Ojek di Solo

Baru kali ini saya jumpai ada papan nama jasa angkutan ojek di Solo. Tepatnya di Jl. Adi Sucipto, Kerten. Tak ada motor parkir berjajar di sana, pada Sabtu (16/6) siang itu. Mungkin itu reklame penjaja koran eceran, yang juga menerima jasa pengantaran dengan menggunakan sepeda motor, sebagai pekerjaan sambilan. Saya agak terkejut jika ada wong Solo mau ‘bekerja’ sebagai tukang ojek.

Entah kenapa, saya cenderung menganggap orang Solo tak ada yang mau jadi tukang ojek. Di Stasiun Balapan, kadang ada beberapa orang menawarkan jasa transportasi personal. Begitu pula di sekitar Terminal Tirtonadi. Tapi, sejauh ingatan saya, tak ada yang memasang papan penunjuk adanya sekumpulan penjual jasa ojek.

Di Solo, becak masih menjadi alat transportasi populer. Bus kota lumayan eksis, tapi angkutan kota tak terlalu ramai, kecuali pada jam-jam tertentu, seperti jam masuk/pulang sekolah. Dan saya tak melihat tiadanya atau tak populernya jasa ojek lantaran ‘sungkan’ dengan penarik becak.

Menurut penuturan seorang teman aktivis lembaga swadaya masyarakat, populasi becak di Kota Solo sekitar 7.000-an. Pekerja kayuhnya bisa jadi jumlahnya lebih besar, sebab kebanyakan mereka berasal dari daerah-daerah satelit, yang berangkat pagi, petang kembali pulang. Ada pula yang bekerja secara musiman, di mana ketika musim bertani tiba, mereka tak datang ke kota menjual jasa sebagai pengayuh becak.

Saya mengenal banyak pengayuh becak, yang pernah jadi teman nongkrong. Peri, pengayuh becak dari Nogosari, Boyolali, misalnya, kadang tak ke Solo jika ia sedang musim bertani (palawija). Sesekali, ia membawakan sekarung ketela pohon ke rumah. Setia akhir pekan, Peri suka bekerja sambilan sebagai tukang cuci barang pecah belah di sebuah gedung pertemuan yang menjadi venue pesta pernikahan.

Andong atau dokar sudah langka di Solo. Tapi ada sejenis dokar mini, yang ditarik kuda, cukup populer sebagai sarana wisata. Di sekitar Stadion Manahan, banyak yang menjual jasa pada liburan atau akhir pekan.

 

Peri jagoan memijat. Kadang, sambil wedangan di Monumen Pers, saya dan teman-teman memanfaatkan jasanya memijat. Dan, ia tak sembarangan memijat. Badan tak enak bisa dibuatnya menjadi mudah tidur nyenyak. Beberapa sutradara dan pekerja film dari Jakarta, pernah merasakan pijatannya. Saya ‘menjual’ Peri kepada teman-teman, supaya ia bisa menyekolahkan anak-anaknya.

Selain Peri, ada Giyo, pengayuh becak asal Bayat, Klaten. Dulu saya suka memintanya memijat, ketika saya masih sering nongkrong di Jl. Slamet Riyadi. Ia juga kerap memijat tamu-tamu hotel di sekitar tempatnya mangkal.

Kembali ke soal ojek dan becak, rasanya kedua jenis alat transportasi itu tidak saling memengaruhi. Saya cenderung curiga, orang Solo lebih menghargai pengayuh becak dibanding ojek. Orang Solo, pun seperti malu bekerja sebagai tukang ojek. Entah apa hubungannya dengan feodalisme, yang memandang setiap jenis pekerjaan memiliki kasta atau semacam prestise. Sebagai pembanding, banyak orang Jawa lebih bangga jadj pegawai negeri sipil/militer, meski bergaji sedikit dibanding pekerjaan lain yang mungkin secara finansial memberi banyak manfaat.

Kalau ojek tidak mencemaskan saya terhadap nasib para pengayuh becak, kini saya justru terusik dengan kehadiran beberapa becak bermesin hasil modifikasi. Ini lebih mengancam nasib pengayuh becak yang mengandalkan tenaga dibanding moda transportasi lainnya.

 

5 thoughts on “Ojek di Solo

  1. kalo disemarang, ojek ada tukang becak ada.
    hihi.

    kalo lagi pengen santai ya naik becak sambil ngobrol2 sama tukangnya, kalo pengen yang rada cepet naik ojek.
    tergantung kebutuhan.

  2. DV

    Aha.. tulisan ini mbikin saya ingat masa lalu saya di Solo.
    Dulu punya klien di Jalan Mawar (deket alun-alun Kota Barat). Dari stasiun Purwosari aku slalu naik becak dengan tarif 1500 (itu taon 2002). Lalu karena harga ongkos becak ngga stabil, ojek adalah solusinya, harganya memang ga stabil tapi jauh lebih murah.

    Trus dulu pas main musik di salah satu GBI terbesar di Solo, skitar setahun kemudian, aku slalu pake ojek dari gereja itu ke Tirtonadi untuk balik Klaten. Pilihan ojek, slain lebih murah juga lebih cepat meski efeknya ya mesti menghirup bau penguk jaket lan kringet serta kadang2 idu muncrat soko tukang ojeknya.. 🙂

    Sakjane nek dipikir-pikir mana yang lebih penting, ‘menghalangi modernisasi’ atau ‘ngajari para tukang becak untuk alih profesi atau modifikasi profesi mengikuti perkembangan jaman?’ 🙂

  3. iya mungkin selain lebih cepat… motor menjadi lebih ekonomis…
    becak lebih lama dan memerlukan tenaga yang lebih banyak…

    semoga becak tidak punah nih… menurut saya itu adalah kendaraan yang paling enak buat keliling keliling kota…

Leave a Reply