Latah

Entah, belakangan saya begitu risih dengan hal-hal yang saya anggap latah. Teknologi memungkinkan dan memudahkan salin-tempel kata, frasa atau kalimat sama. Persis, bahkan hingga titik komanya. Nyaris tak bermakna, sebab tanpa ada emosi di dalamnya.

Hari raya (apa saja) merupakan masa kelatahan yang sesungguhnya. Pesan singkat (walau banyak pula yang panjang) cepat tersebar, disalin atau diteruskan orang lain kepada siapa saja. Sehingga, kita bisa menerima pesan yang sama (bahkan hingga titik koma) dari lebih dari dua pengirim, yang keduanya tak saling kenal.

Teknologi, memungkinkan terjadinya pesan berantai. Jika itu pesan reproduksi, mungkin kita masih bisa memperoleh variasi sehingga lebih kaya. Reproduksi mengambil sari, atau satu-dua kata kunci. Beda dengan copying, yang cuma menyalin. Seperti kaset rekaman, diputar di manapun akan sama saja kedengarannya. Kalaupun beda, paling terasa lebih sempurna jika sistem audionya berkwalitas bagus. Secara hakekati, sama.

Jika ada yang mengucapkan sesuatu terkait perayaan, seseorang akan merasa mendapat sensasi perhatian jika kalimatnya tak lazim, tidak ‘default‘, tidak standar. Sentuhan personal akan lebih mengena karena ada emosi yang dilibatkan. Jadi, ucapan bukan sebagai semacam absensi perhatian.

Simak saja karangan bunga yang berderet pada acara, entah itu sebuah perayaan, atau pada peristiwa upacara terkait kematian seseorang. Kepada kita, sepertinya hanya disodorkan kontes nama pengirim, semacam laporan ‘kehadiran’. Bentuk dan jenisnya hanya itu-itu saja, karena dibuat oleh beberapa orang berdasar pilihan yang sudah ditentukan oleh si pembuat, berdasar jenis dan ukuran (serta harga) yang seragam.

Buruk? Tidak!
Memang begitulah risiko berhadapan dengan industri. Ada standarisasi yang memaksa untuk diikuti. Kalau mau menolak, atau hendak melawan arus, ya mesti berhitung sejak dini.

Kini, selain kelatahan yang kian tak saya mengerti, ada kelatahan yang memang sengaja dibangun. Lagi-lagi, teknologi begitu baik hati, selalu hadir untuk memfasilitasi, seolah-olah jadi solusi. Hitung-hitungan dilembagakan, seperti pada Twitter yang sudah menyiapkan sebutan trending topic, untuk menyebut pokok percaturan terbanyak, berdasar kata kunci.

Soal kriterianya seperti apa, jangan tanya. Secara kerja mesin, tentu yang paling banyak disebutlah yang akan terekam, sehingga kemudian secara otomatis menduduki puncak kategori trending topic. Tapi, ingat pula kode promote, yakni yang sengaja dipromosikan, didukung, sehingga didudukkan sejajar dengan trending topic lainnya. Ada keterlibatan manusia di belakangnya, yang akan bekerja secara manual untuk menyisipkannya.

Kita boleh berbeda pendapat soal ‘trending topic’ yang dilakukan dengan pendekatan sulapan semacam ini. Industri, memang punya hukumnya sendiri. Ketidaklumrahan atau sensasi, kadang harus dikedepankan. Apalagi jika diniatkan sebagai trend settter atau pendikte kecenderungan. Jangan ikut arus kalau memang tak ingin tampil up to date. Toh, keterkucilan juga sangat subyektif sifatnya.

Sebaiknya pula, jangan lantas menghakimi jika tak sepakat, dengan menyebutnya sebagai kepalsuan. Industri tak mengenal kepalsuan. Kalaupun kosmetik harus digunakan, pahamilah itu sebagai ikhtiar agar sesuatu/seseorang tampil menarik (perhatian) atau atraktif. Citra itu penting, agar orang/pihak lain memperhitungkan, alias tidak meremehkan.

Harap tak terkecoh pada kata citra dan kosmetik. Saya tak sedang membicarakan merek. Tapi, soal penggunaan kosmetik yang berlebihan, ketika jenis dan bahan yang sejatinya tak cocok tapi dipaksakan untuk digunakan, demi mengejar citra, persepsi orang lain terhadap diri/lembaganya.

Memoles secara berlebihan, tentu akan membantu jika yang dihadapi adalah para pihak yang baru akan dijumpai. Tapi terhadap orang yang sudah mengenal, apalagi jika sudah terlalu sering berintraksi, pemakaian kosmetik hanya berujung pada rekasi yang menertawakan. Walau secara diam-diam, atau dibatin, karena sungkan.

5 thoughts on “Latah

  1. DV

    Sing angil ki menentukan mana orang yang sudah kenal dan mana yang belum..
    Dadi kelingan jaman cilik sering ngetutke tukang obat bukak lapak nyang ara-ara Klaten. Sing diomong lan umukke padha karo sing diumukke neng ngarep Kamar Bola, padahal jarake mung sa’uncalan watu πŸ™‚

Leave a Reply