Ruvita ‘Korban’ TV One

Menyaksikan siaran live di TV One, Sabtu (28/1) malam, semula saya hanya tertarik alasan Ruvita pergi meninggalkan orangtuanya. Remaja perempuan yang (katanya) ngetop lewat iklan (saya tak tahu produk apa) itu lebih memilih tinggal bersama ibu angkat. Yang menyebalkan, justru cara TV One yang, menurut hemat saya, justru memperkeruh suasana, dan berpotensi merusak mental anak berusia 13 tahun itu.

Tak hanya Ruvita, ibu angkatnya yang bernama Maya serta ibu kandung Ruvita (Lili?) pun pasti sama-sama terluka lantaran diadu secara terbuka, disaksikan jutaan pasang mata. Tak terbayang di benak saya, apa yang bakal terjadi seusai perbincangan itu, yang melibatkan ketiganya. Lili pun, saya yakin merasa ditampar lewat siaran itu, karena sesampai di rumah, bisa jadi ia akan memiliki beban mental dengan para tetangganya.

(Dari kiri ke kanan) psikolog, Lili, Ruvita, Maya, pemandu dialog

 

Fakta siaran:

Diawal perbincangan, ditampilkan seorang psikolog, Ruvita dan Maya, sang ibu angkat.

Dalam perbincangan itu, Ruvita mengaku hanya bersekolah hingga kelas 4 sekolah dasar. Ia pun bertutur tak tahan menerima perlakuan kasar ibu kandungnya. Meski demikian, ketika pemandu acara menanyakan apakah Ruvita dendam terhadap ibunya, dengan spontan dijawab tak pernah mendendam. Ia justru mengaku sayang dan bercita-cita meringankan beban orang tuanya.

Dalam penuturannya yang spontan, Ruvita mengaku pergi ke Sorong mengikuti Maya karena ingin konsentrasi sekolah di sana. Di Jakarta, ia mengaku sering disibukkan oleh jadwal syuting (iklan), padahal sangat ingin meneruskan sekolahnya yang terhenti. Ia meminta kepada ibu kandungnya untuk meneruskan sekolah, tapi tak kunjung dikabulkan. Karena itu, Ruvita berujar, jika bersekolah di Sorong, ia bisa konsentrasi penuh.

Ruvita tampil spontan. Ia remaja periang, banyak mengumbar senyum selama wawancara berlangsung. Air matanya meleleh deras ketika bercerita keadaan keluarganya, dan mengisahkan pelariannya. Berkali-kali ia menuturkan betapa ia tak dendam dengan ibu kandungnya, dan menunjukkan niatnya untuk membantu perekonomian keluarga yang masih tinggal di rumah kontrakan.

Usai mengorek banyak keterangan dari Ruvita dan ibu angkatnya, sang pembawa acara menyatakan akan menghadirkan tamu rahasia sebagai kejutan. Disebutnya, siapa tahu kehadiran sang tamu bisa menjernihkan persoalan dan membuat perasaan Ruvita senang dan kembali tenteram.

Lili, ibu kandung Ruvita berjalan menuju panggung utama. Tampak Ruvita sambil duduk mencium tangan ibunya. Maya juga ikut mencium tangan Lili setelah giliran Ruvita.

Duduk bersebelahan dengan Ruvita, sang ibu kandung mencium dan berusaha memeluk anaknya. Dengan halus, Ruvita berusaha menghindar. Wajahnya tampak kurang happy seperti pada awal perbincangan.

Pembawa acara lantas menanyakan perasaan Ruvita atas kehadiran ibunya di studio itu. Kepada psikolog pun dimintai pendapatnya mengenai pertemuan itu, apa dan bagaimana sebaiknya menyelesaikan konfllik antara  ibu kandung-Ruvita-ibu angkat. Dijawab psikolog: ia tak bisa memberi solusi segera, sebab baru saja bertemu mereka. Ia membutuhkan informasi yang memadai, dan itu butuh waktu.

Opini saya:

Menyimak jalannya perbincangan, bahasa tubuh dan mimik semua narasumber, saya justru mellihat ada kesalahan fatal yang dilakukan TV One, terutama pembawa acara. Tampak ia berpretensi bisa menyelesaikan persoalan saat itu juga, sehingga dengan menghadirkan ibu kandung Ruvita, diharap persoalan akan kelar seketika.

Menurut hemat saya, Ruvita justru dibawa pada persoalan baru, yang bisa jadi justru berpotensi memunculkan trauma berpanjangan. Setelah bercerita keinginannya bersekolah terhalang sikap ibunya, juga pengakuannya tentang perlakuan kasar ibu kandung terhadap dirinya, tiba-tiba ia dipaksa menghadapi langsung orang yang baru saja dibahasnya.

Lili, sang ibu kandung, pun tampak ofensif terhadap Maya, ibu angkat yang dipilih Ruvita dan dikenalnya di lokasi syuting.

Bahasa tubuh Ruvita menunjukkan ia cenderung nyaman dengan Maya. Tangan Ruvita menggenggam kuat dan tak mau melepaskannya dari telapak tangan Maya.  Pada situasi demikian pun sang pembaca acara masih terus mencecar Lili, Ruvita dan Maya dengan aneka pertanyaan dan pernyataan.

Melihat adegan itu, istri saya mengomentari sikap dan cara pembawa acara yang menggiring pada solusi instan. Istri saya membayangkan kesulitannya menempatkan diri jika berada, baik dalam posisi ibu kandung, ibu angkat maupun Ruvita. Sama-sama tak enak, dan perasaannya pasti campur aduk.

“Bahkan, ibu kandung pun tak berhak lagi mengasuh jika selama ini sudah tak sanggup memberikan kepada seorang anak akan hak-haknya, seperti kasih sayang, pendidikan, kecukupan bermain, dan sebagainya. Tapi itu juga harus diverifikasi lagi, didalami pokok persoalan mereka,” komentar istri saya.

Saya pun menduga, usai siaran, yang ada di belakang panggung adalah adegan Lili memarahi Maya karena dianggap ‘meracuni’ Ruvita. Kalimat kuncinya sudah diucapkan Lili saat wawancara, kurang-lebihnya begini: “Saya ingin Ruvita sekarang adalah Ruvita yang dulu…. Hanya tujuh belas hari, ia sudah berubah…

Juga, ada kalimat Lili, yang menurut saya bakal menyudutkan Maya, yakni “..Ruvita itu cantik….kenapa Maya tidak membantu perempuan lainnya juga…

Dari hampir satu jam mengamati jalannya perbincangan, saya tak melihat tanda-tanda adanya motif jahat pada diri Ruvita dan Maya. Kalimat-kalimatnya yang spontan tampak tulus dan jujur, betapa ia sesungguhnya menyayangi ibu kandungnya, namun pada saat ini belum sanggup tinggal bersama ibunya. Satu-satunya keinginan Ruvita hanya bisa bersekolah lagi dengan tenang, namun tak mau kembali ke sekolah lamanya, sebab ia malu karena teman-temannya sudah tiga tahun lebih maju.

Apapun persoalan sesungguhnya di dalam keluarga Ruvita sehingga ia tak betah tinggal bersama ibu kandungnya, menurut saya perlu didalami lagi. TV One mestinya harus melakukan riset awal memadai, sehingga tidak gegabah membuat keputusan mempertemukan tiga pihak yang sedang bermasalah dalam sebuah forum publik.

Baik Ruvita, Lili sebagai ibu kandung dan Maya sebagai ibu angkat yang dipilih sendiri oleh Ruvita, saya yakini berada pada posisi yang sama dalam acara itu, sebagai korban TV One!

Saya sebut sebagai korban, sebab jika mennyimak jalannya acara, saya tak yakin Maya,  Ruvita dan psikolog yang diharapkan sebagai penengah, tidak diberitahu sebelumnya akan kemungkinan menghadirkan Lili, lalu dikonfrontasikan dalam acara yang disaksikan jutaan orang itu.

Selain memunculkan beban dan persoalan baru bagi semua pihak, tayangan itu menurut saya, tidak mendidik. Terlebih bagi Ruvita, dan anak-anak seusianya. Baik yang memiliki persoalan yang sama, maupun yang tidak dalam kesulitan yang setara.

 

24 thoughts on “Ruvita ‘Korban’ TV One

  1. anto

    TV OOOOOOONNNNNNNNNN seenak udelnya saja mempertemukan orang yang sedang bermasalah, lu pikir apa mentang mentang didepan tv trus orang harus bersandiwara berdamai dan bermaaf maafan, masalah keluarga harus diselesaikan dengan hati hati dan penuh kesabaran, bukannya malah diadu didepan forum, dengan niat mengambil keuntungan poperitas pemberitaan. seenak jidatnya. jangan mau anda di dikte sama pembawa acara model beginian. tuntut saja kalau perlu.

  2. Setuju sekali, saya juga kurang sependapat dengan acara tv one yang satu ini, kadang acara tersebut hanya retorika belaka, tak lebih dari demo jalanan, bayak kasus di bahas di bolak-balik tapi ujung-ujungnya gak ada penyelesaian atau tindakan nyata.. kalau gitu kan sama aja omong doang.

  3. tya

    saya juga tidak suka ketika melihat tayangan ini…sangat tidak etis…mengadu secara frontal didepan orang banyak. seharusnya tv ini mendapat teguran.
    padahal ada psikolog disitu yg seharusnya ngerti kl mediasi harus pada ruang tertutup.

  4. nungkie

    kadang2 kalau nonton tv one, sekilas spt menonton tayangan SIL*T.. tapi lebih parah, krn spt yg disebut di atas, semua dipertemukan, sehingga egoisme individual masing2 yg sedang ditonton jutaan orang tidak mau menjadi objek kesalahan, tdk mau menjadi yang disalahkan.
    semua individu pasti merasa dirinya benar, sehingga saat dipertemukan kemudian disiarkan secara live, yg ada tdk akan memperjernih keadaan, dan parahnya, tv one spt tdk mau peka akan hal itu.
    Mungkin memang tujuannya : Yg penting Rating tontonan Naik. tak peduli akan jadi apa dan bagaimana kelanjutan objek yg diwawancarai itu.

  5. Namanya TV *ne, wong acara debat & perbincangan *ah lupa istilahnya* tv one aja kesannya kayak debat anak2 sma :P, *saling otot sana sini, buka topik yg malah memperkeruh masalah, bahkan mengadu 2 pihak yg punya perbedaan yg gk bisa ditolelir* XD.

    TV*ne….terdepan mengacaukan XD

  6. pk

    ndak usah emosi.. bagaimanapun anak 13th itu masih hak ibunya… ndak usah dikomporin pakai test DNA segala, ndak perlu itu.. ndak perlu.. dari garis senyumnya juga sudah terlihat dia anaknya Lili.. Maya yang seharusnya memberi pengertian dan tahu diri..

  7. lala

    yang dimaksud psikolog itu dia bukan psikolog dia itu konselor (harus tau bedanya) cuman emg tvone aja udh dibilangin berkali2 gangerti nulisnya psikolog. ya jelas aja gaa memahami dan gabisa langsung ngasih solusi secara beliau baru pernah bertemu pada saat itu juga dengan ketiga pihak yang bermasalah dan sang konselor itu adalah pengganti dr psikolog yang seharusnya hadir.

    vita itu cita2nya tinggi mau jd miss universe jelas lah dia mau sekolah. “Saya ingin Ruvita sekarang adalah Ruvita yang dulu…. Hanya tujuh belas hari, ia sudah berubah…” WHATT?? LILI SENDIRI PERNAH MENGIZINKAN anak perempuan satu2nya itu tinggal di rumah bunda maya selama 3 bulan for no reason
    tapii…. kalau liat ibu dan bapak kandung vitaa…. kayanya dia hrs di tes DNA..

  8. retno

    menurut saya psikolog yang dihadirkan kurang memahami atau tidak bisa dikatakan profesional,karena tidak memberikan solusi yang berarti,, saya kecewa

  9. Rame-rame sedang ngebahas TV O’on lagi ya, emang bener ndak mutu dan profokatif kesalahan yang mirip serupa tapi tak sama seperti kasus TKI Darsem, ngasih duitnya berlebihan padahal masih ada korban TKW yang laennya di sampingnya…

  10. nita

    tv one dr dl emg gt…makanya aq skr dah ga pernah ntn tv one lg..dl pas gempa d padang…ada seorang anak yg kehilangan SELURUH anggota keluarganya..dan gobloknya si reporter mlh nanya “gmn perasaan adek kehilangan semua anggota keluarga?” ya nangis lah si anak itu..bego bgt bukannya memikirkan perbaikan k si anak mlh mengorek2 hal2 yg menyakitkan

  11. YYN

    setuju,hal ini harusnya tdk ditayangkan di tv,

    yang tidak mendidik, sebaiknya tak disiarkan ke publik lewat frekwensi publik…
    /blt/

  12. yo memang aneh pak de, TV sebenarnya cuma cari pemirsa. saya nonton ko’ acara ini yang sebenarnya hanya harus dibicarakan empat mata. Kalau begini ya rame, yang mungkin menjadi korban adalah ibu angkat 🙁

    masalah domestik, mestinya diselesaikan dengan cara yang lebih personal. TV One tak memperhitungkan dampak negatif bagi para pihak yang terlibat, selain tidak mendidik sama sekali…
    /blt/

  13. erwin

    saya melihat tayangan tersebut dan saya setuju dengan anda….
    tv one, sebagaimana layaknya tv2 lain, terkadang hanya mementingkan rating. sama sekali tak peduli dengan hal-hal di luar itu. apalagi penyelesaian masalah 🙁

  14. DV

    Televisi tak pernah dan tak akan pernah menyajikan solusi yang bukan instant selama mereka masih terpatok pada kejar iklan.
    Saya heran terhadap TV Oon ini… Kalau saya jadi pemiliknya, mungkin saya akan jadikan tv ini sebagai sarana buang duit karena toh saya sudah sangat kaya dengan sinergi bisnis di bidang lain?

    Tapi ya itu cuma ‘kalau’… pada kenyataannya mungkin saya tetep akan Oon juga..:)

  15. parah emang tv one..
    ga sharus nya pertanyaan itu ditanyain di dpn publik…
    malah jd runyem suasana nya…
    tapi aye mah seneng ngeliat Ruvita nya aja,manis bngt…wkwkwkwkw

  16. Akhirnya ada yang posting ini, karena saya kelewat terus beritanya Mas. Dan entah kenapa saya memang kurang seneng aja sama semua penyiar TV tersebut, selalu bertanya dengan intrepetasi yang dibuat saling menyudutkan, maish mending penyiar2nya Tv yang itu tuuh… kualitasnya ok semua..
    Eniwey menyoal kasus Vita, saya harap untuk sementara memang Ruvita ga usah tinggal dulu sama emak kandungnya. Semoga Ruvita ga trauma 🙂

  17. Kalo mau bicara mengenai merk “TV One” sebenarnya ku yawis ‘entek golek kurang amek’ je Pakdhe…
    Case terahir yang sempet kuliat adalah ketika wawancara Anggun C Sasmi ini

    Tapi sepertinya tak ada bedanya juga kalo kita (saya) juga menyudutkan TV One-nya, mungkin akan lebih baik kalo hal semacam ini mampu dijadikan ‘pelajaran’ bagi media lain, bahwa tak semudah itu membuat acara (berita) -apalagi live and talkshow- Ada hal yang musti dilakukan dari sekedar berpikir tentang aktual, bombastis, hingga ‘rating tinggi’

    Btw, Nuwun Dhe sharinge… wis suwe ra nongton “kotak bermesin” itu je kejaba bal-balan… 🙂

  18. ale

    Dalam setiap wawancara TV ONE saya selalu memperhatikan pembawa acara TV One selalu mengorek2 setiap statment dari tamu2nya tanpa memperhatikan etika bertanya. Karena itu saya sudah mengurangi melihat berita-berita yang disajikan oleh tv one. Maaf saya melihat RCTI, SCTV dan TVRI yang masih netral dan bersopan santun dalam menyajikan berita dan wawancara.

  19. TV One hanya menambah persoalan…
    Berusaha memaksakan solusi untuk mereka…

    Saya harap ibu kandung Vita dpt memahami kebutuhan Vita…
    Dan tdk menjadikan ibu Maya bagian dr sebuah keluarga yg saling mendukung hal positif…

    TV One bisa gak, bahas yg lebih urgent drpd mengadu perasaan individu-individu…

Leave a Reply