Esemka Bisa Jerumuskan Jokowi

Saya masih terdiam, tak terlalu antusias menanggapi keberhasilan siswa-siswa sejumlah sekolah menengah kejuruan (SMK) di Solo melahirkan mobil SUV rakitan bernama Esemka. Selain ragu mesinnya dari mana dan pabriknya di mana, saya justru takut perbesaran pemberitaan tentang sukses itu bakal menjerumuskan Pak Jokowi ke titik terendahnya.

Apresiasi berupa pembelian dan penggunaan mobil karya siswa SMK di  wilayahnya itu sangat berguna, menggugah siapa saja. Kerinduan akan mobil nasional, yang murni produksi dalam negeri seperti halnya Proton di Malaysia, turut mendorong ramainya perbincangan banyak kalangan, seperti dappat disimak melalui liputan massif media massa.

Tapi, keberhasilan itu bagai sisi belati. Ia sanggup menebas reputasi Pak Jokowi, sebab membawa potensi disangka korupsi. Peraturan perundang-undangan, konon mengatur minimum kapasitas mesin sebuah mobil dinas, yakni 2.000 cc. Sementara, Esemka Rajawali yang dibeli Pak Walikota Jokowi hanya berkapasitas 1.500 cc.

Seorang teman pengusaha cor logam bercerita, mimpi Kiat tentang mobil Esemka diproduksi massal dianggap berlebihan. Membuat mobil tak bisa sembarangan, selain melibatkan sentuhan teknologi tinggi. Kalau sekadar merakit, kata teman itu, gampang. Mesin pun bisa didatangkan dari mana saja, beli gelondongan.

Tapi, ada ancaman menghadang: mengenai problem hak cipta pada model bodi hingga blok mesin. Ia kuatir, banyak  pihak kelewat bergairah sehingga melupakan aspek-aspek ekonomis-politisnya.

Sang pengusaha kuatir, dampak perbesaran pemberitaan mengenai mobil Esemka bisa menjatuhkan reputasi Pak Jokowi yang sudah dibangunnya selama ini. Malah, ia menduga, perbesaran publikasi dikelola oleh lawan-lawan politik Pak Jokowi, sehingga jika kelak terbukti Esemka banyak memiliki kekurangan alias di bawa standar mutu dan kelayakan jalan serta ada problem hak cipta, mudah untuk menjatuhkannya.

Saya sepakat dengan argumentasi teman saya tersebut. Membangun pabrik perakitan bukan perkara mudah dan murah. Untuk membuat prototipe Esemka, konon menghabiskan Rp 350 juta. Tapi, ia menduga itu hanya untuk pengerjaan asembling dengan pendekatan pembuatan bodi ala sistem kenteng manual, bukan dengan sistem yang lebih canggih, misalnya dengan sistem full pressed body.

Ia mempertanyakan, di mana pengerjaan cor logam (foundry) dibuat, begitu pula dengan master cetakan (moulding) untuk aneka macam suku cadang, seperti untuk dashboard, stang kemudi, spion dan sebagainya, yang harus dibuat masing-masing satu moulding. Untuk barang sepanjang cetakan kurang dari 30 cm, pun, pembuatan moulding bisa mencapai Rp 100 juta.

Dicontohkan, truk Perkasa buatan PT Texmaco yang benar-benar memenuhi standar kelayakan saja, kandas di tengah jalan, jeblok di pasaran hingga harus gulung tikar. Sementara, Esemka yang dibuat dengan pendekatan home indusrty dan scara handmade diperkirakan bakal terseok-seok pada masa mendatang. Timor yang tak kurang dukungan banyak kalangan saja kandas, begitu pula MR90 punya Mazda, serta Cakra dan Nenggala yang diproduksi Bimantara.

Bukan hendak meremehkan karya anak bangsa, termasuk siswa-siswa SMK. Jangankan mobil, senjata otomatis, roket, hingga pesawat terbang pun mampu dibuat anak-anak bangsa Indonesia. Tapi, ya itu tadi, ada yang harus diingat pula, kompetisi yang sengit bukan tak mungkin akan melahirkan gerakan intelijen bisnis dari produsen lain, yakni meneliti apa saja yang potensial diperkarakan agar Esemka tak melaju jadi proyek mobnas beneran.

Saya yakin, jika banyak pemesan, Esemka dan Kiat akan kelabakan memenuhi. Pak Jokowi bisa terseret akibat kekecewaan yang diakibatkan pesanan tak sesuai ekspektasi, lantas menimpakan kesalahan kepada Walikota Solo yang menjadi endorser produk baru tersebut. Katakanlah Esemka dijual dengan harga Rp 100 juta per unit, jika ada 100 pemesan saja, pasti dijamin kelabakan baik dari sisi pengerjaan maupun pendanaan. Nombok itu hampir pasti….

Satu-satunya yang beruntung dari proyek Esemka ini, adalah meneguhkan ‘bukti’ bahwa anak SMK pun bisa alias mampu dan berguna bagi penentuan arah masa depan bangsa dan siswa-siswanya seperti dikehendaki oleh Kementerian Pendidikan Nasional yang beberapa waktu lalu gencar beriklan di media massa, agar orang tua tak sungkan menyekolahkan anaknya ke SMK.

Sebagai sebuah apresiasi dan untuk memotivasi, saya mendukung sikap Pak Jokowi. Tapi ancaman permainan di balik mobil Esemka ini, juga perlu diwaspadai. Mungkin, itu masuk kategori politik tingkat tinggi. Atau sebaliknya, saya kelewat berhalusinasi karena jebakan teori konspirasi. Semua, sama-sama menuntut bukti di kemudian hari.

Saya berharap, kalangan pelaku industri otomotif memberi masukan yang memadai dan obyektif terhadap SMK yang terlibat pembuatan, juga kepada Pak Jokowi yang sangat antusias mendukung produk ini.

Secara pribadi, saya kelewat sayang terhadap Pak Jokowi…..

21 thoughts on “Esemka Bisa Jerumuskan Jokowi

  1. Hello there I am so delighted I found your blog page, I really found you by mistake, while I was looking on Aol for something else,
    Nonetheless I am here now and would just like to say thanks a lot for a incredible
    post and a all round thrilling blog (I also love the theme/design), I don’t
    have time to look over it all at the minute but I have
    saved it and also added your RSS feeds, so when I have time I will be
    back to read much more, Please do keep up the fantastic work.

    web page (Faye)

  2. aji

    kalau ada pertanyaan dimana mesin2 itu di cor, jawabannya adalah di ceper klaten. ceper adalah sentra industri logam yang sudah diakui kualitasnya dan saya sbg warga klaten bangga dengan hal itu. tentang politik .. saya paling benci dg yang namanya politik,gak membangun bangsa tp cm membangun satu individu. dan menanggapi tulisan di atas saya yakin pak jokowi sudah tau dan mengantisipasi hal itu krn dia juga sblm jd walkot solo adalah seorang pengusaha. kalo mendengar perbincangan dengan pk jokowi saya yakin masalah di atas sudah dipikirkan oleh pak jokowi

  3. koreksi aja mas blontank….kapasitas mesin buat walikota itu, maksimal 2.000 cc-2.600 cc kl tidak salah….kayak Ketua DPRD gak boleh kapasitas mesinnya melebihi 2.700 cc…itu pertaturan 2007..jadi mau pakai 1.500 cc juga gak masalah

  4. betul,ada sisi dimana takutnya jadi antiklimaks. seperti halnya kontes2 inovasi yg digembo2kan terus,tp ya cuma jadi kontes lalu pemenang. hasil ide inovasi nya belum kedengeran yg berhasil jadi industri riil, udah bertahun2,hmm

  5. Walujati

    Ah, tulisan pesimis, jangan-jangan pesenan agen intelejen bisnis asing yang ngga mau Indonesia bisa mandiri bikin mobil sendiri. Sesungguhnya tulisan macam begini ramutu.

  6. DV

    Tulisan ini cerdik.. aku mengaku salah sudah bersuudzon bahwa “Ah, tulisane paling mau mengkritisi soal kelatahan..” eh ternyata tinjauan sampeyan ke sisi teknis. Dahsyat iki!
    makasih, bro…banyak yang salah paham, mengira saya antiproduk dalam negeri dan kemampuan bangsa sendiri. kita cuma sering lupa, hati-hati itu perlu, dan harus jadi kesadaran bersama.
    /blt/

  7. Give me a break

    Ada setuju dan gak setujunya pak. setuju kalo “keberhasilan” tersebut harus dijadikan apresiasi bagi tmn2 kita yg ada di SMK karena berhasil merakit (sptnya lebih tepat ini) kendaraan sendiri. Gak setujunya, ya jangan tlalu disinggungkan dengan masalah politik atau ketakutan akan konspirasi. Memang klo mw dinyambung2in, ya nyambung. Apalagi dengan kondisi masyarakat yg latah spt saat ini. I think much better at this time, let’s see the positive side, semangatnya yg kita lihat. selebihnya biar Allah yg nentuin.

    Kyknya masyarakat kta udah jauh lebih pintar dan rasional, klo menurut sy dengan adanya berita ini, sebagian besar masyarakat menilai ini hanya sbg sebuah prestasi biasa dan bukan yg wah, karena banyak aspek yg harus dipenuhi untuk membuat sebuah pabrik mobil. Honda atau Toyota tidak dibangun dalam cm karena berhasil merakit satu mobil, melainkan melalui hasil riset yg mendalam slma berpuluh2 tahun. Tp bukannya tidak mungkin, insya Allah bisa, pasti bisa..asalkan smuanya mendukung. Dukungan ini yg kurang, baik dari pemerintah maupun masyarakat sdri..

    wallahu a’lam

  8. Pakde, saya mendukung penuh soal mobik esemka ini. Gagal atau tidaknya saya rasa itu urusan belakang, yang penting bukti bahwa kita mampu dan ngga harus impor terus2an

  9. budisantoso

    sebagai anak bangsa saya ikut bangga dgn terwuwjutnya mobil” esemka” dgn segala kekurangnya minimal dah menunjukan prestasi.tinggal dukungan dari berbagai pihak utuk dapat menyempurnakanya.untuk Pak Jokowi semoga segala godaan dan hujantan lebih menambah keiklasan beliau dlm mengabdi untuk masyakat.

  10. Artikel menarik, saya sependapat. Tapi saya lebih dari sisi teknis pembuatan industri, yang perlu memperhatikan kualitas dan kuantitas, belum lagi pemeliharaan dan lain teknisnya. Ini semua seakan terlupakan dalam euphoria ini.

  11. ael

    sependapat, ga cuma sesedarhana mengganti plat merah saja, masih banyak aspek lain yang perlu dipertimbangkan.

    like this article, dhe 😀

  12. Kalau aku melihatnya bukan dari berapa harga mobil, dan bukan dari sisi politiknya. Persetan dengan politik. Aku lebih senang melihat bahwa berapapun prosentasenya karya anak bangsa, kalau tidak kita yang menghargai, lalu siapa lagi? mungkin dengan mulai kita membelinya, si pembuat (entah itu smk / warga biasa) akan tergerak untuk mengembangkannya. Semangat itu yang “mungkin” Jokowi ingin sampaikan.

    Pro kontra selalu ada, kalau ada orang yang menggunakan kehadiran mobil ESEMKA ini untuk tujuan menjatuhkan citra buatan Indonesia / tujuan politik, kusebut orang itu BAJINGAN.

    Ya tahu sendiri, bajingan tempatnya dimana.

  13. maksudnya tanpa mengurangi keselamatan penumpang… kok tak tulis keselamatan kerja… pemerintah harus dukung pakdhe… kecuali ya itu tadi kalo mau njatuhin den jokowi

  14. klanjabrik

    Apa kabar pakdhe ?

    Tadi pagi, nonton wawancara tvone dengan pak Jokowi, terlihat sekali beliau sangat antusias, cuman tidak terlalu banyak berjanji mengenai produksi massal esemka, kalau nggak salah beliau juga menjabarkan bagaimana prosedurnya yang begitu rumit termasuk standarisasi tetek bengek. Terkejut ketika dikatakannya kalau 80% bagian mobil esemka diproduksi di Indonesia, contohnya proses pembubutan dilakukan di Bantul dan Jakarta.

    Repot juga kalau ada variabel politis, itikad baik pun bisa menjadi “buruk” bagi empunya, apapun itu, prestasi satu lagi pantas disematkan kepada pak Jokowi dan anak2 SMK 2 Solo dan yang lainnya.

    bener. aku cuma kelewat paranoid melihat perilaku politisi kita. yang baik bisa disalahkan, yang buruk malah distempel sebagai kebenaran lewat permusyawaratan. betul-betul kacau negeri ini…
    /blt/

  15. berharap pemerintah lebih arif…..
    tes tes nya dimudahin pak… semacam dumping tapi untuk perijinan. tanpa mengurangi keselamatan kerja…..

    sangat setuju…
    /blt/

  16. Memang ini bisa jadi batu sandungan, tapi semoga Pak Jokowi tetap semangat mengayomi rakyat kecil 🙂

    setuju. pada poin itulah beliau berdiri, untuk menemani siswa-siswa kreatif…
    /blt/

Leave a Reply