2012: Kebangkitan Lokalitas

Setelah beberapa hari ingin menuliskan catatan namun tak kunjung kesampaian, hari ini saya mendapat pemicunya, yakni prediksi Donny Verdian mengenai media sosial Indonesia pada 2012. Menurut saya, walau blogging terasa kian mengering, namun secara kwantitatif, konten tetap akan tumbuh. Namun, semua akan bermuara ke ‘daerah’.

Saya meyakini itu sejak dulu. Mau pakai alat analisis psikososial, geopolitik, sosiokultural atau antropologi politik, semua akan bermuara ke ‘daerah’ atau yang berbau lokalitas. Sekarang, kita akan memasuki wilayah geotagging. Lat-long akan kian nampak jelas dengan bercirikan keunikan lokalitasnya. Kultur dan pariwisata menjadi pesona utama, selain keragaman produk kreatif lokal.

Berangkat dari pemahaman itulah, saya mengajak teman-teman di Solo dan sesama blogger dari daerah lain, untuk tidak mudah latah mengikuti tren yang diciptakan oleh ‘centrum’ yang menggunakan label lokalitas sebagai bumbu untuk memberi bobot kebersamaan atas nama ke-Indonesia-an.

Andai ada ‘komunitas’ atau gerakan IndonesiaBerteriak misalnya, saya tak menginginkan ada ‘produk turunan’-nya seperti SoloBerteriak, MalangBerteriak, dan sebagainya. Kenapa? Sebab teriakan tak bisa diseragamkan, atau dimassalkan. Cara dan bentuk teriakan tak bisa diduplikasi, atau diimitasi. Alasan berteriaknya pun pasti berbeda-beda. Jadi?!?

Fakta menunjukkan, masih banyak praktisi (baca: pengguna) media sosial di daerah yang terkesima dengan hal-hal berbau centrum, pusat, atau metropolitan. Memang itu gejala lumrah, seperti halnya cara berpakaian, gaya berbicara dan sebagainya, yang berkiblat pada budaya massa yang sengaja direproduksi kebanyakan penggiat media sosial. Banyak yang tak tahu, mereka sejatinya adalah ‘korban’ rekayasa budaya yang diciptakan industri televisi. Silakan menyimak nasihat-nasihat Neil Postman.

Ijinkan saya menyebut Pesta Blogger sebagai event blogger yang kian gagal dari tahun ke tahun, hingga perlu mengganti nama menjadi ON|OFF, sebagai contoh. Ramainya blogger datangi pesta pada awalnya, lantaran dorongan tradisi orang Indonesia yang lebih suka ketemuan secara fisik. Kopi darat atau kopdar yang merupakan tradisi pertemuan fisik pengguna SSB, CB atau handy talky, diteruskan lantaran sifat komunikasinya yang sama: tanpa tatap muka. Ini kepanjangan bentuk ngerumpi atau kongkow di lapau, pos ronda atau perempatan kampung.

Para onliners merasa perlu mempererat persahabatan, yang semula terbangun lewat peran medium (teknologi) sehingga mendorong untuk jumpa darat. Ada yang mirip jumpa fans, sebab satu-dua pasti dipaksa situasi untuk menjadi selebriti lantaran popuparitasnya. Ibarat grup musik, seorang vokalis akan menjadi pusat perhatian dibanding gitaris atau pemegang alat musik lainnya, betapapun hebatnya dia.

Sayangnya, niat baik sejumlah inisator Perta Blogger beserta konsultan komunikasinya adalah makhluk gado-gado. Ada yang memiliki referensi dan berpreferensi barat/metropolis, ada pula yang meski berasal dari ‘daerah’, namun sudah tercerabut budayanya. Petunjuknya sederhana, orang-orang demikian lebih terkesima dengan eksotisme akan hal-hal yang baru dilihat/diketahuinya, meski pada masa lalu pernah mengakrabi atau bahkan kental dengan kulturnya.

Mereka juga terpenjara oleh asumsi, bahwa di luar mereka (termasuk hal-hal yang ada di pelosok negeri) sebagai subordinatnya. Itu kesalahan fatal lainnya, sehingga dengan latar belakang yang bla-bla-bla lantas dibuatkan treatment yang template sifatnya. Keunikan yang ada di luar mereka dinafikan. Bisa karena kesengajaan lantaran merasa lebih tahu solusinya, bisa pula sebaliknya, lantaran tak tahu-menahu apa fakta dan dinamika seperti apa yang ada di luar mereka.

Asumsi bahwa blogging sudah surut, saya duga, menjadi pemicu reposisi dari Pesta Blogger (yang menekankan blogger sebagai subyek) menjadi ON|OFF, di mana onliners, terutama aktivis media sosial (terutama Twitter) menjadi pelaku kunci. Cepatnya pertumbuhan pengguna Twitter (seperti halnya Facebooker) dibanding blogger, menyilaukan para pemrakarsa pesta tahunan itu, sehingga perlu banting setir.

Sayang, arah banting setirnya tanpa perhitungan matang, sehingga seolah-olah ajang yang diniatkan pesta paling prestisius praktisi online di Indonesia itu mengarah ke jurang. Jika ketika masih bernama Pesta Blogger dulu banyak orang bisa ‘on’ berjamaah, tapi dengan nama baru, semua seolah-olah ngedrop jika menggunakan istilah clubber. Off!

Sejujurnya, saya masih memandang perlu adanya event semacam Pesta Blogger dahulu. Ketidakmauan saya hadir di sana, lantaran tak cocok saja dengan konten dan desain acaranya. Onliners lebih diposisikan sebagai pasar sekaligus buzzer sebagai jembatan produsen dengan publik sebagai konsumen. Offliners di Jakarta sebagai locus de licti tak merasakan manfaatnya.

Bandingkan jika event serupa digelar di daerah. Publik dan daerahnya akan mendapat manfaat lantaran bakal ada posting dan kicauan dari orang-orang yang datang ke sana. Tentang kekayaan budaya, suasana kota, kuliner, dan sebagainya. Ini salah satu contohnya. Di Jakarta? Pendatang bisa takut tersesat jika jalan-jalan sendirian tanpa tahu peta. Belum faktor macet dan biaya yang membuat seseorang tak mudah menjangkau atau menemukan yang diinginkannya.

Bandingkan dengan Kopdar Blogger Nusantara di Sidoarjo 28-30 Oktober lalu. Sedikitnya 1.200 orang berkumpul selama tiga hari untuk mengikuti sesi-sesi yang serius. Bahkan, pada hari terakhir masih ada 200 tambahan peserta. Kebersamaannya sangat terasa walau pada tidur beralas terpal plastik di sebuah gelanggang olahraga. Mandi dan kakus pun terbatas, harus antre seperti di pengungsian. Betahnya mereka bertahan, lantaran ada harapan keleluasaan bercengkerama, ngrumpi ngobrol ini-itu yang memang naluriah.

Awal Januari nanti, saya yakin acara ulang tahun Blogger Malang akan ramai meriah karena banyak pendatang dari luar daerah ingin menuntaskan naluriahnya mereka dengan kumpul, ngrumpi secara berjamaah. Di kota yang tak terlalu hiruk-pikuk dan memiliki banyak pesona, saya yakin akan banyak foto, tulisan dan kicauan tentang kekayaan dan keunikan lokalitas bakal bertebaran dari sana. Melihat, merasakan (pengalaman) dan hasrat berbagi itu sudah naluri. Bahwa kelatahan akan menjadi bumbu, itu sudah pasti, meskipun saya tak yakin teman-teman blogger yang akan datang ke sana, kelak, akan berbagi cerita berbekal kelatahan semata.

Saya kira, aura dan dampak kumpul blogger di Malang, Wonosobo, Solo, Ponorogo, Bangkalan Madura, akan sangat berbeda dengan dua event serupa di Bekasi. Lingkungan dan kultur yang berbeda mendorong kreativitas yang berbeda pula, sehingga akan menciptakan sesuatu dan dampak yang tidak bakal persis sama. Dan itu lumrah-lumrah saja.

 Mari kita simak saja. Prediksi saya, 2012 akan menjadi tahun kebangkitan lokalitas. Keunikan akan menjadi daya tarik utamanya. Jika dikaitkan dengan teori pasar, mengingat para onliners akan selalu bersentuhan dengan produk gadget dan perangkat telekomunikasi lainnya, maka bukan tak mungkin para produsen (dan pemasar) bakal ramai-ramai menyerbu daerah.

Pada situasi yang niscaya itulah, orang-orang daerah harus berbenah. Kalau mau agak politis, harus mau dan siap membuat bargaining, tawar-menawar dengan pemasar. Lengah atau tak mau belajar pada sejarah, maka daerah akan kembali dijajah.

12 thoughts on “2012: Kebangkitan Lokalitas

  1. Kita tidak perlu pesimis blog akan makin ditinggalkan. Kalau ada satu atau dua blogger yang dikatakan seleb yang setelah kenal medsos kemudian lupa sama blognya, itu tidak otomatis mencerminkan bahwa blogosfer sudah mulai ditinggalkan. Saya sendiri melihat banyak sekali blog dan blogger baru yang pada kurun waktu 2004 – 2008 belum pernah saya jumpai. Artinya, blog terus tumbuh. Memang ada yang mati. Akan tetapi, laju pertumbuhan dengan kematiannya saya kira masih cepat pertumbuhannya.

  2. Jadi…
    Anda mau milih jadi event organizer didaerah mana Pakdhe..?
    masing-masing setor marpol kami aja deh, boleh dimuka atau dicicil…
    boleh berujud apel Malang ataupun apel washington
    Nanti saya laporkan pada ketua besar
    :))

  3. DV

    Aku senang dengan konsep lokalitas… tapi seharusnya kita juga harus menganggap Jakarta sebagai ‘sebuah lokal’ dan bukannya pusat… dengan begitu desentralisasi akan terjadi tanpa harus memusuhi pusatnya karena pusat adalah ‘daerah lain’ seperti daerah-daerah lainnya..

    Eh tapi, “ada pula yang meski berasal dari ‘daerah’, namun sudah tercerabut budayanya” ini mengena sekali..:) Figur ‘Nderek Langkung’ yang duitnya rol-rolan tho? :)))

  4. Wah ini nih project berikutnya yang perlu diramaikan… dengan begitu bukan secara personal saja terjadi ikatan, namun secara komunitas per daerah timbul ikatan yang solid. Ke depannya mungkin akan menjadi trend kekuatan lokalitas dan menguatkan kultur budaya dan wisata per daerah… manteb dah..

  5. Kalau benar acara di daerah akan semakin marak, saya tak jadi tamu aja deh, pengen kopdar dengan teman2 blogger selain blogger pusat. 😉 Tapi saya kok agak milih yang nggak terlalu gede ya, biar bisa lebih deket gitu.

    seramai-ramainya di daerah masih memungkinkan haha-hihi, Is… cobalah datang ke Malang, 7-8 Januari nanti. Insya Allah terasa banget keakrabannya…
    /blt/

Leave a Reply