Wedding Organizer yang Payah

Minggu (15/1) siang, saya dan istri menghadiri undangan teman yang merayakan pernikahan. Digelar dengan adat Jawa, penataan ruangannya, termasuk seluruh dekorasinya lumayan elegan. Sayang, event organizer-nya luput sangat mendasar. Terasa betul mereka tak mengenal tata krama dan adat-istiadat Jawa.

Delapan pasang penerima tamu (among tamu) diposisikan tetap duduk di kursi masing-masing, tanpa menyalami tamu yang datang. Padahal, saat kami datang (padahal sudah terlambat), pengantin sedang melakukan upacara adat sungkeman, yakni menghormat kedua pasang orang tua mempelai dengan cara duduk setengah jongkok.

Seorang perempuan menghampiri kami dan mempersilakan kami mencari tempat (duduk) di salah satu sisi ruang pertemuan di Balai Pamungkas, Yogyakarta itu. Istri saya kaget lantas mengiyakan keluhan saya ketika menyaksikan keanehan itu. Dia merasa tidak ada rasa Jawanya sama sekali.

Dari kejauhan kami menyimak suasana panggung utama, tempat pengantin diapit kedua orang tua di sisi kiri dan kanan mereka. Dua lelaki berdiri dalam waktu agak lama di sisi kanan dan kiri panggung utama, persis di depan kedua pasang orang tua mempelai yang duduk di kursi. Selain tak lazim, cara berdiri di posisi itu juga kurang sopan, plus mengganggu pemandangan tetamu, di mana seharusnya tertuju ke arah mempelai.

Di pintu masuk utama, pun seorang perempuan (juga dengan perangkat komunikasi wireless) berdiri tegak membelakangi para penerima tamu yang duduk, juga membelakangi mempelai yang berada tegak lurus dengan perempuan itu. Aneh. Hampir di semua rangkaian upacara adat, kehadiran para petugas wedding organizer justru mengganggu. Inginnya ngatur, tapi mereka justru tampak kurang paham.

Kesan yang saya dapat justru ribet. Nilai sakral dan agung upacara adat menjadi kurang terasa. Padahal, mestinya rangkaian acara itu justru bisa diikuti para hadirin, dan semua bisa ikut larut dalam sebuah suasana yang agung, sakral.

Usai rangkaian upacara adat, barulah para tamu dipersilakan kembali memulai ‘prosesi’ kondangan, kembali memasuki ruang pertemuan yang disambut para among tamu secara resmi, dengan sama-sama berdiri. Dari arah datang, tetamu langsung digiring petugas wedding organizer menuju pelamminan, untuk memberi ucapan selamat kepada mempelai. Kaku. Aneh.

Saya yakin, para among tamu juga merasa ada ganjalan lantaran diatur-atur oleh wedding organizer yang tak paham adat-istiadat, tata krama Jawa. Tetamu baru disalami melalui sesi resmi, pastilah mengganjal di hati para among tamu yang semua sudah sepuh itu.

Anehnya, sebagai resepsi dengan ‘adat kota’ berupa standing party, mestinya begitu tamu datang bisa langsung menuju pelaminan, bersalam-salaman lantas menyantap menu pilihan. Dalam resepsi kali ini jauh beda dengan kelaziman. Semua hidangan masih dalam posisi ditutup rapat, sehingga bagi orang Jawa, akan menghindari untuk membukanya. Selain saru atau tak pantas, juga orang enggan disebut nggragas.

Sejujurnya, saya kasihan kepada keluarga teman saya sebagai tuan rumah. Pasti, biaya pestanya tidak murah, lantaran mesti ada jatah buat wedding organizer-nya. Sudah gitu, persis di depan pelaminan, terdapat sign box berwarna merah menyala dan tampak mencolok. Seolah-olah, wedding organizer-nya menjadi sponsor utama sebuah perhelatan keluarga itu.

Ini, boleh jadi, merupakan pertanda keJawaan yang luntur bagi kalangan muda kita, setidaknya para awak di balik wedding organizer itu. Mereka terasa betul tak paham nilai-nilai pekerti dan adat istiadat Jawa yang penuh simbol tersembunyi. Kostumnya sih senada dengan semua yang terlibat utama dalam perhelatan, begitu juga sopan-santunnya melayani tamu. Tapi ya gitu, sopan yang terasa artifisial. Hanya kulitnya saja yang tampak Jawa….

Tulisan senada versi bahasa Jawa ada di sini

9 thoughts on “Wedding Organizer yang Payah

  1. walah,… ditempat saya ngga jauh beda. Mereka memprioritaskan hasil cam yang katanya bagus. tapi acara adatnya,….. jauh banget dari yang dikatakan si Mbok.
    soal bayaran, ngga usah ditanya yg cuma ngandalkan hasil editing dan pernak pernik pelaminan 🙁

    serem ya….. jadi wedding organizer ternyata tak gampang…
    /blt/

  2. Saya mbaca tentang WE ini…. saya gak habis pikir.. ada ya WE seperti ini… kok pasang neon box segala??
    Nikahan sodara2 sepupu saya yang pake WE gak ada yang pasang neon box seperti itu… 🙁

    lha ya itu… saya bingung, kenapa masang begituan, seperti sponsor utama saja…
    /blt/

  3. Seharusnya EO kan sudah benar-benar mengerti prosesi pernikahan adat yang dipesan mempelai ya. mau untungnya saja tanpa ada improve untuk mengerti adat budaya pernikahan pakde.saya kok miris membaca postingan ini

  4. DV

    Dan biasanya EO yang begitu itu mahalnya ampun2an.. Adikku yang akan menikah Juli nanti memutuskan untuk tidak menggunakan adat2an yang terlalu gimana2 kecuali beberapa weweling yang memang diminta eyang untuk dilakukan sebagai tradisi keluarga saja.

    Alasannya? Lha mau bikin acara siraman di rumah aja udah minta 10 juta! Opo tumon!

Leave a Reply