Problem Ratna yang membesarkan Amelia sendirian tak ditonjolkan, sehingga tidak menjual kesedihan. Begitu pula ketika ada gugatan Amelia lantaran ibunya tak pernah membawa anaknya kepada kakek-neneknya lantaran kesibukan, cukup distilisasi dengan permakluman dan permaafan sedemikian rupa. Sangat halus, tapi jleb juga efeknya bagi pemirsanya.

Sumber gambar: filmambilkanbulan.com

Pendidikan kecintaan terhadap alam dan lingkungan, pun demikian halus disampaikan, seolah-olah hanya menjadi terkesan selintas saja. Padahal, potret kemunafikan nyata-nyata menohok situasi riil Indonesia kontemporer, seperti digambarkan melalui sosok Pak Selo (Marwoto), yang ternyata menjadi dalang pencurian kayu hutan padahal statusnya penanggung jawab keamanan desa, yang juga merupakan orang kepercayaan Pak Lurah.

 Proses penyuntingan gambar yang dipadukan dengan teknologi tiga dimensi, sungguh luar biasa. Semula, saya mengira itu kupu-kupu sungguhan, sebab konon, tak jauh dari lokasi syuting, di antara Candi Sukuh dan Grojogan Sewu, Tawangmangu terdapat hutan aneka bunga, yang dalam imajinasi saya, pun pasti banyak kupu-kupunya. Ternyata, itu olahan di sebuah laboratorium post production di kawasan Kemang, Jakarta.

Sebagai orang Klaten yang lama tinggal di Solo dan merasa mengenal kawasan lereng Gunung Lawu, saya bangga terhadap film Ambilkan Bulan yang lokasi syutingnya di sekitar kebun teh Kemuning, mampu dihadirkan secara menakjubkan. Saya yakin, banyak orang akan penasaran datang, sebagaimana dulu orang berbondong-bondong ke Belitong setelah film Laskar Pelangi meledak di pasaran. Saya berharap, Ambilkan Bulan mampu memberi imbas pada petumbuhan dunia wisata di Solo dan sekitarnya.

Lagu-lagu gubahan almarhum A.T. Mahmud, pun saya yakin akan memacu banyak orang untuk menoleh kembali ke dunia anak-anak. Gambaran sosok Amelia, seorang bocah yang mampu menggunakan sarana dan prasarana komunikasi secara positif dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya, tentu saja akan meringankan beban pemerintah dan aktivis/pemerhati teknologi dalam menangkal dampak buruk penggunaan perangkat komunikasi. Sekaligus, mengingatkan kepada para orangtua, agar tak abai terhadap penggunaan teknologi komunikasi bagi anak-anak.

Sebab dunia anak-anak adalah dunia bermain dan happy-happy, maka tak salah Ifa Isfansyah menghadirkan aneka permainan anak-anak di desa, yang tak hanya memberi dampak pesona bagi orang kota, tapi justru mengingatkan kita akan kenyataan, bahhwa selama ini para orang tua terlalu asyik menjejali pengalaman masa kecil anak-anak mereka dengan jenis-jenis permainan impor.

Jika di depan, saya menyebut film ini ‘nyaris’ sempurna, itu hanya lantaran dua kata. Bagi orang yang berlatar belakang kultur non-Jawa, mungkin tak seberapa mengganggu. Tapi bagi orang Solo dan sekitarnya, kata amèh dan nggarai jelas mengganjal. Amèh (Jw. akan) dan nggarai (Jw. menyebabkan) merupakan kosakata yang biasa dilisankan orang Jawa di Semarang.

Amèh bagi orang Solo dan sekitarnya, termasuk Karanganyar seperti jelas terlihat di gapura desa, selalu diucapkan arep. Dan nggarai berpadanan dengan marakké atau marai, yang sama-sama dipakai dalam percakapan sehari-hari. Meskipun saya memaklumi, sebab saya menduga Ifa sama saja dengan kebanyakan orang Solo kini, sudah kesulitan untuk bertutur Jawa dengan dialek lokal yang pas, tapi untuk karya film, saya menganggapnya sebagai cacat, meski masih bisa, sekali lagi, dimaklumi.

Selebihnya, saya mengajak siapa saja agar menontonnya, beramai-ramai bersama keluarga. Tak cukup menyaksikan di bioskop, bahkan kelak, jika habis masa edar dan dipindah ke media digital seperti DVD dan sejenisnya, film ini layak dikoleksi. Selain ada karya-karya AT Mahmud yang wajib dilestarikan, hampir keseluruhan materi film memiliki nilai kesejarahan, yang menjembatani kemarin dan esok.

Salah kicauan, rancu Seno Gumira Ajidarma dengan Jujur Prananto

Akting para pemainnya, jujur saja, menjadi tak penting dibahas, sebab bagi saya, terasa begitu natural, tak tampak dibuat-buat. Bahkan dialog-dialog Kuncung (Bramantyo Suryo Kusumo) dan teman-teman sepermainannya yang polos, medok Jawa-nya, serta akting mereka yang benar-benar seperti sedang menikmati permainan sehari-hari, kian memberi bobot bagusnya film ini.

Kemampuan menghayati peran sebagai Mbah Gondrong aliah Ki Jogowono (jogo=jaga dan wono=hutan) oleh Mas Landung Simatupang, jelas tak bisa dibantah lagi. Pun Marwoto, menjadikan adegan-adegan di dalam film ini enak betul dinikmati.

Salut untuk Ifa Isfansyah, dan terima kasih kepada @itikkecil yang sudah mengingatkan kekeliruan saya.

9 thoughts on “Ambilkan Bulan dan Dua Kata

  1. Sumpah, saya ko’ baru ini baca resensi film di Blontank,… aneh, biasanya mencibir, nyinyir, #eh…
    Kali ini menunya beda, atau saya yang ngga baca review sebelumnya 🙂

  2. DV

    Baru sadar dan semakin sadar bahwa tulisanmu soal resensi seperti ini bersanding mutunya dengan tulisanmu soal pulitik..sama2 gahar!

    Layak jadi buzzer! #eh

Leave a Reply