Kita Punya Presiden

Kita masih punya presiden. Soal tidak tegas dan kurang bernyali, itu soal lain. Yang salah adalah mereka yang dulu memilihnya, yang percaya pada survei-survei berbayar dan orang-orang yang dianggap hebat, yang kebetulan berperan sebagai endorser. Sudah sejak jauh-jauh hari saya mempercayai Pak SBY, sejak mendengar kabar bahwa ia cenderung menghindari tanya-jawab pada konperensi pers.

Andai dia memiliki kecerdasan dan kemampuan mengelola organisasi seperti Soeharto, mungkin saya masih bisa dan mau berharap. Seburuk-buruknya Soeharto, ia selalu menempatkan seseorang yang memiliki reputasi dan kecakapan yang relevan, pada sebuah jabatan. Bahwa semua pejabat pilihan Soeharto bisa dan mau dikendalikan, karena mereka punya alasan. Setidaknya, Soeharto dianggap punya wibawa oleh mereka.

Simak saja semua rekam jejak menteri-menteri Soeharto. Saya kira, yang kelihatan aneh hanyalah ketika membawa Tutut, putri sulungnya masuk kabinet. Juga, karibnya, Mohammad Bob Hassan. Selebihnya, saya anggap mereka punya kredibilitas pada masing-masing jabatan yang diberikan oleh Soeharto kepada mereka.

Maaf, bukan saya hendak membela Soeharto di sini. Tapi, sebagai orang yang mengagungkan ke-Jawa-annya, Soeharto selalu mempertimbangkan praja, harga diri atau kehormatan. Se-lebay-lebay-nya Harmoko, yang selalu mengawali pernyataan pentingnya dengan kalimat “menurut petunjuk Bapak Presiden”, Soeharto tak akan memberi ruang kepada orang semacam Ruhut Sitompul terhadap SBY.

Lihat menteri-menteri luar negeri pilihan Soeharto, semua diplomat ulung. Keterlibatan Indonesia dalam banyak perkara dunia, baik di Gerakan Non-Blok, Organisasi Konferensi Islam, dan sejenisnya, selalu tercatat dalam sejarah dunia. Politik luar negeri yang bebas-aktif, terasa betul dampaknya.

Seorang Soeharto, saya jamin tak akan berbalas-balasan surat dengan orang semacam Nazaruddin. Jika terjadi pada masanya, perkara Lapindo akan ‘dibereskan’ Soeharto. Pencitraan akan dilakukan dengan cara memarahi Ical Bakrie sebagai petinggi kelompok usaha yang membuat ribuan orang Sidoarjo menderita, namun segera dibuatkan skenario untuk menyelesaikan perkara, sehingga para korban bisa bernapas lega, walau mungkin untuk sementara.

Sepanjang karir politiknya, Soeharto juga selalu membangun dan menjaga citra, agar tetep hegemonik dan disegani. Walau tak suka dengan kelompok Petisi 50, misalnya, Soeharto akan menjawab dengan tindakan (walau semu), dan berusaha menjalin kontak dengan pihak-pihak yang kritis kepadanya. Tawaran jabatan, bisa disebut sebagain salah satu taktiknya.

Walau marah, Soeharto tetap menyampaikan dengan tersenyum, dan cukup menyebut kata kunci atau kalimat tertentu untuk menjadikan orang paham akan tingkat kemarahannya. Dan itu menjadi semacam alibi kuat, jika di kemudian hari terdapat kekeliruan ‘penafsiran’ atas sinyalnya, oleh bawahannya. Sebab, Soeharto tak mengirim pesan untuk lawan-lawan politik atau orang yang tak disukainya dengan cara yang gamblang. Serba multitafsir, sehingga secara hukum, penafsirnyalah yang akan dipersalahkan jika sesuatu terjadi dan tidak menguntungkan dirinya.

Soeharto juga buakn tipe orang yang grusa-grusu alias tak sabaran. Tutut, jauh sebelum diangkat jadi menteri, sudah dibuatkan arena untuk pengabdian sosialnya dan peran politik, walau direkayasa. Ia tipe ningrat Jawa, yang ‘jaim’-nya serba terukur. Ia tak akan menyodorkan seorang Tutut kepada publik ketika publik diyakini belum menganggap Tutut sebagai ‘seseorang’ dan punya peran.

Sebagai Ketua Dewan Pembina Golkar, nyatanya Soeharto juga tak menempatkan Tutut dalam posisi politik sesetrategis Ibas pada awal-awal karirnya. Kalaupun harus bersandiwara, saya kira, Soeharto adalah penulis naskah sekaligus sutradara yang sempurna.

Lihat saja, sedekat apapun Soeharyo dengan Liem Sioe Liong yang superkaya, ia tak pernah didikte. Padahal, sudah sejak 1950an keduanya berkarib, semasa Soeharto menjabat sebagai Panglima TT di Semarang. Semua konglomerat, tunduk kepadanya. Bukan sebaliknya. Malah, tak sedikit orang-orang kritis yang sengaja dibiarkannya, atau malah dipiaranya, demi efek citra positif untuk dirinya.

Sekali lagi, saya tak bermaksud menyanjung, apalagi mengkampanyekan Soeharto. Tidak. Saya hanya mau membandingkan, betapa SBY belum sekuku hitamnya Soeharto, dalam hal apa saja. Sebagai Panglima Tertinggi TNI, saya kira dia tak sehebat Soeharto dalam mengendalikannya. Sebagai presiden pun, SBY juga tak cermat memilih menteri, lantaran ia sejatinya kalah berhadapan dengan partai-partai penyokong kekuasaannya.

Artinya, dia tahu seberapa kekuatan dia sesungguhnya. Karena itu, ia memilih jalan aman, yang penting partai-partai pendukung tidak mennggalkannya. Eksesnya, ya konsesi kuasa dan potensi mengeruk harta bagi pundik-pundi partai dan politisi sekondannya.

Saya…. eh, kita memang masih punya presiden. Tapi, ya begitu, seadanya saja…. Wong nyatanya, sama Nazaruddin saja lebih takut dibanding terhadap ribuan orang korban Lapindo, bukan? Petunjuknya, ya itu tadi,soal surat-suratan tanpa perangko itu…..

7 thoughts on “Kita Punya Presiden

  1. Mungkin eranya berbeda jika kita terus menyama-nyamakan kekuasaan soeharto yang tegas dengan presiden kita yang tampil dengan pencitraan kasaran. Tapi ya nanti lama-lama orang juga akan bosan melihat cara beliau mengambil keputusan yang setengah-setengah. “Kapan lagi punya presiden ganteng?” hehe saya terngingan mengenai kata-kata iklan pak presiden ketika berkampanye saat itu…
    .-= sibair´s last blog ..Selamat Hari Burung =-.

  2. bwehehehe,
    aku sarujuk marang apa kang dadi pangendikan Kang Suryaden, rak peduli Pak Harto ki tangga dhewe wiss…
    Wong dua-duanya alahdene n padhadene owkkk… cuma mang harus kuakui yang sekarang ini ya mang “sungguh teraluhhh” tenan je

    Eh tapi omong-omong tulisane kok ya meh sehati dengan ureg-ureganku beberapa hari lalu ini, je Pakdhe….
    “Dari Soekarno ke Soeharto, adalah dua rezim yang berbeda, tantangannya tak sama, gaya penanganannya juga tak serupa. Lagi-lagi terlepas dari pemikiran kejatuhan mereka berdua yang tak jauh dari buruknya pelayanan terhadap rakyat, misalnya adalah suburnya praktek KKN pun terbelenggunya demokratisasi, namun yang perlu (sedikit) dicermati dari kepemimpinan mereka berdua ini adalah benar-benar menempatkan diri sebagai pemimpin yang mengerti serta menyelami persoalan kebutuhan rakyatnya, sehingga kemudian berusaha seiya-sekata dalam perbuatan demi merealisasikannya semaksimal mungkin.”

    Rezim sekarang…? mbuhhh….. 🙁

  3. DV

    Komentar singkat saya, HIDUP SOEHARTO! Benar kamu tak menyanjung, tapi postingan ini membuka cakrawala (halah) matahati bahwa Soeharto, orang Godean itu, hebat!
    Kalau saya jadi SBY menanggapi tulisanmu ini, saya akan berkomentar “Makanya, beri waktu saya 32 tahun untuk bisa sama dengan Pak Harto!” Hahahaha…

    Tulisan ini top markotop. Aku suka istilah ‘seujung kuku hitam’. Aku tertarik untuk menempatkan diri sebagai pembantu SBY ketika membaca tulisan ini.
    Ya, benar… aku ingin membaca tulisan ini sebagai mentrinya.

    Kalo aku jeli, setelah membaca tulisan ini, aku langsung menyatakan mundur dari mentrinya, karena apa? Selain aku tersadarkan bahwa “Oh tempatku bukan di sini karena kapasitas dan kompetensiku beda!” juga aku akan berpikir bahwa “Waduh, bosku tak ada seujung kukunya Pak Harto, lalu aku ini se-apanya Pak Harto ya?”

    Semoga Tifatul Sembiring membaca tulisan ini!
    .-= DV´s last blog ..KitaIndonesia, Kita Bangsa Indonesia =-.

  4. Pak Soeharto, dgn segala kekurangannya, adalah seorang negarawan sejati. Incumbent kini, meski ditambah dgn segala kelebihannya, hanya soerang negarawan wanna be.

    Di sulsel, presiden kami hanya JK. Ada bangga dan sedikit haru ketika menyebut nama JK. Tp ada perasaan bergidik, ketika kami mendengar nama SBY disebut di TV. Bahkan surabaya pun emoh lagi menggunakan akronim “sby”, ganti jadi “srby”

    dengan segala kekurangannya, Soeharto jauh lebih baik dibanding yang sekarang. dia mampu mengurus negara dan berani berhadapan dengan asing….
    /blt/

Leave a Reply