K800Fotografia, Sebuah e-Book

Menyimak slideshow foto-foto karya Dony Alfan memang menyenangkan. Hasil fotonya bagus-bagus, jeli mengeksplorasi obyek bidik, sanggup menampilkan detil. Pada koleksi foto yang dibuatnya dengan menggunakan telepon seluler SonyEricsson K800, kita disodori rekaman-rekaman mengagumkan. Padahal, ia tak melakukan prooses digital imaging yang manipulatif.

Dony minum #blontea

Dony, sejauh yang saya kenali adalah sosok fotografer profesional, dalam pengertian, ia menekuni profesi (sementaranya) sebagai fotografer wedding (dan prewedding, tentunya). Tapi, sebagai fotografer, ia menyukai food photography. Selain menggunakan DSLR Nikon, ia juga merekamnya dengan menggunakan ponsel jadul miliknya.

Kesukaannya pada desain mengantarnya kepada keisengan yang berguna. Ia memilih sejumlah fotonya, lantas dibuat menjadi e-book yang disebarkannya secara gratisan. Dan, slideshow menjadi pilihan caranya mengumumkan kepada publik, di sekretariat blogger Bengawan, Minggu (2/10) malam.

Memotret dengan menggunakan ponsel, kata Dony, “merupakan jalan keluar mengatasi kebosanan memotret dengan kamera DSLR.”

Saya sepakat dengan pernyataan itu. Sebagai penggemar fotografi yang juga pernah membuat foto-foto berita, saya sering direpotkan dengan perubahan sikap, bahasa tubuh atau ekspresi seseorang, ketika menghadapi ‘kamera serius’ sejenis DSLR, apalagi jika disertai lensa dan flash yang kian mengesankan ‘keseriusan’.  Saya kerap kehilangan momentum yang natural gara-gara peralatan serius.

Cara pemotretan candid, misalnya, tak mudah dilakukan ketika menggunakan lensa sudut lebar. Kedekatan fisik (jarak) fotografer dengan sasaran bidik, seringkali menyulitkan proses merekam ekspresi dan mimik yang natural, kecuali pada situasi crowded atau chaos. Bahwa seorang fotografer memiliki kiat-kiat tertentu untuk menyiasatinya, tetaplah tidak mudah untuk mendapatkan ekspresi natural pada saat ingin menggunakan pendekatan portraiture photography.

Perhatikan foto lansekap Vesak Day at Borobudur yang menyodorkan detil sempurna. Angle-nya biasa saja, tapi hasilnya sudah berbicara. Amfibi Gendong Amfibi pun demikian pula adanya. Detilnya sempurna, meski kita harus memaklumi kemampuan optik lensa kamera ponselnya.

Potret menawan dan ‘told too much’ terasa betul pada Kenapa Murung, Bro?. Close up wajah seekor anjing, lengkap dengan ekspresinya, bisa menggambarkan ‘kedekatan’ Dony dengan anjing, sebuah kata yang belakangan menjadi diksi favorit untuk mengusir kegalauannya. :p

Sebagai fotografer, Dony bisa dikatakan sangat mampu mengenali kemampuan sebuah kamera, entah itu DSLR, kamera saku maupun kamera ponsel. Karena kemampuannya itu pula, ia jadi lebih mudah mengoptimalkan perlakuannya terhadap alat rekamnya. Perhatikan Bunga-bunga Liar yang direkamnya di halaman sekretariat Bengawan. Atau, Obral Celana Dalam yang mengisyaratkan keinginan kuatnya bisa segera melihat apa yang ada di balik celana dalam, secara sah dan halal….. Dony memang jagoan dalam perkara intip-mengintip, bahkan ketika ia menyambangi pasar dan menjumpai obralan.

Amati sendiri benar-tidaknya celotehan saya menilai foto-foto karya Dony. Silakan mengunduhnya dari sini, lantas komentari sesuka hati. Asal tulus dan jujur, maka Anda akan beroleh pahala. Percayalah……

Sebagai temannya, saya bangga atas karya-karyanya. Juga iri, karena saya tak kunjung mampu berbuat seperti Dony.

 

 

5 thoughts on “K800Fotografia, Sebuah e-Book

  1. Hampir nggak bisa berkata-kata lagi baca posting dari njenengan. Sedikit lebay, tapi saya menerimanya dengan lapang dada, haha.

    “Juga iri, karena
    saya tak kunjung mampu berbuat seperti Dony” bagian ini jelas ngapusi dan merendah. Beberapa kali menggelar pameran foto kelas kampiun di dalam luar negeri masih belum cukup? Sebuah ebook kelas hore tentu nggak ada artinya dibanding itu semua.

    Suwun pak Bhe, saya berhutang banyak sama njenengan.

Leave a Reply