Jamaah Butuh Pemimpin

Alkisah, di sebuah desa akan dibangun sebuah rumah ibadah baru, menambah sebuah yang sudah ada sejak dulu kala. Rumah ibadah baru itu, nantinya diperuntukkan bagi jamaah dari luar desa, yang kabarnya sudah tak tertampung di rumah ibadah sebelumnya. Padahal, sejatinya jumlah bakal ‘pengguna’ yang ada di desa hanya sekeluarga, yang jumlah jiwanya tak lebih dari jari tangan.

Secara statistik, nama agamanya sama dengan kebanyakan dari warga desa. Alirannya saja yang beda. Dulu, semasa Orde Baru, organisasinya termasuk kategori subversif. Tapi belakangan, menjelang runtuhnya Orde Baru, organisasi aliran itu berafiliasi dengan organisasi politik yang dulu ogah disebut partai. Anggota jamaahnya solid, satu suara tergantung sikap pemimpinnya. Sepertinya, karena itulah aliran itu dipiara.

Di kota-kota, pun banyak aliran agama, yang secara praktik keberagamaannya jauh menyimpang dari hakekat ajaran agama. Bajak-membajak jamaah menjadi peristiwa ‘biasa’ walau sejatinya membuat cemas banyak tokoh dari berbagai agama. Kerukunan dan kebersamaan yang menjadi ciri adat ketimuran, pelan-pelan terkikis budaya baru yang materialis.

***

Sebelum membahas lebih jauh, saya ingin membuat penegasan di sini. Saya menggunakan kata jamaah karena ingin kata serapan dari bahasa Arab itu berada pada kodratnya yang netral, tidak merujuk pada agama tertentu. Saya sudah bosan dengan stereotiping yang dibangun Orde Baru, yang seolah-olah kata jamaah hanya untuk orang Islam, kepada Kristiani disebut jemaat atau umat, begitu pula penyebutan bagi pemeluk Hindu, Budha dan Konghucu dengan istilah umat.

Saya tak mau terjebak pada pengkotak-kotakan semacam itu. Ini bukan sok Pancasilais atau malah dicap sebagai liberalis. Saya hanya ingin melontarkan bahan renungan bersama, demi Indonesia yang memang sudah majemuk sejak dari nenek moyang kita semua, dulu.

***

Pada contoh aliran yang pertama saya sebut di atas, para pengikut terikat ketentuan ‘wajib setor’ kepada pemimpin spiritualnya. Saya baru tahu ketika orang dekat saya, karena dipersepsikan dan diyakini memiliki pengaruh, pernah beberapa kali didekati untuk bergabung di jamaah itu. Kata sing pembujuk, jika orang dekat saya itu mau, maka ia hanya dikenai semacam pajak 2,5 persen dari pendapatan per bulannya. Untuk orang kebanyakan, katanya sampai 15 persen.

Kata si pembujuk, dengan pajak yang disetorkan itu, maka tanggung jawabnya kepada Tuhan sudah diwakili oleh si pemimpin spiritual itu. Kepatuhan dan kepasrahan kepada sang imam (dan pajak) itulah yang bakal mengantarnya ke jalan surga. Sesederhana itu.

Maka, jika sang pimpinan bisa hidup berkecukupan secara material, jamaah tak boleh iri, sebab iri itu sikap dan perbuatan yang dibenci Tuhan. Soal sang pimpinan tak memiliki sensitivitas sosial tak usah disoal. Sebab memang begitulah, ‘kepanjangan’ Tuhan pantas mendapatkan semuanya, sebab ia ‘menjaminkan’ dirinya atas dosa-dosa yang dimiliki jamaahnya.

Jika sang pimpinan ke mana-mana naik mobil mewah dengan penampilan wah, ya memang harus dianggap lumrah. Pengikut hanya diwajibkan pasrah, berserah. Dari sanalah, kelak mereka akan beroleh surgaNya, sebuah janji masa depan yang serba cerah.

Di kota, aliran-aliran agama pun tumbuh bak kecambah di tanah basah. Ukuran keberhasilan menggunakan jumlah jamaah. Semua pengikut juga dijanjikan surga jika percaya kepada pemimpinnya. Berkah ditentukan dengan besaran jumlah sedekah jamaah, yang sebagiannya akan diputar kembali untuk merekrut tambahan jamaah. Caranya, bisa jadi memang tidak lumrah, seperti dibelanjakan beras dan keperluan sehari-hari sebagai iming-iming yang membuat cerah wajah kaum miskin.

Fasilitas pendukung agar jamaah nyaman beribadah pun dibuat kelewat mewah. Rumah ibadah boleh secukupnya saja, tapi area parkir harus cukup untuk menampung kendaraan jamaah. Para agamawan model demikian tak pernah merasa risih, atau mencemaskan bahwa pencaplokan lahan untuk area parkir bisa menyinggung rasa keadilan kaum miskin, yang bahkan untuk berteduh sekeluarga pun tak memenuhi kelayakan dari segi apapun.

Perang antaraliran agama seperti keniscayaan yang harus disikapi sebagi hal wajar. Mereka seperti lupa, apa yang ada di dunia, sejatinya hanya sarana menuju surga. Laku menjadi penting, seperti halnya sikap yang harus teguh diyakini selama itu memberi maslahat dan manfaat kepada sebanyak mungkin orang dan semua ciptaan Tuhan yang ada di bumi.

Seorang miskin sekalipun tak boleh luput dari perhatian, kasih sayang sesamanya. Seperti kata seorang rohaniwan yang juga filsuf, yang memberi contoh sederhana namun sangat mudah dicerna akal sehat. “Jika sebuah riset menyatakan 90 persen penonton televisi menyukai tayangan infotainment, bukan berarti semua tayangan televisi harus berupa infotainment atau meniadakan format tayangan yang lain”.

Kearifan beragama tak boleh dibiarkan kian menjauh dari sanubari dan setiap tarikan nafas seluruh bangsa ini. Bahwa dalam soal peribadahan masing-masing agama tak mudah didialogkan, namun praktik bermasyarakat haruslah terus dibangun. Tenggang rasa, solidaritas, yang sejatinya menjadi sifat bawaan setiap makhluk sosial harus terus diretas dan disemaikan, oleh siapa saja dan di mana saja.

Rasa paling benar merupakan ciri kepicikan yang harus segera ditanggalkan. Agar tak ada lagi satu pihak pun yang sejatinya sedang bereksperimen politik, lantas menjadikan umat manusia, dari jamaah manapun, untuk diadu domba, dibenturkan antara satu dengan yang lain. Hanya kearifan pimpinan agamalah yang bisa mewujudkan itu.

Tak hanya dalam berpolitik kita butuh pemimpin, pada agama pun kita memerlukan pemimpin sebagai panutan. Pimpinan, jelas beda dengan pemimpin. Sebab pemimpin merupakan predikat terhormat, sebab pada sosoknya melekat beraneka bentuk kearifan untuk membangun sebuah peradaban yang sejati, yang membuat semua makhluk ciptaanNya damai dan bahagia.

Karena itu, pemimpinlah yang sejatinya kini dibutuhkan jamaah. Tak terbatas pada jamaah agama-agama, tapi jauh lebih dari itu jamaah Indonesia dan jamaah sedunia.

9 thoughts on “Jamaah Butuh Pemimpin

  1. lalu bukti / kuitansi setoran yang bulanan itu ikut dikuburkan di liang lahatnya kelak jika sang anggota jamaah itu mati, sebagai satu-satunya bukti fisik bahwa dia sudah membayar kreditan kapling surga.. 😛

  2. Tulisan yang menarik.
    Tapi ada yang sepertinya mengganjal dalam tulisan di atas yaitu tentang pembayaran pajak, untuk masuk surga.
    Hehehe…. menurut saya itu bukan pajak, karena ada nominalnya yaitu 2,5%-15%.
    Mungkin kalau menurut agama yang Q yakini, itu merupakan sedekah untuk harta yang dimiliki masing2 orang.
    Dan mungkin juga mereka beranggapan bahwa dengan kita bersedekah, maka kita dapat masuk surga, bisa dikatakan pajak untuk masuk surga.
    .-= asti´s last blog ..Ayam Bumbu Andaliman =-.

  3. DV

    Tulisan yang menarik, seperti biasanya….
    Aku berpikir seorang pimpinan sekarang ini tak perlu memiliki sifat kepemimpinan.. memprihatinkan…
    Harusnya pakem kepemimpinan itu yang perlu dipertahankan meskipun seseorang tak harus memimpin orang lain.
    .-= DV´s last blog ..Y! =-.

Leave a Reply