Belajar dari Tenis Kursi Roda

Selama pelaksanaan 6th ASEAN Paragames 2011, saya hanya berkonsentrasi di tenis kursi roda. Hanya sesekali menengok pertandingan voli duduk atau angkat berat lantaran berdekatan dengan tempat pertandingan tenis lapangan untuk difabel. Saya terkesima menyaksikan pertandingan yang satu ini. Kebetulan, saya suka menonton siaran (langsung atau tunda) tenis lapangan di sejumlah saluran televisi khusus olahraga.

Petenis Thailand beraksi di lapangan tenis Manahan. Spesifikasi kursi yang bagus memungkinkan ia melakukan manuver dengan lincah dan tidak membahayakan keselamatan.

Yang membedakan dengan tenis lapangan bagi atlet tanpa handicap hanya aturan mainnya. Bagi atlet difabel, maksimal dua pantulan bola di lapangan, sementara untuk yang nondifabel hanya sekali. Ukuran lapangan dan tinggi jaring, semua sama. Makanya, cabang ini membutuhkan skill dan strategi yang sama, plus kelincahan mengendalikan kursi roda dan tambahan stamina untuk menggerakkan kursi.

Kian bagus kwalitas kursi roda, kian ringan dan memudahkan atlet penggunanya. Dengan desain khusus, terutama posisi roda tidak tegak seperti pada kursi roda biasa, memungkinkan petenis melakukan manuver tanpa membahayakan pengguna. Termasuk di sana, yakni keberadaan dua roda kecil di bagian depan dan belakang yang berfungsi menjadi penyangga agak atlet tidak terjerembab atau terjatuh ke belakang.

Kursi roda untuk atlet tenis buatan China ini sudah lumayan digunakan, meski kwalitasnya dan harganya masih di bawah produk Jepang.

Ada dua klasifikasi terkait handicap atlet yang membatasi mobilitas. Yang pertama adalah para dan kedua quad. Para diperuntukkan yang hanya mengalami cacat kaki karena kelumpuhan atau amputasi, sedang quad untuk cacat ganda. Yakni, selain cacat kaki, juga terdapat handicap pada tangan sekaligus, sehingga raket perlu diikat pada tangan akibat tak bisa kuat mencengkeram atau tak berjari.

Sama dengan tenis lapangan bagi atlet tanpa keterbatasan mobilitas, pada tenis kursi roda juga terdapat kategori pro atau profesional dan amatir. Sudah lama pula digelar banyak turnamen tenis kursi roda (wheelchairs tennis) internasional, yang biasanya mendampingi turnamen bergengsi seperi Japan Open, Taiwan Open, Australia Open, dan sebagainya.

Pada turnamen profesional, dengan hadiah sejumlah uang dan/atau barang, para atlet difabel bisa memetik manfaat material. Tapi sayang, di kawasan ASEAN, baru Thailand yang memiliki petenis-petenis difabel yang sudah terjun ke dunia tenis profesional. “Pembinaan atlet tenis kursi roda dan olahraga bagi difabel sangat maju di Thailand. Pemerintah dan kerajaan sangat concern sehingga atletnya tangguh-tangguh,” ujar Yasin Osmani, Manajer Tim Tenis Kursi Roda Indonesia.

Dituturkan Yasin, tenis termasuk salah satu cabang olahraga mahal. Selain raket, bola dan lapangan untuk latihan yang harus sewa untuk latihan, kursi roda juga menjadi faktor penentu yang signifikan. “Yang dimiliki atlet-atlet Thailand adalah kursi roda bagus, sehingga harganya sangat mahal,” imbuh Yasin.

Nurdin, petenis asal DKI yang berhasil merebut medali emas meski mengendarai kursi roda buatan temannya seharga Rp 1,5 juta. Dalam tenis kursi roda partai ganda, ia menaklukkan pasangan petenis Thailand yang sudah matang terjun di tenis profesional.

Di Asia, baru China dan Jepang yang memproduksi. Kursi roda buatan China berharga mulai rp 15 juta, sementara bikinan Jepang di atas Rp 50 juta hingga di atas Rp 100 juta. “Baik negara maupun atlet Indonesia, belum ada punya kursi roda yang harganya semahal itu,” ujar Nurdin, peraih medali emas untuk tenis ganda klasifikasi quad pada ASEAN Paragames 2011.

Kursi roda yang digunakan Nurdin untuk bertanding hanyalah buatan temannya di kawasan Jl. Fatmawati, Jakarta Selatan. “Kami beli enam tahun silam dengan harrga Rp 1,5 juta. Pembuatannya pun hanya dengan ilmu kira-kira, meniru model yang sudah ada lewat gambar dengan bahan seadanya. Yang penting aman digunakan, walau berat digerakkan,” tutur Nurdin.

Andai memiliki kursi roda berkwalitas memadai, kata Nurdin, atlet tenis kursi roda Indonesia tak akan kesulitan mengimbangi atlet-atlet Thailand. “Kekalahan jam terbang di kompetisi internasional masih bisa diimbangi dengan memperbanyak latihan,” ujar Nurdin..

Pembinaan Atlet

Mas Inung, seorang wartawan radio yang juga mantan petenis kursi roda.

Mas Inung, seorang wartawan yang juga mengalami kelumpuhan kaki sejak kecil, meyakini atlet-atlet Indonesia masih bisa meningkatkan prestasinya. “Selain dukungan pemerintah agar mengikutkan mereka dalam berbagai turnamen, juga diberikan pembinaan yang serius dan memadai,” ujar Inung, yang ternyata juga mantan atlet tenis kursi roda yang pernah menjajal dan mengukir prestasi di Texas Open dan Australia Open pada belasan tahun silam.

“Satu hal yang harus diperhatikan pelatih adalah tidak boleh mengasihani orang cacat. Sering karena menganggap difabel itu lemah, pelatih kasihan dan tak tega memberikan latihan yang berat kepada atlet-atlet kita,” ujarnya.

Selain itu, Inung mengusulkan perlunya membentuk kesadaran kepada para atlet, baik yang tanpa handicap maupun atlet difabel, bahwa olahraga merupakan wujud bela negara. “Saya dan para atlet selalu bangga ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang mengiringi pengibaran beendera merah-putih dalam sebuah event antarbangsa. Kesadaran semacam ini penting, selain juga perlu adanya perubahan mindset aparatur pemerintahan mengenai pentingnya memupuk nasionalisme lewat olahraga,” ujar Inung.

Nurdin sependapat dengan Inung. Ia pun rela menyisihkan honor dari pemerintah selama dia mengikuti training di pemusatan latihan nasional di Solo selama enam bulan menjelang ASEAN Paragames, untuk membenahi ‘kendaraan taktis’-nya, yakni kursi roda. “Uang honor saya gunakan untuk perbaikan kursi roda, penggantian ban dan jari-jari roda. Demi merah-putih dan nama bangsa, saya rela merogoh saku celana,” ujarnya.

Wittaya Peem Me, petenis profesional Thailand sedang memperbaiki kursi roda menjelang partai final melawan rekan senegaranya di ASEAN Paragames 2011.

Jika terlalu jauh membandingkan dengan Thailand, atlet Indonesia pun iri dengan perhatian pemerintah Malaysia terhadap atlet-atlet difabelnya. Meski kini hanya memiliki dua atlet andalan, Malaysia sudah rajin ‘berburu’ atlet ke berbagai negara bagian hingga sekolah-sekolah di pelosok negeri, sehingga terkumpul 28 atlet ‘cadangan’ untuk masa depan.

 

Dato Zaenal Abidin, pembina tenis kursi roda Malaysia yang selalu aktif menyimak pertandingan.

“Dulu, pada awal 2000, kita kerap diundang untuk melakukan coaching clinic. Minimal satu pelatih dan satu atlet dengan seluruh biaya ditanggung mereka. Malah, saya kerap diajak dan dibiayai untuk mengikuti atau sekadar menyaksikan beberapa turnamen tenis kursi roda hingga ke Eropa. Mereka yang menanggung semuanya, termasuk uang sakunya,” ujar Yasin mengenang.

Satu tokoh kunci di Malaysia adalah Dato Zaenal Abidin, adik ipar mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad. “Beliau concerned dan bisa mencarikan sponsor untuk pembinaan dan turnamen atlet-atletnya. Dato Zaenal pula yang menangani langsung organisasi tenis kursi roda di Malaysia,” ujar Yasin.

Mendengar cerita rekan-rekan sesama atlet dari negeri tetangga, Nurdin hanya bisa mengelus dada. Ia dan teman-temannya jarang bertanding ke luar negeri, apalagi di turnamen bergengsi. “Semua petenis Thailand tak pulang ke negaranya. Dari ASEAN Paragames, mereka akan meneruskan mengikuti turnamen lagi,” ujar Nurdin.

Mau tahu insentif yang diberikan pemerintah Thailand? Simak saja pengakuan Suwitchai Merngprom berikut:

Setiap kami melakukan lawatan internasional untuk bertanding, kami boleh menyerahkan semua bukti pengeluaran untuk reimbursement untuk diganti penuh. Kami mengeluarkan dana pribadi terlebih dahulu, namun jika menang kami diberi tambahan bonus, sementara hadiah turnamen menjadi milik kami.

Indonesia, yang pernah melatih atlet-atlet tenis Malaysia, pun kini harus rela disusul reputasinya. “Kami bangga bisa memperoleh masing-masing satu emas, perak dan perunggu di ASEAN Paragames 2011 ini. Solo menjadi sejarah baru bagi kami,” ujar Dato Zaenal Abidin.

 

 

43 thoughts on “Belajar dari Tenis Kursi Roda

  1. simon

    ‘tetap semangat’, diskrimasi tidak dpt dihindari, marginalisasi dipastikan selalu ada hingga kiamat nanti. So, what can you do,…klo gue seh tetap aja berlatih seminimalnya untuk kebugaran dan kesehatan. Bravo wheelchair tennis, love you full.

  2. paijo suparjo

    YANG SABAR BROOO. ALLAH MAHA BESARE. SUATU SAAT ANDA PASTI AKAN MEMPEROLEH REJEKI LEBIH BESAR DARI YANG ANDA PERKIRAKAN. AMIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN

  3. ulasannya menarik dan sangat memberi informasi, salut dengan semangat nurdin yang hanya dengan kursi roda made in indonesia seharga 1,5 juta bisa mengalahkan atlet yang punya pengalaman matang dengan fasilitas yang lebih baik.

    ini membuktikan bahwa sebenarnya kualitas produk anak bangsa ini mampu bersaing dan memiliki kualitas yang tinggi, marilah kita hilangkan stigma produk luar negeri selalu bagus, cinta produk dalam negeri merupakan kontribusi bagi pembangunan ekonomi bangsa ini.

  4. Ahh…
    Sungguh #prihatin aku memiliki pemimpin pak prihatin yang tak pernah melihat sisi2 lebih pada anak-anak bangsa ini… Tunggu saja setahun kedepan dilibas Malasyia, dan dua tahun kedepan Timorleste… sisan le #sengitaku

    Punya antek berkumis tebal menjelaskan bonus 200 jeti berbanding 40 jeti aja masih pinter ngeles…
    Lah gimana mau dikatakan missi sosial non-diskriminasi kalo presiden saja gak datang, sementara saat ke Palembang dibela-belain kegrimisan..

    hemmmmm

  5. DV

    Soal reimbursement, sebenarnya soal pengumpulan kwitansi pengeluaran pasti bisa diajukan.. yang jadi masalah itu kapan dibayarnya, Paklik 🙂

    *tergantung adanya duit karena duit yang sebenarnya sudah ada terlanjur dikorupsi? Entahlah

Leave a Reply