Etika Penggunaan Media Internet

Beberapa teman penggiat penggunaan Internet secara ‘benar, baik dan bertanggung jawab’ baru saja melayangkan sebuah undangan kepada saya. Intinya, mengajak diskusi, membicarakan etika atau tatakrama dalam menggunakan Internet, baik dalam blogging maupun aktivitas microblogging, seperti penggunaan Twitter, Facebook dan sebagainya. Faktanya, Internet sudah banyak memakan korban.

Inilah karya besar Pak Mentri Tifatul Sembiring dan Pak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengebiri hak asasi WNI

Salah satu contoh kontroversial adalah tuntutan perdata dan pidana terhadap Prita Mulyasari. Ia dituduh mencemarkan nama baik RS Omni, lantaran keluhannya ditulis melalui surat elektronik untuk ‘curhat’ beberapa teman dekatnya. Selain itu, sudah banyak pengguna Internet yang tertipu secara material dan bahkan dirugikan secara moral yang tak ternilai harganya, lewat Facebook atau blog.

Di luar aksi tipu-tipu, kini marak pula penggalaangan dukungan terhadap seseorang, lembaga atau sebuah kepentingan (ekonomi, sosial, budaya, politik, dll) lewat jejarig sosial Facebook. Contoh paling nyata adalah pembelaan terhadap dua komisioner KPK, yakni Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, ketika publik menganggap kedua orang tersebut hendak ditahan lantaran aktivitasnya yang sejatinya merupakan kewenangan yang dilindungi hukum.

Di bidang lain, terutama yang terkait hak cipta, terbukti sebagian besar dari kita juga mengabaikan kepemilikan hak cipta. Anehnya, tak sedikit media massa mainstream yang justru terlibat menyiarkan praktek pelanggaran. Contohnya, mengambil gambar/foto/grafis dari Internet seperti Google, Yahoo!, atau jejaring sosial penyedia foto seperti Flickr.com atau YouTube.com, dengan akreditasi Flickr atau YouTube, tanpa menyebut si pemilik karya.

Kita tahu, Flickr atau YouTube tidak mengambil dengan sendirinya atau secara otomatis, namun para pemilik akun di situs itulah yang sengaja mengunggahnya. Selain alasan pragmatis mudah menyimpan gambar, ada pula alasan subyektif (dan obyektif), agar pemilik karya foto atau video itu bisa mempublikasikan karya-karya kreatif mereka dengan aneka tujuan.

Saya, sebagai penulis maupun fotografer (maksudnya kerap membuat karya fotografi), selalu mengunggah karya-karya saya di blog dengan harapan orang lain mendapatkan sesuatu dari yang saya ‘pamerkan’. Ada harapan pula, dari karya tulis maupun foto, orang lain bisa mengetahui portofolio saya secara utuh, sehingga memungkinkan terbukanya kesempatan untuk saling berinteraksi saling menguntungkan, baik diukur dengan pendekatan kemanfaatan, dampak sosial, hingga (jika mungkin) ekonomis.

***

Ada banyak hal bisa kita diskusikan di sini, jika Anda berkenan memberi masukan.

Saya, misalnya, akan selalu memberikan keterangan atau catatan, jika postingan di blog saya telah mengalami perubahan, baik pengurangan atau penambahan data, foto atau keterangan tambahan lainnya untuk penyempurnaan postingan atau penyesuaian dengan perkembangan. Intinya, saya ingin memberitahu kepada pembaca (blog saya), supaya tak kaget ketika menjumpai telah terjadi perubahan ketika ia membaca pertama kali dan ketika berselang waktu tertentu.

Terhadap komentar pun saya berusaha memperlakukan secara fair. Andai ada orang memaki-maki sebagaii ekspresi ketidaksetujuannya dengan postingan saya sekalipun, tak pernah saya sunting. Saya biarkan apa adanya, dengan asumsi setiap orang memiliki kecakapan dan kriteria penilaian yang bisa diterima oleh banyak orang. Namun demikian, jika orang yang sama menuliskan berulang-ulang yang bertendensi menyerang, barulah saya melakukan blocking, termasuk menyurati yang bersangkutan jika  meninggalkan alamat email yang benar.

Pada ranah Internet seperti Twitter dan Facebook pun, saya bertanggung jawab atas semua pesan yang saya buat dan sebarkan. Sebagai orang nyinyir atau sok-sok kritis, saya selalu punya pertimbangan tertentu sebelum pesan (status atau kicauan) saya broadcast. Sebagai pendukung gerakan InternetSehat, saya selalu berpikir sebelum melakukan publikasi sesuatu (think before posting). Saya sadar atas semua risiko yang bisa saya hadapi atas tindakan saya di Internet.

Di blog saya, pun saya sering mengambil gambar/foto/grafis dari sumber lain. Untuk itu, selalu saya sebutkan sumbernya, baik berupa alamat blog/website, scan dari buku atau materi publikasi lainnya. Jika tak ada keterangan sama sekali, artinya itu semua merupakan karya saya, di mana saya memiliki hak cipta dan hak penyiaran/publikasinya.

Saya juga pernah mengalami, tulisan-tulisan saya berikut foto ilustrasi mengenai seni pertunjukan, diambil utuh lantas dipindahkan di blog seseorang di (kalau tak salah) Sumatera Barat. Saya pernah memperoleh backlink-nya, dan ketika saya cek di blog tersebut, hampir semua postingan saya ada di sana. Saya merasa ‘sudah cukup’ dengan memperoleh backlink-nya, meski si ‘penjiplak’ tak menyebutkan sumber/asal postingannya alias tak ada disclaimer.

Dalam kasus demikian, saya hanya mendasarkan pada keyakinan, bahwa publik akan tahu atau mengenali kompetensi saya, sehingga saya tak merasa dirugikan. Justru, si pemilik karya seni pertunjukan yang saya ulas melalui blog, bisa dibaca oleh lebih banyak orang selain dari blog saya.

Asal tahu saja, beberapa tulisan saya juga dicomot mentah-mentah oleh banyak blogger. Namun, mayoritas menyebutkan sumber otentik, yakni URL dari blog saya. Dan, untuk yang seperti ini, saya kira sah adanya, sehingga orang yang bersangkutan tak bisa disebut plagiat atau penjiplak, meski tidak mengajukan ijin/pemberitahuan kepada saya.

Jujur, dari tulisan-tulisan dan foto-foto yang menyertainya di blog, saya pernah memperoleh banyak manfaat. Salah satunya, ada seorang produser/maesenas seni pertunjukan asal Belanda yang menjalin korespondensi dengan saya, lantas dilanjutkan dengan pertemuan informal. Ia mengaku tertarik dengan kritik-kritik saya terhadap sejumlah karya pertunjukan dari sejumlah seniman Indonesia. Malah, karya-karya foto saya dimintanya untuk dipamerkan di Belanda, melalui sebuah forum dan di gedung pertunjukan yang setahu saya, cukup ternama dan tepercaya.

Melalui postingan ini, saya berharap teman-teman berkenan berbagi catatan dan memberi masukan, supaya saya bisa memiliki lebih banyak bekal untuk diskusi, yang rencananya, membuat semacam panduan, kode etik, atau apapun namanya, yang intinya berupa penyikapan terhadap media baru dengan pendekatan Internet. Tentu, diskusi mendatang tak ingin terburu-buru, lantas mengklaim sebagai ‘pemilik otoritas’ membuat kode etik atau apapun namanya.

Justru masukan dari banyak pihaklah yang nantinya akan menyempurnakan, sehingga tidak merugikan siapapun, bahkan sebaliknya, justru memberi manfaat. Yang pasti, kami semua hampir sependapat, kebebasan berekspresi harus dijamin undang-undang, sebab konstitusi manapun, sepanjang bangsa itu beradab, selalu menjamin hak-hak individu. Konstitusi kita, UUD 1945 tegas menjamin itu, begitu pula lembaga sekaliber Perserikatan Bangsa-bangsa.

Bahwa dalam produk turunan konstitusi masih banyak celahnya, seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika yang memasang jebakan pidana dan pengebirian kebbebasan berekspresi lewat Pasal 27 ayat 3 UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), itu perkara lain, yang harus kita perjuangkan bersama-sama, agar ia lenyap dari sana.

Saya tunggu masukan Anda. Boleh tidak setuju, tapi sebaiknya jangan mengumpat dan memaki…. Salam.

Related posts:

  1. Dosa Media & Desakralisasi Blusukan
  2. Media Sosial dan Bencana
  3. Jagongan Media Rakyat
  4. Ngruki, Ba’asyir dan Sikap Media
  5. Internet, PSK dan Kartini
Tags: , , , , , , , ,

20 Komentar
Beri Komentar »

  1. Nyubi kayak saya, tentu berharap paparan panjenengan di forum itu bs dipaparkan pula di sini shg bisa jadi pembelajaran.

    sebagai jurnalis dan deklarator organisasi jurnalis di Solo, mosok gak punya ide? gak boleh ngaku nyubi, ah…..
    /blt/

  2. saya sendiri gak bisa komentar lebih jauh terkait etika penggunaan media internet saat ini, karena banyak praktik yang bias etika yang justru dipraktikan oleh para ya…katakanlah orang yang disebut seleb media sosial :)

    justru dengan memaparkan mana yang kausebut bias etika itu, bisa jadi masukan dan kajian bersama. setidaknya, bisa jadi bahan renungan banyak orang, sehingga menghasilkan sesuatu…
    /blt/

  3. Jika memang keterlaluan ya,… ‘Mark as Spam’ :D

    HAKI memang bagian dari moral, perlu bekerjasama dengan pihak penyelenggara pendidikan untuk mencapai agar HAKI bisa di hormati.

    Memang sulit di sini untuk menghormati HAKI, misalnya apakah para pegiatnya memakai program Microsoft Windows Genuine, Macintosh tanpa di Jail Break, atau apakah membeli lisensi Adobe Photosop secara resmi.

    Jadi ya memang rada agak sulit untuk ‘keukeuh’ melaksanakannya, terlalu banyak toleransi ataupun malah salah persepsi tentang hal ini.

    Namun yang pasti jika sampai blog ini di kopi paste, tentunya hal itu karena keren dan bermanfaat. Terlepas caranya yang maling, seperti komputer pak Ustadz yang Windows bajakan #yato

    Maaf.
    suryaden´s last blog ..meningkatkan kecepatan, sinyal dan performa wireless

    soal HAKI, saya mungkin hanya memudahkan penyebutan saja. maksudnya, kreator berhak atas pencantuman namanya. begitu pula hak atas publikasinya. mungkin perlu dibedakan dengan HAKI yang berujung pada royalti, dan sejenisnya.

    tapi, tetap menarik soal yang genuine dan sejenisnya itu. mari kita perbincangkan lagi… untuk sementara, saya masih memilih model jailbreak atau versi crack-crack-an untuk beberapa keperluan…
    /blt/
    My ComLuv Profile

  4. Di Bagian media massa mainstream-nya itu yg sering dijumpai disini, copy paste berita dari sebuah web berita nasional apakah itu perlu menyebutkan nama webnya ataukah cukup dengan menulis dibawah berita [Internet] yg tentunya arti kalimat internet disini terlalu luas dari pada sebuah web yg di copas.

    segini dulu pakde. :D

    banyak lho media-media terhormat, koran dan majalah berpengaruh di negeri ini yang pilih mencantumkan Flickr.com, seolah-olah sebagai ‘pemilik’ karya fotografi yang dicomotnya. lucu, ya?
    /blt/

  5. Sangat setuju untuk membuat sebuah etika berinternet yang sahih om. Sehingga tidak ada pasal-pasal karet yang ditarik sana ditarik sini. Masalahnya (kalo ini bisa dibilang masalah).. Siapa yg berhak membuat panduan ini? Apakah dia yg sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia Internet seperti Pak Onno W Purbo? Atau bapak Blogger Indonesia seperti bang Enda? Lalu blogger ecek2 seperti saya apakah masih punya suara untuk memberikan pendapat maupun saran untuk panduan berinternet tersebut..? Mohon pencerahannya.. :)
    PS: Baru sadar kalau saya baru sekali komentar di sini.. Hehe.. Silent reader & penikmat tehnya om.. ;) Thanks atas waktunya membaca komen ini.

    hehehee….selamat pagi, bu. makasih sudah mampir.
    soal siapa yang berhak membuat panduan, saya kira tak ada seorang pun yang bisa disebut berhak. justru kitalah, para pengguna, yang perlu banyak bersuara, siapa tahu bisa menjadi pemahaman bersama.

    beda dengan profesi jurnalistik, bisa membuat kesepakatan (dengan mengatasnamakan/mewakili kepentingan anggota), lantas menyusun kode etik bersama seperti Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI), atau seperti Aliansi Jurnalis Independen yang punya kode etik sendiri, namun juga terlibat bersama-sama menyusun KEWI.

    Mas Onno, Enda, atau siapapun juga, punya hak dan kedudukan yang sama untuk perkara satu ini. yang penting adalah bagaimana bisa merancang gagasan awal, mensosialisasikan, untuk kelak bisa menemukan bentuknya sendiri. kita hanya ‘harus’ mau menerima sebuah proses. hasilnya, tentu tak bisa dilihat sesegera mungkin…..
    /blt/

  6. Menarik… Dan mudah2an forum diskusi yg akan dihadiri oleh pakdhe blontank itu dapat menghasilkan sesuatu yg “clear” untuk dapat menjadi panduan etika di dunia maya buat SEMUA pihak. Muncul kekhawatiran saya yg awam, ketika peserta forum diskusi itu akan menghadirkan banyak para “pemain senior” di dunia maya, maka etika yang dikedepankan adalah “etika” yang digunakan untuk melindungi kepentingan para pakar dan senior internet ini. Mudah2an kekhawatiran saya tidak beralasan, dan saya tetep yakin diskusi tersebut akan menghasilkan sesuatu yg bermanfaatan bagi kemashlahatan dunia maya di Indonesia :) ))

    insya Allah hadir, Kang.
    senioritas menjadi tak relevan dalam urusan ini. yang penting justru komitmen bersama, untuk memperjuangkan aturan main yang bisa diterima semua kalangan, daripada diatur oleh aparatur negara secara membabi buta, kacamata kuda, karena enggan bersosialisasi dan berkomunikasi dengan semua pemangku kepentingan.

    saya kira, kesadaran melahirkan kemaslahatan itu yang mesti dijadikan modal bersama…
    /blt/

  7. Konsep saya soal blog msh sangat primitif: Blog adalah aktifitas personal. Sama dengan bertafakur di alam terbuka. Bedanya, kita menuliskan hasil tafakur kita.

    Saya tak memasukkan aktifitas komersialisasi blog sbg ngeblog semisal adsense atau SEO, mgk karena buat saya lahannya sudah berbeda.

    Sudah saatnya juga kita mulai mengajak orang untuk bijak memposting hasil ‘tafakur’nya, juga di saat yg sama mengajak para pembaca blog juga bijak menanggapi blog.

    Just my two dirhams. :)

    terima kasih, Daeng…
    /blt/

  8. Saya pikir selain harus memberi kelegaan terhadap blogger (kalau memang masih ada) untuk beropini, harus pula para blogger itu dibatasi.

    Saya tau ini melawan arus, tapi sejak dulu saya tak pernah bilang bahwa apa yang dilakukan Prita itu benar meski mungkin juga nggak salah. Tapi kalau saya jadi pihak RS Omni, kerugian materiil non materiil memang tak terhindarkan dengan adanya polemik yg ditulis Prita. Di satu sisi, Prita juga berhak menulis (karena pengertian ‘berhak’ kan selama tak terbatasi keadaan).

    Nah, di sini menurutku peran terpenting adalah regulator alias pemerintah.
    Saya tak memaki, tapi selama mentalitas pemerintah yang ngurus bidang ini hanya menggunakan landasan moral, moral dan moral tanpa mengedepankan faktor kenyataan di lapangan, pertemuan sejenius apapun yang akan kamu dan teman-teman lakukan akan useless :)

    Maaf saya skeptis.. sudah lama saya skeptis terhadap negara yang tak peduli pada bangsanya :)
    DV´s last blog ..[Interview - Risky Summerbee] Musik yang terhegemoni industri selalu latah dan tak otentik

    soal skeptisisme, saya kira sama. saya orang yang tak percaya pada nyaris semua aparatus negara.

    namun, soal Prita, analogi begini. jika dirugikan sangat, lantas kecewa dan ia menumpahkan uneg-unegnya di sebuah kamarbersamq sejumlah teman dekat, itu lumrah. persoalan berbeda ketika Prita bercerita di sepanjang jalan, di pasar/mal sambil membagi-bagikan tulisan yang sama dengan yang diteriakkan sambil jalan….kira-kira begitu…
    /blt/
    My ComLuv Profile

  9. aku jadi inget ada tulisan “Bebas tapi Sopan” mungkin ini juga harus diterapkan dalam kita berinternet untuk menjaga diri kita dari hal2 yg tidak diinginkan tetapi bukan berarti suara kita harus terbungkap.

    Pemikiran2 kritis seperti bapak dan penjelasan yg gambalang sangat bermanfaat buat para blogger khususnya yg masih newbe
    Baha Andes´s last blog ..Aaagghh… Delay Mudiknya Son…..!!!

    eh, saya juga jadi ingat nasihat bijak yang dulu banyak mewujud sebagai stiker pula…
    /blt/
    My ComLuv Profile

  10. kang,

    seluruh perkembangan internet dan media sosial (baru) ini telah menciptakan sebuah “ruang” (‘realm’, tak hanya ‘sphere’) yang juga baru, yang meski tak terpisah dari ruang ‘lama’ (offline), tetaplah menuntut cara berpikir dan beretika yang baru. berbagai masalah yang timbul selama ini di ruang baru ini, hematku, adalah karena cara berpikir lama di ruang lama –baik positif maupun negatif. contoh panjenengan tentang UUITE itu adalah salah satunya.

    tapi saya tahu, mengajak berabstraksi atas keluasan dan konsekuensi keluasan ruan baru atas cara berpikir demikian ini akan berat; satu sebabnya karena persis di ruang baru ini kemalasan kita berpikir makin dipupuk. ini bukan hanya di tanah air, juga di mancanegara, dimana ‘kemajuan’ diklaim sudah mewarnai hidup. tentu, kadarnya berbeda-beda.

    saya tahu saya tak membantu banyak dalam diskusi ini, malah hanya menambah pusing. dan saya mau menambahkan satu lagi gagasan untuk kepusingan itu: soal etika.

    etika lahir dari satu filsafat tentang diri (‘self’) yang menjadi pusat. dalam filsafat ini, tindakan baik, buruk, salah, benar diukur dari diri dan bersumber pada kesadaran diri. kata kunci dalam etika adalah voluntarisme – kehendak bebas pribadi si diri itu adalah nilai tertinggi. etika yang baik muncul dari diri yang baik, dan sebaliknya.

    lawan diametral dari etika adalah akuntabilitas, yang lahir dari filsafat tentang penggunaan kuasa di ruang publik. dalam filsafat ini, diri terdefinisi karena dia ada bersama yang lain. fokusnya ada pada kerumunan, bukan pada diri. kata kunci adalah penyeimbangan praktik berkuasa di ruang publik. tidak ada etika, yang ada adalah tindakan akuntabel – ketika tindakan si pribadi bisa dipertanggung-gugat-kan pada kerumunannya.

    nah, kini saya kira kembali pada soal/cara kita memandang Internet: ruang publik? atau ruang privat? ini soal etika? atau soal pertanggung-gugat-an?

    saya tahu saya tak menjawab. malah nambah pusing. tapi ya itu yang bisa saya sampaikan saat ini. kita sambung saja sambil nge#tehpokil saja gimana?

    kepareng ….
    y
    yanuar nugroho´s last blog ..Masalah kota, masalah kita – rusuh kota, rusuh kita

    asik…masukan berat, tapi mudah dicerna, lantas jadi modal garuk-garuk kepala….
    /blr/
    My ComLuv Profile

  11. Apa tidak dibatasi saja, misalnya jejaring sosial di internet. Setelah itu baru menjangkau media genre yang lain. Dulu pernah ada netiket kalau tidak salah, dan waktu itu baru berlaku untuk email-emailan, atau miling list. Nah, kita tinggal kembangkan netiket itu untuk jertiket, etika berjejaring sosial :D

    Mengenai apa yang dibahas di atas, memang menarik menyoal materi/konten milik kita yang bertebaran di tempat lain. Saya sendiri sering menggunakan foto dari tempat lain, tanpa pemberitahuan, hanya dengan melampirkan tautannya. Untuk ini hemat saya Creative Common bisa jadi rujukan.

    Selain etika mengutip, yang penting juga etika menyebarkan. Seringkali terjadi orang-orang ramai dengan topik yang ternyata ketahuan ujung-ujungnya cuma HOAX. Sebenarnya hoax ini seperti apa, saya pikir banyak yang pengen tahu. Etika menyebarkan sesuatu, bisa jadi panduan apa yang harus dilakukan sebelum turut menyebarkan sebuah berita.

    Kayaknya asyik nih kalau jadi, saya tunggu Kang. Salam!

    netiket jaman email-emailan dan mailing list-nya boleh di-share, dong…mana? manaa???
    /blt/

  12. mencerahkan sekali sharingnya, terimakasih ya…

    terima kasih jika demikian…
    /blt/

  13. Kula kinten etika online niku mboten tebih saking etika offline, lho Pakdhe.
    Kalau di dunia offline, kita merasa layak menghormati, bertenggangrasa, dan bertoleransi dengan orang lain, maka mustinya hal yang sama juga bisa dilakukan di dunia online. Sekarang ini saya kok merasa sudah waktunya ada etika online yang bisa disepakati bersama-sama oleh para netter.
    Kalau beberapa tahun yang lalu, saat netter, blogger, belum sebanyak sekarang, rasanya tuntutan akan adanya etika online khususnya di Indonesia belum sebesar sekarang. Dulu saya rasa kita semua berasumsi bahwa semua netter tahu etika masing-masing bahkan tanpa aturan yang ditetapkan. Tetapi asumsi itu tidak lagi bisa berlaku sekarang ini.
    Pakdhe, benar bahwa etika online jangan sampai membatasi kebebasan berkespresi, tetapi saya rasa “think before posting” itu jelas belum dipahami oleh semua netter. Tidak fair memang jika mengatakan bahwa etika online harus dikembalikan kepada masing-masing netter, tetapi menanamkan nilai-nilai etika online ini yang jelas lebih sulit daripada menemukan nilai-nilai etika online.
    Beberapa point tentang etika online yang saya ingin titipkan adalah ini:
    1. Bahwa semua jenis tulisan, baik postingan di blog, tweet di Twitter, status di Facebook, dll adalah “intellectual right” seseorang. Maka jika mengutip, dalam bentuk apapun, adalah selayaknya mencantumkan sumbernya.
    2. Berkaitan dengan berkomunikasi di dunia online yang penting adalah prinsip “how to say”. Boleh saja tidak setuju, boleh saja tidak sepakat; tetapi bagaimana membahasakannya tanpa menghujat, mencerca, mengumpat, memaki, atau semacamnya, itulah yang penting.
    Punika saking kula, pakdhe. Maturnuwun :)
    Martianus´s last blog ..Mencoba Linux di Windows (bagian 1)

    matur nuwun, Mas… masukannya berguna buat referensi saya. semoga manfaat bagi pembaca…
    /blt/
    My ComLuv Profile

  14. buat saya yang awam, diskusi tersebut sebetulnya akan fokus pada apa, apakah tentang etika berjejaring sosial?
    blogging?
    HAKI? atau cuma pembahasan secara global yang pada akhirnya tidak menyentuh akar masalah.
    Misal, jika diskusi fokus pada HAKI, saya kira itu akan menjadi benturan banyak pihak, contoh:
    masalah copast artikel pada suatu blog ini pun akan jadi pembahasan yang panjang.
    Karena, kalo bicara HAKI, apakah kita sebagai blogger atau sebagai pribadi, sudah betul2 berinternet secara sehat atau sebenarnya masih samar2 dengan berbagai alasan.
    Banyak yang berpendapat, untuk alasan pendidikan atau apa, sebahagian dari kita melegalkan pembajakan atau menggunakan software versi jailbreak…
    padahal, dengan alasan apapun, tujuan apapun, versi crack atau sejenisnya tetap saja melanggar HAKI, baik secara nasional maupun internasional.
    mungkin, komen saya ini cuma menambahkan kekotoran dunia maya, cuma, saya sebagai pengguna internet, sering membaca tentang komen para blogger atau user lainnya yang memaki-maki para plagiator atau mereka yang melakukan copast tanpa ijin.
    padahal sesungguhnya, tanpa disadari kita pun telah melanggar hak orang / lembaga dengan menggunakan software atau tools versi crack atau versi jailbreak.
    inikan menjadi aneh menurut saya, disatu sisi, kita minta orang lain menghargai hasil karya kita atau hasil modifikasi yang telah kita lakukan, namun, di sisi lain, kita sedang melanggar hak karya orang lain dengan berjuta alasan.
    So? konsep internet sehat itu sebenarnya dilihat dari sisi mana?
    barangkali, saya sendiri pun belum tentu bisa menjawabnya.
    tapi… ya sudahlah… saya yang awam ikut para senior aja. apapun nanti hasil diskusi atau berbentuk apa panduan tersebut ya sudahlah… :) http://www.blindentrepreneur.wordpress.com
    Suratim´s last blog ..JAWS for WINDOWS Program Pembaca layar Untuk Tunanetra My ComLuv Profile

  15. menarik… minta izin link ?

  16. mantap.. saya sedang memulai lagi menulis di blog.. terima kasih ,,

  17. [...] http://blontankpoer.com/2011/08/26/etika-penggunaan-media-internet/ [...]

  18. sharing yang sangat bagus dan tentunya bermanfaat sekali
    sukses selalu ya buat semuanya..

  19. postingannya sangat menarik sekali untuk di baca. semoga bisa bermanfaat bagi orang lain ya. dan jangan lupa kunjungi balik ya kk admin KLIK >> http://bit.ly/12knVxp

  20. mencerahkan sekali sharingnya, terimakasih ya…

Leave Comment

CommentLuv Enabled