Merindukan Orang Alim

Di aneka jejaring sosial, orang ramai membicarakan tanggal pasti jatuhnya hari lebaran atau 1 Syawal. Kegaduhan pembicaraan yang menurut saya tak perlu, andai semua tahu, bahwa penentuan awal Ramadhan pun sejatinya sudah sama-sama beda. Ada yang menggunakan metode hisab seperti Muhammadiyah, dan rukyat yang diyakini Nahdlatul Ulama. Jangan-jangan ‘cuma’ karena liburan?

Coba kita simak linimasa Twitter atau jejaring sosial lainnya, termasuk media massa, pada menjelang hinagga awal Ramadhan. Mungkin karena hasil hisab dan rukyat kebetulan sama, di mana awal Ramadhan jatuh pada 1 Agustus, sehingga orang tak menyoal.

Kemarin, sejak siang hingga tengah malam, masih banyak orang yang mengecam Kementerian Agama, yang dianggap tak tegas memutus sebuah perkara, ya soal kapan jatuhnya 1 Syawal itu: pada 30 atau 31 Agustus?

Namun, satu hal yang menurut saya merupakan sebuah kekurangan, adalah minimnya informasi memadai mengenai prinsip dasar yang dianut oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, serta organisasi Islam lainnya.

Andai redaksi media massa memiliki referensi memadai tentang prinsip yang dianut dua organisasi keagamaan dengan pengikut sama-sama besar itu, mungkin kebingungan orang tak seperti sekarang. Pemberitaan bisa melahirkan bias, apalagi jika diproduksi oleh orang-orang yang tak memiliki referensi memadai.

Padahal, mempertemukan dua keyakinan berbeda, bukan perkara mudah, apalagi jika masing-masing berpegang pada dalil-dalil yang sama-sama kuat, sahih. Ini yang mestinya dimengerti kalangan pers, mengingat perannya yang strategis dalam penyebaran informasi. Saya yakin, para pekicau, yang kebanyakan (bisa jadi) juga awam seperti saya, mendasarkan kicauannya dari pemberitaan yang kurang referensi tadi.

Media massa, terutama televisi, misalnya sudah memberitakan (secara langsung) jamaah tarekat Naqsabandiyah di Sumatera Barat yang melakukan takbir pada Minggu (28/8) malam, namun tak tuntas, referensi hadis (dan mungkin tafsir) seperti apa yang digunakan para jamaah di sana, sehingga berbeda dengan yang dianut Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Mengapa orang tak banyak meributkan saudara-saudaranya di Sumatera Barat itu, apalagi jika dikaitkan dengan hisab dan rukyat? Sejujurnya, saya kuatir ada bias kepentingan yang bisa jadi juga disengaja, untuk mengacaukan persaudaraan umat muslim di level akar rumput. Anehnya, kaum terdidiknya pun ikut terjebak arus kuat gejala penyeragaman dalam praktek-praktek keagamaan.

Sungguh ironis dan tak masuk akal. Kemarin, orang pada ramai mengecam FPI yang berusaha ‘menyeragamkan’ aturan, di mana warung-warung makan dipaksa tutup di mana-mana, demi ‘menghormati’ orang berpuasa. Mereka terganggu ketika keindahan dan harmoni di tengah aneka perbedaan diusik segelintir orang dengan aksi-aksi pemaksaan kehendak, bahkan tak jarang dengan aksi kekerasan.

Konsistenkah kita dalam menjalankan fitrah perbedaan?

Bagi saya, sepanjang kita bisa dan mau konsisten menerima perbedaan, dan bukan menjadikannya sebagai ‘bekal bermusuhan’, Shalat Ied dua atau tiga kali, pun tak jadi soal. Seingat saya, perbedaan penentuan 1 Syawal antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sudah kerap terjadi. Dulu juga tak pernah seribut kini.

Atau, jangan-jangan karena teknologi komunikasi yang sudah berkembang sedemikian cepat sehingga memungkinkan semua orang mudah berbagi informasi, lantas keriuhan menjadi sedemikian dahsyat? Faktanya, teknologi komunikasi memungkinkan siapa saja menggalang opini. Bahkan, tanpa dimaksudkan sebagai penggalangan opini yang disengaja sekalipun, keriuhan di jejaring sosial akan memunculkan arus utama opini publik.

Repotnya, jika lantas muncul simplifikasi, penyederhanaan masalah, sehingga ketika sebuah opini didukung banyak orang lantas dianggap sebagai kebenaran. Itu yang potensial bikin repot dan persoalan menjadi kian kusut. Padahal, tak semua orang yang berpendapat di jejaring sosial dan alat komunikasi lainnya bisa disebut memilikinreferensi memadai tentang soal ini, antara metodologi hisab dan rukyat, yang sama-sama memilki ‘pendukung’.

Padahal kita tahu, kebenaran tak bisa ditentukan dengan cara musyawarah, apalagi voting. Dan, jika ‘kebenaran’ itu menyangkut sebuah keyakinan, yang mendasarkan pada hal-hal keagamaan, ya pasti kian runyam jika dipaksakan untuk disamakan. Satu-satunya jalan keluar, ya harus mendorong kebebasan kepada setiap orang untuk mengikuti metodologi mana yang diyakini, toh sam-sama bersumber pada referensi keagamaan yang sejatinya sama.

Para ulama-ulama Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang benar-benar alimlah yang harus segera tampil mendinginkan suhu perbedaan yang menghangat. Toh, Gusti Allah Maha Maklum, dan pasti akan menerima setiap amalan tulus umatnya. Gusti Allah sudah jelas tak suka jika umat ciptaanNya saling bermusuhan, lantas berbuat kerusakan di dunia.

Jadi, mau lebaran Selasa atau Rabu, silakan saja. Suka-suka, asal yakin. Tuhan hanya memberi batasan, supaya kita meninggalkan sesuatu jika ragu.

Yang pasti, saya merindukan para alim, orang-orang yang lebih mengerti agama untuk membagi ilmunya, setidaknya penjelasan tentang sejarah dan dasar Muhammadiyah meyakini metode hisab, dan Nahdlatul Ulama yang menggunakan rukyat untun menetukan awal Ramadhan dan Syawal. Biarkan publik menentukan pilihannya sendiri. Kalau memiliki referensi memadai, pasti mereka akan mudah mendasarkan pilihan keyakinan.

Toh, perbedaan adalah rahmat yang memang dikaruniakan Gusti Allah untuk manusia, yang ditunjuk sebagai khalifah di alam raya (dan dunia maya).

3 thoughts on “Merindukan Orang Alim

  1. Yups,
    media sangat berperan penting disini, dan anehnya kita ini kadang kok ya sudah terlanjur super-percaya dengan bukti mampu dipengaruhi pemberitaan2 media itu yaaa….
    Padhal tak jarang media juga lebay, tujuannya satu demi ratting tinggi….

    Pakdhe,
    munjuk atur Sugeng Riyadi njihh…
    Ngaturaken panyuwunan samudra pangaksami awit sedaya lepat kawula. Mugi Gusti ngijabahi, Amien…
    .-= maztrie™´s last blog ..Comment on Makna Mudik Lebaran by HARY =-.

  2. Masih banyak dari kita yang belum bisa menerima suatu perbedaan. Padahal negara kita sendiri dibangun karena perbedaan. Perbedaan yang bisa menjadikan kita makin dewasa dan matang..
    Bagaimana tanggapan pakde?

Leave a Reply