Oh, Nasibmu ABC

Omong-omong soal Blogger ASEAN, apalagi setelah membaca keresahan Anton dan kicauan Donny BU, sekalian saja saya nimbrung. Ini bisa pula dianggap sebagai jawaban terbuka untuk beberapa teman yang menanyakan alasan saya keluar dari ASEAN Blogger Community (ABC), padahal saya sebagai salah satu deklarator.  Semoga saya bisa memberi gambaran sehingga kian paham, perlu-tidaknya ABC itu bagi blogger.

Ketika diundang untuk deklarasi, 10 Mei silam, saya oke-oke saja. Saya hanya berpikiran positif dan memandang perlunya jejaring blogger di kawasan ASEAN. Toh, sebelumnya Komunitas Bengawan juga sudah pernah diajak bekerja sama dengan Direktorat Kerjasama ASEAN, Kementerian Luar Negeri untuk menggelar sebuah seminar untuk sosialisasi capaian-capaian kerjasama regional yang disebut ASEAN itu. Apalagi, tahun ini Indonesia menjadi Ketua ASEAN yang sekretariatnya tetapnya berada di Jakarta.

Ada banyak hal yang ada di benak saya, ketika menyambut positif perlunya berjejaring. Soal nama, terus terang, bagi saya tak terlalu penting, meski saya bisa mengamini pula apa yang disampaikan Anton Muhajir atau Donny BU, bahwa nama juga perlu dipertimbangkan secara matang. Jujur, saya sering diskusi lumayan intensif dengan Pak Hazairin Pohan.

Jejaring blogger kawasan, menurut saya, bisa menjadi mitra tanpa harus kehilangan eksistensi dan identitasnya. Termasuk di dalamnya, hal-hal menyangkut freedom of expression. Dalam konteks inilah, jejaring blogger antarbangsa di ASEAN bisa menjadi ruang alternatif untuk membicarakannya. Kita, blogger di Indonesia atau di Philipina bisa disejajarkan dalam hal kebebasan. Tapi jangan disandingkan dengan mereka yang berkewarganegaraan Singapura, Malaysia, Vietnam atau Myanmar.

Bagi ‘anak-anak muda’ yang belum pernah merasakan ‘hebatnya’ Soeharto, yang bahkan bisa menggunakan kekuasaannya menangkap seseorang hanya karena dicurigai subversif atau ‘menyinggung lambang-lambang negara’, perkara freedom of expression pasti sulit untuk mengerti. Begitu pula bagi mereka yang tak punya pengalaman berorganisasi secara memadai, perkara seperti penyusunan naskah deklarasi, pasti dianggap sesederhana orang memutuskan menu makan siangnya.

***

Saya terpaksa menarik diri dari ABC setelah melewati beberapa proses. Pertama, saya melontarkan gagasan lewat mailing list tentang perlunya menentukan sifat organisasi, apakah mandiri atau di bawah Kementerian Luar Negeri. Sepanjang yang saya tahu, Kemenlu menjamin bentuk organisasi, terkait dengan independensi. Tapi, gagasan sederhana itu tak ada yang menjawab, baik dari pengurus ABC (yang saya tahu cuma ada ketua, yakni Kang Iman Brotoseno).

Kedua, saya lontarkan gagasan perlunya pertemuan untuk membahas rancangan (termasuk rancangan kerja) organisasi. Perlu juga dirancang perlunya ada rapat serius dalam bentuk forum group discussion (FGD) atau strategic planning. Itu pun tak ada yang merespon. Secara sepihak, saya lantas ‘meremehkan’ dengan pernyataan, jangan-jangan teman-teman ABC tak ngerti apa itu FGD dll.

Ketiga, dan ini puncak kejengkelan saya, karena semakin yakin bahwa tak seorang pun paham soal tata krama berorganisasi. Saya mencoba mengingatkan dengan cara melontarkan sejumlah ‘pertanyaan sederhana’. Di antaranya, siapa kita; mau apa kita, untuk apa keberadaan kita; dan sebagainya yang kira-kira terkait dengan visi/misi organisasi. Jawaban yang saya peroleh, pun membuat saya kaget: saya disuruh baca di website ABC tentang naskah deklarasi?!? Bingung saya… Sebagai deklarator, walau tak diajak menyusun naskahnya, saya ikut menyimak saat dibacakan lantas saya ikut membubuhkan tanda tangan.

***

Jujur, beberapa kali saya diminta untuk bikin tulisan yang kira-kira sejenis draf position paper, saya hanya mengiyakan namun sejatinya saya berniat mengabaikan. Saya tak yakin itu bakal berguna, sebab saya sudah haqqul yaqin, apalagi setelah menyimak perjalanan organisasi itu, para pengurus yang merasa sibuk juga #gagalpaham untuk urusan demikian.

Bagaimana mungkin, organisasi yang diniatkan begitu mulia, hanya diurus secara serampangan, sambilan. Beberapa event yang diselenggarakan pun saya tahu, dilakukan asal-asalan. Beberapa aktivisnya hanya butuh gebyar yang ditunjukkan lewat seremonial. Substansi itu soal nanti.

Sorry, berorganisasi memang tak gampang. Jika tak sanggup, ya tak usah bikin organisasi. Begitu prinsip saya. Tapi, jika Anda bertanya, apakah berorganisasi mesti menthenteng alias begitu serius dan menegangkan, jawaban saya juga simpel: tidak perlu! Serius tidak berarti harus mencurahkan waktu dan tenaga layaknya orang kerja kantoran. Komitmen bisa diwujudkan dengan banyak cara.

***

Sebagai bangsa Indonesia, saya terlalu sering kecewa kepada para penerima mandat mengelola negara. Tenaga kerja Indonesia teraniaya di Malaysia, pemerintah tak pernah bisa berbuat memuaskan. Para buruh migran kita kalah jauh dengan mereka yang berasal dari Philipina. Tak hanya dididik di negeri asal sebelum diberangkatkan, namun juga dilindungi jika mereka menghadapi aneka persoalan di negara tujuan. Itu satu hal, yang serius.

Yang duarius, melalui konten di blog, kita bisa membantu promosi aneka macam kelebihan: potensi wisata alam, produk kerajinan, produk budaya, dan masih banyak lagi. Ini juga bisa masuk kategori support terhadap pilihan bentuk diplomasi yang soft yang dilakukan Kementerian Luar Negeri. Dan dalam hal ini, blogger menjadi bagian dari unsur yang memperkuat ketahanan nasional.

Dengan demikian, blogger atau netizen bisa menyuarakan kepentingan komunalnya, seperti ketika Malaysia melakukan klaim karya batik, hingga penyerobotan batas wilayah negara. Intinya, blogger bisa bekerjasama dengan siapa saja, entah itu Kemenlu, atau Sekretariat ASEAN. Tak terlalu relevan jika kita harus alergi terhadap berbagai hal yang berbau pemerintah, kendati kita sadar dan merasakan, pemerintahan kini tak berjalan efektif dalam mewujudkan mandat rakyat dan amanat konstitusi.

Jadi, jika para pengurus ABC Chapter Indonesia tak bisa berbuat apa-apa, ya maklum saja. Apologi bisa diciptakan demi menyelamatkan muka atau membela diri. Biarin!

***

Jika Konferensi Blogger ASEAN begitu acak-acakan, ya harap maklum saja. Diberi masukan dan pertanyaan saja mereka tak memberikan jawaban, kok… Jadi, kalau lantas ada klaim blogger (entah itu individual atau komunitas), menurut saya, sangat lumrah, sebab memang teman-teman di pusat sana tak ngerti organisasi.

Paling sederhana, jika mereka mengerti adab organisasi, jauh sebelum undangan disebar, mereka sudah merancang draf, juga rancangan acara. Jika keterbatasan dana jadi alasan untuk membahas dalam sebuah forum dengan sistem perwakilan, keberadaan email jelas sangat membantu dan bisa jadi solusi. Konferensi jarak jauh pun bukan soal, toh dengan sebutan blogger yang melekat, mereka sudah ngerti apa kegunaan Yahoo! Messenger, Skype, Gtalk dan sejenisnya.

Jika paham organisasi, jauh sebelumnya bisa disebarkan rancangan acara. Jika akan ada diskusi kelompok, bisa diberikan term of reference (TOR) masing-masing pokok bahasan. Juga rancangan tata tertib, sehingga sebelum berangkat mengikuti konferensi, masing-masing  calon peserta sudah punya bahan dan pilihan pada kelompok bahasan apa ia akan tertarik.

Begitulah, teman-teman… Saya memilih mundur karena merasa lebih mengerti bagaimana berorganisasi dan memahami seberapa pentingnya keberadaan sebuah jejaring.

 

 

Updated 21/11/11 7.15 AM

Silakan jika Anda menganggap sepele.  Bagi saya, sebagai bangsa Indonesia, saya merasa punya kewajiban untuk ikut memperbaiki hubungan antarbangsa, meski dengan cara yang saya yakini. Istilahnya, tanpa terlibat dalam organisasi semacam ABC pun, komitmen saya tak akan pernah luntur sedikitpun.

Saya pernah mendengar istilah civilian ambassador, yakni duta tak resmi untuk kepentingan bersama. Di Solo, saya pernah ikut menyambut dan menemani beberapa tokoh sipil muslim dari Mindanau, Philipina Selatan. Mereka ingin belajar dari Indonesia mengenai konsep negara (menurut Islam), hubungan antarumat yang berbeda agama, suku dan golongan, hingga sistem pengajaran agama (Islam).

Pertemuan itu, saya tahu, tanpa ada peran negara/pemerintah di dalamnya. Kemennterian Luar Negeri atau Sekretariat ASEAN pun tak ada sama sekali. Tapi, dari kunjungan beberapa hari itu, mereka merasa memperoleh banyak masukan, terutama yang paling esensial adalah prinsip Islam terhadap negara. Asal tahu saja, fasilitatornya adalah tokoh dan komunitas Nahdliyyin.

Orang NU meyakini, Republik Indonesia adalah negara yang sah secara hukum agama. haram hukumnya bagi umat Islam memberontak pemerintahan, jika konstitusi dan prakteknya sudah menjamin umat Islam bisa menjalankan syariat agamanya, dalam arti bebas menjalankan rukum Islam seperti syahadat, sholat, puasa, zakat dan berhaji.

Pada ‘negeri Kristen’ seperti Amerika atau Philipina, pun, umat Islam wajib taat kepada pemerintahnya ketika mereka diberi keleluasaan menjalankan rukum Islam tanpa diganggu atau dihalang-halangi. Itulah mengapa, KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU mau mengeluarkan ‘fatwa halal’ kepada pemerintah untuk menghukum mati Kartosuwiryo, atau Resolusi Jihad pada awal kemerdekaan dalam menghadapi kolonialis.

***

Dalam konteks blogging dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, pun menjadi relevan peran netizen dan blogger. Ke depan, perang informasi akan kian rumit. Pembatasan konten seperti di Vietnam atau China, misalnya, merupakan petunjuk yang benderang betapa Internet pun memiliki derajat potensi ‘ancaman’ di dalam negeri bagi rezim/negara yang signifikan.

Perwakilan Pemerintah Indonesia di Malaysia pasti kerepotan juga ketika ramai kecaman terhadap Malaysia oleh orang-orang Indonesia di ranah Internet terkait perkara klaim batik, penyerobotan wilayah, perlakuan terhadap TKI dan sebagainya. Hacker pun ikut ‘menyemarakkan’ sebagai ekspresi kekecewaan kepada Malaysia. Itu hanya sebagian contoh, yang saya maksudkan untuk kian membuka wawasan teman-teman di kepengurusan ABC, agar ke depan tak #salaharah atau #gagalpaham menyikapi dinamika relasi antarbangsa.

Kepada teman-teman ABC, mari kita diskusi. Mau terbuka atau dengan pola nomention, silakan saja. Asal Anda tahu, semakin sering nomention, maka sejatinya itu menunjukkan Anda tak percaya diri untuk berdialog.

 

24 thoughts on “Oh, Nasibmu ABC

  1. Untungnya saya masih berfikir dua kali untuk ikutan ABC. Dari semula sudah ketebak kalau segala urusan yang ditunggangi pemerintah nantinya mengarah ke suatu hal. Apapun itu, saya masih enggan bergabung, dan untungnya disini ada pencerahan 🙂

  2. Hmm sudut pandang yang menarik.. jadi tau sedikit “behind the scene” 🙂

    tapi unggulcenter berfatwa, selama masih ada perlombaan ada peluang dan ada hadiahnya, plus ada kopdarnya, dan hasil kopdarnya bisa saya tulis diblog secara berseri.. saya ikutan.. *bounty blogger mode ON

    btw memangnya ABC itu ngundang blogger mana aja pakde blontank? siapa aja sih anggotanya, wah aku dah maen pasang banner aja diblog, sama banner-banner komunitas lain yang banyak hihi..

    idup kopdar..

  3. lah…
    Kok sampean mundur ta Pakdhee…?

    Tiwasna aku wis dandan necis meh njago dadi duta “abese” jeee…… #mrenges

    ~Eh eh tapi aku meh serius iki lho pakdhee….
    Pas ada ABC itu berharap sejenak menyaksikan “pengheningan cipta” atas kepergian rekan blogger #nitafebri, tapi kok ya ra ana yaa…? #mikirmaneh apa dia gak masuk daptar blogger(abese) pa ya..?

  4. a!

    penjelasanmu sungguh gilang gemilang, pak de. sekarang aku malah lebih tahu apa alasanmu keluar dari ABC. menurutku, memang perlu ada diskusi lebih mendasar ttg ABC ini jika memang mau serius. termasuk soal nama, posisi terhadap ASEAN (sebagai lembaga), rencana kerja, dst. jika soal2 semacam ini belum tuntas, gak usahlah ngomong jauh2 soal menyatukan idenitas ASEAN bla. bla. bla.

  5. Maklum Pakdhe, yg demikian apakah bukan karena “mereka” itu bisanya hanya kopi darat? Jadi konfrensi pun digelar macamnya kopi darat, terkesan sambilan, tidak terorganisir, yang penting meriah. Duh, parah >.< …

    Mohon maaf Pakdhe, buat saya semenjak Pesta Blogger itu "dibayang-bayangi oleh Paman Sam", saya jadi makin pesimis…

  6. lha iyo, ndek deklarasine web e asean blogger ono ndek mBali kok gak metuntung wong iki..
    sing iki wonten benere, saya juga berada di sana.. “sehingga sebelum berangkat mengikuti konferensi, masing-masing calon peserta sudah punya bahan dan pilihan pada kelompok bahasan apa ia akan tertarik.”

    Aneh diskusi poin-poin deklarasi tapi gak ada bahan yg didiskusikan. Yah seperti cerita Obyektif saya di blog saya lah.
    .-= fajarmcxoem´s last undefined ..CommentLuv Premium is here!The version of CommentLuv on this site is no longer supported. Please update by clicking the image below

    Go to CommentLuv.com to download Hurry! click here! =-.

  7. Iya setuju pak, klo gak sanggup berorganisasi ya tak usah berorganisasi…

    Klo gak bisa nyetir motor, gak usah belajar toh gak bisa, klo gak bisa ya gak usah.. Ya kan?

  8. Jujur saja, saya kagum dengan kang blontank dan tulisannya yang sangat kritis ini, saya hanya menyikapi, ” kalau tak sanggup berorganisasi ya jangan berorganisasi ” itu sangat membuka wawasan saya, memang berorganisasi itu tidak gampang, jadi untuk memulai berorganisasi, layaknya kita juga melihat kemampuan dan source yg ada. SALUTE

Leave a Reply