Nama Besar

Nama besar bisa diciptakan, nama baik bisa dicitrakan. Tapi soal kejujuran dan ketulusan pembuat nama besar dan pencitra nama baik, tak mudah dibuktikan. Terlalu banyak orang gagal paham, sehingga mudah mengamini kebaikan yang dicitrakan.

Seseorang bisa saja piawai menganyam kata. Tapi belum tentu ia mampu mengeja, pun menjelaskan maknanya di hadapan banyak orang. Apalagi jika ia memiliki agenda, atau sebuah permainan, uji coba penerapan gagasan ideal yang dicitakan.

Kekuasaan yang diperolehnya dari keberhasilan mencipta dan mencitrakan nama, bisa membayakan siapa saja. Bak pisau, kuasa bisa digunakan untuk membunuh atau mengamputasi orang-orang atau pihak yang tak disukainya. Atas nama kebaikan bersama pula, ia bisa kembali menganyam kata, meyakinkan semesta.

Sejatinya, saya sedang mengasihani seseorang, yang merasa diri besar dan baik, sehingga berguna untuk semua, siapa saja. Ia membenci seseorang bukan lantaran memiliki masalah pribadi, namun lebih digerakkan oleh keberpihakan terhadap segelintir teman. Yang sedang ia mainkan hanyalah kepentingan, sebuah eksperimentasi kekuasaan.

Kalaupun kebenciannya pada seseorang itu diamini kebanyakan, sejatinya itu hanyalah kesan. Banyak orang membenci orang yang sama, namun dengan alasan dan tujuan berbeda. Sayang, ia mengira orang ramai berada di pihaknya. Walau benar pula, sebagian memang bersamanya, namun dalam ketidaktahuan masing-masing.

Ia gembira berhasil membunuh seekor lalat. Hanya seekor. Dan ia tahu, itu tak akan mengubah keseimbangan ekosistem. Tapi ia sudah tampak gembira, berkoar sambil menepuk dada. “Hai, lihaattt! Saya berhasil menepuk seekor lalaaat…!” serunya.

Padahal ia sangat tahu, yang dibunuhnya hanya seekor lalat yang sedang belajar terbang.

Lalu, di pasar-pasar, pusat-pusat perbelanjaan dan di setiap keramaian, sejumlah temannya bercerita kepada banyak orang, bahwa lalat kecil yang baru saja dibunuh temannya, itu merupakan jenis lalat yang sangat berbahaya. Yang bisa mengancam kelangsungan umat manusia, dan sebagainya, dan seterusnya. Mereka pun turut menganyam kata. Membangun citra, membungkus kepentingan dan nafsu kuasa.

4 thoughts on “Nama Besar

  1. mbok biarin tho… toh pada saatnya semua akan masuk kubur… tinggal diliat aja, berapa banyak orang yg akan mengantarnya dgn tulus ikhlas sampe ke liang lahat, bukan karena bayaran…

  2. hihi.. Si Nama Besar tak tahu, bahwa lalat yang ia bunuh masih hidup. Kini ia berkoloni, menyusun rencana-demi rencana untuk bangkit. Bukan untuk pembalasan, tapi untuk mencoba BELAJAR TERBANG lagi

    halah, ngomong apa sih sampeyan?
    /blt/

  3. DV

    Hmmm… inilah power of media.. power of being listened, power of being seen 🙂 Jaman edan! Sing ora edan sakjane yo ora apa-apa selama menganggap yang dicapai orang edan adalah tetap tidak benar…

Leave a Reply