Rumah Tahanan Koruptor

Membaca berita tentang rumah tahanan khusus trsangka dan terdakwa koruptor yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang terlintas di kepala adalah sebuah bangunan mewah 50 lantai, dengan coffee shop di lobby setiap lantai. Paling atas, ada sky lounge.

Yang terlintas di benak saya, ada orang-orang yang selalu tersenyum ramah sambil membukakan pintu kaca setiap ada tamu yang mendak memasuki lobby. Tamu adalah raja, sebuah prinsip standar keramahan usaha bidang jasa, harus diterapkan sebab semua tetamu pasti orang-orang istimewa.

Selain anggota keluarga penghuni rumah tahanan, prosedur standarnya, setiap yang datang harus diasumsikan sebagai orang-orang dekat atau yang memiliki keperluan penting, sehingga harus memasuki lobby bangunan menjulang nan mewah itu. Mereka adalah makhluk-makhluk dengan beragam latar belakang: petinggi partai polituk, CEO perusahaan nasional atau multinasional, sekretaris daerah, konglomerat, dan masih banyak lagi.

Di rumah tahanan itu, adalah orang-orang yang harus dihormati hak-hak sosial-politiknya, sebab statusnya di KPK baru TERSANGKA dan TERDAKWA. Maksudnya, bukan terpidana.

Kenapa demikian? Ya, sebab bangunan yang saya andaikan sangat mewah itu didukung ahli hukum seperti Denny Indrayana, yang lantaran dosen dan bergelar professor, harus sangat menjunjung tinggi teori-teori dalam ranah ilmu hukum. Dan, seorang menteri yang saban hari berjuang membela hak-hak tersangka dan terdakwa, bukan mustahil akan bekerja sepenuh hati memperlakukan penghuni rumah tahanan sebagai klien-klien yang harus dikawal dengan prinsip prejudice of innocence.

Bayangkan pula, akan ada berapa banyak keluarga tersangka dan terdakwa korupsi, yang lantaran cepat kaya dan berimbas memunculkan jiwa kewirausahaan, lantas melihat peluang bisnis di sana. Minimal, di sana butuh coffee shop dan restoran berkelas gold dan platinum, sebab target market-nya memiliki daya beli tinggi dan sarat privasi dan prestise.

Mungkin, beberapa pengusaha kakap akan merasa terancam ceruk bisnis klub-klub eksekutifnya, sehingga harus bertemu umtuk membahas perlunya bersekutu menggagalkan gagasan rutan eksklusif itu. Hotel-hotel mewah, juga tempat-tempat rendevu yang selama ini dibanjiri orang-orang penting terancam gulung tikar, karena semua pindah ke KPK & Hukham Executive Club yang nyata-nyata bakal eksklusif.

Rakyat Indonesia yang penuh tepa slira dan full kasih sayang, biasanya cuma diam, ogah menyoal hal-hal demikian. Sementara, sebagian kecil keluarga penyamun dan penjarah uang rakyat, yang kian jeli dan menjunjung tinggi hospitality, akan senang memiliki kesempatan berarti.

Yang saya bayangkan, orang seperti saya akan disambut dengan ramah waiter dan waitress, pintu mobil akan dibukakan dan barang-barang saya dibawakan jika memasuki kawasan itu naik taksi, dibanding menggunakan mobil seharga kurang dari Rp 300 jutaan. Perlakuan lebih istimewa pasti akan saya dapat jika saya datang mengendarai mibil-mobil mahal dan mendongkark prestise.

Semua karyawan di rutan itu, pasti ditraining khusus mengenali tetamu lewat ciri-ciri fisik dan atribut yang disandangnya, minimal yang tampak secara visual. Orang datang naik taksi, pun harus diasumsikan sebagai tindakan penyamaran atau covering, sementara memakai mobil murahan dianggap bukan tipe keluarga, kerabat dan relasi para penghuni rutan.

Begitulah catatan saya siang ini, setelah membaca pernyataan Denny Indrayana di Tempo. Anggota DPR, saya yakin akan mendukung gagasan itu, sebab mereka pun juga harus menjaga ‘masa depan’ mereka, sebab semua sangat paham, politik di Indonesia sarat permainan dan paling depan, kaffah dan istiqomah mengamalkan prinsip tawar-menawar aneka perkara.

2 thoughts on “Rumah Tahanan Koruptor

  1. DV

    Hmmm menarik… konsep penjara bagi koruptor menurutku dibikin begini:
    Di sebuah areal dibangun subway (bawah tanah). Di sana dilengkapi dengan segala macam fasilitas yang wah.. nah para koruptor dijebloskan di sana saja tanpa ada pintu keluar.
    Mereka boleh menikmati fasilitas-fasilitas itu tapi konsekuensinya mereka juga harus menerima kiriman tinja dan air kencing serta ludah yang dibuang orang ketika mereka sedang emosi. Diberikannya lubang khusus untuk penyaluran itu dan harus tepat mengenai kepala para koruptor..

    Wah, komenku samsoyo ngaco.. yo pokokmen ngono kae lah :)

Leave a Reply