Maju dengan Majalah Dinding

Mendengar gagasan teman-teman blogger Bertuah Pekanbaru yang mengembangkan MadingOnline untuk pelajar, yang terbayang di benak saya adalah sebuah forum antarpelajar di berbagai penjuru Provinsi Riau. Antara pelajar di satu kabupaten/kota dengan daerah lain, terhubung melalui sebuah wadah virtual, melalui website yang dikelola bersama, syukur dikembangkan di forum nasional.

Ketika berkunjung ke Pekanbaru, dua tahun silam, saya mengusulkan ke teman-teman blogger agar MadingOnline dijadikan program bersama, yang pengelolaannya melibatkan komunitas blogger di berbagai daerah. Komunitas blogger bisa mengambil peran sebagai pendamping teknis, seperti mengurusi sistem admin, serta pelatihan penulisan dengan medium blogging. Teknisnya, bisa menggandeng organisasi intrasekolah (OSIS), atau kepala sekolah sebagai pembina siswa.

Dari pengelolaan majalah dinding virtual, akan didapat manfaat ganda. Selain mengajak pelajar berinteraksi dengan pelajar berbeda sekolah (dan daerah), komunitas blogger juga bisa menyemai bibit-bibit produsen konten, yakni para blogger muda. Komunitas blogger di suatu daerah bersama organisasi/wakil pelajar bahkan bisa menyelengarakan lomba penulisan, lomba cipta puisi, melukis, fotografi dan sebagainya, termasuk lomba videoblogging.

Teknologi Internet yang kian murah dan terus merambah seluruh pelosok negeri, bisa disikapi dengan menciptakan beragam kegiatan/aktivitas yang dikelola komunits pelajar di sebuah daerah bersama blogger setempat. Kerja sama dengan operator seluler juga bisa dilakukan, sehingga kepentingan perusahaan telekomunikasi bisa bertemu/bersinergi dengan komunitas.

Perusahaan seperti XL Axiata Tbk. misalnya, bisa dilibatkan dalam bentuk support pendanaan, seperti untuk pengadaan hadiah, penyelenggaraan, honor juri hingga kegiatan upacara penyerahan hadiah sekaligus menjadi forum pertemuan antarsiswa, beserta guru/pengajar. XL Edusolutions yang telah mengembangkan program XL School & Campus Community (tahun ini telah memiliki 1.000 jaringan XL Sifoster), misalnya, bisa digandeng, untuk melengkapi program XL Jagoan Muda yang telah berjalan sebelumnya.

Dalam studi kasus di Solo, misalnya, sejatinya publik bisa memanfaatkan lima Taman Cerdas yang tersebar di lima kecamatan. Di taman-taman yang dibangun pemerintah setempat, dengan bantuan perangkat komputer dan koneksi Internet gratis dari XL, misalnya, bisa dioptimalkan pemanfaatannya.ย  Paguyuban/komunitas online (Facebooker, Kaskuser, blogger) semestinya bisa dilibatkan untuk meramaikannya.

Tak hanya kalangan pelajar di sekitar Taman Cerdas, warga lainnya pun bisa memanfaatkan ketesediaan koneksi dan fasilitasnya untuk pengembangan usaha, seperti para pelaku industri mikro, kecil dan menengah, yang biasanya banyak terdapat di kampung-kampung. Jurnalisme warga, dalam pengertian media tukar informasi antarwarga setempat juga bisa dibikin dengan memanfaatkan fasilitas yang tesedia gratis seperti Facebook atau blog.

Tantangannya, memang soal inisiatif dan kerja sama saling menguntungkan semua pihak. Komunitas blogger dan onliner yang biasanya melakukan aktivitas berinternet secara fun bisa disinergikan dengan warga/komunitas setempat, seperti halnya forum maya lewat majalah dinding untuk pelajar seperti disebut di atas.

Slogan XL Memajukan Negeri akan kian terasakan manfaatnya bagi publik, baik pelajar, mahasiswa maupun masyarakat umum. Saya kira, tinggal bertemu saja antara stakeholders yang satu dengan yang lain, untuk membicarakan bentuk/format kerja sama pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Dalam sebuah event lomba menulis untuk pelajar SLTP dan SLTA yang digagas komunitas blogger Pendekar Tidar, Magelang, awal Mei, misalnya, terlihat antusiasme siswa dan guru mengikuti seminar setengah hari mengenai pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa guru tertarik diberi pelatihan blogging, utamanya untuk para anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia. Jumlah pendaftar lombanya pun kian banyak, meningkat dua kali lipat dari penyelenggaraan lomba yang diawali 2011 silam. Bahkan, jika sepekan menjelang pelaksanaan seminar baru terdaftar 30 guru, pada sehari pelaksanaan jumlahnya membengkak menjadi 130 peserta.

Saya kira, para guru dan pelajar sama-sama tertarik, memerlukan sebuah forum belajar-mengajar di luar aktivitas formalnya di sekolah-sekolah. Komunitas blogger, para guru, pelajar dan operator seluler seperti XL yang berbisnis di bidang telekomunikasi, bisa bersinergi, bersama-sama semakin memajukan negeri lewat jalur pendidikan, formal maupun nonformal.

Andai MadingOnline yang digagas teman-teman blogger Pekanbaru bisa dijadikan gerakan bersama yang diinisiasi komunitas blogger secara nasional, lantas ada lomba yang digelar oleh komunitas-komunitas dari berbagai kota, saya kira akan menarik. Masing-masing kota/kabupaten bisa membuat subdomain, di mana setiap subdomain dikelola mandiri, namun tetap berjejaring secara nasional, maka hal itu akan mempertemukan pelajar dan pengajar dari seluruh penjuru negeri.

Jika itu diwujudkan, maka kesenjangan pendidikan bisa teratasi lewat partisipasi publik. Saling tukar informasi situasi belajar-mengajar, referensi mata pelajaran atau soal-soal ujian, bisa mengikis kesenjangan, antara yang di desa/pelosok dengan yang di kota-kota lebih besar, bahkan antara sekolah โ€˜biasaโ€™ dengan sekolah berstandar internasional maupun sekolah internasional.

Dalam angan saya, jika tiap subdomain yang dikelola sebuah komunitas lokal bikin lomba penulisan (tingkat lokal dan nasional), mungkin setiap bulan ada satu kegiatan lomba yang melibatkan pelajar dari seluruh penjuru Indonesia. Dengan demikian, iklim kompetisi di kalangan pelajar bisa terwujud, dan seluruh yang terlibat tetap bisa menjalaninya dengan riang (fun), sehingga akan memaju pelajar satu (daerah) dengan pelajar lainnya bersaing secara sehat.

Jika tahun ini XL memasang target mencapai 2.500 komunitas (pelajar/mahasiswa) terbentuk,ย  maka alangkah menyenangkannya iklim kompetisinya. Mungkin, setahun sekali bisa dibuat penghargaan (award) khusus bagi pelajar dan mahasiswa, terutama melalui media blogging. Karya ilmiah antarpelajar/mahasiswa bisa diunggah di blog masing-masing, lalu dilombakan dan dinilai. Kontribusinya bagi kemajuan pendidikan, bisa dipastikan tak akan ternilai. Apalagi jika kita menyimak, seringkali pelajar/mahasiswa mengeluh tidak bisa menulis atau kesulitan membuat paper atau skripsi. Blogging bisa menjadi jembatan bagi pelajar/mahasiswa menuangkan gagasan lewat tulisan, sehingga turut membangun rasa percaya diri, dan membangkitkan semangat ingin mencari informasi/referensi.

Bukan mimpi, rasanya, jika publik bisa terlibat aktif dalam rangka memajukan negeri. Seperti hari ini, ketika saya menulis ini, saya baru saja usai melakukan penilaian sebuah kompetisi film pendek kelas pelajar (SLTP/SLTA) yang diikutsertakan dalam Festival Film Solo 2012. Satu karya anak-anak SMP di lereng Gunung Slamet, tepatnya di sebuah pelosok Kabupaten Purbalingga, muncul karya orisinal, yang berbicara mengenai tema besar, namun dengan bahasa gambar dan alur cerita yang sederhana.

Dikisahkan, seorang pelajar SMP yang tinggal bersama kakeknya, kesulitan memiliki alat tulis. Sang anak merajuk kepada kakeknya untuk dibelikan buku tulis, yang dijawab sang kakek akan diupayakan melalui cara utang ke saudara sedesa. Ketika duit didapat, dibelanjakanlah buku tulis oleh si anak. Sial, si pemilik toko tak mau memberikan uang kembalian, yang menggantinya dengan permen senilai Rp 400.

Oleh si anak, permen disimpan, hingga suatu saat, ketika terkumpul permen setara harga buku, ia datangi toko untuk menukar permennya dengan buku, yang anehnya ditolak. Ceritanya sederhana, namun itu mengingatkan banyak orang tentang budaya mengganti kembalian dengan permen. Banyak yang bisa dipetik dari kisah itu. Dan, karena film berdurasi sekitar 10 menit itu dibuat pelajar SMP di pelosok negeri, andai itu diunggah di Internet dan ditonton banyak orang, pasti itu akan menggugah pelajar membuat karya-karya sejenis.

Internet memungkinkan berbagi pengetahuan secara murah dan mudah. Bangsa Indonesia juga cepat melesat maju, jika kesadaran belajar dan berbagi warga seperti di Pekanbaru, Magelang dan Purbalingga diketahui dan ditiru banyak orang. Internet atau teknologi informasi dan komunikasi, memungkinkan segalanya. Mengatasi hambatan waktu, dan jarak dan kondisi geografis. Belajar adalah hak, begitu pula kemajuan.

8 thoughts on “Maju dengan Majalah Dinding

  1. Setuju pak,
    memang semua butuh dukungan dan kerjasama semua pihak, apalagi sekolah rasanya mustahil tanpa peran orang tua, masyarakat dan pemerintah akan mencapai tujuan.
    Terima kasih pak, tulisan yang sangat menginspirasi.
    Sukses untuk kita semua

Leave a Reply