Kenangan Sang Guru (3)

Almarhum Murtidjono merupakan sosok yang selalu gelisah terhadap perkembangan kesenian dan kebudayaan. Membebaskan Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta (TBS) dari kerumitan birokrasi merupakan terobosan brilian pada masa Orde Baru. Pemberlakuan UU tentang Otonomi Daerah merupakan puncak kegalauannya, ketika tak ada anggaran kesenian akibat ketidakjelasan ‘induk birokrasi’ setelahnya.

ahirnya UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah berdampak pada terhentinya alokasi anggaran untuk kegiatan kesenian. Ketika itu, belum ada kejelasan, di mana Taman Budaya akan menginduk. Tetap di bawah Direktorat Kebudayaan-nya Departemen Pendidikan Nasional, di bawah Kementerian Pariwisata dan Budaya, atau di bawah Pemerintah Provinsi.

Di luar anggaran, wajah ‘kebudayaan’ akan sangat bergantung di mana organisasi Taman Budaya bakal menginduk. Jika di bawah Kementerian Pariwisata, maka bentuk kesenian terancam tereduksi menjadi sekadar produk turisme, semacam untuk ditonton, sementara seorang seniman selalu melahirkan karya lewat proses pencarian dan kegelisahan. Intinya, banyak seniman tak bisa membuat karya-karya instan.

Persepsi tentang kesenian/kebudayaan pun nyaris tak pernah seiring, antara seniman dan birokrat. Pak Murti yang merasa diri anomali dalam birokrasi, yang diperkuat dengan latar belakangnya sebagai sarjana filsafat, lebih kuat berpihak pada kebudayaan sebagaimana didefinisikan pemikir-pemikir sebelumnya seperti Koentjaraningrat, Fuad Hassan atau Umar Kayam.

Pada masa peralihan itulah, Murtidjono melakukan kalkulasi ulang. Berapa besaran anggaran yang diperlukan untuk sebuah kegiatan di lingkungan Taman Budaya, hingga ketemu angka rata-rata Rp 16 juta untuk setiap kegiatan, dengan asumsi seni pertunjukan (tari, teater, musik) yang paling banyak menyedot pembiayaan. Angka itu meliputi cost untuk listrik dan pelayanan teknis seperti publikasi, penyediaan properti panggung standar, tata suara dan sebagainya.

“Seniman mana bisa berkarya jika harus menanggung biaya Rp 16 juta untuk semalam pementasan? Sponsor tak pernah ada yang tertarik kegiatan kesenian nonturistik,” ujarnya kala itu.

Saya mengamini. Pengalaman bergaul dengan seniman di Solo, Yogya dan Bandung, menunjukkan betapa sulitnya menggali dana dari pihak ketiga. Nyaris semua seniman/kelompok kesenian menggunakan dana pribadi, kecuali beberapa grup kenamaan seperti Teater Gandrik (Yogyakarta) atau Teater Koma (Jakarta), yang memang dikenal manajemennya jauh lebih modern dibanding kelompok-kelompok lain.

Pada masa transisi itulah, saya sempat melakukan pembicaraan dengan Kang Sitok Srengenge, Mas Goenawan Mohamad dari Komunitas Utan Kayu (KUK). Kala itu, KUK termasuk orrganisasi yang bisa survive mengelola pusat kebudayaan alternatif di Jakarta, dengan dukungan pendanaan dari (setahu saya) sejumlah lembaga lokal dan internasional.

Singkat kata, saya mengajukan sebuah upaya alternatif agar Taman Budaya Surakarta tetap memiliki event-event kesenian, setidaknya dari luar negeri atau dalam negeri yang pembiayaannya dibantu oleh pusat-pusat kebudayaan asing yang memiliki kantor cabang di Jakarta. Kebetulan, banyak seniman/kelompok kesenian yang kerap memperoleh hibah dana untuk sebuah proses kreatif kesenian hingga pementasan.

Lalu, disusunlah skenario Pak Murti melakukan presentasi di Teater Utan Kayu (TUK), di mana tuan rumah mengundang sejumlah perwakilan pusat kebudayaan asing. Tak terlalu menggembirakan, memang, sebab hanya beberapa wakil pusat kebudayaan yang hadir. Tapi, dari pertemuan itu, Taman Budaya Surakarta masuk dalam jejaring Teater Utan Kayu bersama sejumlah lembaga kesenian di berbagai daerah, berupa hibah dana untuk penyelenggaraan aneka pertunjukan, diskusi, dan pamerann senirupa.

Hingga setahun lebih, pada awal 2000, Taman Budaya Surakarta tetap hidup. Terdapat banyak event dengan pembiayaan nonpemerintah, sebab pada masa itu, pemerintah hanya memberikan gaji rutin. Tagihan listrik pun sempat nyaris menunggak puluhan juta rupiah, lantaran ketiadaan dana operasional. Ruang apresiasi dan ruang ekspresi masih ada, sehingga seniman di Surakarta dan Jawa Tengah bisa menikmati denyutnya.

Asal tahu saja, hingga dekade 1990-an, Taman Budaya Surakarta termasuk kiblat utama seni pertunjukan Indonesia, di luar Jakarta. Bandung dan Yogyakarta lebih kuat pada cabang senirupa dibanding performing arts. Banyak seniman (sastra, teater, tari dan musik) dari berbagai daerah di Indonesia merasa belum lengkap karir kesenimanannya jika belum tampil di Taman Budaya Surakarta.

Pada masa-masa sulit itu pula, hadir budayawan WS Rendra. Ia memilih Solo sebagai tempat singgah proses kreatifnya, dengan menyewa sebuah ruangan di Wisma Seni. Meski kontribusi sewanya ‘tak seberapa’, tapi Mas Willy termasuk rajin melakukan fund raising. Sejumlah seniman pop kawan-kawan Mas Willy ditodongnya, agar memberi sumbangan untuk menghidupkan kesenian di Solo. Kalau tak salah ingat, nilainya hampir ratusan juta. Begitu cerita Pak Murti kepada saya.

 

Silakan baca pula:

Kenangan Sang Guru (1) dan Kenangan Sang Guru (2)

 

 

One thought on “Kenangan Sang Guru (3)

  1. Terima kasih untuk serial tulisan panjenengan tentang Eyang Murtidjono.

    Tulisan yang menarik, berkesan, karena mampu memberikan gambaran lebih menukik tentang sosok Murtidjono, baik pribadinya atau pun kiprahnya yang terkait konstelasi kehidupan kesenian di Solo selama beliau menjabat sebagai kepala suku di TBS.

    Saya mulai mengenalnya ketika ia baru lulus dari UGM, lalu sama-sama nongkrong di Sanggar Mandungan, Muka Kraton Surakarta, 1975-1980an. Hampir tiap malam bersama Pak Heribertus Sutopo (almarhum), Conny Suprapto, Eyang Murti, Harsoyo, juga Marsudi (almarhum, tokoh ketoprak Solo), kami mabuk main scrabble. Pak Narsen ikut pula, tetapi ia mengaku sebagai pemain yang “kalahan.” Slogan terkenal kami saat itu adalah, “cara terbaik untuk bisa bangun pagi adalah bila semalaman tidak tidur.”

    Ketika kemudian saya pindah ke Jakarta, masih ada kontak via surat. Dari baca-baca koran, walau tidak banyak dan tak bisa detil, saya bisa mengetahui apa yang beliau kerjakan.

    Selamat jalan Eyang Murti.
    Semoga keteladanan Mas Blontank Poer dengan menulis obituari ini akan diikuti oleh mereka yang merasa mengenal beliau, baik kagum atau merasa disakiti, untuk menuliskan sesuatu catatan. Terlalu sayang bila sosok Eyang Murti tidak terabadikan dalam sesuatu buku.

    terima kasih, Pak Bambang. selain di blog ini, obituari Pak Murti juga saya tulis di The Jakarta Post. sekadar catatan, tentang jasa almarhum dalam mewarnai kesenian Indonesia.
    http://www.thejakartapost.com/news/2012/01/05/an-art-vanguard-has-gone0.html

    Tulisan lama tentang beliau juga pernah ada di sana: http://www.thejakartapost.com/news/2006/04/03/murtidjono-maverick-antiestablishment-bureaucrat.html

    salam,
    /blt/

Leave a Reply