Membaca Arah Esemka

Jika sekarang mulai ada beberapa pihak yang ‘mengelola’ mobil Esemka sebagai isu baru, saya tak kaget sama sekali. Saya sudah memperkirakan lewat tulisan Esemka Bisa Jerumuskan Jokowi. Berita Harian Solopos ini saya sebut sebagai petunjuk dasar munculnya ‘prasangka’ saya. Adalah ‘aneh’, seorang mantan pemimpin redaksi menulis berita ‘ecek-ecek’ seperti itu.

Asal tahu saja, sepanjang yang saya pahami dari pemberitaan Solopos, sejak beberapa tahun terakhir cenderung ‘kritis’ alias mencari sisi lain kekurangan pemerintahan Pak Jokowi. Bahwa kebijakannya tak bisa dikatakan sempurna dan memuaskan semua pihak, itu wajar. Jokowi bukan malaikat. Plus-minus pasti ada, kekurangan juga merupakan sebuah keniscayaan.

Saya menduga, kekecewaan Sukiyat, pemilik bengkel kenteng dan cat Kiat Motor, Klaten, menjadi pintu masuk bagi penyerang Esemka. Ia yang dulunya menggebu-gebu dan bangga dengan proses dan hasil perakitan Esemka oleh pelajar-pelajar dari sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Klaten, Solo, Magelang dan daerah-daerah lain, tiba-tiba berubah sikap ketika namanya dihapus dari merek Kiat Esemka menjadi Esemka saja.

Sebagai orang yang pernah lama menjalani kerja jurnalistik, saya paham teknik dan cara ‘mengarahkan’ opini konsumen media. Pemilihan narasumber menjadi penting dalam kerangka pembentukan opini. Prinsip cover both sides dalam tulisan mantan pemimpin redaksi itu juga tak ada, jika kita mau bicara soal prinsip keberimbangan.

Terserah orang akan menyebut apa, jika dalam tulisan ini saya cenderung membela Pak Jokowi. Bukan soal buat saya. Tapi saya ingin mengajak Anda, pembaca yang budiman, untuk menyimak lebih serius tentang pesan apa di balik upaya menjadikan Esemka sebagai embrio mobil nasional.

Bagi saya, Esemka memang sejak awal dinyatakan sebagai produk rakitan pelajar. Bahwa mesin dibuat oleh produsen lain (mungkin dari China), begitu juga dengan asesoris seperti lampu, dashboard, stang kemudi, kita bisa abaikan sejenak. Toh, blok mesin dibuat oleh perajin lokal pula. Dalam status embrio dan (maaf) ‘prakarya’, permakluman menjadi penting. Apa salahnya sejumlah SMK merakit lalu menghasilkan produk bermutu?

Mari kita coba kuliti lagi: siapa saja tokoh publik (pejabat, politisi, pengusaha) yang menyatakan berniat membeli dan memakainya untuk keperluan pribadi? Berapa banyak individu yang ikut nebeng investasi nama lewat tontonan sikap keberpihakan kepada Esemka? Apa salahnya jika saya menyebut sikap mereka sebagai sebuah proses personal branding, misalnya untuk keperluan pemilu 2014?

Bagi saya , sih, sederhana saja merespon sikap banyak tokoh publik yang saya sebut ‘ikut nampang’ lewat isu Esemka. Jika menteri seperti Dahlan Iskan, Agung Laksono dan banyak politisi Senayan memang serius berpihak kepada pengembangan Esemka menjadi embrio mobil nasional, mereka bisa ikut melakukan lobi di level kebijakan pusat.

Kementerian Perindustrian yang baru saja tidak meloloskan uji emisi Esemka, misalnya, bisa diajak bicara untuk mendorong kesuksesan Esemka. Pemerintah perlu membentuk dan mengirim tim khusus untuk penyempurnaan Esemka. Bukan untuk melanggar ketentuan ambang batas emisi yang memang sudah baku, namun untuk menyempurnakan kwalitas mesin Esemka sehingga gas buangnya ramah lingkungan.

Juga, jangan lupa untuk lebih kritis terhadap sikap Kementerian Perindustrian yang terus meminta agar Esemka membuat produk dengan kapasitas di bawah 1.000 cc. Siapa yang diuntungkan dengan sikap otoritas resmi yang demikian? Lihat saja di jalanan, adakah city car buatan Honda, Toyota, Daihatsu, dan prinsipal lain yang berkemampuan mesin di bawah 1.000 cc?

Saya lebih melihat kentalnya politik dagang yang menguntungkan kepentingan bisnis prinsipal yang dibela pemerintah. Jawaban klise yang akan kita dapat, jika ada yang kritis menanyakan kepada pemerintah, paling-paling tak jauh dari sikap defensif, bahwa iklim investasi harus didahulukan, juga kwantitas serapan tenaga kerja dan sebagainya.

Silakan cari datanya sendiri, berapa persentase target kenaikan penjualan produsen mobil asing di pasar Indonesia. Dari tahun ke tahun, kenaikan jumlah produksi yang diserap pasar terus meningkat. Keuntungan dinikmati raksasa-raksasa otomotif dari luar, sementara kita tak kunjung menyikapinya sebagai potensi kebangkitan. Harga jual Esemka yang direncanakan jauh lebih murah, berpotensi menggerus pasar pemain utama otomotif di Indonesia. Patgulipat di level pengambilan kebijakan bisa saja terjadi, apalagi jika menyimak kebanyakan pejabat dan politisi kita rentan suap.

Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Ini Indonesia, Bung!!!

Apa yang dilakukan Pak Jokowi, sepanjang yang bisa saya pahami, adalah melihat keberhasilan pelajar-pelajar Indonesia menghasilkan mobil rakitan bernama Esemka, lantas menjadikannya sebagai peluang untuk mengangkat potensi keunggulan unsur lokalitas. Senyampang dengan itu, mendorong kebangkitan eksistensi bangsa, yang berpijak pada prinsip kemandirian atau berdikari.

Coba bandingkan sikap Pak Jokowi dalam memajukan pasar tradisional dan pedagang kakilima dengan kebijakannya terhadap pusat-pusat perbelanjaan moderen. Di sana akan kelihatan, bahwa modernitas harus diakomodir, tapi potensi lokal harus diberdayakan. Jika sebelum dia menjabat walikota pemasukan retribusi pasar hanya pada kisaran Rp 4 milyar per tahun dan kini sudah menyentuh angka Rp 19 milyar, apa yang akan Anda ragukan?

Sejuta rupiah bagi pedagang pasar tradisional dengan sejutanya pengunjung mal-mal mewah akan berbeda nilainya. Multiplier effects-nya jauh lebih panjang, dan lebih banyak orang yang menikmati jika itu di tangan wong cilik. Kita, mungkin akan menganggap biasa ketika membelanjakan uang Rp 150 ribu untuk ngopi sore alias ngopsor. Bisakah Anda bayangkan berapa nilainya uang segitu bagi keluarga kuli panggul di pasar-pasar tradisional?

Saya kira, kita harus hati-hati menyikap hal-hal seperti perkara Esemka ini. Jelas tidak relevan membandingkan hasil rakitan tangan pelajar SMK dengan robot dan mesin-mesin canggih di pusat perakitan yang terhampar sejak Karawang hingga Jakarta.

 

14 thoughts on “Membaca Arah Esemka

  1. esemka rajawali

    sangatlah bijak saat kita mensikapi yang semua nya dilakukan untuk Indonesia…..
    terkadang memang ambil sisi poistif dengan hentakan, geliat kebangkitan, indsutri yang tidak selamanya tergantung pada luar negeri….

    Indonesia Menggugat jilid 3 …Maju terus, Pantang Mundur …Untuk Indonesia

  2. Saya sangat setuju dengan pendapat Pak De, salah satu hobi pemerintah kita ini adalah tidak mau memajukan negerinya sendiri. Selama ini produk-produk lokal hanya dianggap sebagai produk ecek-ecek yang kualitasnya jauh dibawah standar internasional. Bagaimana Indonesia mau maju kalau kemampuan berpikir para petinggi negara hanya sebatas itu saja. Hanya bisa geleng-geleng kepala… 🙂

  3. DV

    Edan ya.. gitu aja dipolitisasi.. padahal niatnya Jokowi kan tak muluk2 amat… Ia sadar Esmeka toh tak kan bisa mengalahkan animo orang terhadap mobil impor, kan niatnya cuma memberi tunjuk bahwa pelajar SMK bertaring juga…

    Aku lebih setuju dengan rencana Jokowi untuk kembali ke dunia bisnis aja setelah masa jabatannya usai, tak perlu ke Jakarta untuk jadi gubernur segala toh takutnya nanti malah ia sendiri ikut jatuh pada pusaran jahat di sana…

    Biarlah penampilannya hanya sebentar tapi rakyat akan slalu mengenang sebagai yang terbaik, toh semua ini pada akhirnya hanya akan jatuh sebagai kenangan.. 🙂

  4. Mas BlontankPoer, saya setuju dengan Anda. Memang kayaknya ada yang sirik dengan Pak Jokowi. Meski dia sudah berbuat baik, masih juga ada yang mencoba mencari celah untuk menjelekkannya. Maju terus Pak Jokowi, untuk kemajuan nusa dan bangsa. Trims tulisannya yang bagus, semoga menyadarkan semua yang terlibat….

    Salam kompak:
    Obyektif Cyber Magazine
    (obyektif.com)

  5. hihihi,…. begitu ceritanya kalau kita ingin maju Pakdhe. Mereka yang berduit lebih leluasa menggusur bangku orang lain. Toh, pemerintah juga tenang2 aja, katanya masih banyak persoalan penting dibanding mengurus Esemka.
    Kapan kita majunya????

  6. Hemm…
    Kok arahnya memang tak susah untuk ditebak ya Pakdhe…

    Negeri yang para punggawanya ‘nganeh-anehi’.
    Lautan terhampar luas aja gak mau produk garam secara mandiri, belum lagi bawang serta komoditi lain yang hasilnya justru dari impor.
    Sistem “fee” sudah menjadi binatang tangguh yang mampu melahap otak pejabat negeri ini 🙁

Leave a Reply