Jokowi Takkan Hijrah ke DKI

Saya sangat bersungguh-sungguh ketika ngetwit begini:  “mari doakan pak @jokowi_do2 dapat hidayah, mendapat momentum dan alasan yg tepat untuk terhindar dari pencalonan cagub DKI”. Ada pesimisme, namun masih meyakini ada harapan.

Sejak pagi, banyak pesan saya terima dari banyak teman. Bahkan ada yang menelpon berulang-ulang sejak menjelang petang hingga malam, seperti memberikan laporan apa yang terjadi di Tebet (mungkin kantor DPD PDIP DKI). Salah satu penelpon, bukan orang sembarangan, yang tak perlu saya ceritakan identitasnya. Yang pasti, orang ini sangat sayang kepada Pak Jokowi, dan sangat berharap dia maju ke Jawa Tengah.

Saya menduga, Pak Jokowi  sedang galau berat malam ini. Apalagi, jika benar sebuah kabar, bahwa Megawati malah pergi ke Bali. Dugaan saya, ada beberapa politisi PDI Perjuangan yang menjual nama Ketua Umumnya dengan kalimat yang kurang lebih bernada bahwa “Ibu hanya mau Pak Jokowi yang mewakili PDIP untuk DKI-1”.

Pak Jokowi, menurut saya, adalah sosok yang santun. Dia pasti manggut-manggut saja ketika ada orang mengatakan apa saja kepadanya. Tapi dia bukan orang yang mudah percaya, dan selalu mencari tahu kebenaran sebuah cerita atau klaim, meski si pembawa pesan dia kenali sebagai orang dekat Sang Ibu, sang penentu.

Dugaan saya begini: malam ini hingga besok, Pak Jokowi masih menggantung tawaran. Dia paham, mestinya pemberitaan di media massa bersumber dari orang-orang DPD PDIP DKI, bukan orang DPP meski petinggi partai ‘punya hak’ mencampuri, sebab DKI merupakan ibukota negara, sehingga sangat strategis dalam hal apa saja.

Saya pernah dengar gosip, bahwa Bu Mega pernah menawari Pak Jokowi ke Jawa Tengah, bahkan diberikan ’hak istimewa’ untuk menentukan sendiri calon wakilnya. Konon, Pak Jokowi tidak mengiyakan dan tidak menolaknya. Andai gosip itu benar, maka itu menunjukkan betapa Pak Jokowi disegani Megawati. Betapa strategisnya reputasi Pak Jokowi demi masa depan partai itu, apalagi Jawa Tengah merupakan lumbung suara utama partai itu.

Dengan posisi sestrategis itu di mata Megawati, maka dugaan saya, Pak Jokowi akan meminta bukti bahwa Megawati benar-benar memintanya ke DKI. Itu pun, saya yakin, beliau akan meminta bukti langsung, yang diucapkan Megawati secara lisan di hadapannya. Jika tak terpenuhi, maka Pak Jokowi pasti akan menyatakan penolakannya. Apalagi, ada kabar pula, bahwa Pak Jokowi tak pernah setor persyaratan administratif pendaftaran bakal calon gubernur ke DPD PDIP DKI, baik karena diminta maupun (apalagi) inisiatif beliau.

Saya yakin, jika tidak ada komunikasi langsung dengan Megawati, tak mungkin Pak Jokowi berani ‘menjerumuskan diri’ bertarung di DKI. Sebaliknya, jika sudah terjadi dialog langsung dengan Ketua Umum DPP PDIP, Pak Jokowi justru akan mudah menyampaikan alasan yang paling masuk akal, bahwa dia akan menyelesaikan mandat rakyat Kota Surakarta, yang 90 persen telah rela memilihnya.

Selain boros biaya untuk memenangkannya, persoalan DKI Jakarta sangat berbeda dengan skala lokalitas Surakarta, atau Jawa Tengah pada umumnya. Dan Pak Jokowi pasti juga mengukur, seberapa kuat pesaingnya (jika maju), baik secara finansial maupun kekuatan strateginya, semisal Fauzi Bowo yang didukung istana.

Pak Jokowi bukanlah orang yang mudah dijinakkan, walau bahasa tubuh dan gaya bicaranya lemah lembut, khas Wong Sala. Ia bisa garang bagai singa jika prinsip yang diyakininya hendak dikompromikan. Pak Jokowi tetap akan menjaga martabat PDIP sebagai partai besar, dan Megawati sebagai satu-satunya simbol kekuatan di partai itu. Namun demikian, Pak Jokowi juga akan menjaga kehormatan dirinya, yang ogah jadi pecundang di DKI, karena bukan wataknya mengejar jabatan, meski dia menyukai tantangan.

Hingga menulis ini pun, saya masih meyakini Pak Jokowi tak akan meninggalkan Solo dan masyarakatnya yang masih membutuhkannya demi sebuah kursi di DKI. Pak Jokowi juga memantau situasi di luar dirinya, baik di Solo maupun di DKI sendiri, sehingga memaksanya terus berhati-hati. Sekali lancung ke ujian, dia tak akan mudah membangun kembali reputasi dan kepercayaan publik kepadanya.

Saya yakin, beliau paham terhadap beragam kepentingan yang turut bermain di dalam pencalonannya di DKI. Kemungkinan adanya kader banteng moncong putih yang ingin maju ke Jateng-1, lantas mendorongnya ke DKI agar bisa melaju tanpa saingan dari dalam. Jika Pak Jokowi masih di Solo, dipastikan Megawati akan memilihnya sebagai calon gubernur Jawa Tengah, mewakili partai yang dipimpinnya. Jika (katakanlah) berhasil menang di Jakarta ya syukur, namun jika kalah, hancur sudah namanya, sehingga ‘tak laku dijual lagi’.

Kita paham, politik itu kejam jika kehausan akan kekuasaan sudah menjadi semangat awal berpolitik. Saya merasa masih bisa ‘meraba’ hati Pak Jokowi, kendati tetap tak paham dengan maunya Megawati. Makanya, saya hanya mengajak sebanyak mungkin orang agar mendoakan Pak Jokowi memperoleh hidayah, solusi jitu untuk tak terjerumus ke DKI.

Dan, harap diingat, Pak Jokowi itu sayang keluarga. Sejauh ini, belum ada berita tentang restu istri dan anak-anaknya, bahwa dia akan bertempur di DKI. Waktu pencalonan kembali jadi Walikota Surakarta pada periode kedua, pun Pak Jokowi tampak ‘lamban’ merespon desakan publik. Pasalnya, beliau harus meminta restu keluarga.

Pada perkara yang ‘sepele’ bagi sebagian besar orang namun sangat serius bagi Pak Jokowi itulah yang membuats aya percaya, beliau bakal urung maju perang berebut kursi di DKI. Itu bukan wataknya. Di sana, justru tampak keluhuran budinya.

Semoga keyakinan saya terbukti Senin malam ini.

 

 

8 thoughts on “Jokowi Takkan Hijrah ke DKI

  1. maunya saya jangan menang,… tapi saya mendukung Pak jokowi di Pilpres aja Pakdhe. itu doa saya, ben orang2 diluar jawa bisa merasakan kepemimpinannya 🙂

Leave a Reply