Jokowi Ngaji

Saya mengenal Pak Jokowi sebagai sosok bersahaja. Bisa dikatakan kenal dekat, namun saya selalu berusaha menjaga jarak. Mungkin berlebihan, lebay jika saya memilih jalur prosedural, membuat janji lewat ajudan, jika hendak menemui untuk sebuah keperluan, sepenting apapun dalam arti subyektif.

Jika ada yang menyebutnya suka membuat sensasi atau demi pencitraan, alangkah berlebihan si empunya pendapat. Dia berbeda dengan Dahlan Iskan yang menurut saya suka bersandiwara. Ia tak berinisiatif membawa wartawan untuk aneka keperluan, jika itu membawa efek yang menguntungkannya secara personal. Pekerja media lebih terpesona pada prestasi kinerjanya, juga pada sifat dirinya yang anomali dalam konteks terkini.

Jika ia harus “tampil beda” menjelang Pilkada Jakarta, saya melihatnya sebagai wujud totalitas upayanya “menyelamatkan muka” Bu Mega, petinggi partai yang mengusungnya  hingga jadi Walikota Surakarta dan menyemai rekor suksesnya.

Sejak masih aktif di dunia jurnalistik, dulu, tak pernah saya jumpai seorang Jokowi mencampuradukkan posisinya sebagai walikota yang harus berdiri di atas semua partai dan golongan. Diundang dalam acara resmi partai yang dihadiri Megawati sekalipun, belum pernah saya lihat ia menggunakan atribut atau baju yang warnanya berasosiasi ke PDIP. Di manapun, Pak Jokowi selalu berusaha netral, termasuk membebaskan diri dari simbol-simbol yang berasosiasi politik.

Demi maju “DKI Satu” mewakili PDIP, pilihan Pak Jokowi pada simbol kotak-kotak berikut filosofi yang hendak dibawa pada bajunya, ia memilih diferensiasi, sebuah pembeda. Meski populer akibat dampak pemberitaan banyak media massa, tapi dia meyakini Jakarta adalah rimba belantara, yang tidak mudah mengenalkan diri kepada penghuninya.

Sebagai “kader” PDIP, ia membuktikan lewat prestasi, agar khalayak partai pendukungnya bisa mengapresiasi positif atas semua kinerjanya. Ia tak mau berbaju merah setiap waktu hanya demi sebutan kader partai. Pada sisi itu, ia ingin ngemong atau menjaga perasaan banyak orang di luar partainya, yang merasa berhak memilikinya pula.

Sepanjang yang saya kenali dari pribadi Pak Jokowi, ia tak bermimpi jadi pejabat dan ingin berkuasa. Secara sepihak, saya menyebut pencalonannya di Jakarta adalah “kecelakaan politik”. Mungkin PDIP ingin mendongkrak posisinya di jagad perpolitikan Indonesia, sehingga memilih Pak Jokowi mewakili partainya berlaga di Jakarta, sebuah kota yang dijuluki miniaturnya Indonesia. Mungkin terlalu dini menurut penilaian sebagian orang. Tapi dalam situasi sekarang, PDIP harus “menjual” kadernya yang memang benar-benar pantas dibanggakan.

Pak Jokowi yang menurut saya “miskin” dalam konteks modal bertarung melawan gajah-gajah di kota pusat pemerintahan dan muara semua jenis kekuasaan, terbukti memilih berjuang dengan tenaga yang dia punya. Termasuk memproduksi kain kotak-kota lalu dijualnya sebagai modal kampanye yang bersahaja.

Saya lebay menilainya? Jika demikian, silakan Anda tumpahkan di kolom komentar di bawah postingan ini. Saya bahkan rela dan tak malu menelan ludah sendiri, di mana dulu saya berjanji akan berada di barisan terdepan menentangnya jika ia berlaga di Jakarta. Tapi, saya harus berbalik arah karena menganggap pencalonannya sebagai “korban”, yakni korban ambisi partainya untuk memamerkan kader terbaiknya ke tingkatan lebih tinggi, yakni menjadi Gubernur DKI.

Pak Jokowi yang santun dan tahu menempatkan diri dalam etika berpolitik, lantas memilih bersikap legawa, menerima tugas mahaberat dengan dukungan dana terbatas (jika dibanding calon-calon lainnya).

Saya ingin mengajak Anda, para pembaca untuk menilainya sendiri, lewat peristiwa “kecil” berikut.

Suatu malam menjelang pemilihan Walikota Surakarta untuk periode keduanya, Pak Jokowi diundang menghadiri dalam sebuah pengajian di sebuah Pondok Pesantren di tengah kota. Belasan ribu jamaah hadir di sana. Panitia sudah membuat skenario halus, yakni akan memintanya memberi sambutan pada forum pengajian sebagai bentuk penghormatan dan pesan terselubung dukungan pencalonannya kembali.

Seseorang, rupanya sudah disuruhnya memantau jalannya pengajian, dan mencari tahu jalan pintas menuju deretan kursi untuk tamu-tamu khusus si empunya acara. Hubungan telepon untuk konfirmasi kehadiran tak pernah dijawab ajudan karena alasan kesibukan, sehingga waktu yang terus beranjak malam memaksa panitia mempersilakan seorang kiai memberi khutbah pengajian sebagai puncak acara.

Menjelang berakhir khutbah itulah, Pak Jokowi menampakkan diri memasuki kursi yang dikosongkan sejak mula. Rangkaian acara tak mungkin diubah, karena sambutan seusai khutbah sungguh tak lazim.

Usai pengajian, barulah dilanjutkan perbincangan santai dengan sejumlah kiai. Beberapa kiai protes atas keterlambatannya. Tapi, dengan enteng Pak Jokowi menjawab dengan kalimat, yang menurut saya, bersahaja.

“Jika saya datang tepat waktu, paling saya disuruh ke mimbar untuk ngasih sambutan, kan? Saya tak mau menodai pengajian dengan politik, apalagi menjelang Pilkada,” ujarnya.

Para kiai hanya tersipu, dan menghormati adab yang ditunjukkan Pak Jokowi. Padahal para kiai itu cukup dekat dengannya, dan tak pernah mengharap imbalan apapun kepadanya. Dan, Pak Jokowi pun tahu ketulusan para kiai itu, sehingga ia merasa harus menjaga dengan caranya yang diyakininya benar dan bijaksana.

10 thoughts on “Jokowi Ngaji

  1. safie

    Setuju kang,, saya lagi keliling blog kang blontank,,
    cuma beberapa minggu yg lalu sy pernah dengar di media kalo pak jokowi memang juga sempat melamarkan diri buat jakarta ke partainya. tp blm ada kputusan diterima atau nggak sma si Ibu.

    menurut saya agak musykil juga kalo pak jokowi maju jd wagub DKI semata krn keinginan partai. pasti juga ada ada dorongan pribadi mau mencoba bkerja di ibukota. Ambisi sah2 aja apalagi bagi pemimpin. toh jg dulu maju jd walikota surakarta selain karena desakan kawan2 sesama pengusaha kayu jg karena di dorong kegundahan pribadi terhadap pemerintah kotanya yg kurang jiwa melayani .

    Ndak papa, kalo pak jokowi ternyata berkeinginan,,toh itu perlu. spy ada semangat dlm bekerja..mosok karena disuruh2 tok.

  2. arek ndeso

    Jancuk… mbrebes-mili aku moco blog critone Pak Wi iki. Masiho duduk warga Solo, aku yoh isoh melok ngrasakno eman-eman lak wong apik’an koyok’ Pak Wi iku dadi korban bentrokan kepentingan politik.

    Salam Satoe Djiwa
    Ongis Nade

  3. andri

    Gusti bakal maringi berkah lan madhangi dalane Pak Jokowi mas..
    Apapun sing bakal kelakon, mesthine Gusti sampun gadhah rencana dhewe..
    koyo dhewe ngene iki, mung isane manut kalih karepe Gusti

    saiki..isone yo mung ndukung, lan ndonga..

  4. DV

    Cukup kau ceritakan tentang kebaikan Pak Jokowi, Lik!
    Takutnya aku semakin menyayangkan kalau sampai dia kepilih beneran jadi DKI-1… Mengorbankan sosok setulus dia adalah harga yang terlalu besar untuk sebuah kota busuk, kan? 🙂

  5. sari

    Sebagai warga Solo, saya sangat setuju dengan semua yg telah disebutkan. Memang itulah Jokowi. Sebenarnya sangat disayangkan beliau dicalonkan jd DKI 1, lebih tepatnya eman2, orang setulus dan bersih spt beliau harus berjibaku dengan berbagai kepentingan. Salah besar jika mereka menyebut apa yg telah dilakukan adalah pencitraan. 7 th berkarya tidak pernah berubah, jika itu cuma pencitraan dan kebohongan apakah itu tidak melelahkan, karena satu kebohongan harus ditutupi dengan kebohongan yg lain …

Leave a Reply