Kerumunan Onliner

Bulan Oktober ini, saya yakin akan terjadi kegaduhan setelah dalam setahun ini, geliat berkerumum kaum onliner terasa riuh. Siapa saja pelakunya, untuk apa dan siapanya, sebaiknya jangan tanya saya. Saya bukan tipe orang yang bisa mengontrol diri agar tidak nyinyir. Tapi, di antara keriuhan itu, saya masih menemukan optimisme. Ternyata, ada yang mau berpikir untuk bertindak demi orang banyak, demi masa depan bangsa.

Ada yang diam-diam memilih membantu pemberdayaan kelompok usaha mikro-kecil. Ada pula yang menemani komunitas-komunitas blogger di ‘desa-desa’ untuk memantapkan peran sebagai juru bicara masyarakat di sekitar mereka tinggal dan berinteraksi sehari-hari.

Mereka-mereka yang saya maksud adalah individu-individu yang meyakini kecanggihan teknologi komunikasi hanyalah alat untuk berekspresi, yang jika digunakan dan disikapi secara benar, akan mampu memberi manfaat ekonomi bagi sebagian kecil hingga banyak orang. Selain itu, juga mampu mendorong percepatan perubahan sosial, penguatan kultur, dan peningkatan partisipasi publik sebagai upaya mewarnai penyusunan kebijakan.

Seperti apa hasilnya, memang tak bisa dilihat secara statistik, sebab perubahan yang terjadi bukan seperti membalik keadaan dalam semalam. Tapi komitmen dan konsistensi beberapa individu di sana, layak diapresiasi.

Tentu saja, tak bisa dibandingkan dengan banyak individu lain, yang menikmati keuntungan finansial dan manfaat sosial karena sikap dan pilihan hidup mereka: memandang orang lain sebagai pasar. Kebutuhan tersier banyak orang dikapitalisasi secara serampangan, dengan logika pasar, lantas dibuatkan ‘solusi seolah-olah’ sehingga menjadi ‘kebutuhan primer’, atas nama adaptasi peradaban.

Fenomena twit berbayar adalah salah satu contoh nyatanya. Orang yang dulunya rajin menulis di blog, atau bikin catatan di Facebook, kini mulai pada malas meng-update. Mungkin, mereka merasa raganya kian menua, sehingga dengan maksimal mengombinasikan huruf, angka dan tanda pada 140 karakter harus berbuah seketika. Ekonomis, efisien…

Tak apalah, itu soal pilihan. Penyebutan hal demikian sebagai pragmatisme bisa-bisa justru akan berbuah olok-olok, iri karena tak mendapat rejeki. Ya, re-je-ki… Di desa, ia bisa jadi nama perempuan. Bisa cantik, atau biasa saja. Tapi bagi sebagian ‘orang kota’, rejeki bisa berwujud mobil, gadget terbaru, atau simbol-simbol kecanggihan dan modernitas lainnya.

Tapi, satu yang paling menyedihkan bagi saya, justru sikap pengemban mandat negara. Mereka sering bikin kerumunan di mana-mana, tapi sia-sia saja hasilnya. Yang dikumpulkan dan diakrabi adalah kelompok pemburu proyek sarana dan prasarana teknologi informasi dan komunikasi, bukan pengguna teknologi.

Menurut saya, kelompok ini cukup jadi mitra ad hoc, yang cukup sekali bekerja untuk jangka waktu tertentu, dengan sistem kontrak. Sebut saja kontrak penyediaan jaringan Internet di perkotaan atau pedalaman. Jika jaringan sudah terpasang, lalu pemanfaatannya akan seperti apa, oleh siapa? Untuk siapa-nya, sih sudah pasti tak memerlukan penjelasan.

Saya ingin mengajukan pernyataan sederhana. Jika di sebuah wilayah, karena kondisi geografisnya membuat masyarakatnya sulit berkembang karena asumsi terhadap potensi yang keliru, apa yang bisa dijembatani oleh hadirnya teknologi? Tentu, keadaan menjadi kian runyam jika tenyata, aparatur penyelenggara negara di wilayah tersebut gagal paham terhadap potensi manfaat yang menyertai sebuah teknologi, apapun namanya.

Kalau sudah begini, apa yang harus dilakukan? Ngetwit, kultwit, atau……….? Sekadar berkerumun?

 

 

 

 

3 thoughts on “Kerumunan Onliner

Leave a Reply