Mikrofon

Ia tak pernah hadir sendirian. Selalu butuh perangkat pengolah dan pengeras, serta memerlukan penghantar, baik berupa serat maupun gelombang frekwensi. Tanpa keterlibatan ‘yang lain’, maka ia nyaris tak berguna. Eksitensi-nya tiada. Tapi, mikrofon kian luar biasa power­-nya manakala bersinergi dengan teknologi hingga yang terkini.

Foto hasil pencarian di Google, petunjuk dari doubles-two.blogspot.com

Foto close up Bung Tomo atau Ir. Soekarno dengan foreground mikrofon, misalnya, membawa ingatan kita kepada suatu masa, ketika eksistensi sebuah bangsa diperjuangkan dengan berdarah-darah. Sementara mikrofon di depan wajah banyak tokoh masa lalu kita, juga menuntun pada imajinasi kerumitan proses membangun diplomasi, sehingga akhirnya mereka bisa berada di forum-forum kecil maupun besar penuh makna, di meja perundingan yang satu ke locus perundingan yang lain.

Perkasanya mikrofon tak hanya membawa kita ke masa yang telah kelewat lampau, tapi juga kemarin dan hari ini. Aura kepahlawanan begitu terasa jika kita menyimak dokumentasi visual dan/atau audiovisual masa silam, hingga berakhirnya era kejayaan Orde Baru. Mikrofon dan Soeharto adalah potret nyata simbiosa kuasa antara keduanya. Tak seorang pun berani ‘merebut’ corong dari The Smiling General yang berkuasa 32 tahun itu.

Tapi setelah muncul gerakan yang disebut reformasi, mikrofon diperebutkan siapa saja. Setiap orang, termasuk yang merasa diri tokoh dan/atau mereka yang lama memendam kecewa terhadap Soeharto, berlomba-lomba menguasai mikrofon. Ada banyak cara dan jurus memutar.

Ada yang dulunya mengaku hidupnya sederhana, tiba-tiba royal harta, membiayai pembentukan kepengurusan partai, dari Sabang sampai Merauke. Dengan membuat partai, mereka berharap bisa merebut mikrofon. Ada pula yang malu-malu berpartai lantas pura-pura tak ingin berkuasa, membentuk aneka laskar dan front, membuat onar di mana-mana. Semua, semata-mata demi mengharap banyak mikrofon datang disorongkan oleh para wartawan.

Mikrofon menjadi kian berkuasa, powerful, sekaligus menjadi saksi adanya nafsu berkuasa dan kerakusan akan harta dari banyak wajah, dari yang diam peragu, yang penuh nafsu, hingga yang malu-malu sehingga mengaburkan wajah aslinya di balik jubah, jenggot dan aneka perangkat dan atribut bersolek lainnya.

Mikrofon kontemporer tak hanya dimonopoli penyanyi, atau identik dengan alat penunjang kegiatan kerohanian. Di gedung-gedung tempat legislator semestinya berkata penuh makna perbaikan masa depan bumi, langit dan semua penghuninya, mikrofon justru jadi obyek yang diperebutkan.

Di ruang-ruang yang semestinya digunakan untuk aktivitas akademik dan pergulatan inteletualitas, tak jarang mikrofon juga dijarah untuk permainan kepentingan yang dibungkus perjuangan untuk semesta. Begitu pun di televisi, radio hingga saluran Internet.

Terlalu sering kita menyaksikan tindakan-tindakan konyol yang dipertontonkan secara terbuka, dan massif. Di televisi, nyaris kita jumpai tiap hari, orang berlomba-lomba berteriak lantang, mengaku paling benar, paling bersih, dan paling berhak bersuara. Mahasiswa, tentara, polisi, atau jamaah pengajian, dihadirkan di ruang-ruang tertutup, dengan kewajiban tunggal: bertepuk tangan, memeriahkan adegan yang tak perlu diskenario, yakni berebut kesempatan bersuara, sebab mikrofon menempel di kepala atau ada di hadapan masing-masing mereka.

Celakanya, nyaris semua sosok yang berebut mikrofon, tak pernah mau berpikir sebelum bersuara, apalagi berhitung dampak dari suara yang telah dibunyikannya. Lebih celaka lagi, terlalu banyak konsultan komunikasi sibuk menghitung peluang ekonomis, membantu mereka yang butuh bersuara: memikirkan susunan kalimat yang dianggap paling menarik, diprediksi bakal disukai banyak orang, lantas didiktekannya kepada sosok-sosok yang ditopengi, dengan tips utama berupa strategi merebut kesempatan bersuara.

Terlalu banyak orang lupa, bahwa mikrofon adalah alat. Pada setiap rangkaian kata selalu mengandung makna, dan intonasi serta cara menyuarakan kalimat demmi kalimat akan menyertakan rasa. Pada rasa itulah, akan muncul dengan sendirinya, persepsi dan keyakinan akan sebuah ketulusan penyampaian dan penerimaan/pemahaman maksud sebuah pesan. Sehebat apapun orator menyusun kalimat, selama tak menyertakan ketulusan, ia hanya akan dinilai sebagai tukang propaganda, atau bahkan sebagai agitator semata.

Referensi untuk bicara bisa dicari dari mana saja. Dengan harta, siapapun bisa menyuruh orang bekerja untuk kepentingannya. Tapi, orang banyak akan bisa menilai, hanya dari cara seseorang menyikapi mikrofon. Mereka yang ketahuan suka berebut dan ingin menang, semata-mata demi berkuasa atas alat untuk bersuara lebih lantang dan menjangkau banyak orang, yakinlah, pasti akan ditinggalkan secara diam-diam.

Sejujurnya, saya (mungkin juga Anda) merindukan sosok seperti Gus Dur. Ia mau ‘membagi’ mikrofon kepada semua orang tanpa perbedaan, agar mereka, terutama yang voiceless bisa bersuara, sementara yang lain bisa mendengar, syukur dengan ketulusan. Ia tak peduli pada dirinya, yang bahkan telah menjadi korban keriuhan politisi berebut mikrofon.

6 thoughts on “Mikrofon

  1. memang skaragn orang itu seperti punya microphone.. semua orang layak bicara… termasuk kita kita ini sebagai blogger… 🙂
    tapi sebaiknya pergunakanlah microfone itu untuk kebaikan orang lain bukan untuk menutupi kesalahan atau ngarang cerita agar terlihat baik…

  2. Beda dengan masa sebelum reformasi, orang2 yang berhak pegang mikrofon dibatasi dan kalangan tertentu. Tapi ini soal kebebasan, yang terlalu bebas hingga berfikir bahwa ‘hanya dengan mikrofon, siapa yang mendengar?’

    semua ingin menang, yang lain dipaksa menonton…
    /blt/

  3. DV

    Baca artikelmu di toilet tadi pagi, trus sepanjang perjalanan ke kantor jadi merenungkan tulisan ini dan sesampainya di kantor (nyolong waktu kerja sithik) aku pun berkomentar…

    Aku jadi teringat ucapan Paus Benedictus XVI yang barusan mengeluarkan surat sambutan dalam rangka hari komunikasi se dunia. Beliau mengatakan bahwa dalam berkomunikasi, berbicara hanyalah bagian yang juga berdampingan dengan ‘mendengar’ sebagai elemen yang lain dari komunikasi itu sendiri.

    So, bagiku, orang-orang yang rebutan mikrofon entah bagaimanapun liciknya sejatinya adalah orang-orang berdaya pikir invalid, menafikan elemen lain dan mengembangkan yang menurutnya menguntungkan.

    celakanya, invalidnya justru ketika mereka dewasa. di masa kanak-kanak hingga remajanya, aku yakin mereka masih valid. begitu berpolitik, jadi invadid :p
    /blt/

    Tulisan ini solid!

  4. in nugroho

    Bagus sekali Mas. Menurut saya, tulisan ini adalah refleksi yang ‘titis’ mengambil titik berangkat dan isu aktual, ‘tatas’ dalam menelanjangi aneka kejadian rebut-merebut kekuasaan, dan ‘tetes’ dalam pemaparan yang rileks tapi ‘mentes’. Saya diajak untuk tertunduk dan merenung. Terima kasih atas refleksi yang mendalam dan tajam ini.

    waduh, pangalembana panjenengan bikin malu saya, Mo. matur nuwun. kita memang kelewat jauh dari ingatan akan ajaran pekerti luhur nenek moyang kita. aneh jika kenyataan semacam ini tak direspon segera, oleh siapa saja. yang jelas, bukan kokakola….
    /blt/

  5. apik kang. reflektif. kita hidup dalam gegap gempita beragam mikrofon. tak ada lagi kemampuan mendengarkan karena yang diobral adalah jor-joran bicara/bersuara. masyarakat semacam itu adalah masyarakat riuh-rendah. tapi dangkal …. matur nuwun refleksi ini.

    sejujurnya, aku menikmati setiap ada acara talkshow di televisi. orang-orang yang kita kenal sebagai intelektual, kita asumsikan bermartabat dan lebih berbudaya, ternyata adabnya masih segitu-segitu aja. tak mau berbagi kesempatan kepada yang lain, tak mau mendengar, dan seterusnya. sungguh aku menikmatinya sebagai ‘hiburan’, namun meminjam istilah SBY, aku prihatin dengan fenomena tak baik itu.
    /blt/

Leave a Reply