Tamasya Singkat ke Malang

Sabtu-Minggu (7-8/1) kemarin, saya bersama rombongan Bengawan bertamasya ke Malang.  Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah sebuah barak milter, tempat ratusan blogger dari sepuluh komunitas bobok bersama, kumpul blogger (bukan kebo!). Kami ingin menemani kegembiraan tuan rumah merayakan ulang tahun keempat komunitas mereka, BloggerNgalam.

Di barak itulah, malamnya kami reriungan, saling memperkenalkan diri komunitas masing-masing. Sambil memperkenalkan diri, juru bicara biasanya akan bercerita tentang kondisi komunitas dan cita-cita mulia (seperti Ibu Kartini kita itu, lho) yan hendak diwujudkannya. Khas kopdar blogger. Di Bengawan atau di komunitas lain, ajang perkenalan menjadi wajib untuk pengakraban, meski bagi yang tak biasa kumpul blogger bisa salah sangka.

Seharian acara sharing banyak hal tentang blogging dan produksi konten digelar di aula kampus STIE Malangkucecwara. Ada Pamantyo yang berbagi ilmu merawat konsistensi update blog, baik dengan tulisan, foto/grafis, audio atau video. Ngeblog, kata Pamantyo, itu kemewahan. Sebab, seseorang harus mau meluangkan waktu dan memiliki kepekaan (merekam sesuatu yang dirasakan dari sekelilingnya) dan mau berbagi atau menyebarluaskan kepada pihak lain. Jadi, ngeblog itu kemewahan, yang bisa dikejar, diperjuangkan.

Briefing singkat sebelum memulai jalan-jalan menyusuri Kota Malang

Mas Farid Gaban, yang ingin menuntaskan keliling Indonesia naik motor hingga ke pulau-pula terpencil, pun tak ketinggalan berbagi cerita yang mencerahkan dan menggugah kesadaran. Selain menuliskan dalam bentuk catatan, mantan jurnalis ini merekam semua perjalanan, lengkap dengan data-data sosial, ekonomi dan  sebagainya, lalu mengumpulkannya dalam sebuah video documenter bertajuk Ekspedisi Zamrud Katulistiwa. Silakan simak filmnya di sini.

Memperbanyak produksi konten lokal itu sungguh penting. Kini, kian banyak orang yang membutuhkan informasi tentang apa saja, melalui Internet. Dalam konteks itulah, Ekspedisi Zamrud Katulistiwa menjadi relevan dan pantas dijadikan contoh, utamanya para blogger di manapun mereka berada, baik yang berafiliasi dalam sebuah organisasi/komunitas, maupun blogger independen seperti pasangan suami-istri IsnuansaGie Wahyudi.

Dalam konteks berkomunitas, gelaran seperti Oblong Merah Muda (Obrolan BloggerNgalam Mengingat Sejarah Memajukan Budaya) menjadi penting ditiru komunitas-komunitas (utamanya blogger) di berbagai daerah. Ketika ratusan orang berkunjung ke sebuah daerah, mereka bisa merekam pengalaman atau hasil pengamatan tentang apa saja yang dijumpainya. Yang ‘standar’ sih, biasanya suasana daerah/kota, obyek-obyek wisata serta kekayaan budaya, dan tak ketinggalan kulinernya.

Maka, sangat tepat jika hari itu juga dihadirkan narasumber yang sangat paham dengan potensi wisata lokal. Pak Dwi Cahyono, Ketua Badan Promosi Wisata Provinsi Jawa Timur yang juga penggagas Festival Malang Kembali atau Malang Tempo Doeloe, yang membeberkan banyak hal tentang Malang. Sehingga, informasi tersebut menjadi bekal memadai sebelum keesokan harinya para blogger yang datang dari berbagai kota jalan-jalan menyusuri Kota Malang.

Wuih, sponsore reekkk..... :p

Dari Resto Inggil yang bernuansa museum lantaran kekayaan koleksi benda-benda bersejarahnya, Monumen Brawijaya yang sarat dengan materi-materi penting pada masa perjuangan merebut kemerdekaan, hingga suasana kota, yang kini sudah tak sesejuk masa lalu. Kawasan Jl. Ijen yang merupakan pusat permukiman bangsawan kolonial masa lalu, masih terasa keasliannya jika ditengok pada keberadaan bangunan-bangunan tua di sana. Dan, lantaran masih kuat ciri masa lampaunya pula, dengan jalan raya lebarnya dengan aneka pepohonan di sisi kanan-kiri dan tengah sebagai pembatas jalur, kawasan itu dijadikan venue gelaran wisata monumental bernama Malang Tempo Doeloe.

Di luar acara-acara resmi, yang tak kalah serunya adalah kopdar di barak pada malam Minggu. Semua wakil komunitas diberi ruang untuk memperkenalkan diri, komunitas dan aktivitasnya, serta dilanjutkan berbagi pengalaman membuat dan mengelola event. Yang utama sih, mengajak semua peserta guyub, saling bantu meramaikan setiap ada kegiatan yang digelar komunitas, dan semua peserta mengupayakan membuat postingan acara atau apa saja yang terkait dengan daerah, masyarakat dan lingkungan yang dikunjungi.

Muatan informasi lokal di Internet akan berguna bagi banyak pihak. Tak hanya blogger tuan rumah, namun masyarakat dan pemerintah setempat akan sangat terbantu secara publikasi. Selain itu, ketersediaan materi informasi (tentang apa saja) yang diunggah di Internet melalui blog dan aneka situs jejaring sosial, pasti membantu pencarian informasi oleh banyak pihak, di manapun mereka berada, tentang Malang dan kekayaan yang dimilikinya.

Contoh paling sederhana, dengan memperoleh banyak informasi yang memadai (apalagi testimoni tulus dari blogger),  seseorang atau banyak orang tertarik menjelajah Kota Malang, dan bias jauh-jauh hari merencanakan sebuah perjalanan untuk waktu yang tak pendek. Dengan berkunjung, seseorang (apalagi rombongan) akan butuh makan, butuh penginapan, butuh transportasi, dan memerlukan banyak hal.

Jika banyak informasi menarik, apalagi terinci, yang kita unggah di Internet, kira-kira siapa saja yang bakal diuntungkan?

Di situlah menariknya blogging dan berjejaring. Bisa bergembira bersama, dan lantas punya bahan cerita kepada dunia.

 

 

 

 

11 thoughts on “Tamasya Singkat ke Malang

  1. sejak awal,sering efek samping(an) kumpul blogger bagi yang muda-muda adalah ajang cari jodoh..

    Seiring berjalannya waktu,sudah saatnya para blogger sepuh untuk menjadikan kumpul blogger sebagai ajang cari mantu..

    #mdrcct

Leave a Reply