Pesan dari Seberang Istana

Aksi bakar diri Sondang Hutagalung di seberang Istana Negara, Rabu (7/12) tak bisa dibaca sebagai peristiwa biasa. Pernyataan lewat juru bicara resmi, beberapa jam kemudian, yang menyatakan identitasnya masih ditelusuri, mengisyaratkan sikap serius dari istana, bahwa aksi itu bukan soal sederhana.

Polisi yang biasanya bisa bekerja cepat mengungkap identitas pelaku, pun terkesan ragu. Tak ingin tergesa-gesa, meski saya yakin bisa. Kelewat mampu. Juga, keinginan melakukan uji genetik alias tes DNA, demi sebuah pernyataan resmi, menunjukkan polisi sangat ekstra hati-hati atas perkara ini.

Andai tak dilakukan di seberang Istana, simbol identitas bangsa di percaturan dunia, mungkin polisi akan segera mengamini keyakinan saudara kandung, keluarga dan rekan, bahwa sosok lelaki berusia 22 tahun, yang mengalami luka bakar nyaris 100 persen itu, adalah Sondang Hutagalung.

Menyimak rekam jejak almarhum lewat pemberitaan sejumlah media, saya menduga tindakan membakar dirinya bukan tanpa tujuan. Kagetnya teman-teman sesama aktivis kelompok diskusi di kampusnya, Universitas Bung Karno, juga di KontraS, menunjukkan ia ingin melakukannya secara diam-diam. Sebagai aktivis tulen, ia pasti tak ingin dicap cari perhatian, apalagi butuh sebutan pahlawan. Setidaknya, seperti itulah sekilas ‘pembacaan’ saya terhadap Sondang.

Saya rasa semua orang akan bersepakat, jika Sondang menganggap Istana sebagai pusat kusutnya aneka perkara Indonesia. Sebagai pendukung gerakan penuntasan perkara pembunuhan Munir, Istana sudah membuktikan hanya mampu membuat pernyataan normatif di koran-koran dan media lainnya. Peradilannya, pun menghasilkan keputusan tak memuaskan. Data-data yang disodorkan Tim Pencari Fakta (TPF) pun menguap ke udara.

Sikap serba normatif dari Istana terhadap penyelesaian skandal keuangan Bank Century, korupsi dengan aktor kunci (setidaknya hingga kini) Nazarudin, dan perkara-perkara yang merenggut rasa keadilan publik, pastilah menggemaskan semua orang, tak terkecuali bagi Sondang.

Pernyataan standar berunsur (pasti) kata “prihatin” terhadap banyak ketimpangan, kemiskinan, hingga bencana, justru selalu mengundang keprihatinan publik terhadap presidennya.

Aksi Sondang, saya yakin merupakan tamparan paling keras terhadap Istana. Pak SBY itu orang Jawa, dan tentara lulusan terbaik akademi kemiliteran kita. Sejarah, antropologi, sosiologi dan semua aspek ke-Jawa-an pasti pernah dilahapnya. Apalagi, ia juga pernah menjadi pembantu Soeharto yang sangat mengagungkan nilai-nilai Jawa.

Tapa pepe atau rakyat berjemur di alun-alun sebagai bentuk protes diam dan damai pada masa kerajaan Jawa masa lalu, merupakan contoh terbaik ekspresi protes. Dan Sondang, bisa jadi sedang memprotes aneka peristiwa ironis dan kasus-kasus memalukan bangsa ini, yang tak kunjung diselesaikan dengan cara dan hasil yang seharusnya, yang adil menurut nalar kewarasan universal.

Saya sedih Sondang meninggal. Tapi saya yakin, apa yang dia lakukan bukan tindakan konyol. Ia tak mau meninggalkan surat wasiat atau catatan pribadi supaya tak diprasangkai mencari sensasi atau cap kepahlawanan. Bagi saya, ia meninggalkan pesan keteladanan bagi siapa saja.

Politisi yang selalu melupakan janji dan lantas rajin korupsi ketika berada di posisi tinggi, para pelayan publik yang lalai dan selalu minta dilayani dan dipuji, juga kebanyakan dari kita, yang terlalu sering tutup mata terhadap ketimpangan dan ketidakadilan di sekitar kita.

Kepergian Sondang adalah peringatan, bahwa kebanyakan kita terlalu lama menikmati hipokrisi…..

Selamat jalan Sondang. Tuhan tak pernah tidur. Dialah hakim paling adil, yang akan mengganjar pahala yang terbaik untukmu. Saya, tak akan pernah lupa peringatanmu…..

9 thoughts on “Pesan dari Seberang Istana

  1. Kalau SBY menganggap tidak ada pesan yang ingin disampaikan Sondang, mungkin SBY sudah hilang kejawaannya. Nggak perlu menjadi orang Jawa untuk melihat bahwa aksi Sondang membawa pesan. Yang tidak kita tahu adalah isi pesannya.

  2. Saya tidak percaya Presiden SBY akan berubah setelah “pesan kematian dari Sondang Hutagalung.”

    Selama memimpin Republik dua periode, SBY sudah sering dikirimi pesan oleh rakyat yang miskin, rakyat yang ditindas aparat, rakyat yang menderita akibat lumpur Lapindo, dll., lewat layar televisi dan halaman koran, tapi SBY bergeming.

    Jutaan rakyat telah mengirimi SBY pesan selama bertahun-tahun …, jangan harap dia bisa berubah hanya karena Sondang membakar dirinya sendiri di seberang Istana Presiden.

  3. Bingung mau komen apa tentang alm Sondang, pro dan kontra masih datang silih berganti. saya hanya ingin mendoakan saja semoga alm diterima di SisiNya dan diampuni segala Khilafnya. Bagamana pun, hanya Sondang dan tuhan yang tau segalanya.

  4. DV

    Sondang, sayangnya harus mati saat rakyat Indonesia makin suci.. Alih2 membahas apa pesan moral dan sosial yang dibawa dalam aksi Sondang yang menggetarkan itu, yang ada malah orang ramai menghujat ia sebagai seorang yang mati konyol dan tak dibenarkan agama…

  5. Senada dengan journalku juga Pakdhe…

    Tindakan Sondang Hutagalung ini tak jauh dengan yang dilakukan oleh Mohamed Buoazizi. Lelaki penjual buah di Tunisia ini juga melakukan aksi bakar diri juga di depan sebuah kantor Gubernur. Yang menjadi berbeda mungkin hanyalah motifnya.

    Kalo Mohamed Buoazizi bisa saja kita cerna sebagai protes diri sendiri karena nasibnya, akan tetapi untuk seorang Sondang saya rasa lebih dari itu, dia lebih memiliki masa depan, bahkan masih terbuka lebar jejak seorang Nazaruddin pun Gayus Tambunan juga di ikutinya. Namun ternyata tidakk…

    Jika rakyat TUnisia, bahkan warga Timur Tengah terketuk selanjutnya bergerak karena berawal dari tindakan Mohamed Buoazizi, sepertinya pesan Sondang adalah agar kita semua juga memiliki semangat serupa…

    Thanks anyway Pakdhe…

  6. trenyuh….

    sudah tak bisa lagi orang kecil memberikan protes, yang tak terlihat dan terdengar… hingga nyawa melayang… keadilan tak segera terbit…

    kuatkanlah istana, berilah kebijaksanaan, dan hancurkan yang membuat istana menjadi bodoh.

Leave a Reply