Workshop untuk Blogger

 

Kak Nukman berbagi cerita

Komunitas Blogger Bengawan menggelar workshop sumberdaya komunitas blogger, 14-16 April kemarin. Pesertanya memang terbatas, dalam arti tidak melibatkan banyak orang dari banyak komunitas. Workshop biasa saja sebenarnya. Sebab peserta yang diundang hanya mereka yang diasumsikan senasib dengan kami: kemampuan terbatas, referensi dikit, dan minim jejaring.

Memang disinggung juga tentang pengorganisasian event atau program komunitas. Tapi, semua materinya masih pada klasifikasi elementer alias kulitnya saja. Oleh karena itu, kami memerlukan seorang fasilitator workshop, yang tak lain dan tak bukan adalah Om Agus Gunawan Wibisono, yang sejak beberapa tahun terakhir intens mengawal perjalanan Bengawan.

Dari Om Gun, kami banyak dibimbing mengenali potensi komunitas (blogger) terkait lingkungan sekitarnya. Selalu ada banyak pemangku kepentingan (stakeholders) dalam sebuah sistem sosial, tak terkecuali komunitas blogger yang bisa pula disebut civil society organization/CSO.

Peserta serius menyimak...

Sebagai organisasi masyarakat sipil, individu-individu yang terorganisir diasumsikan bisa turut mewarnai dinamika sosial-budaya (juga ekonomi dan politik) sebuah wilayah. Terorganisir yang dimaksud adalah memiliki pengetahuan dan referensi memadai mengenai lingkungan di mana mereka tinggal, sehingga dengan bekal itu bisa lebih mampu berkiprah, sekecil apapun dampak bagi di luar dirinya.

 

Cak Teddy Bara Iskandar, paling bersemangat dalam berbagi...

Apakah seorang blogger harus menjadi aktivis, pebisnis, politisi atau apapun namanya, semua kembali ke individunya. Tapi dalam konteks berorganisasi, cukup banyak peluang yang bisa diperankan oleh individu-individu dalam sebuah komunitas untuk turut melakukan proses dinamisasi, terutama ketika menghadapi beragam kepentingan.

Pemerintah, korporasi, partai politik, publik, kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan (minoritas) dari sebuah sistem, merupakan pemangku kepentingan dalam konteks pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Demikian pula komunitas blogger, yang bergelut dengan TIK dan media baru, termasuk di dalamnya social media.

Ada sejumlah problem klasik yang dihadapi kebanyakan komunitas blogger. Ada yang tak memiliki sumber dana (tetap maupun temporer), tak memiliki tempat kumpul yang menetap (apalagi sekretariat), juga keterbatasan jejaring. Soal resources dalam arti manusia, nyaris semua anggota komunitas blogger memiliki passion berbagi kepada sesama dan lingkungan sekitarnya, bahkan ‘kelewatan’ pada beberapa hal.

Mbak Devi cerita posisi XL dalam jagad Internet Indonesia

Diundang kopdar atau menghadiri sebuah gelaran acara komunitas blogger lain, misalnya, orang suka berbondong-bondongg meramaikan, dengan biaya masing-masing. Pokoknya demi kopdar, bisa bertegur sapa dan berbagi pengalaman antarteman, sudah melegakan dan membahagiakan. Begitu watak asli para anggota komunitas blogger.

 

cinderamata, kaos untuk peserta...

Intinya, saling meramaikan dan memeriahkan gelaran kopdar atau acara apapun yang diselenggarakan komunitas lainnya. Soal ongkos transpor, urusan belakangan. Yang penting budhal begitu memperoleh undangan ketemuan, kopdar atau (apalagi) sebuah event komunitas.

Tapi, ada hal yang menggelisahkan saya dan sejumlah teman, baik di Bengawan maupun dari daerah-daerah lain. Yakni, adanya kecenderungan sebagian teman untuk merangkul banyak kawan dengan dalih aneka macam, namun sejatinya adalah bentuk ‘penunggangan’. Maksudnya, punya agenda tersendiri dengan pihak ketiga, namun tak mau terbuka.

Mbak Shita Laksmi memaparkan tema hak asasi manusia dalam workshop blogger. Dialah yang pertama kali berminat mewujudkan terselenggaranya workshop penting ini... Sila follow @slaksmi

Hanya satu-dua, memang. Tapi itu merupakan gejala tak baik sehingga mengancam kerukunan antarblogger. Persaudaraan yang semula happy-happy bergeser menjadi berhitung untung-rugi lantaran ada kecurigaan/kekuatiran dikapitalisasi. Padahal, yang demikian belum tentu mudah terjadi, dan tak mudah menemukan jejak sebagai bukti (sebuah prasangka).

Tentu, yang membahayakan adalah jika prasangka dibiarkan berkeliaran dan berkembang di benak masing-masing orang. Belum tentu mudah menemukan bukti, tapi keretakan silaturahmi kian melebar menjadi-jadi.

Mas @didinu menceritakan proses SocMedFest 2011 didampingi @motulz, sesama SalingSilang

Atas dorongan keprihatinan akan munculnya ancaman keretakan ukhuwah onliniyyah itulah, saya berdiskusi dengan sejumlah teman dan tokoh Internet di Indonesia. Beruntung, Mbak Shita Laksmi dari HIVOS menyambut baik dan menawarkan fasilitas pembiayaan gelaran workshop. Lalu, ada Kang Nukman Luthfie (Virtual Consulting) yang rela berbagi gagasan dan mau memotivasi kami, juga Mas Didi Nugrahadi dari SalingSilang, juga Donny BU dari InternetSehat, sama-sama berkenan meluangkan waktu untuk berbagi ilmu.

Mbak Hera Laxmi Devi dan Kang Teddy Bara dari XL Axiata, pun demikian pula. Selain ikut membantu pendanaan kegiatan sehingga kami sanggup menambah aset komunitas berupa LCD Projector, alat perekam video dan seperangkat soundsystem, juga mau membagi tips kerja sama sponsorship.

Bu Mariam Barata, dari Kemkominfo yang baik hati, mau datang ke workshop Solo, sambil mempromosikan program Relawan TIK.

Tak hanya itu, Suwarjono dari AJI Indonesia bersedia hadir bercerita tentang dunia pewarta warga dan membuka potensi kerja sama pelatihan dengan komunitas blogger, juga ada Kang Akhmad Nasir dari Combine RI yang menawarkan aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) untuk digunakan bersama-sama demi kemaslahatan publik.

Wakil pemerintah pun hadir, yakni Bu Maryam Barata, Direktur Pemberdayaan Telematika Kementerian Kominfo yang berbagi mengenai gagasan institusinya menginisiasi Relawak TIK di seluruh negeri, untuk memajukan Indonesia, bersama-sama dengan semua pengguna TIK.

Sigit Widodo (@sigitwid, tengah) lagi memperhatikan siapa itu... :p

Sebagai ruang pertemuan dengan beragam latar belakang, workshop kemarin cukup melegakan karena bisa mempertemukan beragam kepentingan. Soal follow up dalam bentuk kerja sama, bisa saja terjadi kapan saja. Tapi, antarpihak harus saling mengenal terlebih dahulu sebelum meretas kerja sama yang bisa saling memberi manfaat bagi sebanyak mungkin pihak. Kuncinya ada di sini: ruang interaksi dan pola komunikasi.

Kepada teman-teman peserta workshop, saya menyampaikan satu hal yang saya anggap penting: berbeda pendapat tak harus disikapi dengan permusuhan. Tak perlu putus silaturahmi atau komunikasi hanya karena beda persepsi atau kekurangan alat bukti untuk saling memahami masing-masing pribadi maupun institusi.

Suasana santai di Rumah Blogger Indonesia/Bengawan

Kepada Mbak Shita Laksmi yang kemarin berbagi cerita mengenai tema hak asasi manusia, kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Begitu pula kepada semua pembicara, orang-orang baik yang rela berbagi dan memotivasi kami, tak ada kalimat yang pantas disampaikan kecuali ucapan terima kasih yang tak terhingga pula. Begitu pula kepada Sigit Widodo dari PANDI, yang rela jauh-jauh datang dari Jakarta untuk bagi-bagi domain gratis untuk teman-teman dan komunitas, juga ilmu bermanfaat mengenai jatidiri keIndonesiaan bagi kami semua.

Orkes Kroncong Swastika yang selalu menemani saat-saat seriusnya acara Bengawan.

Kepada teman-teman yang datang dari Ambon, Pekanbaru, Ponorogo, Malang, Surabaya, Magelang, Yogyakarta, Semarang, Wonosobo, Jakarta, Bumiayu, dan Purwokerto, kami ucapkan terima kasih tak terhingga. Semoga pertemuan kemarin ada manfaatnya buat kita semua, juga kepada lingkungan sekitar kita, syukur untuk Indonesia.

Catatan: foto-foto merupakan dokumentasi panitia, termasuk sumbangan para peserta.

12 thoughts on “Workshop untuk Blogger

  1. Wah, sepertinya dimana-mana, serupa tantangan yang harus dihadapi komunitas blogger, Pak B.
    (dapat istilah baru nih, CSO)

    Kepingin juga di Medan ada yang ngasih-ngasih semangat ke kami-kami ini 😀

  2. Pertanyaan selanjutnya.. kapan ya saya bisa membuat acara seperti itu?
    Kalau SOLO Sharing Online lan Offline, besok wonosobo apa ya?

    mungkin : Wong Online N Offline Sharing Opo Bae Oleh

  3. DV

    Pertanyaan sederhana saya, siapa saja yang diundang dan kenapa acara sebagus ini tidak diadakan secara terbuka, Paklik?
    gak sanggup biayai kalau undang peserta terlalu banyak. lagi pula, niatnya cuma hore-hore saja, kok…
    /blt/

  4. Ada soalan sederhana, kira2 blog bisa menjadi pemersatu atau kedamaian untuk dua negara nggak, pak Dhe?
    jika tak pernah dicoba, ya bakal tak ketahuan efeknya…
    /blt/

  5. Pojok Pradna

    saya bersukur ndableg datang meski undangannya bukan buat Banyumas (dan masih juga dikasih tempat menginap pula, luar biasa) 😀

    Karena sebelum acara Workshop Blogger di Solo ini, saya masih gamang, Blogger Banyumas mau dibawa kemana. Tapi di acara kemarin itu, terbuka jelas bahwa fokus dan minat blogger Banyumas saat ini adalah Desa Membangun.

    Memanfaatkan dan mencoba menbawa manfaat buat desa inilah, insya Allah bulan Juni nanti blogger-blogger ndeso ini akan mengundang para blogger perwakilan masing-masing komunitas untuk menikmati suasana desa Banyumas. Manfaat yang diharapkan, jelas, melambungkan desa yang dikunjungi nanti ke ranah maya 🙂

    Sekali lagi, terima kasih sekali kepada Blogger Bengawan telah mengijinkan saya mengikuti acara ini.
    sampeyan guru kami, makanya kami undang untuk mengajari kami…
    /blt/

Leave a Reply