Merdeka Belum, Bung?

Gapura pada sebuah desa di Klaten, pernah dijadikan tempat warga mengekspresikan pergulatan batin komunalnya. Tulisannya mencolok pada kedua sisi gapura, yang jika dirangkai menjadi Merdeka Kok Bingung?. Foto kejadian itu saya unggah pada 1 Juni 2009. Tak sengaja, ternyata bertepatan dengan Kari Kesaktian Pancasila. Kemarin, di Yogya, saya jumpai sebuah grafiti, berisi gugatan terhadap makna kemerdekaan.

Kita bisa berbeda-beda dalam memaknai kata merdeka. Politikus Partai Demokrat besar kemungkinan berseberangan diametral dengan politisi partai pinpinan Megawati. Pejabat dan pendukung pemerintahan Habibie juga pasti akan memiliki klaim berbeda atas makna merdeka dengan masa Megawati, yang dipaksa meneruskan kepresidenan Abdurrahman Wahid oleh Amien Rais cs.

Warga Papua, bisa jadi akan teringat kepada hilangnya kedaulatan mereka terhadap tanah ulayat dan kekayaan alam yang diekploitasi PT. Freeport, setiap mendengar kata kemerdekaan dilafalkan. Pekik merdeka, bisa jadi akan menggiring mereka pada rasa pedih membayangkan berton-ton batangan emas dikapalkan entah ke mana.

Bagi orang-orang Kalimantan, pun wajar mengajukan gugatan atas makna merdeka. Adalah aneh jika saudara-saudara mereka di Pulau Jawa-Bali selalu benderang, listrik berlimpah namun selalu mengeluh kurang pasokan, sementara mereka belum pernah merasakan listrik menyala ajek selama 24 jam penuh tanpa pemadaman. Padahal, batubara yang menghasilkan energi listrik dikeruk dari bumi mereka.

Bahan bakar minyak (BBM) yang selalu langka sehingga mahal harganya, jelas menyulitkan peningkatan kesejahteraan mereka. Seluas apapun lahan perkebunan, sebanyak apapun hasil panen dan industri rakyat di sana, akan sia-sia belaka jika tak bisa dipasarkan ke luar kota (apalagi luar pulau mereka) lantaran kendaraan pengangkutnya tak bisa dinyalakan mesinnya.

Maka, bukan hal aneh jika mereka melakukan aksi boikot pengiriman batubara ke Jawa. Itu bukan kegenitan bak anak-anak merajuk kepada orangtua karena menginginkan sesuatu. Bukan! Aksi itu merupakan akumulasi ‘kesabaran’ bertahun-tahun, ketika orang-orang ‘pusat’ maunya seenaknya sendiri menerjemahkan merdeka sebagai kesewenang-wenangan, menggunakan hak tapi lupa kewajiban.

Gimana coba? Apakah Anda sudah merasa merdeka?

10 thoughts on “Merdeka Belum, Bung?

  1. Rasyid ?@rasyid_com 21 May
    Katanya sudah Merdeka, Tapi ternyata Banyak Warga Negara Indonesia, dari Jawa, Sulawesi , Ternate , Bali, Ambon dan Papua Masih di Perbudak oleh Perusahaan Singapora di Negri sendiri.

    PERBUDAKAN DAN KERJA RODI OLEH PERUSAHAAN SINGAPORE DI RAJAAMPAT PAPUA BARAT SUDAH BERLANGSUNG 22 BULAN, KEMAN http://de.tk/VUs24

    @OmbudsmanRI @_rakyat PERBUDAKAN /Kerja Rodi di Persh Singapore di Papua, 166 Karyawan tidak digaji lebih setahun

    http://www.rimanews.com/read/20120624/67100/surat-pembaca-pt-wageo-mineral-mining-belum-bayar-gaji-karyawan-hampir-setahun

    Siapa Yang berani ?
    Ayo Action

  2. DV

    Kemerdekaan bagi saya selalu ambigu, Lik.. sama halnya dengan semua hal di dunia ini, mana ada sih yang nggak ambigu? :)

    benar juga, sih…
    /blt/

  3. Ada banyak orang yang tidak merdeka di Indonesia. Salah satunya, dalam “hal kecil” saja: mereka yang tidak berani bersuara menyampaikan kebenaran. Ia tahu apa yang salah dan apa yang benar, misalnya dalam urusan pekerjaannya, tapi ia bungkam tidak bernyali.

    Bertahun-tahun silam aku katakan kepada temanku wartawan yang tidak berani protes atas kebijakan kantornya yang merugikannya: “Kautahu apa yang paling berharga diberikan Tuhan kepadamu dan kepadaku ketika kita lahir? KEMERDEKAAN. Karena itulah kita langsung ‘berteriak’ menangis. Tapi karena sekarang kau cuma diam, tidak berani bersuara meskipun kau dalam posisi yang benar, maka sesungguhnya kau sudah mati!”

  4. saya sih tidak mengerti apa artinya merdeka.. kalau kondisinya masih seperti ini.. mau ngapa ngapain susah. di jajah secara ekonomi. Tp lumayan sudah merdeka ngomong ngaco kayak gini di blog sudah ok loh…

  5. Aku tuh malah prihain ketika melihat n mengamati sebuah tulisan (termasuk di blogku) yang berjudul “Papua” trus ada buntutnya ‘harus merdeka’

    Kebingunganku terjadi karena kok ya kata ‘merdeka’ itu -bahkan oleh pihak penguasa- selalu diarahkan menuju sisi ‘separatisme’ sehingga harus di waspadai…

    duhh….

Leave a Reply