Kenangan Sang Guru (1)

Bagi saya, almarhum Murtidjono bukanlah seniman. Tapi, perhatiannya terhadap kesenian, seniman dan kebudayaan tak pernah ada sanggup membantahnya. Ia pemikir kebudayaan yang eksentrik. Sikapnya tegas: memilih dipensiun diri jika harus pindah ke Jakarta, walau pangkat dan jabatannya naik. Ia merasa belum tuntas menjadi fasilitator bagi seniman di Jawa Tengah.

Saya beruntung pernah menjadi muridnya, terutama di Akademi Ngisor Pelem. Ya, sebuah sebutan untuk warung di bawah pohon mangga, di kompleks Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta (TBS), di mana banyak seniman, mahasiswa, aktivis, wartawan selalu mendiskusikan banyak hal, dengan cara yang kadang-kadang penuh canda, kadang pula dengan disertai tarik-ulur otot leher.

Selain di kampus Akademi Ngisor Pelem, saya menjadi kerap sopirnya. Di antara sekian banyak orang ‘penganggur’ yang kerap nongkrong di sana, sayalah yang easy going, gampang diajak bepergian karena selalu nganggur, serta bisa nyopir dan punya SIM A. Kebetulan, Pak Murti bukan tipe pejabat pada umumnya, yang mau dilayani sopir dinas ke mana ia pergi.

Kami sering pergi berdua ke berbagai kota, ketemuan dengan sesama kepala taman budaya (tingkat provinsi), atau menghadiri sebuah acara kesenian. Satu  pelajaran termahal yang saya dapat dari Pak Murti, ia hobi mencibir atau meledek seniman beserta karya-karyanya di depan orang banyak. Satu-dua membencinya, tak sedikit yang marah karena tak terima, namun tetap jauh lebih banyak yang suka.

Seperti dengan banyak orang, kepada saya yang jauh lebih muda, pun Pak Murti selalu berbahasa Jawa halus (krama inggil). Sehingga orang yang tak mengenalnya jadi sulit menebak, Pak Murti itu kasar atau seorang yang halus budi. Saya memilih yang kedua.

Pada pertengahan 1990an, saya sering diajaknya jalan-jalan ke berbagai kota, seperti Surabaya, Semarang, Yogya dan Bandung. Selain beberapa kali bertemu dengan Kepala-kepala Taman Budaya, juga ketemu seniman atau budayawan sekaliber Mbah Umar Kayam. Bersama Mbah Kayam, termasuk paling sering, terutama ketika budayawan itu di Solo, sekadar memenuhi rasa kangen wisata kuliner sambil menemui Pak Murti, sang murid kesayangan.

Kedekatan Pak Murti dengan Mbah Kayam bisa dilihat dari pilihan bahasanya. Keduanya selalu ngoko, menggunakan bahasa Jawa kasar. Dari materi obrolan di tempat-tempat makan seperti RM Centrum, Ayam Tim Bu Better Palur, dan sebagainya, saya merasa beruntung bisa mencecap ilmu langsung dari orang-orang hebat itu.

***

Pak Murti betul-betul sosok eksentrik. Ia mengelola Taman Budaya Surakarta menjadi surga bagi seniman. Pada masa kepemimpinannya (sejak masih bernama Pusat Kesenian Jawa Tengah/PKJT) hingga pensiunnya (2007), seniman selalu dimanja. Selain bisa memanfaatkan semua fasilitas untuk latihan secara gratis, pentas pun digratiskan. Malah, kadang ada subsidi biaya produksi dengan bonus uang hasil penjualan tiket menjadi hak sepenuhnya seniman.

Maka, tak mengherankan jika pada masa kepemimpinannya, Solo (dan Taman Budaya Surakarta) selalu jadi tempat pertunjukan seniman-seniman besar dari berbagai kota, yang selain jadi suguhan menarik, juga bisa menjadi ruang apresiasi dan pembelajaran bagi seniman-seniman muda.

Simak komentar perupa Djoko Pekik melalui video berikut:

 

Teater Gandrik (Yogyakarta), Teater Satu Merah Panggung, Teater SAE (Jakarta), Studiklub Teater Bandung dan Kelompok Payung Hitam (Bandung), Teater Kita (Makassar) termasuk yang sering manggung di Solo. Rendra, Putu Wijaya, Suyatna Anirun, Djoko Pekik, Butet Kartaredjasa, Emha Ainun Nadjib, Tisna Sanjaya, adalah beberapa nama beken dalam peta kesenian Indonesia, yang juga pernah singgah pentas, atau sekadar mampir jalan-jalan.

Pak Murti memang unik. Seniman yang dicibir di muka umum, selalu dipuji di belakangnya, lengkap dengan catatan-catatan kritisnya. Ini saya tahu ketika beberapa pejabat taman budaya provinsi lain meminta nasihatnya untuk diundang. Ketika banyak orang suka memuji di depan dan menjelek-jelekkan di belakangnya, Pak Murti memilih yang tak lazim. Padahal, risikonya ia dibenci dan dimusuhi.

Simak pula komentar Joko Porong yang karya musiknya pernah dikatai ‘tai!’ oleh Pak Murti:

 

Belakangan baru saya ketahui, rupanya itu merupakan cara dia menguji mental seseorang.

Sanggupkah seseorang menerima kritik untuk bergerak maju, atau sebaliknya justru menjadi nglokro atau kendor semangat, lantas menyerah. Pak Murti, rupanya hendak menyiapkan mental seseorang sebelum tampil di kancah perang sesungguhnya, di area publik dan ranah persaingan pasar seni kreatif.

Saya termasuk yang merasakan dampratannya. Walau kami sering pergi berdua dan berkomunikasi dengan krama inggil, Pak Murti tak segan-segan menggojlok dan meledek karya-karya fotografi saya. Yang lebih gila lagi, gojlokan itu disampaikannya dalam pidato resmi pembukaan, di mana Pak Murti yang saya minta membuka/meresmikan pameran tunggal saya. Padahal, dalam rangkaian pameran itu, saya beroleh pujian dan apresiasi, baik di Galeri Lontar (Jakarta) maupun di Galeri Taman Budaya Jawa Barat (Bandung). Rupanya, itulah caranya memberi bekal kepada saya.

***

Terkait dengan pameran dokumentasi foto seni pertunjukan itu, pun saya punya pengalaman unik. Pada pertengahan 1998, saya mengirim proposal lewat e-mail kepada Mbak Jennifer Lindsay¸ penanggung jawab program kebudayaan di Ford Foundation, Jakarta. Singkat cerita, Ford Foundation tidak bisa memberi grant kepada perseorangan. Karena Mbak Jenny tertarik dengan konsep yang saya tawarkan, beliau menyarankan saya mencari lembaga resmi, sehingga saya menyodorkan nama Taman Budaya Surakarta.

Saat saya menemui Pak Murti untuk meminjam nama lembaga, rupanya Pak Murti sudah ditelepon Mbak Jenny. Beliau sudah tahu dan membolehkan. Dan, selang beberapa hari kemudian, Mbak Jenny datang ke Solo untuk ngobrol lebih dalam tentang konsep yang saya tawarkan. Di Akademi Ngisor Pelem, saya ngobrol bertiga dengan Mbak Jenny dan Pak Murti.

Dan, berangkat dari tawaran konsep saya mengenai pendokumentasian peristiwa seni pertunjukan, Mbak Jenny lantas bertanya banyak hal tentang sistem dokumentasi foto, rekaman audio dan video di Taman Budaya Surakarta. Alhasil, TBS memperoleh hibah pembuatan master rekaman dan kopian (audio dan video) yang bisa dipinjamkan untuk publik, serta pembuatan dokumentasi beberapa tokoh seni tradisional di Jawa Tengah yang sudah lanjut usia. Dari ajuan proposal saya yang hanya Rp 20 juta, TBS memperoleh hibah hingga Rp 500 juta lebih.

Itulah salah satu pengalaman saya yang tak pernah terlupakan..

***

Kepergian Pak Murti pada Selasa (3/1) itu menjadi pukulan berat bagi banyak teman di Solo dan berbagai kota. Muhamad Sunjaya atau Kang Yoyon, aktor senior Studiklub Teater Bandung (STB) dan Actors Unlimited itu sangat sedih ketika saya telepon menyampaikan kabar duka itu.

Kang Yoyon, Kang Tisna Sanjaya, Kang Rahman Sabur, Iman Sholeh dan banyak seniman di Bandung, selalu menanyakan keadaan Pak Murti dan berkirim salam setiap kami berjumpa atau sekadar berkabar lewat telepon. Mereka selalu menyebut Pak Murti dengan sebutan Kepala ‘gelo’ atau sableng lantaran keberaniannya meloloskan pertunjukan teater, pentas sastra atau pameran senirupa yang di tempat-tempat lain terkendala ketatnya perijinan Orde Baru.

Pak Murti adalah sosok unik kepala taman budaya di Indonesia. Ia birokrat yang berani menentang arus, dan tak pernah mau mengadakan upacara bendera setiap Senin pagi atau tiap tanggal 17 seperti lazimnya kantor-kantor pemerintah di jaman Orde Baru. Ia pula yang justru menyuruh pegawainya ‘ngobyek’ nyari uang tambahan dari berkesenian daripada di kantor cuma baca-baca koran atau main catur.

Seluruh aset yang ada di Taman Budaya, bahkan boleh digunakan siapapun, seniman pemula atau yang sudah mapan untuk berlatih. Ia pun membebaskan jika staf-stafnya ada yang membuka kursus kesenian.

(bersambung)

Simak pula:

Kenangan Sang Guru (2)

4 thoughts on “Kenangan Sang Guru (1)

  1. Terima kasih untuk serial tulisan panjenengan tentang Eyang Murtidjono.

    Tulisan yang menarik, berkesan, karena mampu memberikan gambaran lebih menukik tentang sosok Murtidjono, baik pribadinya atau pun kiprahnya yang terkait konstelasi kehidupan kesenian di Solo selama beliau menjabat sebagai kepala suku di TBS.

    Saya mulai mengenalnya ketika ia baru lulus dari UGM, lalu sama-sama nongkrong di Sanggar Mandungan, Muka Kraton Surakarta, 1975-1980an. Hampir tiap malam bersama Pak Heribertus Sutopo (almarhum), Conny Suprapto, Eyang Murti, Harsoyo, juga Marsudi (almarhum, tokoh ketoprak Solo), kami mabuk main scrabble. Pak Narsen ikut pula, tetapi ia mengaku sebagai pemain yang “kalahan.” Slogan terkenal kami saat itu adalah, “cara terbaik untuk bisa bangun pagi adalah bila semalaman tidak tidur.”

    Ketika kemudian saya pindah ke Jakarta, masih ada kontak via surat. Dari baca-baca koran, walau tidak banyak dan tak bisa detil, saya bisa mengetahui apa yang beliau kerjakan.

    Selamat jalan Eyang Murti.
    Semoga keteladanan Mas Blontank Poer dengan menulis obituari ini akan diikuti oleh mereka yang merasa mengenal beliau, baik kagum atau merasa disakiti, untuk menuliskan sesuatu catatan. Terlalu sayang bila sosok pribadi dan kiprah Eyang Murti tidak terabadikan dalam sesuatu buku.

    terima kasih, Pak Bambang. selain di blog ini, obituari Pak Murti juga saya tulis di The Jakarta Post. sekadar catatan, tentang jasa almarhum dalam mewarnai kesenian Indonesia.
    http://www.thejakartapost.com/news/2012/01/05/an-art-vanguard-has-gone0.html

    Tulisan lama tentang beliau juga pernah ada di sana: http://www.thejakartapost.com/news/2006/04/03/murtidjono-maverick-antiestablishment-bureaucrat.html

    salam,
    /blt/

  2. Ketika pertama kali tahu kabar meninggalnya di Sarjito sempet tercenung juga, [pasalnya saat itu saya juga berada tak jauh dari sana…
    Kita yang mendambakan kearifan lokal tentu sangat-sangat merasa kehilangan… 🙁

  3. DV

    Aku tak mengikuti kiprah Pak Murti tapi tulisan ini sungguh menarik karena selain kau kenal, dukungan konten audio/visualnya menguatkan. Top!

Leave a Reply