Satpam Menyebalkan

Ketika sektor keamanan resmi jadi bisnis menggiurkan, pasca Bom Bali I, peran satuan pengamanan (satpam) kian penting. Bahkan, pencitraan terhadap mereka dilakukan dengan nama istilah baru: security (person). Pakaian dinasnya pun dibedakan dengan satpam yang putih-biru. Tapi, pencitraan tak selalu mulus. Seperti pengalaman saya yang diinterogasi petugas satpam Hotel Best Western Premiere, Solo, Selasa (22/5) siang.

Saya menduga, si satpam perlu melakukan screening terhadap saya karena datang naik sepeda motor, pakai ransel. Di depan portal yang tertutup, saya ditanya tujuan, keperluan, hingga hendak menemui siapa, dan seterusnya.  Tujuh pertanyaan yang tak perlu saya jawab karena sungguh merasa terteror. Saya memutar balik, memarkir sepeda motor di samping enam atau tujuh sepeda motor yang berjajar rapi di jalur lambat, di pinggir Jl. Slamet Riyadi.

Begitu sepeda motor diparkir, saya masuk pelataran hotel menuju lobby. Eh, si satpam berteriak memanggil temannya sesama satpam yang berada di halaman luar lobby. Yang saya dengar, Satpam I mengabarkan ke Satpam II ada orang penyerobot masuk.

Well, Satpam II berusaha menyapa, saya cuekin. Terus berlalu menuju coffee shop menemui tamu yang bukan saja terhormat bagi saya, tapi juga terhormat bagi hotel itu. Saya merasa tak perlu memberitahu yang saya temui adalah seorang pejabat tinggi, yang menginap di hotel itu bersama rombongan, terdiri sejumlah utusan negara-negara asing yang bersahabat dengan Indonesia.

Saya sangat tersinggung dengan cara mereka memperlakukan tamunya. Beberapa hotel berbintang di Solo, yang menurut saya lebih banyak bintangnya, pun tak menyikapi tamunya dengan cara sedemikian kasar. Atau memang Best Western Premiere merupakan hotel eksklusif, sehingga sepeda motor tak boleh ‘mengotori’ kompleksnya? Jika iya, apa hak manajemen hotel itu menyerobot hak pengguna jalur lambat yang diperuntukkan bagi pengendara sepeda dan pengayuh becak?

Saya tak mengerti dasar berpikir diskriminatif para pengelola hotel ‘berkelas’ model demikian. Sama jengkelnya ketika saya mengunjungi Mal Solo Square, yang setiap keluar merasa tidak ‘diseberangkan’ oleh petugas keamanan mal itu. Seburuk apapun mobil yang hendak keluar/masuk mal itu, para petugas keamanan sigap mengatur lalu lintas.

Ada kesan, seolah-olah keselamatan pengendara mobil lebih bernilai dibanding milik pengendara sepeda motor. Berulang kali saya merasakan perlakuan diskriminatif seperti itu. Andai mengendarai motor gede, mungkin perlakuan mereka jauh lebih sopan dibanding terhadap pengendara Avanza atau Innova. Ada sesat nalar akibat kesalahan asumsi.

Terhadap hal-hal demikian, saya tak menyalahkan sepenuhnya kepada petugas satpam. Manajemen mal atau hotellah yang menurut saya perlu disegarkan pikirannya. Bukan lantaran mengendarai sepeda motor lantas boleh diremehkan, direndahkan derajadnya dibanding penunggang mobil atau motor besar.

Sekumal atau sedekil apapun seorang tamu, tetaplah harus dihormati dan diperlakukan secara wajar, tanpa pengecualian. Terhadap orang yang dicurigai sekalipun, perlu perlakuan sopan, sebab tak seorang pun berhak dan mampu mengetahui maksud dan motif seseorang mendatangi hotel atau mal.

Para pengelola hotel, perkantoran, mal atau apapun, silakan berkaca, apakah Anda sudah memberi bekal memadai terhadap staf-staf Anda, termasuk kepada para petugas keamanan, agar menjaga etika dan sopan santun terhadap orang lain.

Khusus kepada manajemen Hotel Best Western Premiere yang meminta DM nomor kontak saya, inilah penjelasan saya. Saya tak perlu memberitahukan nomor saya kepada Anda, yang (saya duga) paling akan meminta maaf, khas, standar petugas humas. Maaf, saya tek membutuhkan itu. Saya akan memaafkan dengan sejumlah bukti perubahan yang baik di kemudian hari.

Asal tahu saja, ketika saya keluar bersama tamu hotel Anda dan saya kembali ke hotel naik taksi, mereka tak menyuruh saya membuka kaca dan memeriksa bawaan saya. Artinya, kalian ngawur dalam menakar seseorang. Anda tidak akan pernah bisa menyimpulkan (apalagi mengantisipasi), andai saya masuk kembali naik taksi namun membawa bom di ransel. Satpam Anda lebih berprasangka buruk karena saya datang mengendarai sepeda motor, meski hari itu saya sanggup berfoya-foya di coffee shop atau restoran di hotel Anda.

 

 

9 thoughts on “Satpam Menyebalkan

  1. ehehehe. saya juga pernah ngalamin hal serupa pas nginep di sebuah hotel kondang di jogja. setelah seharian acara di luar saya balik ke hotel malam hari pake motor. di depan saya ditanyain macem-macem, intinya mereka gak mau buka portal buat saya. begitu saya tunjukkan pintu kamar, langsung deh minta maap trus buka portal

  2. ajining raga dumunung ing busana kata mbah saya. dalam kehidupan sehari-hari kalo saya lagi di bis trus ketemu seseorang dengan baju dekil dan muka sangar mungkin reflek saya adalah megang dompet, beda halnya kalo ketemu sama mbak-mbak muka oriental dengan baju yang wangi misalnya.

    berprasangka baik saja dhe, mereka cuma menjalankan tugas 🙂

  3. Pengendara motor itu kelas dua pak. Di solo, pengelola tempat gituan sudah mulai ketularan perilaku ibukota “Tanpa STNK, motor dilarang”.

  4. itu sering kejadian… artinya hotel ini tidak benar benar ekslusif mas… biasanya yang benar benar bagus biasanya customer oriented jadi semirip teroris apapun kita tetap dilayani dengan baik.. kalau sampai dicurigai juga dengan cara yagn benar….

Leave a Reply