Bom Solo Siapa Punya (2)

(Sambungan tulisan Bom Solo Siapa Punya)

Selama 24 tahun tinggal di Solo, belum pernah saya mendengar cerita, atau menemukan konflik antarumat beragama, apalagi dilakukan oleh orang Solo. Bahkan sampai kejadian aksi bom bunuh diri berlangsung di GBIS Kepunton, Minggu (25/9) lalu, saya tak melihat korelasinya dengan orang Solo. Pelakunya bahkan orang dari luar Solo, dan saya yakin si pelaku tidak pernah berhubungan, apalagi berkonflik dengan jemaat yang hendak dibunuhnya secara massal.

Kerusuhan yang berbau rasial sekalipun, masih saya yakini terkait dengan faktor di luarnya, entah itu ekonomi maupun politik. Sejak kemerdekaan hingga kini, selalu ada motif lain yang menunggangi fakta sosial, seperti perbedaan keyakinan atau ras. Kerusuhan paling parah pada pertengahan Mei 1998 adalah contoh nyata, bahwa kesenjangan ekonomi masyarakat ‘dikelola’ untuk menyulut bara permusuhan.

Mungkin orang luar Solo perlu tahu: meski tak banyak, namun terus bertambah orang-orang yang sebelumnya radikal, suka ribut dan melakukan razia tempat-tempat hiburan, kini lebih tenang karena bekerja dengan tenang. Ada sejumlah orang yang menampung mereka kerja, dan mengembalikan harkat kemanusiaan mereka. Alhasil, hampir semuanya tak ada yang kembali ke jalan sesat, bikin onar membuat kerugian.

Mereka memang orang Solo, yang sebelumnya hanya ikut-ikutan aksi gagah-gagahan dengan mengintimidasi orang lain dengan dalih macam-macam, lantas menggunakan jubah agama, secara beramai-ramai, demi menciptakan ketakutan. Asal tahu saja, mereka juga manusia-manusia yang masih takut mati.

Pernah ada kejadian, orang beramai-ramai dengan menyebut diri laskar, mengancam sebuah tempat hiburan malam segera bubar. Sang pemilik tempat hiburan, yang memang bermental jagoan pun menantang pedang-pedangan, satu lawan satu, namun berakhir dengan surutnya nyali pemimpin laskar, yang kemudian menghindar dengan kalimat semua terjadi karena salah paham.

 Kalau urusan politik dan sosial, wong Solo boleh dibilang sangat melek. Kunjungi tempat-tempat wedangan, lantas dengarkan pembicaraan para pengunjung. Situasi ekonomi, sosial dan politik terkini bisa Anda simak lewat perbincangan antarmereka. Kritisnya analisis, kemarahan dan kemuakan mereka terhadap situasi ekonomi/politik bisa dirasakan kedalamannya. Tapi, untuk mengekspresikan ‘kekesalannya’, mereka memiliki cara yang berbeda-beda.

Simak saja aksi-aksi demonstrasi (untuk perkara apa saja) yang diorganisir siapa saja. Pesertanya bisa dibilang cuma itu-itu saja. Sulit melibatkan partisipsi warga di luar klik atau kelompok mereka dalam sebuah unjuk rasa. Menurut saya, ini poin penting yang sering luput dari perhatian banyak orang. Kalaupun sampai muncul adanya unjuk rasa massif, kemungkinan besar itu dilakukan oleh para buruh sepabrik atau gabungan dari beberapa pabrik, yang memiliki persoalan sama: aspek ekonomi dan kemanusiaan yang terabaikan.

Ketika ada pendeta yang saat siaran di sebuah radio dianggap mendiskreditkan Islam, misalnya, hanya direspon dengan aksi unjuk rasa massa Islam, hingga polisi pun ‘ketakutan’ lantas menyita peralatan siaran. Saya, ketika itu, nyaris sendirian ‘mengadvokasi’ lewat laporan pemberitaan hingga peralatan siaran dikembalikan. Tak ada konflik yang mengikuti, lantaran Pak Pendeta dibawa ke meja persidangan.

Ketika rusuh 1998, sangat banyak keluarga peranakan yang dijadikan sasaran kemarahan warga, ditampung di pondok-pondok pesantren demi alasan kemanusiaan. Tak ada sekat ras dan agama yang membatasi kebersamaan. Banyak kaum peranakan Cina yang tinggal di perkampungan (kebanyakan keluarga sederhana), selamat karena dilindungi tetangga kiri-kanan.

Hingga kini, tak ada seorang pun provokator yang diadili atas peristiwa itu lantaran tak ada yang tertangkap (tepatnya, ditangkap). Siapa mereka? Yang jelas, bukan bagian dari warga Solo. Kesenjangan ekonomilah yang menjadi jerami kering rusuh saat itu. Bara dan pemantik apinya, entah diperankan oleh siapa.

Tapi uniknya, sejak kerusuhan itu, kebersamaan justru tumbuh menggembirakan. Saling pengertian antarras dan pemeluk agama justru bangkit, setelah arang terdapat di mana-mana, sama-sama disaksikan semua warga kota, dan menyadarkan betapa provokatornya berwujud siluman: bisa dirasakan kelebat hadirnya, namun tak bisa dikenali rupa dan tujuannya.

Saya melihat masih adanya kesamaan nilai yang dipegang teguh oleh segenap warga kota. Semua ingin damai dan tentram, sehingga setiap ada potensi konflik, orang cenderung ingin membicarakan solusinya. Cukup banyak tokoh-tokoh informal yang tak bisa dikenali perannya lewat berita media massa, yang selama ini turut berperan membuat Solo selalu adem ayem.

Pernah saya ‘dipaksa’ menjadi ketua sebuah forum yang anggotanya terdiri tokoh-tokoh agama dan  etnis, walau kemudian memilih mundur karena merasa tak cakap dan tak kompeten di posisi sangat terhormat itu. Saya memilih menjadi orang biasa, sebab masih terlalu banyak yang harus saya pelajari dari para sesepuh di sana.

Dari sana saya tahu, semua anggota forum memiliki kesimpulan yang kurang lebih sama, bahwa saluran ekspresi yang tersumbat, akses ekonomi yang tidak merata, minimnya ruang publik, dan terbatasnya pilihan ekspresi budaya, telah membuat warga Solo kehilangan medium katarsis. Maka, tekanan sosial-ekonomi yang kian membebani bisa termanifestasikan dalam tindakan kriminal dan aksi-aksi kekerasan.

Bom bunuh diri di GBIS Kepunton, terbukti tak mengoyak harmoni yang sudah terbangun sejak berabad-abad silam. Beberapa kali pancingan dilancarkan lewat berbagai dalih, seperti ijin pendirian/penggunaan rumah peribadatan, penyediaan menu buka puasa oleh umat beragama lain, toh terbukti tak berakhir dengan rusuh. Wong Solo malu berbuat onar, apalagi di kampung halamannya sendiri. Membuat kerugian bagi orang lain adalah pantangan.

Silakan dibuktikan, berapa orang Solo yang terlibat dalam aksi intimidasi dengan dalih memberantas kemaksiatan. Saya yakin, sebagian besar datang dari luar Kota Solo. Kalaupun ada yang harus disesalkan, menurut saya hanya satu: polisi yang tak pernah tegas menghadapi mereka, meski undang-undang melindungi tugas mereka. Semua perkara yang melibatkan pihak yang mengatasnamakan ‘laskar agama’ tak pernah dituntaskan dengan sanksi pidana, meski onar telah diciptakan oleh mereka, sehingga tak ada efek jera.

Ini adalah renungan bersama, demi kemaslahatan siapa saja, dan tak terbatas bagi warga Kota Solo saja.

5 thoughts on “Bom Solo Siapa Punya (2)

Leave a Reply