P-S-I

Sebuah sedan mewah bercat hitam mengkilat merapat pada gubuk usaha jasa tambal ban. Berhenti sekonyong-konyong membuat MaryoBros kaget. Tegap badan dengan potongan rambut brosnya telah membuat sang sopir agak gemetaran saat ia dekati. “Ada apa?” sapa Maryo dengan itonasi meninggi. Ia jengkel karena kedatangan mobil itu membuyarkan kekhusyukannya membaca koran.

“Ehm… Maaf, mau minta angin, Pak. Yang depan kiri…,” jawab sopir.

“Berapa p-s-i?” tukas Maryo.

“Mmm….berapa, ya….,” sang sopir kebingungan menjawab, “berapa aja, terserah. Saya juga tak tahu. Pokoknya, asal gak bikin berat saja bawanya. Bikin pegel di lengan kalau tekanannya gak imbang kiri-kanan.”

“Lha, iya… Kalau itu, saya juga tahu! Tapi berapa psi? Saya tak biasa ngisi angin ban mobil sedan. Kalau truk, bis atau sepeda motor, saya tahu!” Intonasi MaryoBros masih saja terasa tinggi bagi sopir.

“Pak, ini diisi berapa psi?” tanya sopir kepada majikan yang duduk sambil membaca novel di kursi belakang.

Majikan juga kaget karena kenikmatannya membaca dibuyarkan oleh pertanyaan sopir. “P-S-I… P-S-I…. Kenapa nanya-nanya begituan! Tidak akan pernah mobil ini diisi PSI!” ujar majikan, emosional.

Si sopir bingung. Ia belum lama bekerja sebagai sopir pribadi orang penting seperti majikannya kini. Belasan tahun ia mengemudikan taksi, tak pernah berurusan dengan psi, apalagi bertanya langsung pada majikan. Ia tinggal menginjak pedal gas, melesat keluar pool. Urusan mesin dan tetek bengek kendaraan sudah ada yang mengurusnya, sehingga ia tak perlu paham apa itu psi, bar, dan sejenisnya. Asal nyaman di balik kemudi, ia tak menghiraukan kondisi ban. Lagi pula, selama mengemudikan taksi di Jakarta, ia jarang mengalami kempes atau bocor ban.

“Terserah lah, Mas. Saya tak tahu psi-psi-an. Diisi saja, yang penting sama dengan yang kanan,” ujar sopir kepada Maryo, yang ternyata sudah berinisiatif memompa dengan selang terhubung pada sebuah tangki besar warna oranye.

***

Melesat meninggalkan gubuk Maryo, sang majikan terus ngomel, memarahi sopir. “Buat apa nanya-nanya soal PSI? Cuma tukang tambal ban saja, sok mau tahu urusan politik segala. Sudah negara kacau balau, usaha lagi susah, masih saja bertanya soal PSI!

Memang, orang PSI itu pintar-pintar, jagoan menyusup ke sana-sini. Tapi apa perlunya tukang tambal ban sampai nanya-nanya berapa orang PSI yang akan masuk ke dalam mobil ini?”

Si sopir bingung. Di kepalanya berkecamuk pertanyaan tentang apa itu PSI. Kenapa majikan jadi senewen mendengar rangkaian huruf itu, dan apa hubungannya dengan pertanyaan Maryo sing tukang tambal ban tadi. Ia merasa benar-benar gagal paham. Siapa sejatinya sang majikan, pun belum dikenalnya dengan benar karena belum sebulan ia diterima mengabdi kepadanya. Yang ia yakini, majikan pasti orang penting karena hampir tiap hari, yang dibicarakan hanya meeting ke meeting dengan orang-orang penting. Selama di dalam mobil, telepon selalu kerap berdering, lantas percakapannya selalu menyangkut urusan penting.

Pada setiap penantian usainya pertemuan sang majikan, ia lebih banyak diam. Dari obrolan dengan sesama sopir pengantar yang didengarnya, tak pernah bisa memberi petunjuk untuk menguak jatidiri sang majikan. Tapi dari percakapan telepon selama perjalanan, ia menangkap kesan sang majikan adalah sosok yang sering didengar pendapatnya, mulai soal politik, tata negara, dan kadang-kadang obrolan tentang sebuah proyek, walau tak terkait bisnis jual-beli mobil seperti ditekuni majikannya.

Pernah ia mendengar percakapan agar Si A ditempatkan sebagai direktur utama sebuah perusahaan negara, pernah pula ia mendengar ucapannya agar Si C tidak perlu diberi peran kunci di kantornya. Majikannya juga pernah menyuruh agar orang lain lagi ditempatkan dalam struktur jabatan kepartaian, dan banyak lagi, termasuk hal-hal yang berhubungan dengan nama negara dan lembaga, seperti Amerika, Bank Dunia, dan sebagainya.

Yang pasti, ia masih tetap merasa gagal paham tentang sosok sang majikan. Ia pun masih bingung ketika diminta menunjukkan kartu keluarganya melengkapi fotokopi KTP yang diminta saat ia dinyatakan diterima bekerja kepadanya. Ia juga heran ketika tiba-tiba diberi sejumlah uang untuk membuka rekening di sebuah bank. Katanya, gajinya akan dibayar setiap akhir bulan melalui sistem transfer.

Sumanto, lulusan sebuah SMA swasta di Klaten itu, tetap tak mengerti kaitan tiga huruf: p-s-i, seperti yang diucapkan tukang tambal ban dan yang keluar dari mulut majikannya, yang sama-sama dengan intonasi tak mengenakkan hati. Selidik punya selidik, termasuk ketika menanyakan peristiwa mengisi angin ban mobil kepada anaknya yang sudah kuliah, ia hanya diberi tahu, bahwa p-s-i itu satuan tekanan. Pounds-force per square inch.

Ya, akhirnya ia hanya bisa mengira-ira, dengan menempatkan ‘tekanan’ sebagai kata kunci, seperti dijelaskan anaknya, maka p-s-i yang dimaksud majikannya juga berarti sebuah tekanan pula. Nyatanya, seperti biasa didengarnya, sang majikan sering mengucapkan perlunya ada kelompok penekan pada berbagi pembicaraan.

Sumanto, pun selalu ingat kepada MaryoBros setiap menatap majikannya. Intonasi meninggi tukang tambal ban itu ketika menanyakan ‘berapa p-s-i’ ketika mendekat ban depan sebelah kiri mobil, dan jawaban majikan yang terkesan marah saat merespon pertanyaannya tentang p-s-i.

 

 

 

 

 

8 thoughts on “P-S-I

  1. Hehehehe, lucu tenan iki. Ada Maryo Bros yang mungkin potongannya crew cut.
    BTW saya pernah mewawancara seorang sepuh, temannya Pak Koko, tentang PSI. “Partai kader? Iya. Tapi nggak populis kan? Malah lebih terkesan sebagai partai diskusi.” Maklum waktu itu saya masih muda dan naif — sekarang juga masih naif tapi tambah tua. Pak Tua itu nggak terima. :))

    Bertahun kemudian seseorang mengajak saya makan-makan di sebuah hotel, “Biasa, acaranya anak-anak Neo-PSI. Kalau ada yang pulang lulus doktor pasti pesta.” Saya tidak ikut karena tak kenal pengundang teman saya, dan terlebih lagi saya tak paham PSI. 😀

Leave a Reply