Daerah dan Julukan

Kita mengenal aneka sebutan atau julukan untuk sebuah daerah karena kekhasan yang dimilikinya. Madura yang dikenal sebagai penghasil garam disebut Pulau Garam. Yogyakarta dijuluki kota pelajar lantaran banyaknya sekolah dan perguruan tinggi negeri/swasta, sehingga orang dari pelosok Nusantara berbondong-bondong belajar di sana. Saya mempunyai usulan sebutan untuk beberapa lainnya.

Sebutan yang saya sampaikan berikut, jujur saja, dipengaruhi oleh pemberitaan media massa. Saya beranggapan, pers merupakan salah satu sumber informasi tercepat, meski jurnalisme di tanah air, terutama televisi, ngawurnya kelewat banyak. Dan, justru pada sisi sensasi itulah yang kemudian membuat saya kian mengenal daerah satu dengan yang lain.

Makassar Kota Bakar Ban
Dengan gagah berani, saya harus menjuluki Makassar sebagai kota bakar ban. Menyimak berita televisi dan media massa lainnya, mahasiswa di sana terhitung paling rajin membakar ban setiap menggelar unjuk rasa.

Sekecil apapun persoalannya, demonstrasi seperti kurang bernilai jika tak ada ‘ritual’ bakar ban bekas di jalan raya atau kampus. Bonusnya lumayan. Yang sering saya simak lewat pemberitaan, bonus unjuk rasa yang agak ‘standar’ adalah bentrok dengan aparat, memblokir jalan umum atau meenyandera truk tangki atau kendaraan lain.

Bentrok antarkampus, boleh jadi hanya alat warming up, melatih keberanian dan pengorganisasian. Kesan saya, mahasiswa Makassar itu temperamental, gampang marah. Mungkin karena muak menghadapi kenyataan sosial politik lokal dan nasional yang kian memburuk, abai terhadap hak-hak rakyat.

Lantaran merasa telanjur persepsi dibentuk oleh pemberitaan, saya jadi agak kaget melihat Ketua KPK Abraham Samad yang banyak mengumbar senyum, bahkan disebut cengengesan oleh politisi demokrat, lantaran mengumumkan Angelina Sondakh jadi tersangka korupsi dengan gaya sangat santai. Jauh beda dengan kesan keras dan tegasnya mendiang Baharudin Lopa, atau yang temperamental seperti kebanyakan mahasiswa aktivis unjuk rasa.

Solo Kota Kirab
Pada masa kepemimpinan Pak Joko Widodo atau Jokowi, Kota Solo memang paling sering menggelar kirab. Jaman dulu, kirab hanya dilakukan pada peristiwa-peristiwa tradisi kraton, seperti Kirab Malam 1 Syuro (Muharram), atau kirab Adipura warisan Orde Baru itu atau setiap peringatan Kemerdekaan.

Pada ulang tahun kota, pasti ada kirab. Tiap ada event besar, baik berskala nasional maupun internasional, pun diadakan kirab. Yang jadi rutin juga ada kirab/karnaval batik atau pada momen-momen yang dianggap penting, terutama berkaitan dengan kepariwisataan.

Kirab paling monumental adalah ketika memindahkan seribuan pedagang klithikan dari kompleks Monumen Banjarsari ke lokasi baru di bekas lokalisasi legendaris, Silir. Kirab yang baru dimunculkan adalah Grebeg Sudiro setiap perayaan Imlek.

Jakarta Kota Korupsi
Hampir tiap hari, selalu ada berita tentang perkara korupsi dari Jakarta. Ada yang ditangkap, melarikan diri, sembunyi, atau beralasan sakit. Lembaga antikorupsi juga hampir tiap hari tampil di televisi atau diwawancarai. KPK juga. Politisi apalagi… Tiap hari berteriak soal antikorupsi sambil terang-terangan melakukan penjarahan duit rakyat, entah sendiri, bersekongkol separtai, atau berjamaah lintas partai dan lintas iman.

Asal lembaga para pelaku korupsinya pun beragam. Kepolisian banyak, kejaksaan dan kehakiman pun banyak. Tapi, lantaran korupsi itu soal hukum, dan ‘hanya’ mereka yang merasa tahu, maka hanya sedikit yang ditangkap, apalagi disidang. Kalaupun ada anomali, ya biasalah, mereka yang berpangkat rendah dan menengah. Yang berpangkat petinggi, memang tugasnya mengatur. Maka harus dibebaskan dari sangkaan.

Yang agak populer, ya yang dari partai-partai politik. Nah, karena politisi itu mesti lihai lobi, ya wajar saja kalau pelaku korupsi dari kalangan partai agak lamban prosesnya. Mungkin biar jadi sarana belajar bagi wartawan agar lebih kritis. Toh, buktinya banyak narasumber yang terindikasi korup pun masih diberi ruang dan waktu untuk bicara tentang korupsi dan hak rakyat. Bukti kelihaian lobi, banyak tersangka korupsi dari partai politik aman jaya, dihukum ringan, plus bonus remisi, dan tak disorot media massa.

Bandung Kota Factory Outlet
Sejak akhir 1990an hingga kini, Kota Bandung bertebaran factory outlet. Kota yang dulu dijuluki Parijs van Java karena hawanya dingin, nyaman untuk tetirah lantaran hijaunya lingkungan kota dan banyak bangunan kolonial yang sedap dipandang.

Yang unik, banyaknya lembaga pendidikan dan kesatuan militer, tak lantas membuat kota itu disebut dengan kota tentara. Untuk yang satu ini, masih kalah populer dengan Magelang, walau jumlah institusi kemiliterannya kalah banyak dibanding Bandung.

Banyaknya factory outlet, yang menjual baju-baju lengan pendek, bisa jadi merupakan isyarat bahwa hanya baju demikian yang cocok dikenakan di sana. Kotanya kian panas, sebab kawasan hijau dirampas untuk permukiman baru. Bangunan kuno atau heritage pun kian menyusut jumlahnya, lantaran tak sesuai ‘tuntutan jaman’.

Puncak Jaya dan Timika Kota Tembak-tembakan
Agak lucu memang. Tapi begitulah kenyataannya. Terlalu sering ada pemberitaan tembak-tembakan baik antaraparat keamanan, maupun antara aparat polisi atau TNI dengan yang distatuskan kelompok sipil bersenjata.

Agak sulit saya memahami peristiwa tembak-tembakan di sana. Berita tak pernah gamblang, apalagi sampai adanya kabar penuntasan perkara dan benderangnya duduk perkara. Walau curiga tak lagi subversif, tapi meraba-raba dan membuat spekulasi kecurigaan pun tak baik, apalagi ada gunanya.

Apakah Anda punya usulan julukan untuk kota atau daerah yang Anda ketahui? Silakan tambahkan sendiri…

9 thoughts on “Daerah dan Julukan

  1. ariny

    makasih iyaa gara” ini tugasku selesai,, tapi sblm.a saya minta maaf, ada yg kurang kalo julukan kota sukabumi,kuningan, & purwakarta apaa iyaa??

  2. @Ikhsan : kyknya bisa dibuat Jawabarat Kota Angkot, karena spt angkutan trayek Sukabumi – Bogor aja ada 600 armada, 300 Pengganti dan 300 yang diganti tapi tetep beroperasi.

    aku sih inget jaman kecil pakdhe, disekolah diajarkan untuk menghapal julukan2 kota2 di indonesia:

    Seperti :
    – Yogyakarta – Berhati Nyaman
    – Bangko/Merangin Jambi – beriman
    – Cianjur – Bersemi

    cuma sekarang sepertinya itu tidak pernah diajarkan lagi karena mungkin dianggap “warisan” soeharto.

    Oh ya terkait puncak jaya, teman saya bercerita, sudah menjadi pemandangan dan pendengaran sehari-hari suara letusan senapan, maupun senjata otomatis.

  3. Sedari dulu bangsa kita senang ‘gelar’, rasanya kalau tak mendapat gelar seperti kehausan. Ya ngga heran pakdhe, masing2 dari kita pun diberi julukan,… kurang kerjaan ya

Leave a Reply