Curhat Seorang Buzzer

Hari ini sudah masuk bulan delapan 2014. Lazimnya, sudah sejak Januari lalu ada banyak utusan partai, calon legislator hingga tim sukses kandidat presiden. Minimal, ya konsultan komunikasi atau kehumasan yang menemuiku. Tapi, kenapa tahun ini hanya tiga orang, pun tanpa follow up kesepakatan kerja?

Ini pasti ulah setan-setan blogger yang sok kritis itu. Yang menganggap bahwa konten media sosial harus berguna, memberi manfaat bagi siapa saja. Memangnya semua manusia harus menjadi nabi apa?!?

Kritis, sih silakan saja, tapi jangan korbankan kesenangan dan hak orang lain untuk meningkatkan taraf hidup, dong. Bukankah Millenium Development Goals sengaja diciptakan Perserikatan Bangsa-bangsa karena prihatin dengan kehidupan bangsa-bangsa di underdeveloped dan developing countries ? Blogger ngaku cerdas kok tak paham ECOSOC Rights… Apaan itu?

Coba kalau mereka mau jujur dikit, apa jadinya kalau tak ada pemikir strategi komunikasi dan periset pasar. Bagaimana mungkin ada orang mau melakukan investasi jutaan hingga milyaran dollar di Indonesia kalau tak ada harapan duitnya akan kembali dan memberi lebihan? Soal cepat atau lambat, itu perkara lain. Tapi bahwa orang asing dan orang Indonesia mau membangun pabrik di sini juga karena didorong ingin meningkatkan taraf hidup bangsa, karena setiap usaha selalu butuh tenaga kerja.

Saya heran, setiap orang mau melakukan usaha selalu disangkutkan dengan ideologi Weberian. Seolah-olah, hidup hanya untuk menghitung jumlah konsumen, calon konsumen, dan orang-orang yang bisa diperdaya. Saya tak pernah berpikir demikian. Kalau saya mengajak satu-dua teman saya membeli sesuatu, lantas di mana letak salahnya? Apalagi, jika yang saya ceritakan adalah sesuatu yang sejatinya berguna buat mereka pula?

Seperti seorang politisi yang saya bantu pada Pemilu periode lalu. Saya tak melihat salahnya. Bahwa partainya busuk di masa lalu, toh sudah ada janji dan komitmen orang-orang partai itu untuk memperbaiki dan berbenah diri. Lagi pula, jika orang itu datang kepada saya dan mengutarakan niatnya untuk turut memperbaiki partai dan meluruskan agar kembali berpihak kepada rakyat, bukankah itu klop dengan semangat saya untuk memperbaiki masa depan negeri ini.

Wajarlah kalau si politisi memberikan tanda terima kasih kepada saya, karena dia juga melihat saya juga memeras keringat pergi ke sana-sini mencari referensi. Buku banyak saya beli, lalu saya luangkan waktu untuk membacanya, sehingga saya bisa memberi solusi yang tepat untuk kepentingan bangsa dan niat baiknya menyejahterakan sebanyak mungkin orang Indonesia.

Saya heran, orang masih menyalahkan orang yang saya bantu kampanyenya lewat dunia maya, lima tahun silam itu. Di DPR, ia berlaku baik dan vokal menyuarakan kepentingan kaum marjinal. Tapi, orang masih menyerangnya sebagai pencitraan hanya karena setiap kunjungannya ke sawah masih pakai jas dan dasi (padahal, dulu sudah saya sarankan agar berpakaian sederhana setiap masuk desa atau perkampungan miskin, lho).

Sungguh menyebalkan para pengguna media sosial sekarang. Mentang-mentang aktivis, lantas mengajak semua pengguna media online agar berpikir kritis, memusuhi profesi dan keahlian kami. Apa salah saya terhadap mereka? Atau, jangan-jangan mereka iri karena hidupnya pas-pasan, tak pernah bisa menjauhkan statusnya dari batasan berpendapatan dua dollar per hari menurut standar kesejahteraan Bank Dunia?

Dulu, cuma bercerita di Twitter, Facebook dan blog tentang es krim cokelat saja dicibir, selalu disindir. Begitu pula ketika saya mengajak membangkitkan semangat nasionalisme, pun dituduh sebagai click activism. Serba salah, saya… Mau begini di-bully, bertindak begitu dianggap menipu.

Apakah mereka tak pernah berpikir, walau cuma soal es krim, itu juga soal penting. Selain unsur cokelatnya baik untuk kesehatan, kandungan gizinya pun ada. Jadi, itu bukan soal gaya-gayaan atau demi sebuah pencitraan kenaikan status sosial seseorang yang mengonsumsinya. Es krin cokelat itu diproduksi perusahaan multinasional. Dan sebuah MNC bisa menjadi indikator kesuksesan sebuah negara.

Jika produsen es krim itu sampai menghentikan sebagian atau malah seluruh usahanya di sini, bukankah itu bisa dipahami para pelaku usaha tingkat dunia, bahwa Indonesia tak ramah terhadap dunia usaha, terhadap sebuah investasi? Tak terpikirkankah oleh mereka, bahwa jumlah pengangguran bisa meningkat jika tak ada investasi?

Coba kalau sampai dunia tahu, bahwa musabab rusak illim investasi itu disebabkan oleh.ulah blogger nyinyir. Siapa yang rugi, coba?

17 thoughts on “Curhat Seorang Buzzer

Leave a Reply