Ronggeng Sang Penari Lengger

Tak hanya lega bisa nonton bersama istri di pemutaran perdana, saya terpuaskan dengan visualisasi yang puitis atas trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk-nya Kang Ahmad Tohari. Film Sang Penari produksi Salto Films tak bertendensi memfilmkan keseluruhan novel, namun bisa merangkum pokok perkara yang diwakili dua tokoh utamanya, Srintil dan kekasihnya, Rasus.

Lazimnya film komersil, Ronggeng Dukuh Paruk dikemas sebagai sajian drama percintaan. Keputusan hidup Srintil (diperankan Prisia Nasution) menjalani laku sebagai ronggeng atau penari Lengger dalam khazanah kultur Banyumasan, tidak disukai Rasus (Nyoman Oka Antara), pemuda sedesanya. Kekecewaan Rasus membawanya pada kecelakaan sejarah, dari pemuda desa yang lugu hingga bersentuhan dengan politik, yang kelak menjadi sejarah kelam Indonesia kontemporer.

Lengger di wilayah Banyumas seperti halnya tayub di Purwodadi, Pati, Blora dan sebagian Sragen, merupakan jenis hiburan rakyat yang lekat dengan aura mistis dan berkelindan dengan penampilan erotis. Iringan musik bertempo sedang hingga cepat dan tembang-tembangnya sangat kontekstual, terbuka dengan partisipasi audiens berupa sahutan reaktif yang disebut senggakan.

Musikalitasnya yang dinamis dengan syair riang enak diikuti, memancing orang untuk ikut menari, mirip dangdut di kemudian hari. Dan memang begitulah ciri tarian rakyat, tari pergaulan. Ia biasa hadir pada sebuah perayaan apa saja, selain menjadi hiburan, juga sebagai daya tarik menghimpun kedatangan banyak orang sehingga acara kian semarak, meriah.

Mistisisme masyarakat pedalaman Jawa yang terpengaruh animisme hadir lewat kisah Srintil, yang harus mendapat keabsahan sebagai ronggeng dengan hadirnya indang, yang dalam film itu diwakili dengan cundrik, yakni sebilah keris ukuran kecil, yang biasanya dipakai perempuan. Karena itulah, malapetaka kematian banyak orang di Dukuh Paruk yang sejatinya keracunan oleh tidak higienisnya tempe bongkrek yang dikonsumsi, dikaitkan dengan lamanya desa itu tanpa lengger. Dan Srintil menyikapinya sebagai laku penebusan, sebab tempe bongkrek yang mematikan tetangga-tetangganya adalah produksi orang tuanya, yang dikisahkan mati sia-sia sebagai pengganti kesalahan yang sepadan.

Srintil sebagaimana dikehendaki Kang Tohari dihadirkan nyaris persis oleh Sang Penari, yang naskahnya digarap bersama antara sutradara Ifa Isfansyah, Salman Aristo dan  Shanty Harmayn yang merangkap sebagai produser. Saya sebut dengan istilah nyaris persis, sebab dalam penafsiran saya, Srintil tak pernah ‘menghayati’ laku seksual sebagai peristiwa biologis-psikiatris. Ia menolak praktek itu, maka ia menyerahkan simbol kesuciannya hanya kepada orang yang dicintainya: Rasus.

 

Adegan persiapan penobatan Srintil sebagai ronggeng. (Foto: cinemapoetica.com) Updated 14/11/11

Simaklah kebanggaan warga sedesanya, ketika para perempuan begitu bangga ketika suaminya bisa meenyetubuhi Srintil. Seolah-olah, dari hubungan sesaat dan ilegal yang biasanya diawali dengan nyawer dalam jumlah terbesar itu, pasangan suami-istri justru akan memperoleh ‘berkah’. Tapi, begitulah mitosnya, yang masih hidup bahkan hingga kini, sebagaimana terjadi di sebagian wilayah subkultur tayub di pedalaman, sekitar kawasan hutan jati Sragen-Purwodadi-Blora. Penari tayub, lengger atau ronggeng selalu diasosiasikan dengan memiliki kekuatan magis, entah lantaran susuk atu sejenisnya.

Satu hal yang terlewat, padahal bisa memperkuat sosok mistis Srintil sebagai simbol harapan akan kemakmuran dari sebuah masyarakat miskin di wilayah tandus, adalah tidak dimunculkannya peran Srintil sebagai gowok. Gowok adalah profesi yang kurang lebih sebagai guru di ranjang, yang dimaksudkan sebagai pendidikan seks secara langsung kepada lelaki. Bisa untuk lelaki dewasa yang tak kunjung mau mencari pasangan, atau lelaki yang dianggap dingin.

Andai sisi ini dihadirkan, maka akan lengkaplah gambaran sosok ronggeng, penari lengger, yang menjalani profesi sebagai laku spiritual, bukan perilaku seks abnormal. Simak saja kisah di novel rujukannya, Srintil tak pernah menjalani dengan ikhlas hati melayani orang kota yang sedang memimpin sebuah proyek di Purwokerto, seorang mantri hutan kaya raya, atau pemuda ganteng nan kaya dari keluarga terpandang dari desa-desa sekitarnya. Tidak! Srintil tak pernah menjalani lengger alias ronggeng sebagai profesi. Ia selalu sedih, dan merasa terluka ketika berhubungan (seks) dengan siapa saja.

***

Saya mencatat beberapa hal penting atas Sang Penari. Gambar-gambar yang dihasilkan dari mata director of photography Yadi Sugandi sungguh memikat. Sensualitas Srintil tak memancing imajinasi jorok penonton, lokasi syuting yang tandus pun sanggup dihadirkan dengan detil. Simbolisasi kemiskinan dan keterbelakangan dihadirkan lewat langit yang tak pernah biru, kecuali pada adegan penutup, ketika Srintil dan pengendang buta bergembira pulang ke desanya walau hasil ngamen di pasar yang sudah sepi tak seberapa.

Keriangan terpancar dari ekspresi keduanya, padahal saat ngamen itu tak seramai pada masa jayanya. Dulu, grup ronggeng dari Dukuh Paruk itu ditanggap partai politik untuk menghimpun massa dan sekaligus dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran ideologi dan hasutan. Dari sana pula, Dukuh Paruk yang belum lama tertimpa petaka menjadi makmur jaya, sebelum kemudian berbalik menjadi petaka lagi, saat warga sedesa ditangkapi, disiksa, dipenjara, bahkan tak sedikit yang dibunuh secara keji oleh tentara.

Kesenian rakyat dimanipulasi dan digerakkan untuk kepentingan politik, karena pada dasarnya memang efektif, bahkan hingga kini. Dan, bukti sangat mencolok terlihat pada masa Orde Baru. Ketika itu wayang kulit, tayub, dan semua kesenian dikuningkan, diperalat untuk menjadi penyampai pesan-pesan keberhasilan pembangunan dan penciptaan stabilitas keamanan. Bahkan, ‘surat ijin pentas’ dilembagakan sehingga pesan dan pelakunya terkontrol.

Asap putih yang muncul dari knalpot truk-truk tua yang menjadi simbol keperkasaan tentara, juga menunjukkan kekuatan pada detil penyutradaraan. Ia sanggup menghadirkan kondisi mesin dan teknologi pengolahan minyak sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Begitu pula pemilihan rumah-rumah bambu, yang tak tampak sebagai rekayasa. Saya menduga, lokasi syuting memang benar-benar dipilih dari desa yang benar-benar terpencil dan masih miskin, hingga kini. Dan itu menunjukkan kekuatan dan kesungguhan risetnya.

Terhadap kemampuan riset ini, saya sangat percaya pada ketajaman intuisi dan kekayaan referensi seorang Tino Saroengallo yang terlibat di dalamnya. Beruntung saya pernah mengenalnya, dan pernah membantu riset kecil untuk rencana produksi film tentang eputar peristiwa bom Bali, beberapa tahun silam, namun urung karena perijinannya ditolak otoritas keamanan republik.

Ada dua hal yang mengganggu saya, meski salah satunya bisa dimaklumi. Yang pertama adalah cawat (celada dalam) warna cokelat yang dikenakan pelakon saat hendak menyetubuhi Srintil pada peristiwa bukak klambu alias ‘wisuda sebagai penari lengger’. Walau gambar diambil dari tampak belakang, jenis celana dalam itu menunjukkan periode ‘kini’. Selain pada masa itu orang desa miskin tak terlalu membutuhkan celana dalam, andai untuk simbol kelas sosial sekalipun, jenisnya akan berbeda. Pada masa itu, saya yakin warna putih lebih populer, dan yang melingkar di pinggang berupa kain dengan ikatan benang yang memungkinkannya elastis. Ya, sejenis merek Hing’s atau merek lokal lainnya seperti 555 atau Tiga Durian yang jadul.

Hal kedua, adalah soal tiang dan kabel listrik. Tapi, ini bisa dimaklumi jika mengingat pembiayaan yang tak murah dan sulitnya mencari desa-desa di Jawa yang belum terjangkau jaringan listrik. Pada setting era 1960an, kalaupun sudah ada listrik, tiangnya hampir pasti terbuat dari besi, berdiameter sekitar 20 centimeter dan tidak terlalu tinggi menjulang seperti sekarang.

Nah, pada adegan di Pasar Dawuan, tempat di mana Srintil pernah menjadi pusat perhatian banyak orang dan memperoleh privilese karena sebagai ronggeng, ada ‘kebocoran’ berupa tiang listrik berbahan beton yang berdiameter 30an centimeter, tak utuh dibungkus bambu untuk penyiasatan (sebab mahal biayanya jika harus mengenyahkannya). Di bagian atas, masih tampak betonnya.

Lantas, pada long shoot areal ladang, masih tampak pula kebocoran, yakni keberadaan tiang listrik berbahan beton yang tinggi menjulang dengan rentangan kabelnya. Walau selintas, itu mengganggu, merusak konteks waktu. Di sini, mungkin Ifa Isfansyah sang sutradara kecolongan. Oh, iya… Tokoh Sersan (Tio Pakusadewo) yang semula terkesan Jawa, kenapa tiba-tiba menjadi berlogat Batak, ya?  

***

Di luar itu, secara keseluruhan film Sang Penari sangat bagus. Akting para pelakonnya merata, bahkan hingga para pemain figurannya. Mas Slamet Rahardjo dan Happy Salma cocok sebagai pembimbing Srintil, begitu pula Mas Landung Simatupang, Lukman Sardi dan Tio Pakusadewo. Para pemainnya tampak sudah berupaya keras mempelajari dialek dan budaya Banyumasan, sehingga aktingnya memukau. Musik arahan pasangan Aksan dan Titi Sjuman, juga menguatkan cerita.

Yang juga terasakan sebagai buah kepiawaian penyutradaraan, adalah penyiasatan pengambilan gambar secara close up dan singkat-singkat pada adegan-adegan Srintil menari di tengah keramaian, atau mengalihkan ke arah audiens. Setahu saya, publik lebih melihat paras dan bentuk tubuh serta erotika saat menarikan lengger atau tayub dibanding kemampuan seseorang menari. Tapi, pada Sang Penari, sutradara dan kameraman bisa menyelamatkan kekurangan Prisia yang tak cakap menari.

Sang Penari sungguh merupakan film yang wajib ditonton. Ia layak menjadi referensi kekayaan kultur, dan pantas mewakili Indonesia dalam festival-festival film di luar negeri karena karakternya yang khas. Syukur, setelah menonton film ini, Anda mau membaca trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk yang sudah dijadikan satu buku dari semula tiga judul: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala. Bahkan, terdapat revisi beberapa puluh halaman, yang dulu terpaksa dihilangkan oleh Gramedia yang menerbitkan trilogi itu, karena pertimbangan keamanan, di mana breidel atau pemberangusan bisa hadir kapan saja jika Orde Baru menghendakinya.

Asal tahu saja, novel itu sudah pernah ‘dibeli’ untuk difilmkan oleh banyak produser dan sutradara dari berbagai negara Eropa dan Amerika, namun tak kunjung terealisasi. Di tangan orang Indonesia sendiri, kini sudah dihadirkan sebagai Sang Penari.

 

 

Baca ini untuk referensi, tentang Mas Yadi Sugandi, director of photography Sang Penari dan sang sutradara Ifa Isfansyah.

 

 

 

14 thoughts on “Ronggeng Sang Penari Lengger

  1. kalau saya justru gak puas dengan film “Sang Penari” saya lebih suka trilogi Novelnya.. mungkin karena beda dengan imajinasi saya saat membaca novel itu..

    tapi saya mengapresiasi film indonesia seperti itu..bukan film indonesia asal2an yg masih saja marak..

    dah nonton “Real Steel” pak de? mantab lo..

  2. telo

    o0o iya tapi mungkin ada yang janggal dr judulnya jika liat reviewnya prisia tak bgt jago menari tapi kenapa diambilnya jidil sang penari yah bukan ronggeng..keknya lebih bagus ronggeng aja d 😛

  3. gunawan raharja

    Tepat…peran gowok itu penting karena pada titik itu srintil seperti menemukan “pengakuan” atas jati dirinya. Membimbing perjaka memasuki masa kedewasaan adalah “prestasi” tersendiri bagi seorang ronggeng. Kalau bagian ini muncul ke permukaan, film ini akan semakin lengkap..

Leave a Reply