Car Free Night

Kota Solo melakukan eksperimen berani, dan berhasil: car free night alias jalur bebas kendaraan bermotor. Berani, sebab diberlakukan pada saat ratusan ribu orang secara sengaja menumpahkan diri dalam satu tujuan: merayakan pergantian tahun. Alhasil, jalur utama kota, Jl. Slamet Riyadi menjadi lautan manusia. Jelas itu bukan peristiwa biasa.

Bukan peristiwa biasa, sebab kerumunan massa hingga ratusan ribu jumlahnya dalam satu event (meski terbentang pada jalur panjang), potensial melahirkan gejolak. Sosiolog dan ahli psikologi sosial pasti lebih paham untuk menjelaskan perilaku dalam sebuah crowd.

Walikota Solo Jokowi dan Wakilnya, Rudy, melantunkan sejumlah tembang di panggung hiburan selama Car Free Night menyambut pergantian tahun 2011/2012.

Seseorang menjadi beringas, atau bertindak di luar kelaziman pada situasi ramai. Colak-colek pantat lawan jenis yang sedang melintas menjadi peristiwa ‘biasa’ pada situasi demikian. Pelecehan seperti bisa ditolerir meski itu perbuatan kriminal. Tawuran, atau kekerasan massal bisa dipicu lantaran peristiwa-peristiwa semacam itu. Apalagi, sebagian remaja, pemuda atau orang dewasa, suka membekali diri dengan wédang kendel alias minuman beralkohol sebagai booster keberanian. Kontrol emosi seseorang bisa terganggu karenanya.

Satu strategi jitu dilakukan. Di sejumlah titik, pemerintah setempat membuat panggung-panggung hiburan, yang diumumkan kepada publik sejak beberapa pekan sebelumnya. Konsentrasi massa bisa di-manage, potensi munculnya ketegangan bisa diminimalisir. Di beberapa titik bahkan dimanfaatkan sejumlah pihak. Ada komunitas yang menggelar atraksi atau pementasan seperti dilakukan teman-teman Yayasan Pembinaan Anak-anak Cacat (YPAC), ada pula sejumlah perusahaan minuman membuat panggung sambil berjualan.

Walikota Jokowi dan wakilnya, pun turut berdendang, sama-sama berkostum lurik Jawa dan melantunkan beberapa tembang berirama kroncong. Tak ada jarak antara pemimpin dan rakyatnya. Suasana cair secair-cairnya, meski untuk berjalan pun harus berdesak-desakan sejak pukul 21.00 di akhir 2011 hingga sekitar pukul 00.30 di tahun 2012.

Seorang bocah turut meramaikan malam pergantian tahun bersama kedua orangtuanya di Jl. Slamet Riyadi. Ia berpose di sepeda tua milik warga yang turut meramaikan acara....

Tak seperti car free day yang banyak pengguna sepeda, malam itu menyusut jumlah pesepedanya. Kebanyakan memilih jalan kaki, termasuk saya bersama istri, yang sengaja jalan kaki menyusuri jalur-jalur lambat di Solo sepanjang lebih dari sepuluh kilometer. Kami bisa ngobrol panjang lebar, sambil menikmati keramaian.

Memang, di luar jalan protokol, suara knalpot meraung-raung hingga bikin pekak telinga terdengar di mana-mana. Kebanyakan dilakukan oleh para remaja, yang melihat malam itu sebagai malam pesta, sehingga bisa berbuat semaunya. Kemacetan memang terjadi di mana-mana, namun tak terdengar kabar adanya keributan pada malam pergantian tahun.

Kabarnya, car free night di Solo merupakan peristiwa pertama di Indonesia. Tapi, itu bukan soal yang hendak saya banggakan. Saya lebih melihatnya sebagai potret kian stabilnya psikologi (politik) massa, yang tak lain dan tak bukan adalah warga Surakarta atau Solo. Semua tahu, citra Wong Solo yang dikenal lemah lembut, ramah dan sopan pernah beringas seperti ditunjukkan pada kerusuhan rasial pada awal 1980-an dan Tragedi Mei 1998, juga perusakan kantor polisi lantaran pembubaran adu balap kendaraan bermotor dan kekalahan politik partai yang dipimpin Megawati pada pemilihan presiden 1999, di mana Balaikota hangus dilalap jago merah ‘produk’ amarah.

Solo dan warganya memiliki karakter unik. Dalam peta politik Indonesia, kota ini dijuluki sebagai ‘bersumbu pendek’. Seperti dinamit, mudah meledak dan memiliki daya rusak nggegirisi atau menyeramkan.

Tapi ada karakter unik yang sejatinya mudah dipahami, namun jarang dimengerti. Malah, sebagian kekuatan politik memeliharanya sebagai potensi rekayasa demi memenangkan sebuah pertarungan kepentingan. Orang Jawa itu seperti praktek merangkai huruf/aksara aslinya, yang lantas dikenal dengan filosofinya: jika dipangku akan mati.

Anak-anak YPAC turut memeriahkan malam perayaan pergantian tahun dengan menampilkan hiburan untuk publik. Seru dan menghibur....

Ya, orang Jawa itu, jika dibaiki, didudukkan pada porsinya, sejatinya tak akan mampu berbuat apa-apa (dalam pengertian tindakan negatif). Prinsipnya nguwongke alias mendudukkan pada harkat kemanusiaannya. Seseorang harus diposisikan pada fungsi dan peran yang seharusnya dalam sebuah relasi, baik sosial, budaya, ekonomi, maupun politiknya. Intinya, ada fairness di sana.

Maka, ketika sejumlah gelaran dan atraksi kesenian diciptakan untuk memuliakan warga, maka publik pun akan meresponnya secara sepadan. Semua pun akan suka rela dalam menjaga ketertiban demi memperjuangkan harmoni. Keselarasan. Hal inilah yang harus dibaca sebagai strategi politik kebudayaan yang sedang dilancarkan oleh seorang Jokowi dan aparaturnya.

Pada situasi politik yang coreng-moreng, rakyat cenderung menyimpan marah dan mudah beringas lantaran setiap hari disodori berita sandiwara penanganan korupsi, maka mereka memerlukan sebuah ruang katarsis, medium pelampiasan kepenatan. Ia tak menyembuhkan, namun sanggup mengurangi ‘daya ledak’ yang bisa datang mendadak tanpa seorang pun mampu ditebak.

Oleh karena itu, apa yang sejatinya ‘biasa’ mudah memperoleh cap sebagai anomali, sebuah ketidaklaziman, seperti pada keputusan adanya car free night dengan segenap isiannya. Pak Jokowi, saya yakin tak sedang melakukan upaya pencitraan. Ia bersama aparat sedang melakukan hal yang seharusnya dilakukan, bukan berbicara jargon dan menyodorkan tawaran.

Tentang filosofi Jawa, bahwa semua yang dipangku akan mati atau yang diposisikan pada yang seharusnya tak akan berkutik/membangkang, rasanya bisa diterapkan di mana saja. Rakyat Indonesia memiliki sifat sama, dari Sabang hingga perbatasan Papua Nugini: pemaaf dan mudah mengerti dan memahami banyak hal. Syaratnya hanya satu: teladan.

Jadi, seperti saya kemukakan di atas, apa yang dilakukan Pak Jokowi dan punggawa pemerintahannya, sejatinya hal biasa saja, sebab memang seharusnya seperti itulah yang dilakukan seorang abdi negara, abdi rakyat. Mereka harus mengabdi. Melayani.  Bukan sebaliknya.

Jika di daerah-daerah lain masih ada pembangkangan lewat aneka macam kekerasan, sejatinya itu semua lantaran masih adanya kesenjangan pemahaman akan makna kata abdi. Pada segelintir orang merasa punya kuasa dan menuntut dilayani, sementara rakyat yang mayoritas, yang seharusnya diayomi, dilayani, justru dipaksa mengabdi.

Begitulah. Di negeri kacau seperti Indonesia, pada sebagian besar rakyat yang masih kuasa menahan kecewa dan amarah lantaran tatanan jungkir balik tak kunjung membaik, menyaksikan kebaikan sekecil apapun seperti sebuah keanehan.

Inilah potret Indonesia kontemporer.

4 thoughts on “Car Free Night

  1. saya baru dengar ada juga car free night, semoga niatnya bagus dan terus berlanjut dengan menampilkan atraksi2 budaya lokal untuk hiburan rakyat yang mulai tergerus teknologi.

  2. hemmm…
    draft tulisanku sing rung tak publis kok ya eh padha ya pakdhe…
    Intinya, sekarang orang ngliat pemimpin yang sudah meang seharusnya turun ke rakyatnya masih dianggap “istimewa”
    Bukankah hal itu sudah merupakan kewajiban adanya..?

    kita senada, ternyata….
    /blt/

Leave a Reply