Toleransi Prasangka

Pagi-pagi sowan kiai, saya disodori tema bahasan berat, tentang toleransi prasangka di media sosial. Perilaku orang timur yang (konon) tak suka bicara blak-blakan dalam dunia nyata, berbalik menjadi begitu mudah mencari tahu mencaci dan menguliti orang lain. Suka dan benci dilampiaskan secara terbuka, kendati tak jarang, hanya berani tampil dengan cara menyembunyikan identitas.

Fakta subyektif sengaja ditebar di ranah online oleh siapa saja, untuk kepentingan yang tak pernah benderang. Perkara politik, korupsi, perselingkuhan begitu mudah diumbar meski belum tentu benar, namun sangat cepat beredar di jejaring sosial. Bagi pengguna Twitter di Indonesia, apalagi yang konsisten ‘menunduk’ bermain gadget, apa yang terpapar di depannya seperti dianggap sumber informasi, bahkan dengan tingkat kebenaran memadai.

Simak saja kicauan di linimasa dari sejumlah akun seperti @TrioMacan2000 atau @benny_israel yang hampir selalu menyajikann kicauan-kicauan panas terkait isu-isu aktual. Informasi yang dipaparkan melalui kedua akun itu seperti diamini oleh banyak penyimak (followers), terbukti dengan banyaknya akun lain yang (tak jarang) membalas atau memancarkan kembali (retweet).

Penyimak yang tak well informed akan mudah terpengaruh lantaran merasa disodorkan kepadanya, data-data yang ‘valid’ atau seolah-olah berkategori A-1. Tak pernah recheck atau mencari rujukan informasi lain untuk menguji kesahihan sebuah informasi.

Media sosial, terutama Twitter, bisa-bisa bakal menjadi pendorong munculnya kekisruhan (sosial/politik) Indonesia, kelak. Petunjuk ke arah sana sudah mulai terasa, di mana kegaduhan diawali dari kicauan di linimasa. Celakanya, terlalu banyak reporter dan awak media yang kerap ceroboh mereproduksi ‘realitas linimasa’ menjadi ‘fakta berita’.

Terlalu sering saya menjumpai media online atau situs-situs media mainstream (baik stasiun televisi maupun suratkabar) yang asal comot dari Twitter tanpa melakukan proses klarifikasi dan verifikasi. Tak jarang, bahkan mengabaikan prinsip keberimbangan (cover both sides) sehingga menyederhanakan persoalan dengan hanya menyandingkan kicauan yang bertentangan menjadi seolah-olah cover both sides.

Saya teringat peristiwa sekitar dua tahun silam, ketika kabar tentang ‘pembubaran sebuah pentas wayang kulit oleh laskar (sok suci)’ tersiar begitu cepat di Twitter. Ada serial kicauan yang di-retweet banyak orang, termasuk tokoh-tokoh pers terkemuka. Sialnya, berita itu juga dipublikasikan lewat media mainstream, yang link-nya disebarkan lagi. Kusut. Ruwet.

Tautan berita dari situs dua media utama yang diasumsikan pembaca sebagai memiliki derajad kebenaran lebih tinggi dibanding kicauan personal di Twitter, sehingga di-retweet lagi. Saya mencoba cek ulang kepada sang dalang yang diberitakan sebagai ‘korban pembubaran laskar’, dan ia membantah semua kebenaran informasi yang diberitakan dua media utama tadi.

Nasi telanjur menjadi bubur. Sang dalang tak memiliki kuasa untuk menjernihkan persoalan. Meski kutipan yang ditampilkan di media utama itu sudah dibantahnya, bahkan ia kesal dan marah kepada sang wartawan yang menuliskannya, isu tetaplah isu yang telanjur dibenarkan pembaca dan penyimak linimasa.

Orang latah melakukan retweet tanpa verifikasi. Prasangka ditoleransi. Publik yang tak memiliki cukup informasi beralih peran menjadi medium-medium baru penyebar informasi basi.

Bisa jadi, kelak, kekacauan republik akan dimulai dari banyaknya orang latah dan ramah terhadap prasangka demikian…

Semoga ini hanya sisi lain saja dari demam pemakaian social media, sebuah bentuk jejaring ‘pertemanan virtual’ di jaman yang konon kian maju ini. Semoga pula, Internet tidak disikapi sebagai pengganti bentuk relasi sosial tradisional, di mana antara satu dengan yang lainnya masih bertegur sapa secara nyata, hadir dalam satu forum dan lokasi yang sama. Dalam dunia nyata, sebuah komunikasi dialogis akan terjalin sehingga proses verifikasi atas sebuah informasi akan terjadi secara alamiah.

Semoga Pak Kiai tidak kecewa dengan budaya dan pola relasi di social media…..

3 thoughts on “Toleransi Prasangka

  1. mnrtku sih social media hanya memindahkan medium interaksi dari nyata ke maya. sebetulnya sifat dasar manusianya sih sama, dikenyataan manusia memang suka dgn gossip, pergunjingan dan berita yg bombastis. Makanya infotainment laku keras, lihat saja program mereka dari subuh sampai sore hari nonstop mengalahkan siaran berita yang menyajikan data aktual dan terverifikasi.
    Jadi sakjane ya podo wae sih hihihi~

    PS: keknya komen kali ini gak jelas banget *ditoyor pakde*

  2. Sayangnya, penduduk social media menganggap dirinya well informed karena men-follow akun-akun macam triomacan200 & benny_israel itu, terus menjadikannya rujukan.

  3. DV

    Sekilas membaca ulang tulisanmu ini lagi, aku terpikir membayangkan rapat-rapat Polit Biro PKI yang menggunakan social media dan online discussion forum.. ketoke malah ilang gayenge yo 🙂

Leave a Reply