Pentas 2014

Bangsa Indonesia sedang memasuki masa merdeka yang sia-sia. Kerusuhan demi kerusuhan terjadi, berulang secara merata, namun tak kunjung membuat orang jera. Maunya tenang, namun tak pernah berupaya, apalagi melawan secara bersama-sama, kompak. Walhasil, luka demi luka tertoreh di tubuh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Saya, dan kebanyakan dari bangsa Indonesia, selalu punya prasangka yang sama, tentang kehadiran dalang pada sebuah cerita perang. Mahadalang pun diyakini ada, karena setiap peperangan memiliki pola dan modus serupa, kendati terjadi di tempat yang berbeda, bahkan berjauhan letaknya.

Keributan di Gandekan, Solo, pada pekan pertama Mei, yang berbarengan dengan kegaduhan di Jakarta, Gunungkidul, dan Bekasi, melibatkan kelompok yang sama ‘ideologi’-nya. Jika ditelisik, ujungnya akan sampai pada satu-dua pihak yang sama.

Lambannya penanganan oleh pihak yang memiliki kewenangan dengan legitimasi mandat konstitusi menjadi kata kunci. Adalah aneh ketika seorang penanggung jawab keamanan tidak mau mengambil langkah represif dengan dalih demi mengeliminasi potensi munculnya anarkisme.

Jika banyak orang secara bersama-sama membawa senjata tajam secara ilegal dan berada di tempat umum tanpa dicegah, lantas apa guna kehadiran mereka?

Tak berlebihan kiranya jika publik membandingkan dengan kerumunan di tempat lain, yang dibubarkan paksa dengan cara memuntahkan peluru dari senjata secara membabi buta. Ada perlakuan berbeda, meski kerumunan itu tak mengancam keselamatan lain pihak.

Negara absen pada setiap kekacauan. Pemimpinnya merasa sudah menyelesaikan persoalan hanya lewat himbauan dan pernyataan keprihatinan. Tak ada kehadiran nyata dari representasi negara.

Dua ribu empat belas sudah dekat. Semua kekuatan politik, baik yang resmi dengan berpartai maupun yang partikelir (alias tanpa formalitas kelembagaan) mulai melakukan pemanasan.

Semua potensi perbedaan dikelola sedemikian rupa, lantas dibenturkan ketika butuh pengujian lapangan, untuk menguji kemampuan pengendalian.

Silakan jika Anda menganggap saya sedang berfantasi. Bagi saya, teori konspirasi sengaja dikesankan usang dan tidak relevan pada masa kini, supaya orang tak berpikir ke arah sana.

Kita semua, saya yakin, pada paham apa yang sedang terjadi di balik ‘hal-hal dan peristiwa faktual’.

Perbedaan di dalam masyarakat, apapun bentuknya, selalu dikelola, dengan cara dibiarkan ketika diyakini akan mengkristal secara alamiah. Militansi pun dibina, dipupuk dengan cara sedemikian rupa, agak kelak bisa dipanen jika kepentingan sudah datang.

Di luar yang ‘klasik’, yakni membenturkan sesama dengan bumbu agama, masih ada ‘bekal’ yang kita kenal sebagai ‘modal etnisitas dan ras’. Faktor ketimpangan sosial-ekonomi bisa dijadikan bahan bakar, yang berperan pada penentuan durasi di mana bara akan dibuat menyala.

Para elit politik yang tak pernah dewasa, hanya punya sedikit cara untuk merengkuh kuasa. Maunya potong kompas, memilih pendekatan mobilisasi dan intimidasi.

Moral tak pernah dijadikan sebagai modal. Kemakmuran hanya dipahami sebagai hak lingkaran inti. Maka tak mengherankan jika negara ini hanya melahirkan banyak manusia-manusia setipe Machiavelli dan Brutus.

Ratu Adil pun terus dipiara sebagai mitos, yang dipaksakan hadir ke ruang-ruang bawah sadar, namun dicitrakan sebagai simbol adanya harapan.

Uang, senjata, preman, tentara, akan selalu mewarnai perjalanan sebuah bangsa dan negara bernama Indonesia. Partai politik hanyalah kendaraan, dan rakyat tetaplah sebagai mainan.

Sudahkah ada rusuh di sekitar Anda?

Jagalah selalu kewarasan Anda dan tetangga kiri-kanan, agar lingkungan sosiak/politik/ekonomi/budaya di mana Anda berada, tidak masuk daftar prioritas proyek kegaduhan.

2014 kian dekat. Bukan mustahil, perang bintang akan memilih sekitar kita sebagai medan Perang Bubat, atau padang Kurusetra, tempat banyak tubuh-tubuh berserakan ditinggal pesta sang panglima, yang merasa sudah memenangkan pertarungan.

Ingat, 2014 audah dekat.

4 thoughts on “Pentas 2014

  1. ikutb nyimak artikel nya pak.,.,.,., ga salah aku terus ikutin perjalanan bapak.,.,.,.,.,., makasi buat ertikel” yang sangat mantep pak, sukses terus

  2. baru saja saja menyaksikan kerususan yang terjadi karena perbedaan ideologi, sepertinya bangsa kita lebih senang menyelesaikan semuanya dengan kekerasan ya pakdhe?

  3. setuju nih dengan tulisan diatas… moral menurut saya dijadikan modal juga loh Pak… ya sebagai slogan slogan untuk memikat hati rakyat memilihnya… setelah itu ga mempan baru yang lain…. 🙂

Leave a Reply