Dua Tahun Berkicau

Hari ini genap dua tahun saya berkicau lewat Twitter, sejak saya membuat akun di jejaring sosial itu, pada 23 Agustus 2009. Lumayan juga, sebagai blogger ndesa, saya memiliki jumlah penyimak lebih dari 4.000 orang/lembaga dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan beberapa dari luar negeri. Padahal, kicauan saya nyaris hanya nyinyir semata.

Klout Score, lembaga pemeringkat akun Twitter, yang menilai seseorang/lembaga termasuk pemengaruh level berapa, berpengaruh kepada siapa, dipengaruhi oleh siapa dan seterusnya. Walau berterima kasih, tapi saya tak menganggapnya sebagai sesuatu yang penting.

Apakah karena kenyinyiran itu pula yang membuat orang ingin menyimak linimasa saya? Tak penting bagi saya. Yang pasti, saya merasa tersanjung karena saya anggap teman-teman penyimak menaruh kepercayaan yang besar kepada saya, sehingga (maaf) ‘loyal’ menyimak pernyataan-pernyataan saya.

Saya minta maaf kepada teman-teman yang ngetwit minta follback namun tidak semua saya penuhi. Terus terang, saya memilih dan memilah orang yang saya anggap perlu saya simak (follow) agar tahu kicauannya. Saya menempatkan Twitter sebagai salah satu media belajar, tentang banyak soal. Melaui Twitter, saya bisa bertanya sesuatu hal yang ingin saya ketahui, mengerti atau pelajari. Karena itu pula, saya mengandaikan penyimak timeline seperti halnya saya bersikap terhadap orang lain.

Saya tak pilih-pilih dalam urusan belajar. Orang yang sejatinya tak saya sukai atau sering terlibat beda pendapat, pun saya follow. Sebaliknya, jikaa ada akun yang tidak saya follow, bukan berarti saya tak suka dengan orang/lembaga. Saya memilah berdasar pesan (content) yang saya anggap punya potensi bernilai, yang bisa disimak dari konsistensi pesan yang dibuat oleh sang pemilik atau administrator sebuah akun.

Banyak di antaranya justru akun-akun yang mungkin orang lain tak suka (mem-follow­-nya) dengan berbagai alasan, sehingga saya (secara subyektif) bisa memilihkan pesan berupa kicauan untuk saya teruskan (retweet). Info-info sosial/kemanusiaan, terutama, pasti saya samber, entah dengan cara menanggapi atau langsung retweet.

Yang pasti, akun @internetsehat termasuk paling saya utamakan. Informasinya berguna untuk siapa saja, baik untuk individu, keluarga, bahkan bangsa dan negara kita, Indonesia. Tak cuma kicauannya di Twitter, website-nya pun padat ilmu dan informasi yang bermanfaat. Karena itulah, saya tutup mata untuk mendukung semua kiprah dan tindakan teman-teman InternetSehat yang dimotori @dewningrum, @donnybu, @arief_ts, @onnowpurbo, @ace_pentura, @rapinie dan banyak lagi.

Aksi berbagi informasi kebutuhan darah (blood for life atau biasa bertagar #BFL) yang dimotori Mbak Silly (@justsilly), atau akun @jalinmerapi yang berisi informasi seputar Gunung Merapi dan masyarakat sekitarnya, akun untuk informasi wisata, budaya, heritage dan sejenisnya, sudah pasti nyaris tak terlewat. Begitu pula info seputar gosip ekonomi, sosial dan politik.

Untuk yang terakhir saya sebut di atas, kebetulan sesuai minat dan ‘bakat’ bergosip saya. Belasan tahun menjalani profesi sebagai jurnalis telah memugkinkan saya memiliki kedekatan dengan banyak orang dari berbagai latar belakang pekerjaan, sosial dan jabatan, dan menuntun saya pada satu hal: skeptis terhadap informasi, dari siapapun itu.

Sejenis Klout juga, TweetLevel mengidentifikasi sebuah akun hingga pada tingkat memengaruhi orang lain, popularitas, kepercayaan, dan sebagainya. Terserah, Anda boleh percaya atau tidak.

Pengalaman jurnalistik memaksa saya terbiasa mencermati agenda setting, membaca ‘arah angin’, sehingga harus ‘menguji’, membandingkannya dengan informasi-informasi memadai sebagai referensi. Di sinilah ada seni ‘membaca’, tentang teks dan konteks sebuah pesan dibuat. Akun @benny_israel yang ‘dimusuhi’ oleh sebagian orang, misalnya, justru menantang untuk disimak. Dengan siapa saja akun itu sering terlibat perang informasi (twitwar), dalam isu apa, dan sebagainya, menurut saya justru menarik, walaupun tak jarang ujungnya hanya berupa kesimpulan otak-atik gatuk alias mencocok-cocokkan.

Sejauh apa Nazaruddin membual, dengan menyebut nama banyak orang, partai, lembaga, misalnya, juga bisa dicari jawabannya lewat linimasa. Memang tak mudah. Dan, bagi saya, memang di situlah seninya, sebab kita bisa mengasah naluri dan kepekaan dalam membaca teks dan konteks.

Beberapa akun resmi yang dikelola partai, komunitas masyarakat yang sering saya kritik, juga menyimak alias mem-follow saya. Tak soal. Saya justru senang, karena kicauan nyinyir saya terhadap mereka lekas sampai. Soal risiko, pun sudah saya perhitungkan. Undang-undang tentang Pokok-pokok Pers sudah relatif saya mengerti prinsipnya. Pasal-pasal KUHP juga sering ssaya dapat dari liputan perkara kriminal atau peradilan. Soal kebebasan berekspresi yang coba dibendung lewat UU ITE, pun sudah saya coba kuasai, sehingga saya tak perlu takut dampak hukum atas semua pernyataan saya.

Twitter, nyatanya banyak membantu saya, termasuk untuk mempublikasikan update terbaru di blog saya, sehingga mengundang pengunjung untuk membacanya. Intinya, saya berusaha memproduksi konten positif, meski yang saya anggap positif bukan berarti harus membaik-baikkan sesuatu atau menutup kekurangan tertentu. Kritis dan nyinyir, pun diperlukan. Dan itu saya yakini hanya sebagai gaya atau bahasa ungkap semata. Saya berasumsi, semua penyimak linimasa saya punya kemampuan lebih untuk memilih dan memilah kicauan saya, mana yang sampah dan mana yang bukan. Mereka pun otonom, merdeka, seperti saya.

Jika kemarin ada satu-dua penyimak yang bertanya, bahkan meragukan, dengan menganggap beberapa twit saya bernilai komersial alias berbayar, saya jelaskan di linimasa, bahwa saya tidak akan pernah menjerumuskan penyimak timeline (TL) saya dengan twit-twit komersial. Sampai sekarang saya memegang teguh prinsip: bahwa twit berbayar sebaiknya menggunakan kode atau tagar tertentu, misalnya #iklan, #adv dan sejenisnya, sehingga penyimak timeline tahu dan memiliki jaminan kemerdekaan untuk meng-klik URL-URL tertentu yang berkaitan dengan hal-hal tertentu.

Apalagi, kini selain korporasi atau produsen tertentu yang selalu berkepentingan dengan iklan dan image building lewat salah satu praktek public relations, tak sedikit politisi yang berkepentingan dengan media sosial. Sistem yang berlaku juga sama: dengan cara membayar akun lembaga atau individu tertentu yang dianggap ‘berpengaruh’.

Sejujurnya, saya tak peduli dan tak percaya dengan pemeringkatan status sebuah akun, baik di Klout atau TweetLevel. Saya harap, Anda juga tak menghiraukannya, supaya tak tersesat di belantara dunia maya, yang konon bertebaran rupiah dan dollar. Kita dudukkan saja pada kebutuhan kita, dengan dan/atau terhadap Twitter mau apa. Kalau mau nyari duit juga, ya silakan. Sah-sah saja. Yang penting, jangan lupa berbagi informasi kepada sesama. Mencari rejeki juga jihad, meski jika kemaruk bisa menuntun Anda jadi jahat.

Sekian.

 

 

5 thoughts on “Dua Tahun Berkicau

  1. Saya pernah dapat titipan, jadinya kicauan saya ya saya imbuhi #adv. Dalam blog, advertorial juga saya kandangkan. Yang kemudian saya hapus, karena kritik Totot, adalah catatan pada beberapa posting (terutama memo.blogombal.org) bahwa itu bukan titipan/iklan. Kurang lebih Totot mengingatkan, tanpa disebut begitu orang juga tahu mana yang iklan dan bukan. 😀

    Perihal Twitter, saya ngaso dulu. Saya kewalahan mengikuti kicauan di timeline. Perlu kekuatan batin untuk memantau. 😀 Lha baru lima menit dibuka sudah ada ratusan kicauan. Bingung saya. 🙂

    Selain itu saya juga semakin tidak tahu apa yang bisa saya kicaukan. Sejauh ini ngeblog masih menyenangkan karena tidak terlalu riuh. Di antyo.rentjoko.net saya terlihat masih ngeblog. Bagaimana kalau orang tak tahu blog-blog saya? Lha ya itu bukan masalah saya. 😀

Leave a Reply