Gembira Nonton Film Sepakbola

Nonton film Tendangan dari Langit, sungguh saya trenyuh, terharu. Bukan semata karena penampilan para aktor/aktrisnya yang kuat dan merata, lebih dari itu, pikiran melayang ke mana-mana, terutama pada sistem pembinaan atlet yang tak pernah bagus. Prestasi klub atau personil biasa ditaruh pada urutan entah keberapa setelah kepentingan pemilik klub atau pengurus organisasi pembinaan cabang olahraga terpenuhi.

Pertandingan sepakbola dijadikan ajang taruhan, sudah rahasia umum. Menggadaikan kemenangan pun hampir sama, bisa diterka namun sulit dibuktikan. Pertandingan tarkam alias antarkampung, sekalipun hampir selalu diwarnai taruhan. Ngebon alias membayar pemain unggulan juga sudah lama ada, dilakukan oleh para pembina klub (kampung).

Simak saja bagaimana Hasan (diperankan Agus Kuncoro) membujuk Wahyu (Yosie Kristanto?), pelajar SMU di lereng Gunung Bromo, agar mau pindah untuk memperkuat klub kampung lain dengan aneka iming-iming, demi kemenangan pada sebuah pertandingan antarkampung. Hadiah atau piala yang menjadi prestise dikalahkan oleh tingginya permintaan pasar taruhan.

Dan Wahyu menyerah, ketika seorang bandar menawarkan kuda sebagai hadiah jika ia memenangkan klub barunya. Sebaliknya, jika gagal, maka ia harus menukar lima kali bertanding tanpa bayaran. Wahyu yang sedang ingin mengangkat derajad ayahnya, Darto (Sudjiwo Tedjo), yakin mampu memberi kemenangan. Terbukti kemudian, ia sukses mengangkat derajad sang ayah, dari penjual kopi dan mie instan menjadi penjual jasa penyewaan kuda tunggangan bagi wisatawan di Bromo.

Singkat kisah, karir Wahyu menanjak. Perkenalan tanpa sengajanya dengan pelatih Persema, membawanya bisa main satu klub dengan Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan, idola baru kaum muda dan pecinta sepakbola. Bumbunya, sang pelatih Persema sempat melihat Wahyu berlatih main sepakbola melawan kuda yang ditunggangi sang ayah, yang tak lain adalah bekas pemain bola, yang pada masa mudanya gagal bergabung di Persema pula.

Bangunan konflik yang dibangun melalui cerita karya Fajar Nugroho, itu sungguh mengaduk-aduk emosi penonton. Jujur, hampir di sepanjang film itu, saya menangis dipermainkan bangunan cerita, dengan penyutradaraan memukau Hanung, juga gambar-gambar, yang walau mengeksploitasi eksotika Bromo, namun terasa nyambung, tidak mengada-ada. Musik garapan Tya Subiyakto juga mendukung kerenyahan film ini, sekaligus menuntut pembangunan emosi.

Bahwa jika disimak lebih teliti film ini mempromosikan Persema yang pro-LPI, namun Hanung dan Fajar mampu mencairkan konflik persepakbolaan di tanah air, dengan mengedepankan semangat persatuan, semangat keindonesiaan. Andai promosi film ini digencarkan, saya yakin mampu menggugah semangat anak-anak muda Indonesia untuk lebih mencintai sepakbola, sekaligus memotivasinya untuk berprestasi.

Bagi pengurus PSSI sekalipun, film Tendangan dari Langit bisa dijadikan bahan becermin, sehingga seleksi dan pembinaan atlet-atlet sepakbola bisa dimulai dari level ‘tarkam’. Film ini, juga kian melengkapi tema-tema motivasi kaum muda mencintai Indonesia lewat olahraga prestasi, menyusul King produksi Alenia Pictures yang menuturkan perjalanan atlet bulutangkis level kampung pula.

Film ini juga mengingatkan saya kepada paman saya, seorang pemuda desa yang dikenal piawai mengolah bola, hingga mengantarnya menjadi pegawai Pajak di Semarang pada 1970an. Bersama ayah saya, konon paman saya kerap dibon, atau dibayar untuk membela klub dari berbagai kampung di Klaten. Dulu, ada pedagang minyak dan sembako yang sukses di dekat desa saya, yang kerap membiayai lawatan dan membantu proses latihan.

Dari klub kampung bernama (kalau tak salah) bernama PS Irawan, yang pemainnya terdiri dari tetangga-tetangga desa, mereka kerap bertanding hingga Temanggung. Saya tak bisa membayangkan sistem transportasi seperti apa yang bisa membawa mereka melawat di berbagai kota. Belum kalau membicarakan biaya. Dan, hanya paman saya yang mirip-mirip Wahyu dalam Tendangan dari Langit, paling laku dibon atau dipinjam untuk membela klub lain dengan imbalan tertentu.

Saya ingat, bahkan hingga menjelang pensiun, beberapa tahun silam, paman saya masih kerap ‘disogok’ oleh instansi lain di bawah Departemen Keuangan di Jawa Tengah. Setiap Agustusan, lingkungan departemen itu selalu mengadakan pertandingan aneka olahraga, termasuk sepakbola, antarbagian di satu departemen. Dan, paman saya kerap ‘disuap’, diberi imbalan agar tak ikut main. Dan paman saya, senang-senang saja karena bisa meninggalkan Semarang untuk pulang kampung, bertemu keluarga dan teman-teman semasa mudanya.

Alangkah bangganya saya dulu, setiap ketemu orang-orang tua tetangga desa, selalu bercerita dan memuji permainan paman saya, klubnya, termasuk ayah saya sebagai salah satu pemainnya. Namun, sama dengan Darto dalam Tendangan dari Langit, paman dan ayah saya sama-sama tak suka nonton siaran pertandingan sepakbola di televisi. Mereka bilang, model pembinaannya tak seasyik dulu. Terlalu banyak kepentingan bermain dalam organisasi sepakbola.

Film Tendangan dari Langit, mestinya bisa didukung sebagai tontonan sehat oleh semua kalangan, terutama media massa, agar kian banyak publik yang aware, bahwa kini sedang ada tawaran tontonan pengisi liburan yang menawan, menggugah semangat.

Jujur, saya sedih ketika tak genap separuh bangku penonton terisi saat saya menonton Tendangan dari Langit di sebuah bioskop di Solo, Jumat (26/8) malam. Tapi yang melegakan, semua yang menonton malam itu adalah anak-anak dan remaja. Mereka tertawa terbahak-bahak menyaksikan ‘kelucuan-kelucuan’ di sepanjang adegan, walau sesungguhnya bagi saya, apa yang terpapar adalah ironi dan kegetiran. Makanya, mata saya selalu basah menontonnya.

Jadi, @captainugros, eh Kang Fajar Nugros, tak ada pernyataan ambigu, ketika saya bilang puas menonton Tendangan dari Langit bersama ABG-ABG Solo.

Kalaupun ada catatan, hanya satu yang saya ingat. Yakni, pada dialog Wahyu dengan pelatihnya, Hasan, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Hasan yang mempertanyakan ijin dari sang ayah untuk Wahyu bermain sepakbola lagi, dijawab dengan kaliman yang, menurut saya, mengganjal. Wahyu menyebut Darto sudah membebaskannya memilih menjadi pemain sepakbola dengan kata ‘ngolèhi‘. Setahu saya, orang Malang atau dialek Jawa Timuran, lebih lazim menggunakan kata ngolèhké atau ngolèhno.

Tidak fatal, tapi mengganggu secara rasa bahasa. Tapi saya maklum jika ada ‘kecolongan’ kecil semacam itu. Fajar dan Hanung itu orang dari wilayah kultur Mataraman yang juga terbiasa dengan dengan ragam bahasa Betawi. Di Jakarta, orang biasa menyebutnya dengan istilah ngebolehin. Hehehehe…..

Oh, ya, permainan Gus Kuncoro dan Yoshua sangat yahud dan memukau. Agus Kuncoro yang hanya saya kenali karakternya di sinetron Para Pencari Tuhan, ternyata aktor yang matang dan mumpuni. Begitu juga penampilan Yoshua sebagai ‘penyair’, sangat memberi warna tentang gejolak remaja puber, yang cenderung suka mengekspresikan ‘kegalauan’ dengan puisi.

4 thoughts on “Gembira Nonton Film Sepakbola

Leave a Reply