Caplokan Malaysia

Saya masih belum paham ketika lihat berita ratusan anggota Forum Betawi Rempug bentrok dengan polisi di halaman Kedutaan Malaysia di Jakarta. Sama tak pahamnya ketika sekilas mendengar siaran televisi bahwa TNI AU menggelar latihan, yang konon untuk jaga-jaga di perbatasan Kalimantan Barat. Memangnya, Malaysia sesalah apa?

Kadang saya berpikir agak konyol. Andai warga sekitar perbatasan merasa nyaman menjadi warga Malaysia, kira-kira siapa yang harus disalahkan? Jika selama ini, memiliki KTP Indonesia, namun tak pernah mendapat perlakuan selayaknya warga negara?

Seorang teman aktivis yang kerap keluar-masuk Kalimantan pernah cerita. Bahkan, sejak lima tahun silam, is tak merasa ada perubahan do sana. Kebutuhan pokok hingga semen produk Malaysia, misalnya, bisa mereka peroleh dengan setengah harga dari Indonesia. Maka, orang Indonesia lebih memilih belanja aneka keperluan di perbatasan.

Hak dan kewajiban yang timpang, antara negara dengan warganya bisa berakibat apa saja. Jangan dulu bicara nasionalisme, apalagi mempertanyakannya. Ketika negara absen, pemerintahnya tak memberi perhatian kepada rakyatnya sendiri, apa yang bisa diperbuat?

Jangankan terhadap warga perbatasan, di ‘pedalaman’ yang dekat dengan pemerintahan saja masih banyak yang terabaikan. Kemauan baik pemerintah, para penyelenggara negara itu, selalu hadir secara samar-samar, antara ada dan tiada. Berapa banyak penduduk miskin sulit mengakses jaminan kesehatan dan pendidikan, selalu ditutup-tutupi dengan citra baik dengan dukungan statistik sebagai pembenar.

Mungkin, bagi pejabat di Jakarta tak merasa kehilangan, meski lahan yang diduga dicaplok di Camar Bukan itu mencapai 1.400 hektar. Karena secara statistik persentasenya kecil, toh tak mengurangi luas wilayah negara secara signifikan. Angka itu, pun cuma setara dengan kepemilikan hak pengusahaan hutan (HPH) pengusaha kelas start up lokal.

Kadang-kadang, saya tergelitik untuk mereka-reka gosip. Jangan-jangan itu cuma sandiwara untuk mengalihkan isu sensitif bbagi sekelompok elit politik, atau sekadar warming up menjelang KTT ASEAN di Bali, bulan depan.

Andai benar demikian, kira-kira apa yang bisa dilakukan pemerintah, entah itu presiden, TNI sebagai penjaga kedaulatan wilayah, DPR, Kementrian Luar Negeri, atau para Blogger ASEAN?

Andai perangnya cuma antara Blogger Indonesia dan Malaysia, paling cuma lewat linimasa Twitter, atau penggalangan dukungan lewat Facebook. Agak ragu kalau banyak yang mengangkatnya lewat postingan di blog. Blogger kita, kayaknya masih perlu banyak belajar. Setidaknya, mengenai wawasan ketahanan nasional, juga strategi diplomasi sipil.

9 thoughts on “Caplokan Malaysia

  1. Saya tidak menyalahkan warga sekitar perbatasan yang memilih ikut Malaysia karena keseharian mereka lebih dekat dengan Malaysia. Yang saya salahkan adalah pemerintah yang entah mengerjakan apa. Pembangunan macam adanya hanya di Jawa. Kawasan perbatasan seperti dibiarkan tak terbangun. Hal ini berbeda dengan Malaysia yang memperhatikan kawasan sekitar perbatasan. Buktinya, penduduk Malaysia di sekitar perbatasan mudah mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan dan banyak penduduk Indonesia yang seperti cerita di atas justru mendapatkan hampir seluruh pemenuh kebutuhan dari Malaysia.
    .-= kombor´s last blog ..Cyrcle alias Serkel =-.

  2. Salam. Saya sebagai warga Malaysia juga tidak faham apalah yang sebenarnya berlaku diperbatasan Malaysia/kalimantan. Mungkin tulisan anda banyak benarnya. Saya yang akan bertandang ke solo sekeluarga lewat Mei 2012 merasa sedikit bimbang!

  3. DV

    Perang yang sesungguhnya tak terjadi lewat lini masa dan tak terjadi di perbatasan dalam artian perang fisik. Perang yang sesungguhnya terjadi setiap hari, setiap saat dalam hati penduduk Indonesia di perbatasan.
    Perang batin tepatnya… karena di satu sisi kecintaan terhadap tanah air adalah mutlak, tapi di sisi lain, ‘rumput tetangga’ meski sebenarnya tak hijau-hijau amat, tapi karena rumput di pekarangan sendiri tak tumbuh-tumbuh.. apa mau dikata…

    Harusnya Yudhoyono dan stafnya berkonsentrasi pada yang beginian…. dengan catatan kalau itu semua tak melambung karena pengalihan isu lho ya 🙂
    .-= DV´s last blog ..Hal kekhawatiran, belajar dari surat-menyurat =-.

  4. Ya begitulah…
    Sepertinya sudah jamak orang-orang dispeutar kita yang memposisikan nasionalisme sedikit sempit. Ketika kita mempertanyakan apa sebab orang diperbatasan lebih memilih menggeser patok, seolah-olah itu adalah kehendak warga Malay, kita sendiri kurang bisa berkaca pada diri, sudah sejauh mana negeri kita ini memberikan kemerdekaan bagi mereka yang ada diperbatasan itu…? Mau nggak berkompetisi merebut hati anak negeri sendiri…? Atau hanya mau sebatas memperbesar sikap memusuhi…?

    Hal ini senada dnegan saat kita memikirkan “lonthe”, banyak dari kita (mungkin termasuk saya) berpikir instant bahwa lonthe itu nista, wanita jalang, perempuan haram. Akan tetapi kita selalu alpha (atau bahkan sengaja melupakan) sebab mereka berprofesi sebagai lonthe itu..?

    Nah apakah akan sesempit itu nasionalisme ini harus dipandang..?
    Silahkan…

Leave a Reply