Negeri 1001 Kebetulan

Karena kebetulan, pagi ini saya menyaksikan berita di Metro TV, yang menayangkan seorang pasien dengan salah satu kaki diperban, di sebuah rumah sakit. Konon, kaki itu terancam diamputasi karena lukanya kelewat parah. Kebetulan ia seorang petani di Tuban, Jawa Timur, yang ketahuan mencuri sebatang pohon jati, lalu ditembak dari jarak dekat. Kebetulan, yang nembak seorang anggota Kepolisian Sektor (Polsek), bukan polisi kehutanan (Polhut).

Adalah sebuah kebetulan pula, jika otoritas kepolisian setempat menyatakan penembakan itu sudah sesuai prosedur.

Dan, jika akhir-akhir ini polisi menjadi sorotan publik, saya kok yakin itu karena kebetulan semata. Artinya, tak ada satu pihak pun yang secara sengaja dan terang-terangan menunjukkan itikad buruk memojokkan individu maupun institusi kepolisian. Polisi yang bentrok dengan warga sipil di Bima, Nusa Tenggara Barat sehingga mengakibatkan banyak orang tewas, toh itu juga diklaim sebagai sebuah insiden kebetulan.

Polisi bersenjata laras panjang saat berjaga-jaga di Gereja Kepunton usai adanya insiden aksi bom bunuh diri.

Banyaknya orang mati di Mesuji, baik yang masuk wilayah adminsitratif Lampung maupun Sumatera Selatan, toh semua juga oleh sebab sebuah kebetulan. Ya, kebetulan polisinya dekat dengan pengusaha, dan kebetulan pula, masyarakat di sana sadar akan hak atas tanahnya yang dirampas oleh pihak yang tak berhak, sehingga harus mereka perjuangkan untuk merebutnya kembali.

Adalah sebuah kebetulan yang lain lagi, ketika institusi kepolisian memperoleh sumbangan finansial dari PT Freeport di Papua, sehingga sempat memanaskan suhu sosial-politik di bumi Cenderawasih. Kebetulan pula ada yang membongkar, sehingga tersiar lewat berbagai saluran, resmi maupun tak resmi.

Menghadapi terlalu banyaknya kebetulan di negeri ini, saya kok jadi curiga kalau Tuhan sedang guyon, mengingatkan seluruh bangsa ini untuk bisa mengambil hikmah dari aneka macam kebetulan yang mengakibatkan adanya pihak-pihak yang dirugikan. Tentu, bagi Tuhan, tak ada sebuah kebetulan pun dalam semua skenario yang telah dan akan dibuatNYA. Termasuk, jika yang jadi korban, kebetulan justru orang-orang lemah, tak berdaya ketika berhadapan dengan pengusaha, penguasa dan semua instrumen usaha dan kuasa.

Jangan-jangan, kita bisa mendengar banyak berita dan cerita keburukan polisi, politisi, aparatur negara dan sebagainya lantaran kebetulan pula.

Secara nalar sehat, polisi tak akan membunuh rakyat yang menggaji mereka dengan pajak yang disisihkan melalui cucuran keringat. Apalagi, di semua kantor polisi, selalu terpampang tulisan mencolok, bahwa mereka akan selalu melindungi dan mengayomi. Jika janji menjadi pelayan hukum bagi masyarakat lantas meleset dalam praktek, rasanya itu pun merupakan kebetulan semata.

Seperti disclaimer yang biasa menyertai sebuah film dan sinetron: kemiripan nama, tempat dan kejadian, hanyalah kebetulan semata, tak ada unsur kesengajaan di dalamnya.

Dan, atas dasar itu pula, saya jadi yakin jika perayaan Natal yang aman pada tahun ini, juga karena kebetulan para petinggi polisi di berbagai daerah di Indonesia, dengan lantang dan kompak menyatakan bahwa ‘perayaan Natal kali ini dijamin aman’, seperti saya baca di banyak berita media massa, yang kebetulan pula saya simak lewat Internet.

Bisa jadi lantaran Presiden kebetulan sedang sibuk bekerja dengan sungguh-sungguh, sehingga akhir-akhir ini tak banyak bicara, memberi instruksi, arahan atau petunjuk dan melakukan tindakan-tindakan pencitraan seperti biasanya. Kita tahu, Pak Presiden SBY selalu tertib dan rapi membuat perencanaan kapan harus menggelar konperensi pers untuk menyikapi sebuah perkara yang dianggapnya membikin risau dan galau hatinya.

Sorotan buruk dan kecaman yang mengarah ke institusi kepolisian akhir-akhir ini, sepertinya sengaja dia biarkan agar seluruh jajaran kepolisian, dari level paling bawah hingga jenderal-jenderalnya segera berbenah, memperbaiki diri dan kinerjanya. Tentu, secara akal sehat, Presiden SBY tak rela jika ribuan polisi di Nangroe Aceh Darussalam yang kebetulan terindikasi mengonsumsi narkoba seperti diakui Kapolda, mencoreng nama baik dan menyurutkan pamor penegak hukum Indonesia.

Saya yakin, jika Presiden SBY bersikap seperti itu, sehingga hukum di negeri ini menjadi tegak setegak-tegaknya, di mana rakyat menjadi terlindungi dan terjamin hak hukumnya, koruptor diadili dan dijebloskan ke penjara, dan sebagainya dan seterunya, maka Indonesia akan jaya dan makmur sentosa. Dengan demikian, semboyan tata titi tentrem kartaraharja yang menjadi pedoman polisi akan terwujud dengan sendirinya.

Untuk situasi Indonesia yang demikian, saya akan dengan riang dan ikhlas menerimanya, walau itu hanya kebetulan semata. Asal berlangsung lama, syukur abadi alias menjadi kebetulan-kebetulan yang diperpanjang (seperti masa tahanan), saya dan rakyat Indonesia akan gembira menyambutnya.

Namun andai tidak terwujud, ya tidak apa-apa… Apa hendak dikata, wong ndilalah ya hanya kebetulan, jika Presidennya tak pernah menunjukkan ketegasan. Padahal, saya ingin banget, walau cuma sekali saja, melihat Pak SBY itu bersikap dan bertindak tegas…..

Maaf lho, Pak SBY, satu-satunya yang saya anggap bukan kebetulan hanya satu: ketika Gus Dur saat menjabat presiden membuat keputusan memisahkan polisi dari TNI, yang dulunya saat polisi masih bergabung dinamai Angkatan Bersenjata.

Semoga, hanya karena kebetulan sesaat saja, jika kini polisi tampak lebih bangga menenteng senjata dan memuntahkan pelurunya ke mana saja.

9 thoughts on “Negeri 1001 Kebetulan

  1. a!

    tadinya gak pengen baca, kebetulan judulnya lucu. jadi ya lanjut sampe selesai. kebetulan lagi mood ya kasih komentar. tak bermutu tak apa. yg penting komen.

    kebetulan lagi males mikir, jd ya komennya tak usah serius soal materi tulisan. :p

  2. Apakah merdekanya negeri ini juga karena kebetulan, begitukah?
    Kebetulan waktu itu Belanda menyerah karena tibanya bangsa Jepang (jadi mungkin saat itu bangsa Belanda kebetulan sedang kalah pamor dengan Jepang). 😀

  3. Melindungi dan mengayomi sang pemodal? duh ngeri..

    katanya polisi di lapangan itu hanya dibekali peluru karet, kalau sampai menewaskan? karetnya terlalu keras kali ya.

    yang sembarangan buang peluru tidak hanya polisi, karena mantan polisi pun masih suka pamer buang peluru sembarangan, seperti sengketa mantan polisi dgn satpam suatu perumahan elite di jakarta.

    ah semoga ini juga hanya komen kebetulan semata.

Leave a Reply