2012 Tahun Komunitas

Menurut ramalan saya, 2012 akan (dan harus) menjadi tahun kejayaan komunitas blogger. Terutama komunitas yang memiliki concern spesifik, baik minat maupun lokalitas. Yang di pusat tak akan mampu lagi mempertahankan hegemoni, meski keberadaannya tetap diperlukan untuk ‘menyemangati’ yang lokal.

Gejalanya mulai terasa. Banyak peristiwa yang diselenggarakan (bersama) komunitas-komunitas di daerah meraup sukses, meski dalam skala lokal. Di Ambon, Pekanbaru, Makassar, Denpasar, Medan, Yogyakarta, Magelang, Ponorogo, juga Solo serta di banyak daerah.

Satu peristiwa kumpul blogger paling spektakuler, menurut saya, ya Kopdar Blogger Nusantara di Sidoarjo, 28-30 Oktober silam. Lebih dari seribu orang bertemu di dua tempat: venue dan ‘kamp pengungsian’ yang lokasinya berdekatan. Siang sharing aneka informasi seputar blogging, dan malamnya reriungan sambil ‘mimbar bebas’ berbagi cerita antarindividu/komunitas di tengah tempat menginap, yakni sebuah gelanggang olahraga.

Saya sebut sebagai spektakuler, sebab semangat bertemu teman dan kenalan menjadi motivasi mereka yang jauh-jauh datang dari berbagai penjuru nusantara. Tak ada figur terkenal atau artis, atau iming-iming material/nonmaterial di sana, yang bagi sebagian orang masih dianggap sebagai faktor penting, sehingga dijadikan magnet penarik massa.

Perlunya Jejaring
Saya senang dengan situasi demikian, meski ada sejumlah catatan. Satu hal yang menggembirakan, kuatnya keinginan beberapa penggiat komunitas blogger akan adanya event-event sejenis, dengan aneka rupa materi untuk berbagi, sharing antara onliners dan offliners. Semua ingin memaknai lokalitas dengan beragam kegiatan dengan berhitung aspek kemanfaatan untuk sebanyak mungkin orang dan lingkungannya.

Salah satu catatan pentingnya, menurut saya, adalah minimnya rasa percaya diri sejumlah teman akan kekuatan lokal masing-masing. Mereka merasa, menyelenggarakan sebuah event di daerah itu sulit, terutama terkendala dengan keterbatasan sumberdaya, baik manusia maupun finansial.

Untuk keterbatasan sumberdaya manusia, saya kira bisa ditempuh dengan cara melakukan pengorganisasian dengan sedikit orang yang berminat saja. Yang penting, memiliki semangat kebersamaan. Yang sedikit menjadi motor, sambil pelan-pelan mengajak yang lain, minimal untuk terlibat meramaikan kegiatan, meski sebagai penggembira. Tak apa. Itu pun bukan cacat sehingga tak perlu malu, meski hanya diikuti sedikit orang.

Untuk perkara finansial, memang susah-susah gampang. Dengan berjejaring atau membangun hubungan dengan sebanyak mungkin teman atau lembaga, yang jelas-jelas bukan dosa, memungkinkan untuk menggaet saweran. Terbukti, ada beberapa lembaga yang mau memberi dukungan sumberdaya (tenaga, pengalaman dan pengetahuan), bahkan berupa support finansial. Setidaknya, saya mencatat ada tiga lembaga dengan reputasi hebat, dan memiliki kepentingan turut mendorong komunitas-komunitas blogger di daerah agar tersedia banyak konten positif di ranah Internet.

Dengan berjejaring dengan tiga lembaga itu, komunitas lokal bisa memperkuat eksistensinya dalam skala lokal dan membangun kepercayaan pemangku kepentingan serta mengukuhkan keberadaan alias eksistensi. Jadi, sifat berjejaringnya bisa diasumsikan permanen atau jangka panjang, meski harus diperhitungkan pula bahwa tak selamanya berharap support (terutama finansial) dari mereka. Harus ada kesadaran bagi penggiat komunitas, bahwa mereka harus punya target waktu tertentu untuk bisa mandiri.

Komunitas Blogger Bengawan, misalnya, dalam perjalanan awalnya sangat dibantu oleh InternetSehat, baik dengan cara mengirim sejumlah narasumber untuk diskusi hingga bantuan finansial, meski hanya untuk meringankan belanja konsumsi. Itu pun sudah sangat berarti. Begitu pula dengan dagdigdug (kini populer dengan sebutan komunitas Langsat) untuk beberapa event, lantas Juale.com untuk pelatihan bisnis online untuk UMKM, APJII, Pandi, Yayasan Air Putih untuk pelatihan komputer dasar bagi siswa/siswa tuna netra, dan beberapa yang lain lagi.

Dari berjejaring itu, berikut nama-nama besar di balik lembaganya, Bengawan bisa tampil lebih percaya diri sehingga bisa melakukan kerja sama, baik dengan Pemerintah Kota Surakarta, maupun sponsor swasta. Beberapa brand ternama di Indonesia, di antaranya XL Axiata dan Garuda Indonesia. Tentu, salah satu modal terbesar selain semangat teman-teman di Bengawan, adalah jejaring komunitas blogger dan jejaring lokal lainnya. Tanpa kehadiran teman-teman blogger dari berbagai kota pada event-event Bengawan, pastilah kami tak akan dilihat siapapun, apalagi diperhitungkan.

Dari suksesnya event-event, karena dukungan dari banyak pihak, baik pemerintan, lembaga (industri) swasta, lembaga swadaya masyarakat dan terutama komunitas blogger lain, lahirlah apa yang disebut portofolio. Kian banyak kesuksesan dicatatkan, kian kukuh kredibilitas dan eksistensi sebuah komunitas.

Berhitung dengan Sponsor
Bagi sebagian teman, mencari sponsor itu susah. Saya akan mengatakan YA jika yang dimaksud adalah sponsor yang memberi dana berlimpah alias sanggup menutup semua beban pembiayaan yang direncanakan atas sebuah event atau program. Kadang kita terlalu berharap banyak tanpa melihat portofolio yang dimiliki. Calon sponsor pasti berhitung efektivitas pengeluarannya terkait dengan kepentingannya. Di sinilah, kita harus pandai-pandai berhitung.

Berhitung yang saya maksud, kita harus paham program apa yang diminati target sponsor. Adakah kesesuaian atau titik singgung program (mungkin pula berupa sebuah kampanye besar) yang sedang dijalankan target sponsor dengan event yang kita rancang. Sebuah event, ujung-ujungnya akan berbicara tujuan (goal), dan itu sangat ditentukan oleh pihak mana saja dan berapa jumlahnya yang akan terlibat.

Dalam dunia blogging, perusahaan telekomunikasi (terutama operator) termasuk salah satu pihak yang ‘bisa diharapkan’ sebagai calon pendana. Hanya saja, kita mesti bisa berhitung, apa yang bisa mereka dapat dari sebuah kerjasama sponsorship, dan apa saja yang bisa diharap dari mereka. Ini harus sepadan alias sama-sama untung. Mengobral event juga tak baik, sebaliknya kelewat jual mahal juga bakal berujung kegagalan.

Untuk itu, kita harus ngerti apa yang dimaui. Jika kita bisa menyodorkan keuntungan apa saja yang bisa didapatkan dari sebuah kerja sama, saya kira menarik sponsor bukan perkara sulit. Sayangnya, banyak teman-teman yang kurang paham dengan satu hal yang saya sebut sebagai ‘matematika event’.

Nah, terkait kemitraan dengan perusahaan telekomunikasi, saya kok yakin tahun ini daerah bakal jadi sasaran mereka. Bertarung di Jakarta (terutama antaroperator) hanya menguras energi dan biaya, sehingga mereka akan mengalihkan ke daerah yang sangat potensial digarap pasarnya.

Pertumbuhan industri telekomunikasi, terutama perangkat kerasnya telah memungkinkan semua segmen masyarakat mampu menjangkau kepemilikan. Kebutuhan berinteraksi (sosial atau ekonomis) secara nirkabel juga membutuhkan koneksi, sehingga membuka peluang bagi operator telekomunikasi melakukan ekspansi jaringan untuk menambah semakin banyak pelanggan.

Dan satu hal yang menarik, ‘kesadaran’ untuk mendidik pengguna perangkat komunikasi agar kian melek teknologi, akan membuga peluang ‘kemitraan’ dengan komunitas onoliners di berbagai pelosok nusantara. Secara teoritis, mereka punya alokasi dana untuk melakukan ‘operasi pasar’. Di sinilah sebenarnya peluang ‘kerjasama’ sangat terbuka bagi komunitas.

Soal bagaimana caranya, ya seperti yang saya kemukakan di atas, kita perlu memiliki kecakapan berhitung, sebab dari sana akan lahir kreativitas gagasan untuk menciptakan peristiwa yang atraktif bagi sponsor.

Jika ada yang mengritik kita menjadi tidak independen atau mudah didikte sponsor, tak perlu diambil hati. Yang penting, ada niat yang benar sejak awal, dan memiliki keteguhan pendirian, bahwa kita otonom terhadap siapapun. Masih sangat mungkin kok, kita melakukan kerja sama dengan pihak manapun tanpa harus didikte oleh kepentingan mereka.

Yang pasti, isu lokalitas, termasuk perbanyakan konten-konten lokal bakal mengemuka pada 2012. Nah, komunitas-komunitas mesti kian jeli melihat potensi diri dan lingkungan sekitarnya, untuk ‘dijual’ secara benar sehingga memiliki manfaat sebanyak mungkin orang dan pihak di sekitar kita. Buktikan saja kalau tak percaya…..

4 thoughts on “2012 Tahun Komunitas

  1. Berbenah Diri

    Tulisannya, bagus pak sunggguh menarik, bisa dijadikan acuan kedepan.
    klo di dunia Pekerja 2012 | KERJA KERJA KERJA
    klo untuk para blogger 2012 | KEJAR KEJAR KEJAR
    Sponsor dan dikejar Sponsor Jemput bola 😀

    sukses pak.

  2. DV

    Maaf kali ini saya beda pendapat denganmu, Lik.
    Komunitas blogger itu adalah sebuah impian.. ada beberapa yang berjalan sukses seperti Bengawan misalnya, tapi selebihnya mereka mengalami disorientasi tujuan, apakah terus berkomunitas mendukung kegiatan blog atau terus berkomunitas dengan tujuan kegiatan yang sudah lain dari blog.
    Kalau sudah demikian, apa masih relevan untuk disebut sebagai komunitas blog atau tidak… entahlah 🙂

    Aku sedang mengumpulkan energi dan berharap mas wangsit menghampiri untukku menelurkan tulisan untuk menyanggah tulisan ini 🙂

  3. artikel yang menarik pak…. bagi saya sendiri, kopdar bloggernusantara kemarin blogger terbesar dan ternyaman yg pernah saya ikuti 🙂

    tntang matematika event, suwun pak.. saya jadi belajar banyak…

    sedang merancang kumpul-kumpul wakil komunitas. sharing informasi dan pengetahuan tentang begituan. mau ke Solo, kan?
    /blt/

Leave a Reply