Mereka Murah Senyum

Korupsi bukan perkara luar biasa bagi kebanyakan tersangka, bahkan bagi mereka yang sudah berstatus terpidana. Kita bisa menyimak senyum ramah mereka, ketika datang memenuhi panggilan pemeriksaan di kantor-kantor kepolisian, kejaksaan hingga Komisi Pemberantasan Korupsi. Dandanan tetap perlente, wajah selalu menebar senyum. Tak ada yang menunduk atau menutup wajah karena malu disorot kamera.

Bahkan, pemeriksaan hingga persidangan kerap menjadi ajang pamer kemewahan, seperti Artalita yang selalu tampil menor, wangi, dengan asesoris mahal-mahal, selama proses persidangan. Di kamar tahanan sekalipun, Artalita masih powerful, sanggup membeli kemewahan dari oknum pengelola kompleks tahanan.

Hari-hari ini, kita bisa menyaksikan bagaimana mantan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia Miranda Swaray Goeltom selalu murah senyum di depan kamera. Rambutnya tetap colourful, dipadu penampilan khas sosialita papan atas.

Ketika ia meminta dispensasi beribadah di luar ruang tahanan KPK, ingatan saya melayang ke sejumlah tersangka lainnya, yang tersandung perkara korupsi. Ada yang tiba-tiba berkerudung, atau mengenakan pakaian dan atribut yang menggiring persepsi publik akan relijiusitas mereka, bahkan bersumpah diri sebagai orang bersih, tak terlibat skandal.

Saya juga tak habis mengerti, bangsa kita sudah sedemikian pemaaf, toleran terhadap perilaku penggarongan duit rakyat oleh segelintir pejabat dan pengusaha. Ketika orang ramai mempertanyakan kelakuan para pencoleng, malah dianggap berisik, kurang kerjaan dan seterusnya. Dunia sudah jungkir balik.

Tak hanya para tersangka, cobalah simak dengan cermat bahasa tubuh polisi, petugas kejaksaan, atau aparat KPK yang mengawal mereka. Tak ada ekspresi yang menunjukkan kewibawaan penegak hukum, sehingga membuat rakyat bisa tenang, punya harapan akan proses penyelesaian perkara yang adil, dengan hukuman yang setimpal, dan seterusnya.

Bandingkan dengan berita-berita kriminal lainnya. Para pekerja seks komersial yang digelandang polisi atau Satpol PP karena dicurigai berbuat mesum di hotel atau tempat-tempat hiburan saja, kuatir nama baik diri dan keluarganya tercemar sehingga harus menutupi wajahnya dari sorot kamera. Padahal, acapkali yang mereka lakukan adalah dalam rangka pertarungan hidup-mati anggota keluarga mereka pada keesokan harinya, atau mengejar uang sekolah anak-anak mereka.

Untuk ‘jihad’ menutup kebutuhan pokok saja, mereka terpaksa menempuh jalan dengan mempertaruhkan nama baiknya. Sementara, para koruptor yang menumpuk harta untuk kebutuhan mewahnya, tak punya rasa malu sama sekali.

Tapi, adalah kesalahan kita juga yang masih memberi ruang penghormatan kepada para kriminal pencuri uang rakyat. Kita masih menerima dan menempatkan mereka, dan keluarganya, sebagai ‘warga baik-baik’ di tengah masyarakat. Bahkan, tak jarang di antara kita masih ada yang menyediakan diri ‘dibeli’ oleh mereka, padahal kita bisa merasakan, tingkat ‘kebersihan’ harta yang mereka miliki.

Sebagian lainnya, juga ikut menikmati harta mereka, terutama para konsultan komunikasi dan pencitraan. Mereka mencari sisi-sisi baik untuk dipertontonkan, dipublikasikan guna menutup kekurangan.

Dunia memang sudah terbalik-balik. Wajar jika kemudian kita menyaksikan, para kriminal menebar senyum setiap saat, dan hadir secara terang-terangan di ruang-ruang keluarga, menyapa melalui televisi dan media massa lainnya.

 

 

4 thoughts on “Mereka Murah Senyum

  1. Hihi,
    Maaf Pakdhe, komentarku kali ini hanya mau copy-paste dari tulisan lama sohib sampean -MartoArt- dari SINI

    Si Asu dan Si Asila

    Baiklah, mari kita bersaru-saru dahulu, bersopan-santun belakangan. Saru adalah tindakan seseorang yang dilekatkan dengan kegiatan susila. Kesusilaan adalah moralitas yang acap disampaikan dengan tanda-tanda, simbol, dan pesan metaforis. Sopan-santun adalah satu bentuk simbol susila. Simbol hanya berlaku bila ada orang lain yang memaknai. Artinya salah apabila ada pesan kesopanan boker di kakus duduk dengan melarang berjongkok di atasnya. Sebab boker adalah kegiatan soliter alias bukan sedang bersosialisasi atau pentas. Tidak ada ‘Audience’ yang memaknai posisi boker Anda. Tak ada yang mengetahui sepak-terjang boker Anda, artinya tak saru. Dalam hal itu Anda tak bisa dikatakan sedang berbuat ‘Asila’, beda dengan korupsi, tindakan ini tetap tak baik alias ‘Asu’ meski tak ada yang tahu. Orang Indonesia sepertinya lebih sebal dengan pasangan yang ke-gap saat bercumbu di kosan daripada duitnya diembat koruptor. Pelaku ‘Asila’ bisa diarak telanjang keliling kampung, tapi koruptor dan para ‘Asu’ lainnya aman melenggang bersama senyuman. Kriminalitas lebih bermartabat dari percumbuan birahi. Makanya jangan heran kalau para koruptor yang tengah diadili selalu tampil ‘Susilais’. Memang kita hidup di dunia rejim simbol yang sederhananya boleh Anda terjemahkan dengan rejim citra. Dunia simbol adalah dunia kekuasaan. Siapa menguasainya, dialah yang akan mendominasi adab masyarakat.

Leave a Reply