Ketika Perantau Pulkam

Selamat Datang Perantauku di Kampung Tercinta

Begitu bunyi pesan mencolok pada baliho besar di tikungan jalan aspal yang mulus di sebuah desa di Kecamatan Bayat, Klaten. Di baliho itu juga terpampang tujuh foto yang bertutur tentang kesuksesan sebagian warganya di perantauan. Asal tahu saja, mayoritas perantau itu pekerja sektor informal, seperti pedagang angkringan/wedangan, penjual es keliling dan sebangsanya.

Baliho ucapan selamat datang di kampung halaman untuk para perantau

Bayat adalah wilayah kecamatan di Tenggara, Kabupaten Klaten. Terletak di kaki pegunungan kapur selatan, Bayat termasuk daerah kering, nyaris tandus. Mungkin karena kondisi alamnya, kebanyakan warganya hidup di perantauan. Mereka merantau ke seluruh pelosok tanah air, dari Aceh hingga Papua. Etos kerjanya tinggi, ulet tiada tertandingi.

Dulu, pada awal 1980-an, terkenal ungkapan, walau banyak rumah berdinding bambu, di dalamnya hampir pasti ada sepeda motor dan televisi berwarna. Remajanya berpendidikan, walau orangtua mereka ‘menderita’ di perantauan. Ya, kata menderita bertanda khusus, hanya sebutan semata, karena mereka rela hidup sederhana, namun gemar menabung hingga kaya harta.

Angkringan (istilah populer di Yogyakarta) atau wedangan (Solo) sudah menjadi brand perantau dari Bayat. Kita tahu, angkringan merupakan tempat nongkrong dan minum aneka minuman (terutama) panas dengan penganan khas seperti tahu dan tempe goreng/bacem, juadah, pisang goreng, dll serta nasi bungkus, yang kini populer dengan sebutan sega (nasi) kucing.

Patung Semar, penghias gapura kampung...

Meski kakilima, omzet wedangan/angkringan rata-rata di atas Rp 1 juta setiap malam. Untuk tebasan (borongan) saja, rata-rata Rp 1,3 juta per gerobak, komplit seisinya. Maka tak mengherankan jika Marjuki, seorang penjaja angkringan, bisa punya toko kelontong di kampung. Tentu, di Bayat banyak Marjuki-Marjuki lain, sehingga keberadaan perantau begitu terhormat, hingga dibuatkan baliho sambutan kepulangan mereka.

Asal tahu saja, pada Rabu (31/8) sore kemarin, saya menjumpai kemacetan luar biasa di jalan-jalan di Bayat dari arah Klaten dan Gunung Kidul. Memasuki tengah perkampungan, banyak dijumpai satu hingga tiga mobil diparkir di halaman dengan nomo polisi yang menunjukkan asal kota: B, BE, AA, W, L, DK, dan masih banyak lagi.

 

Tentu, bukan berarti mengecilkan eksistensi mereka sebagai perantau. Selain pekerja informal, pasti banyak juga yang menjadi amtenar di kota besar, atau pekerjaan ahli lainnya. Sebagai daerah yang melahirkan orang-orang ulet, banyak lahir orang-orang cerdas berpendidikan tinggi dari Bayat.

Selain mobil sebagai indikator keberhasilan, rumah-rumah permanen berbahan tembok sudah sangat banyak, jauh berbeda ketika dulu, pada awal 1980an saya sesekali jalan-jalan ke sana. Yang paling mencolok adalah jalan-jalan semen di tengah kampung yang merupakan swadaya warganya, juga gapura-gapura bagus mentereng di jalan-jalan masuk desa.

Perkakas dapur terbuat dari tembikar di sentra keramik Desa Pagerjurang

Satu hal yang tak banyak orang tahu, kebanyakan perempuan di sana juga dikenal sebagai pembatik tulis yang mumpuni. Banyak nama-nama besar industri batik di Solo yang ndandakké alias dibuat secara outsourcing di Bayat. Beberapa saudara saya, dari dulu juga sering datang ke kampung-kampung pembatik untuk memesan seragam untuk aneka keperluan, baik untuk digunakan sendiri maupun keperluan teman-teman kerjanya.

Selain itu, di Desa Pagerjurang, tak jauh dari makam Sunan Tembayat atau Ki Ageng Pandanaran II, juga dikenal sentra keramik ternama. Aneka produk ada di sana, seperti celengan, vas dan pot untuk bunga, juga perkakas masak-memasak terbuat dari tembikar. Selain penduduk setempat, pekerja rantaunya pun banyak datang dari beberapa kota di Jawa Barat. Kwalitasnya terbukti tinggi, apalagi setelah masuknya profesor asal Jepang turut membina dan mengembangkan ragam desain dan teknik pembakaran dan sebagainya, yang pada 1990an didampingi almarhum Hendrawan, perupa dan staf pengajar jurusan Senirupa Institut Teknologi Bandung.

Berkunjung ke Bayat, pasti akan lebih lengkap jika berziarah ke makam Sunan Tembayat yang keramat. Bangunan berarsitektur Hindu untuk tokoh penyebar agama Islam di Jawa Tengah bagian Selatan itu termasuk kokoh. Bahkan, tak ada kerusakan berarti walau gempa 2006 meluluhlantakkan bangunan di sekitarnya, termasuk sentra keramik Pagerjurang.

Jika kebetulan Anda sedang mudik, sempatkan melakukan kunjungan wisata ke sana…

 

7 thoughts on “Ketika Perantau Pulkam

  1. yang paling saya rindukan di Solo adalah warung2 makannya, jalan-jalannya yang menyimpan kenangan, dan banyak teman yang masih tinggal di sana. pulang kampung adlh salah satu kenikmatan rohani terbesar bagi saya, mas 😀
    .-= haris´s last blog ..Foto Keluarga =-.

  2. Postingannya bikin ngiler mudik, sayangnya sebagai warga Jakarta asli ngga bisa mudik kemana-mana. Paling hanya bisa sedikit berbahagia melihat Jakarta sepiii banget.

  3. ho’oh…
    aku juga ada temen juragan “hek” dari Bayat yang lumayan sukses nih Pakdhe…
    Angkringan sega kucing pun saat ini tak bisa diremehkan dalam menghasilkan omset meski ada yang memandang sebelah mata dengan recehan…

Leave a Reply